Apa Lagi yang Kita Takutkan?


Apa Lagi yang Kita Takutkan? (dwiki dok)

Apa Lagi yang Kita Takutkan? (dwiki dok)

Setiap saat, maut senantiasa mengintai diri kita. Tatkala kita beraktivitas dalam keseharian di keramaian siang bolong maupun kala terlelap tidur di peraduan malam nan sepi.

Sang Malaikat Pencabut Nyawa pun tidak akan memilah dan memilih insan yang akan dipanggil ke haribaan-Nya itu berdasarkan strata sosial, suku bangsa, warna kulit, usia, jenis kelamin dan lain sebagainya.

Sebagai makhluk hidup ciptaan-Nya, ditegaskan bahwa sesuatu yang hidup itu pasti akan mati. Namun andaikata ditanyakan pada setiap manusia: apakah siap mati? Hampir sebagian besar menjawabnya belum siap.

Ditulisan blog personal (klik sini) , pernah saya kemukakan bahwa kematian memang suatu keniscayaan. Tatkala sang maut menjemput, maka tidak ada satu jiwa pun yang mampu menghalangi dan menghindarinya sejengkal pun.

Filosof Amerika kontemporer, Will Durant, menegaskan bahwa maut adalah asal-usul semua agama “Boleh jadi kalau tidak ada maut, Tuhan tidak akan mewujud dalam benak kita,” begitu ungkapnya dalam The Story of Civilization.

Fenomena maut adalah salah satu fenomena yang paling jelas dan kuat bagi makhluk hidup. Semuanya ingin mempertahankan hidup. Semut kecil yang diremehkan manusia pun, melawan jika hidupnya terancam.

Pun apabila kita berdiskusi dengan seseorang, pembicaraan soal kematian pastilah akan dihindari. Karena naluri dasar manusia, pastilah takut mendengar (dan apalagi menghadapi) kematian dengan segala alasan-alasannya.

Bagi seseorang yang yang takut menghadapi kematian, filosof Schopenhauer menghiburnya dengan berkata, “Mengantuk nyaman, tetapi mati lebih nyaman, dan yang lebih nyaman dari segala yang nyaman adalah ketiadaan hidup.”

Dalam ajaran Islam, ada sebuah doa yang kita anggap sepele padahal maknanya sangat mendalam. Doa ini hakekatnya tanpa kita sadari merupakan adanya kesadaran akan kematian. Sebagai orang tua, doa itu senantiasa kita ajarkan kepada anak-anak menjelang tidur, “bismika allahuma ahya, wa bismika ammut” (Ya Allah, dengan nama-Mu aku menjalani hidup, dan dengan namu-Mu pula malam ini aku mati).

***

Adapun soal mengenai kesiapan atau ketidaksiapan kita kembali ke pangkuan-Nya itu, terkait pula dengan pertanyaan fundamental klasik dalam terminologi filsafati populer: akan kemanakah kita?

Untuk menjawab  pertanyaan klasik menarik diatas, saya memperolehnya setelah membaca postingan inspiratif Bung Dadang Kadarusman di situs pribadinya (klik sini).

Dikemukakannya, bahwa seseorang yang memiliki sebuah tujuan jelas dalam hidupnya dipastikan akan menjawab pertanyaan di atas dengan sederet jawaban. Sebaliknya seseorang akan diam seribu bahasa dan gamang ketika pertanyaan yang sama itu diajukan.

Sebagai misal, kala kita tengah berada di persimpangan jalan dimana ada dua jalan bercabang yang harus dilalui dan harus memilih, seseorang yang tidak memiliki tujuan akan merasa bimbang di persimpangan itu.  Sementara seseorang yang telah memiliki tujuan jelas tidak mempedulikan jalan mana yang musti ditempuh. Ia akan mantap melalui satu diantara dua cabang jalan tersebut karena ia yakin tujuan yang telah ditetapkan dalam hatinya akan didapatkan.

Perlu  diingatkan pula, bahwa Tuhan Yang Maha Hidup menciptakan suatu makhluk dengan membekalinya tujuan tertentu. Oleh karenanya, kita perlu merenungkan diri tentang tujuan hidup itu. Mengapa demikian? Sebab tujuan hidup akan menentukan sikap dan tindakan kita dalam aktivitas keseharian.

Apabila tujuan hidup kita baik, dalam manifestasinya sikap dan tindakan yang terpancar juga baik. Dan sebisa mungkin seseorang yang memiliki tujuan hidup baik menghindarkan diri dari  sikap dan tindakan buruk. Yakni sikap dan tindakan yang bukan saja akan mencelakai diri sendiri maupun merugikan orang lain dan lingkungan sosialnya.

Seseorang insan yang memiliki tujuan baik ibaratnya ia telah memegang kompas dan peta perjalanan. Kedua perlengkapan itu yang akan memandu tujuan yang hendak ditempuh. Agar sikap dan tindakan yang dihadapi tidak melenceng dari tujuan baik yang digariskan. Tegasnya agar ia tidak tersesat dalam sebuah perjalanan.

Jika  bertujuan baik, niscaya sikap dan tindakan kita tidak akan pernah mengotori dengan senoktah iri di dataran  hati. Atau sesuatu yang merugikan orang lain dan hal-hal buruk lainnya.

Apabila seseorang lebih banyak bersikap dan bertindak buruk: mementingkan diri sendiri atau kelompoknya; menghalalkan segala cara dalam menggapai tujuan-tujuannya, maka bisa dipastikan orang tersebut merumuskan tujuan hidupnya secara buruk.

Dikatakan pula, selain memberi panduan, tujuan hidup juga memberi kekuatan jiwa  Jika sudah mempunyai tujuan mulia; maka kesulitan hidup macam apapun yang merintangi, pasti akan kita hadapi. Jadinya, kita tidak mudah menyerah. Karena kita tahu, meskipun sulit; tapi itu adalah jalan yang akan membawa kita menuju ke tempat yang kita tuju.

***

Setelah kita berkontemplasi sejenak mengenai kematian, kehidupan insan dan tujuan hidup: apa lagi yang musti kita takutkan?

Kita boleh takut manakala kedirian dan kehadiran di lingkungan sosial tidak memiliki arti bagi kemajuan masyarakat sekeliling. Tidak memberi nilai tambah bagi rekan-rekan, misalnya, dalam suatu aktivitas lingkungan kerja. Kita juga seharusnya takut, tatkala masa bodoh dan cuek dengan masalah-masalah sosial: kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan masyarakat sekeliling yang terpampang di depan mata.

Dalam konteks kehidupan kita bermasyarakat, berbangsa dan bernegara saat ini masalah kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan adalah sesuatu yang nampak jelas dan musti kita ikut serta mengentaskannya. Lantaran soal-soal itulah yang menjadi akar dan penyebab munculnya beragam ekspresi kekecewaan anggota masyarakat. Dengan beragam pula cara anggota masyarakat itu mengungkapkannya, mulai cara-cara beradab seperti demontrasi damai hingga cara biadab seperti teror pengeboman.

Tidak usah muluk-muluk teknis kita dalam ikut serta mengentaskan problema di atas. Apabila pembaca mampu secara finansial dan telah berkecukupan hidupnya, membantu pendidikan melalui beasiswa berkesinambungan pada anak-anak dan remaja putus sekolah keluarga kurang mampu merupakan pilihan bijak. Atau membantu usaha kecil-kecilan keluarga kurang mampu dengan modal usaha.

Namun, bagi kita semua ada cara yang lebih elegan.Yakni membagi (share) ilmu dan ketrampilan praktis yang kita miliki kepada anak-anak dan remaja dari keluarga kurang mampu itu.

Dengan cara-cara khas individu itulah, ada kebahagian yang dapat kita rasakan dalam mengarungi kehidupan fana ini. Karena dengan berbagi, kita memiliki misi dalam kehidupan.

Saatnya kita berbagi. Demi masa depan bangsa dan negara Indonesia, tanah air tercinta kita ini. Semoga saja.

*****

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Petak Ide dan tag , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Apa Lagi yang Kita Takutkan?

  1. KangBoed berkata:

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabatku terchayaaaaaank
    I Love U fulllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllll

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s