Mengenang Kepergian Sahabatku Yanuar Ahmad


Reuni Alumni HMI di Kediaman Ahmad Zabadi paling kiri Yanuar Ahmad (dwiki dok)

Reuni Alumni HMI di Kediaman Ahmad Zabadi paling kiri Yanuar Ahmad (dwiki dok)

DINIHARI tadi (11/8), masuk sms mengabarkan seorang sahabat baik, Yanuar Ahmad atau akrab dipanggil Yan, meninggal dunia pada pukul 02.30 WIB di Rumah Sakit Karyadi Semarang dikarenakan penyakit jantung yang cukup lama dideritanya. Jenazah Yan kelahiran 6 Januari 1970 itu akan dikebumikan di kampung halaman ayahandanya di Simo Boyolali Jawa Tengah pada pukul 12.00 WIB.

Innalillahi wa innaillaihi rojiun. Satu lagi seorang sahabat yang pernah mengisi keceriaan hidup saya di masa-masa lalu telah pergi menghadap Pemilik Kehidupan untuk selama-lamanya. Semoga arwahnya diterima di sisi-Nya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan  ketabahan dalam menghadapi cobaaan berat ini.

Selanjutnya, perkenankan saya pada bagian pertama membuat testimoni mengenai diri Almarhum Yanuar Ahmad (sepanjang yang masih diingat). Di bagian kedua tulisan ini,  akan saya lengkapi mengenai renungan mengenai “kematian”. Bukan untuk menakut-nakuti pembaca, melainkan dengannya kita diharapkan “kapan saja dan dimana saja” harus siap tatkala nyawa diminta kembali oleh-Nya.

***

Saya mengenal Yan hampir 20 tahun yang lalu, tatkala sama-sama kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) UNS Solo. Sama-sama satu angkatan 1988. Bedanya Yan dari jurusan Administrasi Negara (AN), sedang saya di jurusan Ilmu Komunikasi (Kom).

Tatkala saya aktif di organisasi ekstra universiter Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sejak 1989, Yan waktu itu masih “runtang-runtung” menikmati manisnya asmara dengan salah seorang mahasiswi satu jurusan dengannya. Dia baru beberap tahun kemudian berkiprah di HMI.

Yang agak mengagetkan, setelah masuk HMI, Yan  “kecantol” dengan adik angkatannya dari jurusan Sosiologi, Hening Parlan. Hening pernah menjabat Ketua Umum HMI Komisariat Fisip UNS.

Setelah lulus, Yan mengambil pilihan mengadu untung di belantara Jakarta. Sempat mondok bersama-sama eksponen PB HMI Periode 1993-1995 di daerah Mampang Prapatan (dekat Gedung Fortune), ia termasuk orang ulet dan rajin. Bersama dia di Mampang Prapatan ada Joni Nur Ashari, Julianto, Nuril Hidayat, Laode Amijaya Kamaluddin dan lain-lain.

Selama di Mampang Prapatan, bersama rekan-rekan seniornya eksponen PB HMI, ia terlibat dalam pembuatan buku dan pekerjaan apa saja agar tetap survive hingga akhirnya ada peluang menjadi PNS di Badan Urusan Logistik (Bulog) pada era Beddu Amang. Diterima, dan penempatan pertama di kantor Dolog Jakarta di bilangan Kelapa Gading. Hingga akhir hayatnya, dia berkantor di gedung pusat Perum Bulog Jl Gatot Subroto sebagai Kepala Sub Bagian (Kasubag).

Sementara itu Hening pernah berkarier sebagai wartawati majalah Tiras, dan kemudian aktif sebagai pegiat LSM di Wahana Lingkungan Hidup (Walhi). Setelah keluar dari Walhi, Hening menekuni aktivitasnya di LSM dengan mendirikan sebuah LSM “Humanitarian Forum Indonesia” yang bermarkas di gedung PP Muhammadiyah Jakarta.

Kedua aktivis HMI ini akhirnya menikah. Dikarunia 2 anak, dan tinggal di daerah Duren Sawit Jakarta Timur. Bersama keluaga, saya beberapa kali berkunjung ke rumahnya. Demikian pula Yan dan Hening beberapa kali menyambangi rumah saya. Kalau memberi hadiah buat anak-anak saya, kesan saya, Yan dan Hening termasuk royal. Mahal harganya dan berkualitas barang yang diberikannya. Yan yang saya kenal, adalah tipe orang yang memiliki jiwa dan solidaritas sosial tinggi.

Satu peristiwa yang cukup penting dan perlu saya catat menyangkut Yanuar Ahmad, yakni tatkala diadakan lokakarya dan musyawarah Lembaga Pengelola Latihan (LPL) di Cepogo Boyolali lereng Gunung Merapi berhawa sejuk. Sebagai kandidat kuat Ketua LPL, saya dirayu Mundi Rahayu (Ketua LPL demisioner) agar mau menduduki jabatan cukup bergengsi itu. Beberapa teman lain juga menominasikan. Kalau saat itu saya mengiyakan, barangkali saya terpilih secara aklamasi.

Namun, dari pembicaraan saya empat mata dengan Yan, saya meminta agar ia mau maju sebagai Ketua LPL HMI Cabang Solo. Alasan yang saya kemukakan, saya sudah pernah di LPL sebagai Ketua Bidang Diklat. Lagi pula masih di kepengurusan Badko HMI Jabagteng dan memegang jabatan Koordinator Kelompok Studi Mangkubumen (KSM). Pikir saya, alangkah baiknya jika saya tidak merangkap jabatan itu.

Yanuar sampai tidak percaya dengan pembicaraan dari hati ke hati itu. Ia tadinya tidak berharap dengan jabatan Ketua LPL itu, karena baginya sendiri yang paling layak adalah saya. “Dwik, kamu sudah terbukti di LPL. Latihan Kader I (Batra) selama ini berjalan baik dan banyak yang ikut. Latihan Kader II tempo hari dengan mengundang George Junus Adicondro, Ifdal Kasim, Fauzi Rizal dan sebagainya juga sukses.”

Saya teringat memang saat aktif di LPL, sengaja mengundang narasumber yang progresif pemikirannya, sosialis dan agak kekiri-kirian. Untuk mengimbanginya tak lupa saya undang narasumber yang kental keislamannya, semisal, Chumaidi Syarif Romas (Dosen IAN Suka Yogyakarta), Fatah Santoso (Dosen UMS Solo) dan lain-lain.

Perjumpaan terakhir dengan Yan, saat ada acara reuni alumni HMI Cabang Solo se-Jabotabek di kediaman Ahmad Zabadi daerah Lubang Buaya Jakarta Timur. Ia datang dengan istrinya Hening Parlan, saya juga hadir dengan istri dan anak bungsu. Sempat mengabadikan gambar acara tersebut, selang beberapa hari ia menagih agar fotonya ditag di FaceBook.

Terang menyesal (karena sesuatu dan lain hal)  saya tidak bisa menemaninya untuk kali terakhir pada acara kepergiannya hari ini di Boyolali. Dengan lirih dan mata berkaca saya ucapkan, “Selamat jalan sahabatku. Semoga engkau bahagia di haribaan-Nya”.

***

Kematian memang suatu keniscayaan. Tatkala sang maut menjemput, maka tidak ada satu jiwa pun yang mampu menghalangi dan menghindarinya sejengkal pun. Filosof Amerika kontemporer, Will Durant, menegaskan bahwa maut adalah asal-usul semua agama “Boleh jadi kalau tidak ada maut, Tuhan tidak akan mewujud dalam benak kita,” begitu ungkapnya dalam The Story of Civilization.

Fenomena maut adalah salah satu fenomena yang paling jelas dan kuat bagi makhluk hidup. Semuanya ingin mempertahankan hidup. Semut kecil yang diremehkan manusia pun, melawan jika hidupnya terancam.

Apabila kita berdiskusi dengan seseorang, pembicaraan soal kematian pastilah akan dihindari. Karena naluri dasar manusia, pastilah takut mendengar (dan apalagi menghadapi) kematian dengan segala alasan-alasannya.

Bagi seseorang yang yang takut menghadapi kematian, filosof Schopenhauer menghiburnya dengan berkata, “Mengantuk nyaman, tetapi mati lebih nyaman, dan yang lebih nyaman dari segala yang nyaman adalah ketiadaan hidup.”

Dalam ajaran Islam, ada sebuah doa yang kita anggap sepele padahal maknanya sangat mendalam. Doa ini hakekatnya tanpa kita sadari merupakan adanya kesadaran akan kematian. Sebagai orang tua, doa itu senantiasa kita ajarkan kepada anak-anak menjelang tidur, “bismika allahuma ahya, wa bismika ammut” (Ya Allah, dengan nama-Mu aku menjalani hidup, dan dengan namu-Mu pula malam ini aku mati).

Akan tetapi yang menarik, justru karena adanya kesadaran akan mati ini banyak karya dan peradaban besar manusia tercipta. Piramida di Mesir, Patung Terakota di China, Candi-candi besar di Indonesia dan lain sebagainya merupakan bukti karya manusia yang didedikasikan bagi jiwa manusia menyongsong alam baka.

Dengan kematian pula banyak orang berbuat baik, banyak orang menulis buku, banyak orang melakukan inovasi keilmuan, banyak gedung-gedung megah dan indah dibangun yang kesemuanya didorong oleh keinginan agar dirinya dikenang dan abadi, untuk mengalahkan kematian yang mungkin dikalahkan.

Semoga tulisan ini berkenan.

*****

Referensi: “Psikologi Kematian: Mengubah Ketakutan Menjadi Optimisme“, Komaruddin Hidayat, Penerbit Hikmah Jakarta, Cetakan II Oktober 2005.

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Jejak Langkah. Tandai permalink.

8 Balasan ke Mengenang Kepergian Sahabatku Yanuar Ahmad

  1. sugeng berkata:

    salam,

    within 20 years, this is the first time i am searching my old friend “yanuar ahmad” on the net. he was one of my kos-mate in sma boyolali. i read his live in brief from ur blog.

    this morning i got sms that he has passed away lastnight. i m so sad to hear that. i just pray “may Allah bless and forgive him”.

    although i am only his friend, but i would like to say thanks to you for being his friend.

    wassalam

  2. upik berkata:

    mas, dah tau blognya mas yan belum?
    ini nich
    http://paklaras.blogspot.com
    dan ini
    http://masyanuar.wordpress.com

  3. Ping balik: Apa Lagi yang Kita Takutkan? « Dwiki Setiyawan’s Blog

  4. Ping balik: Public Blog Kompasiana» Blog Archive » Apa Lagi yang Kita Takutkan?

  5. NiQue berkata:

    Tulisannya menguatkan 🙂
    terima kasih telah berbagi,

    Semoga kita masih bersemangat untuk terus berkarya,
    sampai ajal kita tiba!

  6. hening berkata:

    Mas Dwiki, makasih sympatimya buat mas Yanuar. Hari ini tiga bulan sudah mas Yan pergi dari kita semua, minggu – minggu terakhir sebelum pergi masih nyata banget dalam ingatanku. Ia minta menjahitkan baju, ada 5 jenis baju yang aku jahitkan padanya dan sampai beliau pergi hanya dua yang sempat dipakai, yakni saat perjalanan ke semarang. Melepaskan burung perkutut kesayangannya – dan bilang pada ku kalau ia tak akan merawat, pesan sama cintanya, si Gendis kalau ayah nggak akan bangunin lagi kalau pagi, nitip pesan untuk imamnya, mas Alif agar jadi pemimpin yang sholeh, pesan buat saya agar jaga anak-anak. ………dan semuanya.

    Semua sudah pasti, dan kepastian itu datang meski misteri bagi kita. Semoga beliau tenang dan bahagia. Selalu ia bilang, “soal Dwiki, Kholik dan Tantowi nggak bisa di bandingkan dalam jiwaku” itu kata mas Yan setiap kali cerita soal mas Dwi, mas Towi dan cak Kholik.

    wassalam,
    hening

    • Dwiki Setiyawan berkata:

      Ya Dik Hening. Gajah mati meninggalkan gading; harimau mati meninggalkan belang; dan manusia mati meninggalkan nama. Atas kebaikan Yanuar selama ini pada orang-orang yang mengenalnya dalam hidup dan kehidupannya di masa kemarin, semoga almarhum mendapatkan karunia di sisi-Nya.

      Saya punya handphone pertama kali, juga karena mendapat “hibah” almarhum Yanuar. Tanda mata itu, akan selalu saya kenang beserta kebaikannya yang lain.

      Semoga engkau tetap tegar, Dik Hening, atas cobaan yang cukuo berat ini. Salam hangat dari anggota keluargaku yang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s