Fungsi Transformasi Agama


Cover Buku Media dan Transformasi Agama di Asia Selatan (www.infibeam.com)

Cover Buku Media dan Transformasi Agama di Asia Selatan (www.infibeam.com)

Sesungguhnya semua agama dalam konteks kesejarahan senantiasa membawa pesan-pesan kemanusiaan dan menjunjung tinggi martabat manusia dan kemanusiaan. Nilai-nilai spiritualitas, keyakinan dan ajaran-ajaran etika agama dapat mendorong dan menjadi fondasi peradaban. Karenanya, agama mempunyai fungsi edukatif, penyelamat, kontrol sosial, profetik, memupuk persaudaraan,  fungsi kritik dan sebagainya.

Jikalau ekspresi keagamaam yang ada belum memberikan angin segar bagi peradaban bahkan menjadi sumber malapetaka, berarti ada “something wrong” dalam menangkap pesan-pesan agama yang suci itu. Tampaknya harus dipertanyakan pula bagaimana kekuatan agama untuk membenahi dan menahan serta menata kembali masyarakat yang berada dalam keadaan krisis.

Untuk menyahuti perkembangan masyarakat, usaha-usaha perumusan kembali pemahaman agama pun suatu keharusan. Reinterpretasi ajaran agama harus terus menerus dilakukan dalam rangka memahami dan mensikapi setiap fenomena empiris yang muncul di tengah masyarakat. Semacam ada gerak penerjemahan dari epistemologis ke gerakan sosial, dengan muatan nilai transformasi didalamnya.

Nilai transformasi yakni nilai yang dapat mendorong dan memacu transformasi sosial. Kita tidak bisa menunggu perubahan tanpa adanya usaha sadar yang sungguh-sungguh dari setiap diri. Sebagaimana pesan dari sebuah Kitab Suci bahwa Tuhan pun tidak akan membantu transformasi sosial ini selama kita sendiri tidak melakukannya. Oleh karena itu, dalam diskursus keagamaan di Indonesia beberapa tahun silam lahir isu teologi transformatif yang dipelopori diantaranya oleh DR Moeslim Abdurrahman. Dalam hal ini Moeslim mencoba usaha reorientasi pemahaman agama (Islam) untuk mensikapi kenyataan-kenyataan menurut perspektif ketuhanan.

***

Nilai transformatif merupakan upaya memerankan lebih jauh fungsi agama sebagai pendorong dan penggerak kemajuan. Di samping untuk membuktikan bahwa agama sebagai kendala modernisasi dan sumber kebekuan sosial adalah tidak benar. Nilai ini memperbesar usaha yang bersifat horizontal (hubungan manusia dengan manusia) yang selama ini agak terabaikan demi mengejar aspek vertikal (hubungan manusia dengan Tuhan-nya). Dus, nilai transformatif tersebut merupakan usaha mengoptimalkan fungsi kekhalifahan manusia sebagai pengemban amanah kemanusiaan.

Oleh karenanya, bahasa agama dalam nilai transformatif ini adalah perubahan sosial yang harus dimulai oleh perubahan individu, dan secara berangsur disusul oleh perubahan kelembagaan. Mengapa demikian? Karena sejarah pembentukan peradaban masyarakat berpusat pada individu. Di sini, individu memiliki otonomi dalam transformasi sejarah peradaban masyarakat.

Jadi di sini agama diharapkan menjadi pentransformasi sosial yang dinamis, kritis dan dialogis. Dialogis diperlukan agar agama tidak terjebak hanya menghakimi situasi, akan tetapi dalam posisi saling refer. Perkembangan sosial me-refer Kitab Suci dan begitu pula sebaliknya, sehingga kita akan kaya gagasan. Pada gilirannya agama akan mengantarkan umat manusia ke arah demokratisasi, modernisasi dan equilibrium peradaban.

Dengan demikian penampilan agama bukan saja sebagai kekuatan spiritual masyarakat belaka, tetapi juga akan mampu sebagai katalisator sosial, yakni memahami, mensikapi sekaligus menjawab fenomena empiris yang terjadi di tengah masyarakat.

Melakukan fungsi transformasi agama berarti mencintai agama yang dianutnya secara humanis. Orang yang mencintai agamanya berarti pula mencintai negeri yang dipijaknya, dan semua tatanan  masyarakat yang telah membentuk kepribadiannya. Kualitas manusia yang senantiasa akan melakukan kemajuan bagi lingkungan sosialnya dengan tak pula tercerabut oleh akar religi dan budaya semacam itulah yang kita perlukan saat ini dan ke depannya.

*****

Dwiki Setiyawan, anggota komunitas Blogger Kompasiana.

catatan kaki:

  • Semalam membuka kardus berisi arsip-arsip pribadi menemukan beberapa artikel yang pernah saya tulis di media massa. Tulisan di atas merupakan ringkasan dari artikel bertitel “Kekerasan dan Fungsi Transformasi Agama” yang pernah saya tulis 13 tahun silam tepatnya pada 1 Agustus 1996 di Harian Merdeka (BM Diah). Lantaran temanya masih relevan dengan kondisi saat ini, maka saya publikasi ulang di jaman internet ini.
  • Lebih jauh mengenai hubungan Media dan Transformasi Agama (terutama di India), seperti gambar cover buku yang saya tampilkan di postingan, silakan baca Media and the Transformation of Religion in South Asia yang ditulis oleh Lawrence A Babb dan Susan S Wadley. Diterbitkan oleh University of Pennsylvania Press.


Iklan

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Jejak Langkah dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s