Asuransi Pendidikan Beasiswa Berencana Anakku (Bagian I)


Contoh Harga Tunai Polis Asuransi Pendidikan Beasiswa Berencana (dwiki dok)

Contoh Harga Tunai Polis Asuransi Pendidikan Beasiswa Berencana (dwiki dok)

Sudah agak lama saya cuek dengan segala sesuatu pada polis asuransi yang dimiliki. Namun agak terkejut juga tatkala melihat “harga tunai” dibagian belakang polis asuransi pendidikan beasiswa berencana kedua anakku. Polis dari sebuah perusahaan asuransi pribumi terkemuka di Indonesia. Ternyata nilainya sudah mencapai dua puluhan juta rupiah.  Lumayan besar untuk orang semacam saya ini. Dengan masa aktif berasuransi hampir 10 tahun lamanya.

Arti dari harga tunai itu, bila hari ini saya berhenti berasuransi, saya akan dapat klaim pengembalian uang tunai kedua polis dari perusahaan asuransi itu senilai dua puluhan juta. Sebagaimana tabel berupa gambar yang saya sertakan dalam tulisan ini. Itu contoh gambar polis asuransi untuk anak kedua Kevin Rizki Mohammad yang kini duduk di kelas IV SD.

Perhatikan contoh tabel gambar tersebut. Saya mengikutsertakan anak kedua asuransi pendikan, sejak 1 Januari 2003 dengan pemegang polis (sekaligus tertanggung) atas nama istri saya. Uang pertanggungan Rp 20 juta. Premi dasar yang dibayar setiap enam bulan (soal term waktu pembayaran disesuaikan kemampuan masing-masing individu) sebesar Rp 982.260. Hari ini (29/7), memasuki tahun ke-7 dengan harga tunai sebesar Rp 11.280.000 (sebelas juta dua ratus delapam puluh ribu rupiah).

Sedangkan anak pertama yang kini kelas VI SD, dua tahun lebih awal ketimbang anak kedua dalam keikutsertaan asuransi. Dengan pemegang polis dan tertanggung saya sendiri. Sekalipun uang pertanggungan sedikit lebih rendah dibanding anak kedua.

Mungkin nilai harga tunai diatas bagi kita yang hidup di Jakarta tidak ada artinya. Karena biaya pendidikan (masuk sekolah dan SPP) di kota ini termasuk “termahal” di Indonesia. Dua anak saya, masing-masing sekolah di SD Islam Teladan PB Soedirman Cijantung Jaktim. Saat masuk biaya mencapai Rp 6 juta untuk anak pertama dan  Rp 7 juta untuk anak kedua. Saat ini, setiap bulan membayar SPP lebih dari Rp 600 ribu. Padahal tahun-tahun sebelumnya, keduanya hanya membayar kurang lebih Rp 400 ribu. Berarti ada kenaikan setiap tahunnya.

Toh sekalipun demikian, sebagai seorang buruh, saya bersyukur masih bisa menyisihkan dana kurang lebih Rp 300 ribu per orang untuk masa depan kelanjutan pendidikan mereka kelak. Semua orang tentu berharap tidak terjadi sesuatu pada dirinya, namun juga harus sadar bahwa yang namanya maut setiap saat mengintai diri kita. Tak kenal usia, waktu dan tempat. Siapa sangka dan nyana, sedang asyik sarapan di restoran hotel mewah sekonyong-konyong tewas terkena ledakan bom. Seperti pada kasus terror bom Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton di kawasan Mega Kuningan beberapa waktu lalu.

Pun bukan soal besar kecilnya uang pertanggungan atau premi yang musti dibayarkan rutin (uang pertanggungan bisa pula dibayarkan sekaligus), manakala kita mengikuti program asuransi. Yang paling utama adalah kesadaran individu mengenai arti penting berasuransi di jaman ini, dimana “nyawa” sudah kurang dihargai itu.

***

Dengan mengikuti program asuransi pendidikan anak, kita menyiapkan diri. Sedia payung sebelum hujan. Buat keluarga. Itulah maksud dari “uang pertanggungan” di atas. Apabila suatu waktu terjadi sesuatu yang tidak diharapkan, katakanlah tertanggung meninggal dunia (dalam contoh ini saya) maka ahli waris akan mendapatkan uang tunai dari perusahaan asuransi sebesar uang pertanggungan Rp 20 juta (contoh alinea ketiga).

Sementara itu, pembayaran polis dihentikan (karena si tertanggung meninggal), namun si anak akan tetap mendapatkan tahapan-tahapan dana beasiswa (masuk SD, masuk SLPT, masuk SLTA, dan masuk kuliah). Yang besarnya nilai uang kesemua tahapan tersurat dengan gamblang didalam polis.

Hal lain yang perlu saya ungkapkan, kesemua klaim-klaim asuransi itu akan dibayarkan oleh perusahaan asuransi dengan syarat pembayaran rutin atas premi yang telah dibebankan dan atas dasar term waktu yang telah disepakati. Biasanya tenggang waktu pembayaran selama satu bulan berjalan. Misalnya jatuh tempo pembayaran premi tanggal 10 Agustus. Maka waktu membayar preminya mulai tanggal 1 hingga 30 Agustus.

Begitu lewat bulan Agustus belum dibayarkan, polis dalam keadaan “mati suri”. Dalam contoh ini, misalnya, selewat waktu jatuh tempo terjadi sesuatu (tertanggung meninggal) hampir bisa dipastikan perusahaan asuransi akan menolak klaim-klaim dari nasabah. Kecuali mereka hanya akan membayar sejumlah “harga tunai” yang tercantum dalam polis. Namun tidak pada uang pertanggungannya. Padahal uang pertanggungan ini jelas lebih besar ketimbang harga tunainya.

Perhatikan sekali lagi contoh  gambar yang saya sertakan dalam postingan. Di bagian bawah, tercantum pembayaran tahapan masuk SD sebesar Rp 2 juta. Karena pada saat itu memang sudah saatnya menerima tahapan beasiswa, lagi pula pembayaran premi lancar dan tidak pernah jatuh tempo. Untuk masuk sekolah di SD Negeri, barangkali tahapan dana itu sisa berlebih. Namun mengingat anak,  saya masukkan sekolah “swasta favorit” tahapan dana itu tidak menutup uang masuk. Toh tetap tahapan tersebut sangat membantu.

Persoalan-persoalan perbedaan perspektif mengenai “pembayaran rutin” dan “jatuh tempo” antara nasabah dan perusahaan asuransi acapkali menjadi kasus yang berlarut-larut dan mendapat gugatan ahli waris. Dalam konteks seperti ini, saya rasa pihak perusahaan asuransi sudah benar karena klausul di perjanjian polis tertera semacam itu. Mungkin saja ahli waris tidak pernah mendapat sosialisasi detail mengenai perjanjian polis. Si ahli waris tahunya tertanggung semasa hidupnya membayar rutin premi, tanpa ia tahu mengenai soal jatuh temponya.

Maka disinilah pentingnya menyimpan bukti-bukti kuitansi pembayaran premi bagi si tertanggung dengan diketahui pula oleh calon ahli warisnya. Dengan demikian, bukti otentik ini bisa dijadikan bukti manakala si tertanggung mengalami musibah (meninggal dunia).

Hal-hal lebih lanjut bagaimana kiat saya membayar premi asuransi dengan tidak memangkas gaji dan teknis-teknis perasuransian, seperti manfaat ikut program asuransi, perbedaan pemegang polis dan tertanggung, cara mudah pembayarann premi, pengajuan klaim dan sebagainya akan saya ceritakan di tulisan mendatang.

Dijamin merupakan tulisan pencerahan buat para pembaca yang hingga kini, mungkin, masih enggan berasuransi.

Bersambung bagian 2

*****

Iklan

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Jejak Langkah dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

17 Balasan ke Asuransi Pendidikan Beasiswa Berencana Anakku (Bagian I)

  1. cipel berkata:

    To:ACHMAD ZAENURI–>Apa maksud tanda bintang(*, **, ***) yang anda sertakan????

  2. dwi susi berkata:

    setelah membaca cerita saudara saya ingin mengajukan pertanyaan, saya ditawari asuransi beasiswa pendidikan bumiputera tp dilaen pihak ada yg lebih murah yaitu asuransi pendidikan bringingl live tp saya jg bingung asuransi mana yg saya pilih yg lebih bisa dipercaya bisakah saudara memberi masukan atau memberitau asuransi apa yg saudara pilih

    • Dwiki Setiyawan berkata:

      mbak susi, alasan utama kita berasuransi adalah proteksi. sedia payung sebelum hujan karena kita tidak tahu resiko apa yang terjadi pada diri kita di hari mendatang. dengan berasuransi, kita mengalihkan resiko itu pada pihak lain, yakni perusahaan asuransi untuk meng-cover resiko untuk ahli waris bila kita mengalami resiko tertentu. kewajiban kita ialah membayar biaya tertentu dalam periode tertentu atas polis asuransi yang diambil. menurut hemat saya, apapun perusahaan asuransi yang anda pilih tidak jadi soal (tentunya dengan menimbang berdasarkan pengalaman orang lain atas manfaat yang telah diperoleh). jauh lebih penting adalah kesadaran kita berasuransi. dengan kesadaran itu, kita tidak hanya memikirkan diri sendiri namun telah memikirkan masa depan ahli waris (dalam hal ini anak-anak bila kita mengalami resiko). adapun mengapa saya mengambil perusahaan bumiputera, alasan utamanya karena ia perusahaan asuransi pribumi berusia tua yang telah malang-melintang dengan bisnis inti asuransi dan memiliki kredibilitas. terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s