40 Tahun Anas Urbaningrum: Pendakian Makin Terjal, Panjang dan Berliku


Anas Urbaningrum (dwiki dok)

Anas Urbaningrum (dwiki dok)

Hari ini Rabu 15 Juli 2009, Anas Urbaningrum genap berusia 40 tahun. Usia cukup matang untuk berkiprah secara lebih produktif lagi bagi kemaslahatan masyarakat dan bangsanya. Seperti yang telah ia rintis sedari muda. BTW, jika tidak ada aral rintangan, Anas yang juga Ketua Bidang Politik DPP Partai Demokrat, pada awal Oktober 2009 mendatang dilantik sebagai salah satu dari 560 orang anggota DPR-RI.

Setelah Pemilu Presiden-Wakil Presiden (Pilpres) pada 8 Juli 2009 lalu, banyak orang mengucapkan selamat kepada SBY-Boediono yang tampil sebagai pemenang pilpres. Sebagian yang lain mengucapkan selama pada tim sukses SBY-Boediono. Akan tetapi, jarang orang mengucapkan selamat atas keberhasilan SBY-Boediono pada pribadi Anas Urbaningrum ini. Diantara yang jarang itu, saya pada kesempatan ini di samping mengucapkan selamat ulang tahun, juga mengucapkan selamat atas penampilan-penampilan Anas Urbaningrum yang cukup menyejukkan di layar televisi selama kampanye pilpres lalu.

Sebab apabila kita saksikan penampilannya di layar kaca, ungkapan-ungkapan Anas terlihat teduh, berbobot dan diplomatis. Sebagai tangkisan atas berbagai isyu negatif pada pasangan SBY-Boediono tanpa meninggalkan ungkapan ”bahasa sangat halus” otokritik sebagai ciri intelektualnya. Hal ini saya rasa turut pula mendongkrak citra SBY-Boediono. Sekalipun bukan faktor dominan atas kemenangan pasangan SBY-Boediono di laga pilpres, pemikiran-pemikiran yang telah disumbangkan oleh Anas termasuk juga cukup menentukan.

Dengan penampilan menawan selama masa kampanye pilpres lalu, saya menangkap pesan dan kesan pula bahwa Anas Urbaningrum telah melakukan suatu pendidikan politik bagi kaum muda. Paling tidak, ia telah mengajak kaum muda untuk tidak takut dan ragu-ragu melakukan suatu kritik dan cara membahasakan kritik tersebut.

Dalam pandangan Anas Urbaningrum,  kaum muda, setidaknya, musti mampu melontarkan protes dan membahasakan kritik. Dalam dinamika dialektika kepribadian, yang namanya kematangan, kearifan dan kedewasaan adalah perjalanan kemudian dari protes dan kritikan. Menurut Anas, anak muda yang dipaksa untuk berlaku arif, tidak akan pernah tumbuh dewasa. Karena sesunguhnya kedewasaan adalah produk dialektis historis. Jadi natural adanya, dan bukan sesuatu yang bisa dipaksakan.

***

Untuk melihat sosok utuh seseorang di kancah publik saat ini, kita tidak bisa sekedar menilai baik atau buruk dari apa yang nampak dari hal-hal yang mengemuka di permukaan aras kontemporer. Dari apa yang diucapkan atau tindakan yang dilakukannya, misalnya, melalui publisitas media massa. Hal demikian memang penting, namun itu tidak cukup lantaran hal semacam itu dapat menimbulkan bias. Kita musti membaca, mendengar dan menganalisa pula rekam jejak yang pernah ditorehkan sang tokoh publik. Darinya kita akan mendapat suatu jawaban apakah seseorang tersebut berkualitas dan berintegritas ataukah tidak.

Berkaitan dengan poin di atas, sungguh menarik untuk menyimak pemikiran-pemikiran seorang Anas Urbaningrum di masa mudanya. Darinya dan berdasarkan proses politik yang telah dijalananinya, orang tidak meragukan bahwa ia memang memiliki kualitas dan integritas.

Dalam buku yang diterbitkan pada 1997 Menuju Masyarakat Madani: Pilar dan Agenda Pembaruan, Anas Urbaningrum menulis:

“Sebagai anak muda yang bergejolak dalam arus dinamika di HMI, saya diajarkan tentang idealita dan idealisme. Setiap kami berdebat tentang cita-cita Islam dan metodologi untuk mendaratkannya pada aras empiris, pada saat itu pula idealita itu menabrak karang realitas. Cita-cita memang berdiam di wilayah in abstracto, sementara kenyataan mewujud dalam ruang in concretto. Pada saat benturan itu terjadi, maka yang lahir adalah protes dan kritik. Tentu tidak sekedar itu. Kami juga diajarkan tentang jawaban alternatif Tetapi terus terang, jawaban bagi kami belum menjadi hal yang utama… Suatu waktu, generasi saya akan melakukannya juga.”

Cita-cita yang dimaksud oleh Anas Urbaningrum di atas, apa yang kini popular dengan masyarakat madani (civil society). Menurut Anas, masyarakat madani adalah suatu model masyarakat yang ditegakkan di atas prinsip-prinsip kemanusiaan yang terhormat. Yakni suatu masyarakat yang terselenggara dengan tata susunan sosial yang bersifat membebaskan, dan bukan menindas. Masyarakat demikian, ungkapnya, memberikan ruang sosial yang cukup bagi pluralitas dan perkembangan kualitas-kualitas personal. Di mana muncul dan berkembang pesat vitalitas kedinamikaan di tengah masyarakat. Mulai dari dinamika kepemudaan, partai-partai politik, kultural, seni, ekonomi, iptek dan sebagainya yang bebas, berkualitas dan responsible.

Cita-cita yang hakekatnya suatu visi-misi Anas Urbaningrum di atas sungguh mulia. Namun merealisasikannya bukanlah perkara mudah. Ibaratnya ingin mencapai puncak gunung tinggi, maka pendakian yang akan dilakukan makin terjal, berliku dan panjang. Dengan apa yang selama ini telah dilakukan di pentas publik nasional, sekalipun jalannya susah saya yakin seorang Anas Urbaningrum bisa melakukannya dengan baik dan penuh kesabaran.

Akhirnya, saya sudahi tulisan ringan ini dengan mengutip penggalan syair dari Chairil Anwar bertajuk “Karawang-Bekasi”. Seolah-olah juga ingin dikatakan Anas Urbaningrum pada masyarakatnya bahwa “Kami sudah coba apa yang kami bisa, Tapi kerja belum selesai….”

Sekali lagi selamat. Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi pendakian yang kini sedang ditempuh.

*****

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Politik Nasional dan tag , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke 40 Tahun Anas Urbaningrum: Pendakian Makin Terjal, Panjang dan Berliku

  1. Ping balik: Anas Urbaningrum: Soal Kandidat RI 1, Tanya Saya Tahun 2013! « Dwiki Setiyawan's Blog

  2. Ping balik: Yuk Membuat Screen Capture Desktop Komputer Pribadi « Dwiki Setiyawan's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s