Suka Duka Menjadi Petugas KPPS


Pengucapan Sumpah Anggota KPPS dan Pamsung  Pilpres 2009 (dwiki dok)

Pengucapan Sumpah Anggota KPPS dan Pamsung Pilpres 2009 (dwiki dok)

Tiga kali saya menjadi petugas Kelompok Penyelenggra Pemungutan Suara (KPPS) semenjak Pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur DKI Jakarta pada 2007, banyak sudah peristiwa yang terekam sebagai pengalaman hidup. Mula-mula di ajang  pilgub sebagai anggota. Kemudian Pemilu Legislatif 9 April 2009 menjadi Ketua, dan selanjutnya pada Pemilu Presiden-Wakil Presiden kemarin (8/7) dipilih kembali jadi Ketua.

Di antara ketiga pengalaman tersebut, Pilpres 2009 kemarin merupakan aktivitas politik yang paling mudah secara teknis. Tidak “ribet” dan “jlimet” seperti Pemilu Legislatif sebelumnya. Kuncinya karena punya bekal pengalaman yang sudah-sudah. Disamping memahami detail aturan main berupa pedoman teknis yang telah ditetapkan KPU.

Dengan pengalaman yang sebelumnya direguk, berbagai kekurangan dan kesalahan bersifat teknis bisa diantisipasi secara dini. Pada Pilgub DKI Jakarta tahun 2007, pengiriman berkas-berkas pilgub ke Panitia Pemungutan Suara (PPS) kelurahan dilakukan setelah shalat Magrib. Pada Pemilu Legislatif 2009, pengiriman berkas ke Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) pada pukul 03.00 wib keesokan harinya. Betul-betil menguras tenaga dan pikiran.

Sedangkan Pilpres 8 Juli 2009 lalu, pemungutan suara di TPS 035 Kelurahan Kalisari Kecamatan Pasar Rebo Jakarta Timur dimulai pada pukul 08.00 WIB. Berakhir tepat pukul 13.00 wib. Dilanjutkan penghitungan suara pada pukul 13.15 wib, berakhir pukul 15.30 wib. Kotak suara dan berkas-berkas dikirim ke PPS pukul 16.00 wib. Menjelang Magrib sudah kembali lagi ke lokasi TPS, dan malahan malamnya pukul 19.30 wib dilakukan rapat pembubaran KPPS.

Di TPS 035 yang berlokasi di Gelanggang Olah Raga (GOR) Kecamatan Pasar Rebo Jakarta Timur, terdaftar 701 pemilih dalam DPT. Dari jumlah itu, 518 orang dari tiga RT masing-masing RT 007, 008 dan 013 RW 010 menggunakan hak pilihnya (termasuk 3 orang warga yang menggunakan KTP).

Adapun hasil akhir penghitungan suara Pilpres 2009, dengan catatan suara tidak sah sebanyak 22 lembar  sebagai berikut:

Hasil Pilpres 2009 TPS 035 Kalisari Pasar Rebo Jakarta Timur (dwiki dok)

Hasil Pilpres 2009 TPS 035 Kalisari Pasar Rebo Jakarta Timur (dwiki dok)

***

Yang juga cukup membanggakan, TPS kami juga mendapatkan kehormatan kunjungan lapangan dari Muspika Pasar Rebo masing-masing Camat, Kapolsek dan Danramil Kecamatan Pasar Rebo beserta jajarannya.

Kunjungan Lapangan Pilpres Muspika Pasar Rebo Jakarta Timur (dwiki dok)

Kunjungan Lapangan Pilpres Muspika Pasar Rebo Jakarta Timur (dwiki dok)

***

Bicara mengenai suka duka menjadi Petugas KPPS (bukan hanya ketua lho), banyak dan tidak terhitung.

Sukanya menjadi petugas KPPS antara lain: Pertama, karena setiap TPS terdiri dari rata-rata 3 Rukun Tetangga (RT),  maka sukanya dengan menjadi petugas KPPS adalah jadi lebih mengenal warga-warga di luar RT kita.

Kedua, disamping itu, juga mengenal orang-orang lain di luar lingkup RT dalam suatu TPS, seperti perangkat kelurahan hingga camat, dan warga lain di luar lingkup Rukun Warga (RW) tatkala ada bimbingan teknis di balai kelurahan.

Ketiga, dengan menjadi petugas KPPS, akan bertambah wawasan dan pengetahuannya mengenai hal-ihwal ke-pemilu-an. Lantaran semua petugas KPPS “disunatkan” membaca dan memahami mulai dari UU yang terkait ke-pemilu-an, peraturan KPU  hingga juklak dan juknisnya.

Sedangkan dukanya, juga banyak. Namun ada beberapa yang menjadi catatan secara umum yang juga dialami hampir semua petugas KPPS. Pertama, siap-siap dimaki warga yang tidak masuk Daftar Pemilih Tetap (DPT) atau undangan memilih “terlambat” disampaikan. Soal DPT saya alami tatkala Pemilu Legislatif lalu. Ada 6 (enam) orang dalam sebuah keluarga dimana memiliki hak pilih, 4 (empat) orang diantaranya tidak tercantum dalam DPT. Saya bersama seorang petugas KPPS lainnya yang tengah mengantar undangan memilih terpaksa mendapat “caci maki” dari seorang ibu muda yang bersemangat mau mencontreng namun tidak masuk DPT. Kurang lebih si muda tadi bekata, “Gimana Pak Dwiki, masak di keluarga ini sampai 4 (empat) orang tidak masuk DPT. Lantas apa yang dikerjakan KPPS (dan pengurus RT) selama ini?”

Itu belum seberapa, saya bersama Ketua RT malah pernah ditunjuk-tunjuk jari seseorang dengan muka geram lantaran dirinya tidak masuk DPT. Ada lagi, seorang kepala keluarga persis di depan rumah saya juga tidak tercantum dalam DPT.

Makanya menjelang pilpres 2009, saya menyisir tiap-tiap rumah di lingkungan RT –baik warga indekost maupun warga tetap– yang belum masuk DPT agar dapat dicantumkan sebagai pemilih pada Pilpres 2009. Alhamdullilah usaha semacam ini membuahkan hasil, karena terdata hampir 40 orang pemilih baru untuk masuk dalam DPT Pilpres.

Kedua, menyangkut penulisan rekap formulir berita acara pemilu baik Pemilu Legislatif (Pileg) maupun Pemilu Presiden-Wakil Presiden (Pilpres). Apabila kurang teliti, penulisan rekap berita acara ini acapkali menimbulkan masalah. Untungnya, selama pelaksanaan pileg maupun pilpres soal yang menyangkut berita acara ini tidak jadi soal. Lancar-lancar saja.

Namun tidak demikian dengan TPS-TPS lain. Ada yang menghadapi persoalan menyangkut berita acara ini. Pangkal soalnya terletak pada “rumit”-nya cara penghitungan bagi yang tidak terbiasa. Padahal jika berita acara ini mengalami kesalahan, tatkala pengiriman berkas ke PPK atau PPS dan dicek, pasti akan dikembalikan untuk diperbaiki.

Rekap IT Pileg lalu hingga di Tabulasi Nasional Pemilu mengalami hambatan, disamping kurang trampilnya petugas lapangan dalam penguasaan internet juga karena banyaknya tingkat kesalahan dalam penulisan rekap berita acara pemilu. Sehingga harus dipebaiki ulang, dan sistem jaringan IT KPU menolak hasil rekap yang salah.

Ketiga, antri lama saat pengiriman kotak suara dan berkas pemilu di PPK atau PPS. Soal ini juga berkaitan dengan rekap berita acara dan banyaknya berkas lain yang harus dicek. Sekali ada kesalahan dalam penulisan rekap berita acara atau ada berkas-berkas yang belum masuk di kotak suara, maka antrian jadi kurang lancar. Otomatis antrian mengular panjang.

Antrian Kotak Surat Suara Pilpres 2009 (dwiki dok)

Antrian Kotak Surat Suara Pilpres 2009 di PPS Kalisari Pasar Rebo (dwiki dok)

Keempat, honor tidak sebanding dengan kerja petugas KPPS. Jika pembaca hanya mengharapkan honor dengan menjadi petugas KPPS, saran saya urungkan saja niat itu. Menjadi petugas KPPS benar-benar kerja sosial. Rentang waktu kerja menjadi “social worker” ini sejak minimal satu minggu sebelum hari-H pemilu. Berapa honornya?

Ketua KPPS mendapat Rp 225.000.  Sedangkan 6  anggota KPPS dan 2 anggota Pengamanan Pemilu mendapat honor Rp 200.000,-. Di luar itu tersedia anggaran sewa tenda dan perlenggapan lain sebesar Rp 500.000, alat tulis kantor (ATK) Rp 300.000, uang rapat Rp 35.000, dan transportasi pengembalian kotak suara beserta berkas didalamnya sebesar Rp 90.000. Uang makan, minum, snack atau rokok tidak dianggarkan KPU.

Untuk mensiasati anggaran minim tersebut, petugas KPPS yang rata-rata pengurus RT musti mencari sumber lain. Agar anggaran tersebut diatas tidak pula tergerus untuk kemeja seragam (biasanya batik), snack dan makan-minum serta rokok.

Bagi petugas KPPS yang kreatif, dana-dana untuk kemeja seragam, snack, makan-minum dan rokok dicarikan dengan “menembak” warga mampu yang tercantum dalam DPT. Asalkan pembawaan kita ditengah warga positif dan santun, biasanya warga dengan iklas akan membantu dana.

Seperti pilpres lalu, di TPS kami akhirnya setelah pembubaran panitia, masing-masing petugas KPPS menerima honor penuh (bahkan ada beberapa menerima Rp 250.000) tanpa dikurangi untuk pembelian kemeja seragam, makan-minum, rokok dan sebagainya.

Kuncinya dana pembelian kemeja seragam, snack, makan minum dan lain-lain dibantu para warga. Inilah hebatnya pemilu yang diselenggarakan di negeri kita. Warga pun secara gotong royong ikut pula mendanai hajat demokrasi pileg maupun pilpres di tahun 2009 ini.

*****

Dwiki Setiyawan, mantan Ketua KPPS Pilpres 2009 TPS 035 Kalisari Pasar Rebo Jakarta Timur.






Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Pemilu 2009 dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s