Dari Milis Kahmi Pro Network: Saya Bangga Mendukung JK


Jusuf Kalla (Sumber Kompas-Agus Susanto)

Jusuf Kalla (Sumber Kompas-Agus Susanto)

Perdebatan di milis-milis besar yang saya ikuti seperti di MediaCare, Jurnalisme dan Kahmi Pro Network semasa kampanye pilpres lalu berlangsung dengan cukup seru dan panas.

Dari ketiga milis besar diatas, barangkali di Kahmi Pro Network-lah yang paling seru dan panas. Mengapa? Lantaran di milis alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tersebut anggota-anggota Tim Sukses tiga pasangan capres-cawapres menjadi member-nya. Di samping, lumayan juga anggota milis tersebut yang terpilih sebagai anggota DPR-RI Periode 2009-2014.

Saling adu argumentasi, sindir-menyindir dan saling kritik diantara pendukung pasangan capres-cawapres tersebut mengemuka. Yang mengesankan, pasca hari-H pilpres 8 Juli 2009 dan telah dirilis penghitungan cepat oleh lembaga-lembaga survey, mereka-mereka yang terlibat aktif (dan jelas identitas namanya) saling memberi ucapan selamat kepada para member yang capres-cawapresnya memenangkan kontes itu. Sebaliknya pula, member yang capres-cawapres menang kompetisi juga mengucapkan selamat atas sportifitas dan menyampaikan apresiasi.

Berikut posting-posting pasca pilpres bertajuk “Saya Bangga Mendukung JK”.  Ada puluhan member yang memberikan komentar atas posting ini dimulai oleh saudara Geis Chalifah. Namun karena banyak dan panjangnya komentar yang ditulis, akan saya pilih beberapa tanggapan terbaik. Posting pertama Geis selengkapnya:

“Saya mendapat banyak sms setelah hasil sementara diumumkan dan ini jawaban saya terhadap berbagai sms tersebut.

Saya bangga mendukung JK karena dialah calon yang paling tidak diunggulkan. Saya berbangga hati mendukung JK karena dia menembus batas kultural menembus sekat sekat aliran sekaligus  berhasil membangun sebuah kesatuan dan harapan dari bebagai ormas islam   yang kelak bila di-manage dengan baik dengan waktu yang cukup akan menjadi sebuah kekuatan yang luar biasa.

Saya dengan  bangga memilih  JK karena ia telah berhasil memberi harapan dengan penuh harga diri, bahwa kepemimpinan bisa didapat tanpa harus ” mengemis” untuk ikut berkoalisi.

Saya bangga memilih JK karena dialah satu satunya calon yang selalu menampilkan gagasan original, logik, tidak normatif dan realistis.

Sebuah pilihan tidak selamanya bertolak dari menang atau kalah. Berbagai indikasi dari mulai pemilu legislatif sudah terlihat  siapakah yang akan memenangkan pertarungan.  Bahkan istilah “berpasangan dengan sandal jepit pun akan menang” sudah terlontar dari beberapa bulan yang lalu.

Akan tetapi pilihan merupakan hasil renungan dan refleksi pribadi atas realitas sosial yang terhubungkan dengan integritas diri, logika maupun berbagai kesamaan ide. Bukan hanya sekedar mendukung siapa yang akan menang dan paling banyak pemilihnya.

Saya bangga memilih JK karena saya telah memilih  satu-satunya kader  dari HMI yang bertarung dalam kepemimpinan negeri.

Kepada semua “teman” yang telah mengirim sms berupa kegembiraan atas kemenangan atau lontaran sinis atas “kekalahan” sebuah pilihan, kalau anda berfikir saya akan  menundukkan kepala dikarenakan pilihan tersebut.

Mohon maaf anda salah besar karena saya akan tetap berjalan dengan tegak karena integritas bukan barang murah yg mudah tergadaikan.

Semoga Allah merahmati kita semua”

***

Saudara Fadli Tantu sebagai penanggap pertama menulis, “Orang yang memilih pemimpin dengan menggunakan akal sehat dan hati nurani tidak akan pernah menyesal dengan hasil yang dicapai oleh pilihannya walaupun dari awal dia tahu bahwa calon yang akan dipilihnya akan kalah.”

Sementara itu penanggap kedua Saudara Teguh Usis menggoreskan catatan, “Mas Geis, sebuah pernyataan indah yang saya yakin lahir dari ketulusan hati anda. Pilihan bukanlah hanya sekedar ketetapan hati tanpa sikap yang kejiwaan utuh. Kebanggan bukanlah pula seulas senyum kemenangan yang terus hadir –sembari mengejek yang :kalah”. Jadi Mas Geis, tak perlu kecil hati meskipun JK kalah. Saya pun masih akan dengankepala tegak untuk tetap meyakini bahwa JK tetap yang terbaik.”

Fahrurozi Zawawi, anggota milis lainnya yang tengah menempuh pendidikan pasca sarjana di Kairo Mesir berkisah pengalaman, “Memilih bukan karena menang atau kalah, tapi memilih karena prinsip yang kita yakini kebenarannya.

Saya terharu dengan usaha kawan-kawan di Kairo yang setia mendukung JK. Mereka mencetak kaos dengan border bertuliskan JK-WIN lalu dijual LE. 30 (tanpa kerah) dan LE. 50 (berkerah). Pada hari pemungutan suara kemarin, mereka menyewa mobil untuk menjemput kawan-kawan yang tempat tinggalnya jauh dari jalan raya. Sebab, biasanya kawan-kawan malas berangkat ke KBRI.

Rata-rata kawan-kawan itu berasal dari Jawa, bahkan dari Jawa Timur. Saya heran kenapa mereka tak malah mendukung Pasangan ONO-ONO (yudhoyONO-boediONO). Jawaban mereka, SBY dan JK adalah kandidat yang sama-sama baik, karena itu kita memilih kandidat yang lebih baik dan JK adalah orangnya.”

Saudara Kurnia Danu Aji yang selama kampanye mendapat serangan gencar lantaran dia pendukung SBY-Boediono juga memberi kesaksian, “Saya juga bangga dengan JK, karena beliau mengajarkan kepada kita semua bagaimana sebaiknya menjalankan amanah, memperjuangkan idenya, dan bagaimana meningkatkan citra dan elektabilitasnya. Setelah Almarhum Cak Nur, JK merupakan contoh kader HMI terbaik saat ini.”

***

Anas Urbaningrum juga ikut berkomentar,”Memilih karena keyakinan adalah  sikap yang terhormat. Berjuang karena keyakinan adalah jalan yang terhormat. Memperjuangkan ide, gagasan dan keyakinan politik, adalah langkah yang terhormat. Kalah atau menang dalam pertandingan tidak akan mendegradasi ataupun menjulangkan kehormatan. Semua kandidat tetap terhormat. Kehormatan adalah cara kita bekerja atas sesuatu. Selamat kepada Ibu Megawati dan Pak Prabowo. Selamat kepada Pak SBY dan Pak Boediono. Selamat kepada Pak JK dan Pak Wiranto. Selamat kepada kita semua. Selamat kepada Indonesia yang kita perjuangkan dan cita-citakan.”

Terakhir akan saya kutip komentar dari saudara Ahmad Jayadi yang memberikan testimoni menawan, “Ami Geis. Saya teringat tulisan YB Mangunwijaya tentang Sjahrir. Kurang lebih begini: “Kalah taktis dan kalah strategis tidaklah sama”. Sjahrir, lanjut YB, kalah taktis dari Soekarno dalam kancah politik Indonesia. Namun, Sjahrir telah menancapkan sebuah bangunan ideology strategisnya yang kuat dalam sejarah Republik Indonesia melalui pikiran, gagasan dan pengabdiannya pada demokrasi selama menjabat Perdana Menteri Republik Indonesia.

JK kalah taktis dalam Pemilu 2009 ini. Tapi pelajaran yang diberikan JK terhadap kita –melalui pribadinya yang sederhana, pengabdiannya yang tulus tanpa takut pada siapapun dan sebagainya—sungguh telah merasuk dalam hati masyarakat, kalau masyarakat hanya tersadar pada beberapa bulan terakhir ini melalui debat, kesaksian dan sebagainya.

Dan sungguh, terlalu banyak orang baik dan besar di negeri ini yang terpaksa kalah secara taktis dalam perpolitikan. Mereka dikalahkan oleh sejarah, karena, jika mereka diberi kesempatan menuliskan sejarah maha penting di Indonesia, maka kerja mereka akan terlalu cepat, melampaui apa yang mampu dijalankan oleh sejarah biasanya.”

*****

*) tulisan yang saya posting untuk situs Kompasiana dan Politikana.

Iklan

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Pemilu 2009 dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Dari Milis Kahmi Pro Network: Saya Bangga Mendukung JK

  1. kusumah wijaya berkata:

    Tulisan mas dwiki selalu memberikan informasi yang tak saya dapatkan dari media arus utama. Inilah dia blogger idaman. Salam Blogger Persahabatan
    Omjay

  2. Tentu bagi kalangan menengah indonesia (terpelajar, perguruan tinggi,dan organisasi kemasyarakatan) tidak asing terhadap Bapak Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla (JK) tapi bagi kalangan masyarakat bawah (baca abangan) kurang populer bahkan bagi orang jawa yang masih kental dengan kejawaannya JK selalu dihubungkan dengan tokoh pewayangan J. Kalla disandingkan dengan Bethoro Kollo.

    Bagi orang jawa bethoro Kollo adalah tokoh wayang raksasa (Butho) yang diidentikkan dengan dewa rakus, kemaruk. dan dewa pembawa bencana. Tentu, analogi bagi kalangan elit dan terpelajar berbeda dengan kalangan abangan jawa ini.

    Bagi kita yang terpelajar JK itu tidak ada hubungan sama sekali dengan tokoh wayang Bethoro Kollo itu. Menurut saya JK adalah seorang tokoh muslim yang moderat,mantan aktivis tulen, ekonom, politikus dan negarawan. kembali ke masa kampanye kemarin JK bisa kita anggap berhasil mencairkan kebekuan antar capres-cawapres. Visi kepemiminan yang cukup visioner dan saya kira kita sepakan JK lebih nasionalis dan lebih islami dibandingkan dengan capres-cawapres lainnya.

    Hasil pemilu 8 Juli 2009 yang dirilis oleh berbagai lembaga survei menunjukan bahwa JK kalah telak oleh lawan politiknya Bapak Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tentu kita terkesima dan kaget. Dalam pertarungan “politik, kalah dan atau menang sudah lumrah dan biasa”. Dan JK cukup arif menanggapinya, bahkan JK tak sungkan-sungkan menelpon SBY untuk mengucapkan selamat. Bagi saya JK memang kalah dalam pertarungan politik pilpres, tapi dalam kedewasaan berpolitik dan etika politik, JK “menang”.

    Dalam ungkapan bahasa jawa JK itu “WANI NGALAH LUHUR WEKASANE” Limrahipun, tiyang menika, ing samukawisipun prekawis, nggadhang mimpang (menang), boten purun kawon (kalah). Awit, menang menika caket kaliyan kamulyan. Lan kamulyan menika kaprahipun caket kaliyan kabagyan. Pramila, unen-unen “wani ngalah luhur wekasane” menika asring tinampik dening akathah. Sedhengipun ingkang menang kemawon sok kalamangsa boten pikantuk kaluhuran, menapa malih ingkang kalah. Mekaten pemanggih saking sawetawis tiyang. Mila inggih pemanggih ingkang pinanggih ing nalar. Jer, kaprahipun ingkang kelampahan inggih kados mekaten. Boten klentu menawi ing wekdal samenika sampun wonten ingkang damel unen-unen minangka tetandhingan, inggih menika “wani ngalah gedhe rekasane”. Ateges, masyarakat samenika, sawetawis kathah, sampun boten purun ngugemi sikep wani ngalah.
    Maksud dari falsafah hidup orang Jawa itu adalah “Sudah sangat lumrah manusia menjalani hidup ini dalam menghadapi masalah mengharapkan akan selalu tercapai kemenangan dan tak mau terjadi kekalahan. Diyakini kalau menang itu dekat dengan kemuliaan dan keberlimpahan, Dan kemuliaan ini akan dekat dengan kebahagiaan. Oleh sebab itu kalimat yang sering diucapkan kebanyakan orang Jawa “ WANI NGALAH LUHUR WEKASANE” acapkali ditolak banyak orang.
    Sedangkan yang menang saja kadangkala tidak memperoleh keluhuran, apalagi yang mengalami kekalahan. Inilah pendapat dari sebagian orang.
    Tidak salah apabila pada saat ini sudah ada yang membuat kalimat tandingan lain, yaitu, “Wani ngalah gedhe rekasane” (Berani mengalah banyak sengsaranya). Artinya masyarakat pada saat ini sudah banyak yang tidak mau lagi menenrapkan sikap mengalah.

    “Kalau bisa menang, kenapa harus mengalah..?” Begitu kata dari banyak manusia jaman sekarang ini. Sebab, dengan mengalah berarti akan menemui hidup yang sengsara. Padahal tanpa harus menggunakan adu menang-kalah, keadaan hidup pada saat ini memang sudahlah susah, ditambah lagi dengan semakin terbiasanya masyarakat kita sekarang ini dengan ‘budaya konsumtif’

    Berani mengalah , bagi mereka yang masih mau meyakininya, diartikan sebagai sikap yang mau mencoba merasakan seperti apa rasanya orang yang menderita kekalahan dengan cara merenung dan berpikir, tidak saja dialam nyata, namun juga dialam pikiran. Selanjutnya mencoba berpikir tentang apa saja yang akan dilakukan dan diperbuat setelah merasakan kalah. Apabila sudah sanggup merasakan semua pikiran orang kalah, termasuk segalanya yang berhubungan berkelanjutan dalam hidup ini, tentu akan sangat berbesar hati dalam menerima kekalahan tersebut.. kalau dalam kata modern saat ini boleh dibilang sebagai “Empati”

    Mengalah itu bukan berarti kalah, Mengalah itu bermakna mencoba tuk belajar supaya mampu menumbuhkan rasa ‘welas-asih’ terhadap orang lain yang sedang menandang kekalahan, sebelum benar-benar mengalami kekalahan yang sesungguhnya. Berani kalah itu adalah wujud solidaritas , sayang terhadap terjalinnya rukunnya persahabatan. Berani mengalah adalah tindakan yang mulia, menjauhkan dari nafsu angkara, Berani mengalah itu adalah perlakuan pembelajaran dan pengujian badan, mengolah batin supaya dapat selalu ingat dan peduli terhadap sesama ciptaanNYA. “Wani ngalah menika luhur wekasanipun”. Selamat pak JK, Bapaklah pemenang sebenarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s