Peringatan Dini Kepada KPU Soal Penggunaan SMS Pilpres 2009


Penggunaan SMS (http://www.rpxholding.com)

Penggunaan SMS (http://www.rpxholding.com)

Mengharapkan sebuah Pemilu Presiden (Pilpres) Tahun 2009 yang 100 % bersih adalah sesuatu yang mustahil. Banyak faktor-faktor teknis tidak terduga yang akan mengiringi pelaksanaan hajat demokrasi besar itu. Mulai dari sumber daya manusia (SDM), letak geografis, teknologi informasi yang dipakai dan sebagainya. Yang jauh lebih penting adalah sejauhmana sistem dan proses pilpres itu mencapai standar minimal.

Standar minimal yang saya maksud meliputi soal Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang lebih baik ketimbang  Pemilu Legislatif (Pileg) April 2009 lalu, Peraturan atau Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) atau Petunjuk Teknis (Juknis) buat penyelenggara pilpres yang tidak gampang berubah-ubah, distribusi logistik pemilu yang tepat waktu dan terpenuhi, jalur komunikasi yang tidak tersendat, penyelenggara pilpres yang netral hingga penyiapan perangkat teknologi informasi pilpres dan lain-lain.

Terkait dengan teknologi informasi, Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk Pilpres Tahun 2009 ini memperkenalkan kepada KPPS di TPS setempat perihal penggunaan short message service (sms) untuk melaporkan hasil perolehan suara capres. Sejauh yang saya tangkap, hal tersebut merupakan niat baik KPU agar hasil pilpres dari setiap TPS di seluruh Indonesia segera di-input datanya (juga agar cepat dipublikasikan kepada khalayak).

Namun demikian, niat baik KPU dimaksud belum tentu berjalan sesuai dengan yang diharapkan. KPU tentunya sadar dan berkaca pada pengalaman Pileg Tahun 2009 yang baru lalu. Betapa hasil Pileg melalui Tabulasi Nasional Pemilu (TNP) yang didasarkan datanya dari lembar formulir IT setiap TPS kacau balau. Hal ini juga menyangkut kesiapan dan kemampuan teknis SDM para penyelenggara pemilu di tingkat paling bawah, yakni KPPS, yang berbeda-beda. Belum lagi bicara soal penetrasi jaringan internet agar scan lembar formulir IT agar segera terkirim di pusat data KPU yang belum merata seantero tanah air. Terlepas dari apologi penyelenggara TNP saat Pileg lalu, KPU nyata-nyata gagal dalam mempersiapkan perangkat teknologi informasi agar hasil pemilu segera diketahui hasil kongkritnya.

Kadang-kadang para pengambil keputusan di KPU Pusat menggampangkan masalah. Tidak melihat realitas lapangan sesungguhnya, dan menyamaratakan bahwa perkembangan teknologi informasi di Jakarta sama dengan di pelosok-pelosok pedesaan Indonesia. Ini Indonesia yang dalam banyak hal relatif ketinggalan, bukan seperti Amerika Serikat yang penetrasi jaringan teknologi informasinya canggih dan lebih merata.

Demikian pula dengan rencana penggunaan sms Pilpres 2009 untuk KPPS kali ini. Saya khawatir, sekalipun nampak lebih mudah ketimbang lembar formulir IT Pileg lalu, KPU akan mengulangi kesalahan sama dan menuai protes gencar untuk kedua kalinya. Ini akan terjadi dengan syarat: hasil input data dari sms tersebut dipublikasikan kepada khalayak.

Ada tiga hal mengapa peringatan dini soal penggunaan sms hasil Pilpres 2009 dari TPS tersebut layak dikemukakan. Pertama, menyangkut penetrasi jaringan selular tanah air. Seperti kita ketahui, belum semua wilayah di tanah air ini terjangkau sinyal jaringan selular. Hampir seperti halnya kasus lembar formulir IT Pileg lalu yang musti menggunakan jaringan internet, penggunaan sms sebagai cara untuk mengetahui lebih dini hasil pilpres dari TPS-TPS juga akan mengalami kendala soal penetrasi sinyal dan jaringan selular. Di kota-kota besar di tanah air ini barangkali kendala tersebut teratasi, namun bagaimana dengan TPS-TPS yang di pelosok desa terpencil yang tidak ada sama sekali sinyal jaringan selular?

Kedua, teknis pengiriman sms yang agak ribet. Bagi anggota KPPS yang akrab dengan penggunaan handphone, registrasi dan menulis kode-kode tertentu yang dipersyaratkan KPU barangkali mudah. Namun tidak semua KPPS di TPS, apalagi dipelosok daerah akrab dengan cara registrasi dan penggunaan kode-kode tertentu serta pengiriman ke nomor 4 (empat) digit yang telah  digariskan KPU.  Soal ini hendaknya juga mendapat perhatian dari KPU.

Adapun  mekanisme teknis penggunaan sms Pilpres 2009 sebagai berikut: Setiap TPS memiliki dan diberi “Kunci Kode” atau Keycode tertentu. Setelah itu setiap TPS diharuskan mengirimkan “Registrasi” dengan mencantumkan kode-kode lainnya. Kalau tidak registrasi atau ada nomor siluman sistem akan menolak.

Pada Hari-H 8 Juli 2009, setelah Penghitungan Suara Pilpres sekesai, KPPS TPS yang telah registrasi mengirim hasil rekap penghitungan dengan memasukkan Keycode dan mengetikkan hasilnya. Kemudian dikirim ke 4 (empat) digit nomor tertentu.

Ketiga, sistem yang hanya bisa menerima nomor Telkomsel (Kartu Halo, Simpati dan Kartu AS). Saya rasa persyaratan ini mengada-ada. Bagaimana dengan KPPS yang tidak memiliki nomor Telkomsel tersebut? KPU hingga hari ini belum memberi jalan keluar soal tersebut. Lagi pula orang untuk mengganti nomor handphone dari yang telah dimiliki sebelumnya juga tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sekalipun dikatakan pengiriman hasil melalui sms tersebut gratis.

Kita tentu berharap agar hasil Pilpres Tahun 2009 ini berjalan dengan baik. Sebagaimana saya kemukakan diawal tulisan ini, yakni terlaksananya pilpres dengan sistem dan proses yang memenuhi standar minimal. Termasuk didalamnya perihal penggunaan teknologi informasi sms, agar data-data hasil pilpres dari setiap TPS diketahui lebih cepat.

Peringatan dini yang coba saya kemukakan di atas hendaknya menjadi masukan berharga buat KPU. Ini semua dimaksudkan agar KPU tidak terperosok ke lobang yang sama untuk kedua kalinya. Semoga saja.

*****

Dwiki Setiyawan, Ketua KPPS Pilpres 2009 di Jakarta Timur.

Iklan

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Pemilu 2009 dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Peringatan Dini Kepada KPU Soal Penggunaan SMS Pilpres 2009

  1. Dedy S berkata:

    setuju mas..TELKOMSEL sampai saat ini (5juli) baru kelar USO di kurang dari 2000 desa, dari 24ribu desa yang diharapkan..jadi ada sekitar 250ribu TPS yang tidak terjangkau sinyal telkomsel..makanya dari dulu saya katakan di audit dulu teknologinya..tapi sudahlah..malas ngurusin KPU..masih banyak yang bisa kita bangun dan bantu di republik ini..
    sukses ya..

  2. Bagus Sutomo berkata:

    Tulisan yang bagus mas.. BTW, sistem sms-nya sendiri dari pengguna (KPPS) gimana? Cukup reliable-kah? Bisa menghindari entri/penulisan yang salah atau tidak valid?
    Sebenarnya stlh membaca posting mas Dwiki sblm nyontreng ingin tahu aplikasi pengiriman sms-nya. Saat nyontreng, ternyata KPPS di tempat saya belum tersosialisasikan penggunaan sms… Padahal di Bekasi ooiii… 😉

    Coba googling ttg sms di pilpres ternyata ada blog dari pengembang sistemnya.. Ramai juga komentarnya. FYI, alamat blog tsb:
    http://harry.sufehmi.com/archives/2009-07-09-2155

    Terimakasih

  3. sukamto danardhana berkata:

    Ya Tuhan, tambeng amat, begedud sih KPU itu, belum kena batunya ya. Uang trilyunan gak bisa bereskan DPT. Tabulasi hitung-hitung pakai sembronoan.
    Waduh……………….., waduh……….duh………duh.
    Bebal amat
    Maaf,
    sukamto
    malang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s