Arsip Bulanan: Juli 2009

Inilah 10 Cerpenis Amerika Terhebat Sepanjang Masa

Tulisan Inilah 10 Cerpenis Amerika Terhebat Sepanjang Masa yang akan diketengahkan, saya terjemahkan bebas dari suatu postingan berbahasa Inggris (klik sini). Dengan penyajian ini saya berharap, para pecinta sastra Indonesia akan mengenal cerpenis-cerpenis Amerika terhebat berikut karya-karya agung mereka. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Bilik Sastra | Tag , , , , , , , , , | 5 Komentar

Fungsi Transformasi Agama

Nilai transformatif merupakan upaya memerankan lebih jauh fungsi agama sebagai pendorong dan penggerak kemajuan. Di samping untuk membuktikan bahwa agama sebagai kendala modernisasi dan sumber kebekuan sosial adalah tidak benar. Nilai ini memperbesar usaha yang bersifat horizontal (hubungan manusia dengan manusia) yang selama ini agak terabaikan demi mengejar aspek vertikal (hubungan manusia dengan Tuhan-nya). Dus, nilai transformatif tersebut merupakan usaha mengoptimalkan fungsi kekhalifahan manusia sebagai pengemban amanah kemanusiaan.

Oleh karenanya, bahasa agama dalam nilai transformatif ini adalah perubahan sosial yang harus dimulai oleh perubahan individu, dan secara berangsur disusul oleh perubahan kelembagaan. Mengapa demikian? Karena sejarah pembentukan peradaban masyarakat berpusat pada individu. Di sini, individu memiliki otonomi dalam transformasi sejarah peradaban masyarakat. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jejak Langkah | Tag , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Asuransi Pendidikan Beasiswa Berencana Anakku (Bagian II)

Munculnya kasus itu lantaran dalam pembayaran premi, nasabah diberi pilihan untuk membayar tagihan premi dalam jangka waktu tertentu (bulanan, tiga bulanan, enam bulanan atau tahunan). Pilihan lain yakni membayar semua kewajiban premi secara sekaligus dimuka. Akan tetapi mengingat situasi keuangan, tidak setiap orang dapat membayar sekaligus dimuka.

Oleh karena itu penting bagi nasabah untuk mengambil keputusan tepat dalam cara pembayaran premi ini. Apabila pembaca seorang yang disiplin ketat, tak masalah mengambil cara pembayaran bulanan atau tiga bulanan. Kedua jangka waktu pembayaran ini memang terkesan “begitu cepat” (ada perasaan kemarin baru membayar kok ini sudah membayar kembali). Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jejak Langkah | Tag , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Asuransi Pendidikan Beasiswa Berencana Anakku (Bagian I)

Dengan mengikuti program asuransi pendidikan anak, kita menyiapkan diri. Sedia payung sebelum hujan. Itulah maksud dari “uang pertanggungan” di atas. Apabila suatu waktu terjadi sesuatu yang tidak diharapkan, katakanlah tertanggung meninggal dunia maka ahli waris akan mendapatkan uang tunai dari perusahaan asuransi sebesar uang pertanggungan Rp 20 juta (contoh alinea ketiga). Sementara itu, pembayaran polis dihentikan (karena si tertanggung meninggal), namun si anak akan tetap mendapatkan tahapan-tahapan dana beasiswa (masuk SLPT, masuk SLTA, dan masuk kuliah). Yang besarnya nilai uang kesemua tahapan tersurat didalam polis.

Hal lain yang perlu saya ungkapkan, kesemua klaim-klaim asuransi itu akan dibayarkan oleh perusahaan asuransi dengan syarat pembayaran rutin atas premi yang telah dibebankan dan atas dasar term waktu yang telah disepakati. Biasanya tenggang waktu pembayaran selama satu bulan berjalan. Misalnya jatuh tempo pembayaran premi tanggal 10 Agustus. Maka waktu membayar preminya mulai tanggal 1 hingga 30 Agustus.

Begitu lewat bulan Agustus belum dibayarkan, polis dalam keadaan “mati suri”. Dalam contoh ini, misalnya, selewat waktu jatuh tempo terjadi sesuatu (tertanggung meninggal) hampir bisa dipastikan perusahaan asuransi akan menolak klaim-klaim dari nasabah. Kecuali mereka hanya akan membayar sejumlah “harga tunai” yang tercantum dalam polis. Namun tidak pada uang pertanggungannya. Padahal uang pertanggungan ini jelas lebih besar ketimbang harga tunainya.

Persoalan-persoalan perbedaan perspektif mengenai “pembayaran rutin” dan “jatuh tempo” antara nasabah dan perusahaan asuransi acapkali menjadi kasus yang berlarut-larut dan mendapat gugatan ahli waris. Dalam konteks seperti ini, saya rasa pihak perusahaan asuransi sudah benar karena klausul di perjanjian polis tertera semacam itu. Mungkin saja ahli waris tidak pernah mendapat sosialisasi detail mengenai perjanjian polis. Si ahli waris tahunya tertanggung semasa hidupnya membayar rutin premi, tanpa ia tahu mengenai soal jatuh temponya.

Maka disinilah pentingnya menyimpan bukti-bukti kuitansi pembayaran premi bagi si tertanggung dengan diketahui pula oleh calon ahli warisnya. Dengan demikian, bukti otentik ini bisa dijadikan bukti manakala si tertanggung mengalami musibah (meninggal dunia). Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jejak Langkah | Tag , , , , , , , , | 17 Komentar

Ditegur Istri Gara-gara Baca Buku

Rumah pribadi saya tergolong kecil. Disamping kiri kanan berdempetan rumah tetangga. Coba bayangkan. Pukul 02.00 wib dinihari, dari speaker aktif yang nangkring di atas buffet menghentak-hentak Simponi Nomor 9 in D minor , Op. 125 “Choral” dari komponis Ludwig van Beethoven. Baik diputar melalui CD atau DVD. Apalagi jika konduktor yang mengiringi Herbert von Karajan yang sangat berwibawa itu.

Sekalipun menurut saya volume speaker telah diatur menurut sikon, tapi menurut istri masih terdengar “keras” dan berpotensi mengganggu ketenangan istirahat tetangga sebelah. Sejatinya belum pernah pula saya dengar komplain soal ini dari tetangga sebelah.

Alunan irama simponi Beethoven itu naik turun (tidak menentu bagi yang kurang memahami). Pada bagian tertentu, suara alat-alat musik atau vocal penyanyi komposisi klasik yang terkenal dengan “Ode to Joy” ini sangat halus nyaris tidak terdengar. Namun dibanyak bagian lain lantunan dari alat musik maupun beberapa penyanyi tenor, soprano dan lain-lain cukup bertenaga. Menghentak-hentak. Berkumandang megah memenuhi ruangan dan spektakuler.

Simponi ini melambangkan persaudaran antar manusia yang universal. Bait-bait puisi yang dinyanyikan paduan suara dan penyanyi diambil dari karya Friedrich Schiller ( 1776 – 1788) berjudul „An die Freude“. Kemudian dipilih oleh Ludwig van Beethoven dan disusun sedemikian rupa untuk dijadikan bagian penutup Simfoni No. 9 yang amat terkenal ini. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jejak Langkah | Tag , , , , , , , , , , , , | 6 Komentar