Nurul “Kidang Alit” Hidayati: Bukan Perempuan Biasa di Detikcom


Nurul Hidayati Agustus 2008 di depan Gedung Capitol, Washington DC

Nurul Hidayati Agustus 2008 di depan Gedung Capitol, Washington DC

Siang yang terik dan menyengat. Seorang perempuan muda  cantik dan imut berlari-lari kecil. Ia tengah meliput demontrasi di depan gedung DPR-RI. Langkahnya laksana seekor “kidang alit” (rusa kecil). Lincah dan cekatan. Sesekali ia menyeka tetesan keringat yang membasahi dahi. Saya memandangi dan memperhatikannya dari sebuah halte tak jauh dari aksi demontrasi mahasiswa itu.

Perempuan berambut  lurus sebahu itu berkalungkan kartu identitas  jurnalis. Berselempang tas kecil berisi buku kecil catatan dan pena, ditangannya tergenggam sebuah alat perekam. Busananya simpel khas wartawan lapangan era itu, celana jeans panjang dan tshirt.

Saya panggil dia di tengah kerumuman aksi demontrasi itu, ia menoleh. Sekalipun wajahnya tergurat kelelahan, ia masih sempat mengembangkan seulas senyum. Siapa nyana? Perempuan imut bernama lengkap Nurul Hidayati itu, sebelas tahun kemudian memegang jabatan bergengsi di portal detikcom sebagai redaktur eksekutif.

Peristiwa yang saya ungkapkan diatas terjadi pada tahun 1998, setelah kejatuhan Soeharto pada Mei 1998. Habibie yang menggantikan Soeharto sebagai presiden berikutnya senantiasa digoyang aksi demontrasi para penentangnya. Sebagai pionir media online di tanah air, detikcom yang berdiri pada 1 Juli 1998 saat itu temasuk paling gencar memberitakan aksi-aksi demontrasi kalangan mahasiswa. Nurul Hidayati, termasuk salah satu wartawan awal detikcom sebagai ujung tombaknya di lapangan.

Pasca kejatuhan Soeharto pada 1998, kehadiran situs berita digital detikcom yang didirikan oleh Budiono Darsono dan kawan-kawannya itu telah memberikan corak dan warna baru dalam format pemberitaan di tanah air. Kebutuhan informasi cepat dan seketika bagi para penghambil keputusan telah melahirkan kesadaran baru bahwa mereka ingin membaca langsung apa yang sedang terjadi dan langsung bisa memilih keputusan terbaik.

Sebelumnya, di blantika maya kala itu informasi-informasi penting mengenai perkembangan mutakhir tanah air bisa diakses kalangan tertentu melalui mailing list (milis) “apa kabar”.

***

Berbincang dengan Nurul Hidayati mengasyikkan. Sekalipun terkadang ungkapan yang diutarakan “nyaris tak terdengar” saking pelannya, ia menurut hemat saya  pribadi yang menyenangkan. Terbuka, akrab, penuh selidik khas wartawan dan setia kawan.

Grup Musik Gigi di Kantor Detikcom Rabu 3 Juni 2009

Grup Musik Gigi di Kantor Detikcom Rabu 3 Juni 2009

Sebagai seniornya di Fisip UNS dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), saya berbincang-bincang dan menemuinya tatkala kantor detikcom masih di kawasan kompleks stadion Lebak Bulus dan sebuah kantor di dekat Pondok Indah Mall. Juga pernah berdua “wedangan”  dan ngobrol “ngalor ngidul” di pinggir Jalan Fatmawati dekat indekosnya kala itu di Jalan Guru Saidi Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Pertemuan terakhir beberapa tahun lalu di Plaza Senayan. Penampilan fisiknya sudah jauh berbeda, tak lagi saya lihat rambut lurusnya yang berkibar-kibar diterpa angin, perempuan berkulit putih bersih ini sudah mengenakan jilbab. Saya komentari busana jilbab yang dikenakan saat itu, “Isih wagu Rul (masih kurang serasi Rul).” Ia hanya tertawa kecil.

Perempuan bershio macan dan berbintang scorpio kelahiran  Rabu Legi 13 November 1974 ini, sedari mahasiswa di Program Studi Komunikasi Massa Jurusan Ilmu Komunikasi Fisip UNS Solo Angkatan 1992 sudah malang-melintang dan kenyang pengalaman aktivitas kejurnalistikan. Pernah aktif sebagai pimpinan majalah Visi yang diterbitkan Fisip UNS, Nurul yang alumni SMA Negeri I Jurusan A-2 (biologi) Nganjuk Jawa Timur itu juga penggiat Majalah Kentingan yang diterbitkan oleh Senat Mahasiswa UNS.

Pun sebagai aktivitis HMI Cabang Solo, kegiatannya di organisasi ektra universiter tersebut juga tidak jauh dari bidang yang ia minati dan tekuni: jurnalistik. Tercatat  pula ia sebagai aktivis lembaga kekaryaan HMI,yakni Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) yang juga menerbitkan majalah internal Insan Cita.

Mengenai sosoknya yang pekerja keras, di akun Facebook-nya, Nurul Hidayati menulis tentang aktivitas keseharinnya, “Bangun pukul 05.45, shalat Subuh, dandan sambil dengerin Indosiar, ngantor dari pagi sampe sore, pulang, tidur lagi, dan bangun lagi….”

Pembaca yang ingin mengintip tulisan-tulisan ringan Nurul Hidayati, silakan kunjungi blognya http://orangdalam.blogdetik.com Salah satu posting pendek di blog tersebut, ia mengungkap hal yang berkaitan dengan tugas kejurnalistikan. Bertitel “Pelajaran Moral”, ia tandaskan (bahwa wartawan): 1. Jangan terima amplop; 2. Jangan menulis dengan kebencian; 3.  Jujur. kalau salah harus ralat. Kalau ambil dari lainnya (misal blog) harus sebut sumbernya. Tidak perlu mencuri jam; 4. paling enak jadi Ronin, pendekar tanpa tuan; dan 5. Jangan sombong.

Jika saat ini, detikcom menjadi portal berita terkenal dan termasyur di blantika maya Indonesia, sesungguhnya tidak lepas pula dari andil sentuhan tangan dingin Nurul. Ber-Page Rank 6/10, detikcom menduduki peringkat 9 Top Situs Indonesia yang dilansir Situs Alexa (21/6). Adapun peringkat 1 hingga 10, masing-masing: 1). Facebook. 2). Googe.co.id, 3). Yahoo!, 4). Google, 5). Blogger.com, 6). You Tube, 7). Wordpres.com, 8). Friendster, 9). Detik.com, dan 10). Kaskus.

paling depan Nurul Hidayati Outing Detikcom Anyer Banten

paling depan Nurul Hidayati Outing Detikcom Anyer Banten

Apabila pembaca mengklik susunan dewan redaksi detikcom, nama Nurul Hidayati nangkring dijajaran paling atas sebagai redaktur eksekutif. Ia perempuan satu-satunya di jajaran dewan redaksi dengan jabatan tinggi dan prestius, dari ratusan jurnalis yang bernaung disana.

Tidaklah berkelebihan, apabila si “kidang alit” ini saya nobatkan: Bukan Perempuan Biasa di detikcom. Ia telah membuktikan sendiri sebagai jurnalis tahan banting dan telah teruji dalam setiap situasi dan medan pengabdian yang dirintisnya sedari lulus kuliah. Semoga prestasi yang telah dan akan diukirnya menjadi amal kebaikan bagi banyak orang yang tiada putus-putusnya.

*****


Sumber Foto: atas ijin Nurul Hidayati di akun Facebook-nya.

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Petak Ide dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Nurul “Kidang Alit” Hidayati: Bukan Perempuan Biasa di Detikcom

  1. masmpep berkata:

    hmm. mas dwiki memang paling bisa buat testimoni. narasinya memikat. mengalir. sampai hanyut, he-he-he.

    tapi saya harus mengimpit iri dalam hati. karena rasanya saya tak memenuhi kualifikasi untuk ditestimonikan ya mas, ha-ha-ha.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s