Sepenggal Peristiwa bersama Ketua Bawaslu Nur Hidayat Sardini


Nur Hidayat Sardini Cover Majalah Biografi Politik

Nur Hidayat Sardini Cover Majalah Biografi Politik

Sudah lama nian saya tidak bertemu dengan Nur Hidayat Sardini, yang kini menjabat sebagai Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), sejak suatu peristiwa di tahun 1998. Hingga kemudian, baru bulan Maret 2009 lalu saya bertemu muka kembali sejenak dengannya di Komisi II DPR-RI. Itupun juga tidak sengaja.

Malam itu, ia bergegas akan Rapat Kerja Komisi II DPR bersama dengan KPU dan Bawaslu. Dari jarak agak jauh, saya lihat ia berjalan beriringan dengan Ketua KPU Hafidz Anshari diikuti anggota KPU dan Bawaslu lainnya. Agenda rapatnya saat itu persiapan menjelang Pemilu Legislatif 9 April 2009.

Sekalipun sudah lebih 10 tahun tidak bertemu, ketika saya menyalaminya ia menggenggam tangan dengan hangat dan berkata, “Hai Dwiki, gimana kabarnya?” Saya menjawab singkat, “Baik dan sehat.” Surprise juga, lama tidak bersua ia masih ingat nama saya.

Dibelakang Nur Hidayat Sardini, tergopoh-gopoh berjalan asistennya Farichin sembari ikut menyapa saya. Nama terakhir ini, mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Pekalongan yang acap bertandang menemui saya di Gedung Nusantara I DPR-RI saat ia masih tercatat sebagai fungsionaris PB HMI. Saya kaget dan baru tahu saat itu, ternyata selepas PB HMI, Farichin ikut membantu Nur Hidayat Sardini di Bawaslu. Sekaligus saya ikut senang bahwa ada kontak person dengan Nur Hidayat Sardini melalui perantaraannya.

Dayat, demikian panggilan akrab saya dengan Nur Hidayat Sardini tatkala di tahun 1990-an sama-sama aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Dia lebih mengenal dan akrab dengan istri saya lantaran pernah sama-sama di kepengurusan Badko HMI Jawa Bagian Tengah periode 1995-1997. Istri saya, Tri Endraningsih, Ketua Umum Korps HMI Wati (Kohati), sementara Dayat Ketua Bidang Partisipasi Pembangunan Daerah (PPD) di Era Ketua Umum Badko HMI Jabagteng Teuku Syahrul Anshari. Pada periode itu, saya sudah di Bakornas Lembaga Pers PB HMI Jakarta sebagai Ketua Bidang Pendidikan dan Latihan (Diklat).

***

Di awal tulisan saya katakan, pertemuan dengan Nur Hidayat Sardini terjadi pada suatu peristiwa tahun 1998 di Jakarta. Tepatnya pada 14 Mei 1998, di gedung Harian Kompas Jalan Palmerah Selatan Jakarta. Siang itu kami diundang sebagai peserta diskusi Forum Indonesia Muda (FIM). Sebuah forum diskusi strategis hasil kerjasama Harian Kompas, LP3ES dan Yayasan Wakaf Paramadina. Koordinator FIM dipegang oleh Mas St Sularto, saat itu Redpel, dan kini ia menjabat Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas.

Saya diundang sebagai peserta aktif setiap diskusi FIM karena pernah memimpin Kelompok Studi Mangkubumen (KSM) di Solo –sebuah kelompok studi dengan latar belakang anggota beragam. Kelompok studi ini pernah dikunjungi Mas Larto (panggilan akrab St Sularto) dalam suatu kesempatan. Dan ia tertarik dengan kegiatan-kegiatan penalaran yang dilakukannya. Sedangkan Dayat diundang karena kapasitasnya sebagai dosen muda di Fisip Universitas Diponegoro Semarang, dan pernah aktif di pers mahasiswa almamaternya.

Sempat ngobrol beberapa saat dengan Dayat dan peserta diskusi FIM lainnya di lobi gedung utama Kompas beberapa saat. Topik diskusinya tentang situasi dan kondisi kota Jakarta hari itu, yang pada hemat kami semuanya sangat mengkhawatirkan. Karena sudah masuk info, beberapa titik pusat perbelanjaan, pertokoan, tempat hiburan, kantor bank dan lain-lain di Jakarta dibakar dan dijarah massa.

Dengan raut muka tegang Mas Larto menghampiri beberapa peserta FIM. Kepada kami ia mengabarkan perkembangan baru yang terjadi di Jakarta, termasuk telepon dari narasumber diskusi berhalangan hadir ke gedung Kompas karena jalan-jalan diblokir massa. Ia menyatakan dengan menyesal sekali nampaknya diskusi rutin FIM hari itu dibatalkan.

Sekonyong-konyong kami semua mendengar bunyi ledakan. Hanya berjarak puluhan meter saja dari gedung Kompas, Pasar Palmerah ternyata telah dibakar massa dan dari pasar inilah tadi bunyi ledakan berasal. Situasi menjadi panik semua. Saya berpandang-pandangan dengan Dayat, dan kemudian berpisah. Saya tidak sempat menanyakan apakah ia akan tinggal di Jakarta, atau langsung kembali ke Semarang setelahnya.

Di luar gedung Kompas, satpam-satpam berkumpul membentuk barisan pagar betis di sekeliling pagar untuk menjaga segala kemungkinan. Isyu yang beredar, gedung Kompas termasuk salah satu target yang akan dibakar massa.

Pulang berjalan kaki melewati samping Pasar Palmerah yang terbakar saya lihat dengan mata kepala sendiri, entah dari mana asalnya kerumunan masyarakat sibuk bahu-membahu melakukan aktivitas. Bukannya berusaha memadamkan api yang tengah berkobar, namun mereka sibuk menjarah barang apa saja yang berharga di pasar itu. Terutama barang-barang elektronika. Ada yang memanggul televisi, menggotong kulkas, mengangkut mesin cuci, menenteng kipas angin dan sebagainya.

Beberapa saat melihat aksi penjarahan itu dengan geleng-geleng kepala, saya memutuskan pulang ke Pasar Rebo. Terbayang di rumah ada mertua, istri dan bayi kecil yang baru berumur satu bulan. Khawatir juga bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada mereka. Sesampai di perempatan Slipi untuk menunggu angkutan umum, saya bersama ratusan orang yang ada disitu terjebak situasi kurang menguntungkan.

Tidak ada satu pun kendaraan angkutan umum di siang hari itu untuk mengantar pulang, juga kendaraan-kendaraan pribadi yang biasanya lalu lalang melintas. Yang ada hanya ojek dengan menawarkan ongkos mencekik leher. Akhirnya bersama dengan yang lain-lain berjalan kaki menyusuri jalan yang lengang oleh kendaraan itu. Terlihat dengan jelas kepulan asap membubung tinggi ke udara dari berbagaipelosok Kota Jakarta. Dari perempatan Slipi hingga Pasar Rebo dengan jarak kurang lebih 20 kilometer, akhirnya pada pukul 17.00 WIB tiba di rumah.

Mengingat peristiwa 14 Mei 1998 kelabu itu, saya tidak bisa lepas kenangan dengan Nur Hidayat Sardini. Dengannya pada saat itu berencana menghadiri diskusi Forum Indonesia Muda (FIM), malah mengalami suatu peristiwa yang tidak akan pernah dilupakan sepanjang hayat.

*****

Dwiki Setiyawan, anggota komunitas Blogger Kompasiana dan Politikana.

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Jejak Langkah dan tag , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Sepenggal Peristiwa bersama Ketua Bawaslu Nur Hidayat Sardini

  1. abdullah syarif berkata:

    Subhanallah…Maha Suci Allah….Semoga Pak Ketua Bawaslu masih tetap dalam keteguhan hati Istiqamah dalam tugas Investigasi dan monitoring election moment Se-Indonesia…. Selamat berjuang dan Merdeka…!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s