Arsip Harian: 16 Juni 2009

Mailing List itu Ibaratnya Etalase Toko!

Mailing List itu Ibaratnya Etalase Toko!… Di milis besar lain yang saya ikuti, segendang-sepenarian pula kondisinya. Setiap anggota milis memiliki motif berbeda-beda tatkala bergabung. Serupa tapi tak sama, laksana adagium politik, tergantung “kepentingan”-nya.
Semua milis ibaratnya etalase toko. Postingan-postingan yang muncul adalah produk dagangannya. Moderator milis dapat kita andaikan sebagai pramuniaga toko. Sedangkan pemilik saham toko adalah semua anggota milis tersebut. Karena itu tidak boleh (dan memang demikian adanya) si moderator menganggap sebagai pemilik toko tersebut. Sebagai pemilik saham, anggota milis diperkenankan (namun tidak diwajibkan) menitipkan barang dagangan berupa postingan di etalase toko untuk dipajang. Untuk dijual dan dibeli pembaca (dengan gratis pula). Sekaligus ia juga tidak diharuskan untuk membeli produk-produk lain dari pembaca lain yang dipajang (membaca postingan) itu.
Perkara barang dagangan itu dibeli atau diapresisi, itu soal selera pembaca. Barang-barang yang sedang laku dan menuai apresiasi biasanya barang baru dan tengah diperbincangkan hangat konsumen. Tidak berarti barang-barang lama dan terkesan antik juga tidak dibeli konsumen. Selalu ada saja ceruk dalam suatu pasar bebas gagasan tersebut.
Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Petak Ide | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Mengenal Sedikit Sosok Ichwan Kalimasada Si “JKism” Kompasiana

Mengenal Sedikit Sosok Ichwan Kalimasada Si “JKism” Kompasiana… Terkadang kita menilai sosok seseorang dari tampilan-tampilan harafiah atau cover muka (buku) yang bisa kita lihat, baca atau rasakan. Hal semacam itu suatu penilaian yang mengandung bias. Sama hal, misalnya, kita hanya mendengar vocal orang tanpa kita melihat sosok dan berinteraksi langsung dengannya. Pembaca barangkali pernah terkecoh dengan suara renyah seorang penyiar di radio atau suara bariton dan mantap seorang narator di televisi. Tanpa pembaca pernah melihat orangnya secara langsung, diangan-angan pasti sudah dapat membayangkan seperti apa gerangan si sosok itu. Bayangan si sosok itu bisa jadi benar. Namun acapkali terjadi lebih banyak melencengnya.

Vokal suara bariton George Irvan sebagai narator di saluran Metro-TV sudah dikenal orang. Suaranya yang berkumandang telah akrab di telinga para pemirsanya. Bayangan fisik dari pemirsa dengan mendengar vocal suaranya saja, sudah tertancap di pikiran bahwa dia secara fisik pastilah sosok yang tinggi besar. Kenyataannya? Ternyata fisik dia kecil dan nampak culun!

Mungkin idem tito dengan penyiar radio yang pembaca kagumi selama ini, namun belum pernah melihat wajah atau fisik aslinya. Membayangkan hanya dengan suara bahwa si penyiar masih muda dan cantik, bisa benar. Atau sebaliknya bayangan pembaca itu salah besar.

Di salah satu blognya, ternyata Ichwan Kalimasada ini juga berbakat menjadi penyair. Coba kita simak postingan berjudul “Mari Kita Bersyukur” berikut ini: Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jejak Langkah | Tag , , , , , , | 1 Komentar