Menyingkap Bakat Terpendam


Fatma Bahalwan kanan (aneka-kuekeringku.blogspot.com)

Fatma Bahalwan kanan (aneka-kuekeringku.blogspot.com)

Perempuan cantik berkerudung yang satu ini saya kenal sejak masa-masa heroik  jelang kejatuhan rezim Pak Harto pada 1998. Namanya Fatma Bahalwan. Saat itu, ia  sekretaris pribadi Bapak Machnan M Kamaluddin SE, salah seorang direktur PT Kiani Kertas yang juga mantan Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Catur Seluruh Indonesia (PB Percasi).  Berkantor di Gedung Bank Muamalat Jalan Jenderal Sudirman Jakarta.

Sebagai seorang aktivis sebuah organisasi kemahasiswaan ekstra universiter, tujuan saya ke Bank Muamalat pada waktu-waktu tertentu dan untuk keperluan tertentu itu bukan untuk menemui Fatma, melainkan justru menemui bosnya yang akrab saya panggil abang. Di sela-sela menunggu antrian untuk bertemu Bang Machnan, saya biasanya ditemani, ngobrol dan bercanda dengan Fatma. Dari situ mengenal, hingga perjalanan waktu akhirnya memisahkan kami untuk bertemu.

Selang beberapa tahun kemudian, saya  baca di tabloid Nova namanya terpampang dan diliput sebagai sumber dan bahan berita. Bukan lagi Fatma yang saya kenal sebagai sekretaris pribadi, melainkan sebagai pengusaha sukses yang bergerak di bidang jasa katering dan kursus memasak. Ia juga perintis dan ketua Natural Cooking Club (NCC). Klub ini juga memiliki milis dengan anggota sekitar 5000 orang.

Bisnis Katering Tak Ada Matinya (www.creoleroseestates.com)

Bisnis Katering Tak Ada Matinya (www.creoleroseestates.com)

Di situs VivaNews, Fatma bercerita tentang NCC,  “Biasanya, kami akan membahas mengolah suatu masakan dengan cara mudah dan praktis. Konsep NCC adalah easy & fun. Contoh topik yang didiskusikan, di antaranya tentang memanggang brownies yang enak, mengolah dim sum atau tip membuat Japanesse Cheesecake agar tidak ‘bantat’. Ibaratnya, mendapat kursus memasak gratis!”

Saking banyaknya anggota, email yang masuk di milis bisa ratusan per hari. Uniknya, bila sebagian anggota sudah membuat masakan yang sempat menjadi topik, setelah dicoba, berhasil atau tidak, mereka akan menuliskan pengalaman secara detail. Bahkan, tak sedikit  dari mereka mencoba memodifikasi masakan asli. Alhasil, resep makanan karya para anggota pun bertambah.

Karena itu, tak mengherankan, setelah tiga bulan menjadi anggota, mereka jadi jago memasak. Bahkan, banyak juga yang mencoba berbisnis makanan, seperti menjual kue-kue kering, cheesecake atau risol. Banyak yang berhasil, lho! Hanya bermodalkan mixer dan oven, sebagian anggota sudah bisa ‘mencetak’ uang.

Pembaca yang ingin tahu tentang NCC ini silakan berkunjung ke situs resminya http://www.ncc-indonesia.com. Di situs yang bermotto “The Society of Food Lovers” ini, pembaca akan disuguhi rubrik-rubrik seperti profil NCC, kitchen community, resep-resep, tip, info dapur, kursus dan sebagainya.

***

kanan Adib Zuhairi &  Menteri BUMN RI Sofyan Djalil (http://bmt-tumang.blogspot.com)

kanan Adib Zuhairi & Menteri BUMN RI Sofyan Djalil (http://bmt-tumang.blogspot.com)

Dalam soal prestasi, lelaki yang usianya belum mencapai 40 tahun ini perlu mendapat kredit poin. Keberaniannya untuk kembali ke kampung halamannya di Boyolali Jawa Tengah untuk memulai usaha baru yang sama sekali tidak pernah ia duga sebelumnya, patutlah memperoleh acungan jempol. Adib Zuhairi namanya. Sebelum memutuskan kembali membangun kampung halaman, ia telah malang-melintang sebagai aktivis sosial di Jakarta.

Mantan Ketua Umum HMI Cabang Solo itu kini namanya melesat bagai meteor di kalangan UKM di Jawa Tengah sebagai manajer handal sebuah usaha mikro ekonomi kalangan bawah masyarakat. Ia pimpinan BMT Tumang Boyolali (Baitul Mall Wattamwil atau semacam BPR). BMT tersebut didirikan pada 1 Oktober 1998. Berkantor pusat di Jalan Melati No. 12 Tumang Cepogo Boyolali, dan memiliki 3 kantor cabang di utara Pasar Cepogo, kota Boyolali tepatnya jalan Pandanarang nomor 299 dan di depan pasar Ampel.

Modal awal pendirian BMT pada 1998 hanya Rp 7,5 juta, pada 2009 ini telah mencapai Rp 12 milyar. Lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) UNS Solo yang saya kenal sejak sejak usia belasan ini, telah memiliki nasabah ribuan jumlahnya. Mulai dari perajin tembaga, peternak susu hingga mbok-mbok penjual sayuran di beberapa pasar di Boyolali.

Lembaga simpan pinjam yang dirintisnya  hampir 11 (sebelas) tahun silam itu, beberapa kali mendapat penghargaan dari pemerintah pusat maupun daerah. Beberapa kali pula mendapat pinjaman lunak dari Departemen Koperasi dan UKM, BUMN, Lembaga Pembiayaan dan sebagainya. Atas prestasi yang telah diukirnya itu, sudah tidak terhitung pula ia diundang sebagai narasumber untuk menularkan resep-resep usaha yang digelutinya pada berbagai seminar dan forum UKM.

Kini BMT Tumang telah memiliki sebuah gedung megah sebagai kantor pusatnya senilai Rp 800 juta. Berdiri di atas lahan seluas 340 meter persegi. Dan diresemikan oleh Menteri Koperasi dan UKM Suryadharma Ali pada 20 Januari 2009 lalu, yang dihadiri pula oleh Bupati Boyolali Sri Moeljanto, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jateng A Sulhadi serta pejabat muspida setempat.

Dari gedung megah tersebut, Adib kini lebih nyaman dalam bekerja dan melayani nasabahnya ketimbang saat-saat berjibaku diawal pendirian BMT, dan meyakinkan masyarakat akan pentingnya kredit mikro guna mengangkat harkat ekonomi kalangan bawah itu.

***

Taklimat apa yang dapat kita petik dari dua kisah singkat di atas? Jawabnya, seseorang  jika sudah dapat menyingkap bakat terpendam yang ada pada dirinya, dan mau mencoba keras keluar dari terowongan gelap (pekerjaan) yang selama ini mengungkungnya pastilah akan ada seberkas sinar  (penghidupan baru) di ujung terowongan itu.

Orang yang berani banting stir memulai usaha baru semacam Fatma dan Adib, di Indonesia ini jumlahnya cukup banyak. Kita acap pula disuguhi media massa kisah-kisah sukses semacam mereka berdua. Namun sayangnya, lebih banyak orang yang tidak berani memutuskan suatu bisnis baru sebagai ladang penghidupan dirinya sendiri, sekaligus yang dapat memberi dan membuka peluang pekerjaan bagi insan-insan di sekitar lingkungan sosialnya.

Tanpa saya paparkan efek domino usaha-usaha baru yang digeluti Fatma dan Adib di atas, pembaca pasti tahu bahwa dari bisnis itu telah menghidupi banyak orang dari berbagai lini kehidupan. Ibaratnya dari hulu hingga hilir sektor produksi dan konsumsi telah berhasil dirangkumnya.

***

Kantor Pusat BMT Tumang (http://bmt-tumang.blogspot.com)

Kantor Pusat BMT Tumang (http://bmt-tumang.blogspot.com)

Banyak orang yang sukses memulai bisnis baru karena memiliki bakat terpancar (maksudnya dia memang sedari awal mengetahuinya). Sebaliknya banyak pula orang yang gagal dalam bisnis karena dirinya tidak mengetahui bakat terpendamnya.

Di sini saya tidak akan berbicara kesuksesan bisnis ditinjau dari aspek permodalan, lokasi, jaringan, patron dan sebagainya.

Pada diri Fatma Bahakwan, ia sadar bahwa bakat terpendamnya dalam hal cita rasa masakan. Mungkin sedari kecil ia sudah terbiasa dengan urusan meracik bumbu-bumbu dapur bersama ibunya. Pengetahuan praktis yang telah didapatkan sedari kecil itu memang kelihatannya biasa-biasa saja. Tatkala dia telah bekerja cukup mapan, dengan melihat suasana dan peluang maka baginya bisnis katering merupakan bisnis yang selalu dibutuhkan orang dan tidak ada matinya. Pengalaman sebagai sekretaris, hanyalah batu loncatan agar ia paham manajerial, pemasaran dan lain-lainnya.

Sementara itu, pada diri Adib Zuhairi yang sejak jaman mengenyam pendidikan selalu menjadi pimpinan organisasi itu terbentuk karakter manajer dalam pengelolaaan lembaga. Melihat latar belakang pendidikan sebagai alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip), pastilah orang tadinya heran dengan aktivitasnya sebagai pimpinan “bank rakyat” yang mestinya kavling untuk sarjana Fakultas Ekonomi (FE).

Saya teringat ucapan mendiang Profesor DR Nurcholish Madjid dan akrab disapa Cak Nur, yang menyatakan bahwa seseorang mengenyam pendidikan hingga setinggi-tingginya akan dinilai apakah ia menjadi manusia terpelajar atau bukan? Ia mencontohkan alumni-alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) yang banyak sukses menjadi wartawan dan bankir. Bukan menjadi ahli-ahli pertanian. Jawaban Cak Nur karena mereka terpelajar.

Seseorang yang terpelajar pada dirinya bersemayam kualitas insan pencipta dan insan pengabdi. Yakni insan yang senantiasa mau beriktiar untuk melakukan inovasi baru bagi lingkungan sosialnya dan insan yang mengabdikan diri sesuai bakat, ketrampilan dan ilmu yang telah diperolehnya bagai kemaslahatan masyarakat. Sekalipun itu di luar sekat disiplin ilmu yang dienyamnya.

Bakat terpendam apa yang pembaca miliki agar menjadi manusia terpelajar? Dari sekelumit yang kami ungkapkan pada kisah di postingan ini, kira-kira pembaca sendirilah yang tahu menyingkapnya!

*****

Kamus Postingan ini:

  1. Menyingkap (kk) = Menyibak Tabir, Membuka Selubung.
  2. Taklimat (kb) = Nasehat yang berkaitan dengan hal-hal praktis.

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Petak Ide dan tag , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Menyingkap Bakat Terpendam

  1. Fanda berkata:

    Sepertinya bakat terpendam saya menulis, mas Dwiki. Saya baru tahu bahwa saya menikmati menulis sekitar 1,5 tahun lalu. Itu pun sebenarnya agak terpaksa, karena ingin memiliki penghasilan tambahan tapi (merasa) tak punya keahlian.

    Lalu tiba2 ada kesempatan utk mengikuti seminar tentang internet marketing yang diadakan gratis. Dari sana saya belajar seluk beluk internet marketing, dan bahwa unsur utama dari website adalah content. Yang berarti bahwa saya harus bisa menulis.

    Lalu mulailah saya mengumpulkan bahan-bahan, dan lalu mencoba menulis. Ternyata, tidak seperti yang saya bayangkan, ternyata saya bisa menulis artikel demi artikel dengan lancarnya. Hey, ternyata saya punya bakat terpendam nih!

    Saat ini saya sedang memoles tulisan dan berusaha menemukan kekuatan saya di bidang menulis. Menurut mas Dwiki pribadi, bisakah saya berkarir dengan menulis? Mohon pencerahannya, dari pengalaman mas Dwiki sendiri.

    Terima kasih sebelumnya…

    • Dwiki Setiyawan berkata:

      Jk Rowling, merilis novel pertamanya “Harry Potter dan Batu Bertuah” pada tahun 1997. Novel itu kemudian terkenal diseluruh penjuru dunia, dan disusul kemudian dengan serial selanjutnya.

      Rowling sendiri lahir pada 31 Juli 1965 di Chipping Sodbury, dekat Bristol, Inggris. Berarti usianya saat menerbitkan bukunya yang melegenda itu 30 tahun lebih. Usia yang sebenarnya “sudah berumur” untuk ukuran seorang penulis.

      Namun mengapa bisa akhirnya JK Rowling sukses? Bukan ukuran usia yang jadi patokan, namun proses tiada henti untuk belajar meningkatkan ketrampilan menulisnya. Ia sendiri mengakui, sebelumnya kisah tentang kisah Potter itu hanya dituliskan pada catatan pribadinya.

      Saya rasa sebelumnya Rowling telah mengamati secara mendalam lingkungan sosialnya. Mendalami foklor, cerita, kisah, dongeng di Inggris sana dsb yang juga saat itu sudah tarap perkembangan maju. Demi hanya untuk memberi “dongeng”lain daripada yang lain buat buah hatinya maka mulailah ia menuliskan kisah Potter yang termasyur itu.

      Pelajarannya bagi kita. Untuk menulis apalagi berhasrat terjun dan menjadi penulis sebagai ladang penghidupannya di kemudian hari, Pertama, tidak mengenal usia. Kedua, setiap penulis dituntut untuk melakukan terobosan dalam membuat karya yang “lain daripada yang lain” dengan genre yang berlaku umum pada saat si penulis mencermati lingkungan sosial (dan kecenderungan seragam suatu gaya penulisan). Rowling berhasil melihat peluang semacam itu.

      Penulis perempuan lain yang sekonyong-konyong naik daun, Ayu Utama, juga demikian ketika ia menulis suatu novel berjudul “Saman”. Novel itu ia ikutsertakan dalam lomba penulisan fiksi, dimana tema utama yang diusung Ayu Utama dinilai dewan juri adalah “suatu hal baru.” Maka ia menang (disamping memang isi novel tersebut jalan ceritanya hebat)

      Penulis yang berhasil juga pada dirinya memiliki “daya imajinasi” tinggi. Seperti Rowling, atau Ayu Utama atau bahkan Pramdya Ananta Toer yang bisa memotret realitas sosial dengan gaya bertutur enak dibaca. Hal demikian hanya bisa dilakukan pada orang-orang yang memiliki “daya cipta” tinggi (termasuk imajinasinya).

      Jadi, buat Dik Fanda, jalan masih terbentang lebar untuk “menjadi” itu. Asalkan tekun dan sabar, mengapa tidak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s