Bakat Terpendamku (1): Mendongeng dan Saritilawah


Kisah 1001 Malam (http://imaginenews.com)

Kisah 1001 Malam (http://imaginenews.com)

Sudah lama saya daftar dalam “buku catatan” di pikiran ini, tonggak-tonggak apa saja yang telah dipancangkan dalam perjalanan hidup ini. Dan kini saatnya beberapa catatan yang belum pernah dipublikasikan ini akan  saya bagi ke hadapan pembaca budiman. Dengan harapan akan menjadi inspirasi. Untuk pembaca dalam meniti hari-hari yang telah dan akan dilalui nanti.

Mari kita mulai saja. Oya, siapkan segelas air putih agar nanti pembaca tidak tersedak begitu membaca bagian-bagian dari postingan ini.

Pertama, bakat mendongeng. Selama ini banyak teman yang tidak tahu soal talenta tersembunyi yang saya miliki itu. Kisahnya bermula di Yogyakarta, tatkala saya “indekost” di dusun Sembuh Kidul Kelurahan Sidomulyo Kecamatan Godean Kabupaten Sleman DIY.

Tahun awal 1980-an, saat itu masih kelas satu SMA.  Umur belum 17 tahun. Namun saya pernah menjadi satu-satunya penceramah Ramadhan termuda selepas shalat tarawih pada sebuah masjid cukup besar di desa Sidomulyo yang juga satu kompleks dengan SMP Muhammadiyah II Godean.

Awalnya tidak disengaja. Lantaran malam itu salah seorang penceramah berhalangan, Bapak Suhudi BA selaku “mentor” pengajian remaja yang saya ikuti, meminta agar saya menggantikannya.

“Saya tidak bisa Pak Suhudi,” ujar saya. Bujuk Pak Suhudi meyakinkan, “Bisa. Selama ini kalau pengajian, mas Wawan (ini nama panggilan saat SMA) sering mengajukan pertanyaan dan mampu mengorganisir remaja-remaja lainnya.”

Akhirnya saya tampil ke mimbar dihadapan bapak-bapak, ibu-ibu, senior dan yunior yang memenuhi masjid. Tanpa grogi sedikitpun, saya memulai dengan pengantar klasik pengajian Ramadhan, yang intinya menyatakan bahwa tujuan berpuasa adalah agar manusia semakin bertaqwa dan sebagainya.

Selanjutnya, berbeda dengan penceramah lain, kepada jamaah masjid itu saya hanya bercerita. Ceritanya pun saya petik dari “Kisah-kisah 1001 Malam”, yang jauh hari tentangnya memang pernah dibaca. Yakni kisah tentang si Aladdin  dan Sinbad si pelaut serta cerita-cerita lain, yang terkenal (lebih tepatnya diterjemahkan dari khazanah cerita Persia dan India dengan tambahan  khazanah cerita Arab)  pada masa Khalifah Harun Al-Rasyid di kota Baghdad Iraq.

Malam itu saya hanya cerita tentang terdamparnya kapal Sinbad di sebuah pulau, dimana  penghuni pulaunya menyeramkan dan aneh-aneh. Tanpa dinyana di situ, melalui petualangan yang menegangkan ia akhirnya mendapatkan harta karun, setelah sebelumnya melalui rintangan-rintangan yang sulit (dan tidak masuk akal sebenarnya). Diakhir ceramah, saya simpulkan beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari cerita itu.

Di luar dugaan, Pak Suhudi yang tinggal didusun Puluhan Kemusuk Kelurahan Argomulyo Kecamatan Sedayu Kabupaten Bantul Yogyakarta itu memberi catatan (dan pujian), ke hadapan jamaah shalat Tarawih setelah saya turum dari mimbar yang kemudian dilanjutkan dengan shalat Witir.

Bakat “mendongeng” saya itu ternyata juga disukai jamaah, termasuk anak-anak kecil yang banyak hadir malam itu. Akhirnya, sejak kejadian itu “kavling” Bapak Suhadi memberikan ceramah beberapa kali diberikan pada saya. Hampir 75 % isi ceramah hanya bercerita dengan taklimat di akhir ceramah. Dua kali bulan ramadhan, saat masih kelas I dan II saya menjadi penceramah dengan kisaran tampil 10 kali, dan berhenti ketika saya pindah ke kota Yogyakarta. Kurang lebih berjarak 15 kilometer dari Godean. Sejak kejadian itu, hingga sekarang ini belum pernah saya tampil ke mimbar masjid lagi di hadapan publik untuk “mendongeng”.

Kedua, bakat saritilawah. Ini terjadi kala saya kuliah. Saat itu saya saksikan di kampung, orang membacakan terjemahan A-Qur’an dengan biasa dan datar-datar saja. Tapi tidak dengan saya yang suka membaca puisi atau deklamasi di depan kelas saat pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Seperti dalam bahasa Arab aslinya, Qur’an terjemahan bahasa Indonesia oleh Depag RI itu, hemat saya indah dilagukan dengan penekanan-penekanan tertentu dan tinggi rendah suara serta pelan atau  keras vokal pada teks yang dibacanya.

Sebelum mencoba melagukan terjemahan Qur’an sebagai saritilawah, saya pernah saat SMA membaca majalah bekas, kalau tidak salah,  “Suara Muhammadiyah” yang memuat terjemahan puitisasi Al-Quran oleh “Paus” Sastra Indonesia HB Jasin. Puitisasi terjemahan Qur’an versi HB Jasin itu saya kira suatu maha karya dalam proyek penulisan terjemahan dalam versi lain selama ini. Namun sayangnya, hingga detik ini saya cari-cari versi terjemahan Qur’an puitisasi karya HB Jasin di toko buku, belum pernah saya temukan dan dapatkan.

Alkisah, rutin setiap tahun para remaja masjid di sebuah pelosok desa di Kabupaten Klaten Jawa Tengah yang saya ikuti mengadakan peringatan Isra’ Miraj. Ini kampung nenek, dan saya pernah mengenyam pendidikan dasar di desa tersebut. Setelah ditunjuk menjadi panitia, sedari awal saya meminta ketua panitia untuk menjadi saritilawah acara keagamaan tersebut. Tujuannya, ingin praktek “melagukan” terjemahan Al-Qur’an dengan cara yang cukup berbeda (paling tidak dengan selama itu yang pernah dilihat).

Ketika akhirnya tampil, saya membacakan beberapa ayat Surat Al-Israa’ (yang jamak dibaca saat peringatan hari besar tersebut). Membacanya sendiri seperti orang berdeklamasi (tangan ikut bergerak naik turun). Saya tekan beberapa kata kunci dalam terjemahan itu (termasuk tinggi rendah suara dan besar kecil volume). Menurut saya berhasil.

Buktinya?

Mana ada selama ini orang sehabis membaca Al-Qur’an dalam suatu acara resmi keagamaan kampung mendapat tepuk tangan meriah hadirin dan hadirat? Kecuali yang pernah saya alami itu.


*****

bersambung

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Jejak Langkah dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Bakat Terpendamku (1): Mendongeng dan Saritilawah

  1. susy berkata:

    hallo mas wawan.. aku susi.. masih inget ga? wah ga sengaja liat blog ini..
    hehe aku jadi inget dulu.. betul betul betul. gimana kabar keluarga mas? kapan terakhir ke sembuh kidul? aku sekrang di jakarta. oya.. berita duka..mas wawan udah tau belum? kalo Bpk Suhudi BA kemarin meninggal dunia, sekitar bulan JUNI 2010. karena sakit.. semoga Beliau senantiasa di SISI Allah, dan diampuni segala dosa n salahnya . amiiin

    warm regards

    susy

    • Dwiki Setiyawan berkata:

      Hai Sus. Tentu aku masih ingat sama kamu. Beruntung kamu tersesat masuk ke blog ini, namun tersesat membawa berkah: ketemu diriku. 🙂 Bagaimana kabar Agus, Endah, Rita dan nyokap-bokap?

      Nanti aku kirim pesan via japri saja ya. Biar bisa ngobrol panjang lebar.

  2. Selamat hari kesaktian Pancasila pak, semoga dihari bersejarah ini, bakat-bakat kita mampu merubah arah kiblat bangsa yang semakin hari semakin tidak karuan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s