Perlunya Imajinasi dalam Penulisan Komentar di Blog


Kepada seorang teman yang telah mengunjungi blog ini dengan hanya meninggalkan komentar singkat, “Tukaran Link yuk,” saya membalas di blognya sebagai berikut…

“Paduka xxx yang mulia.

Sebagai Presiden Negara Republik Blog dwikisetiyawan.wordpress, kami telah diam-diam mengunjungi kerajaan blog xxx paduka. Kami telah menyusuri kota-kota baik besar maupun kecil  dengan kehirukpikukannya yang khas di kerajaan ini; pun telah melintasi desa-desa dengan pemandangannya yang elok.

Telah kami jelajahi rerimbunan rimba belantara di kerajaan blog ini dengan seksama, ternyata sekalipun tiap hari pohon-pohon besar ditebangi oleh pengusaha dan masyarakat sekitar namun reboisasi pada awal musim hujan setiap tahunnya juga telah berjalan dengan baik dan sukses. Tidak ada pembakaran (sengaja) hutan kala musim kemarau guna memperluas areal perkebunan. Dengan demikian polusi asap yang menyumbat  dan mengganggu pernafasan manusia itu, tidak pernah kami keluhkan di republik kami sebagai tetangga kerajaan paduka. Berbeda  halnya dengan negara republik xxx yang juga bertetangga dekat dengan negeri kami. Di negara republik xxx tersebut, hampir setiap musim kemarau hutan-hutan (sengaja) dibakar. Akibatnya, bukan hanya mengganggu aktivitas warga negeri tersebut lantaran kabut asap tebalnya, namun juga berdampak signifikan terhadap perekonomian negeri dimaksud. Belum lagi, negeri tetangga tersebut juga telah “mengeksport” kabut asap yang terus terang telah dikeluhkan pelakui usaha dan rakyat negara yang kami pimpin.

Kami juga telah mendaki gunung-gunung indah menjulang tinggi, menyusuri lembah-lembah permai nan subur, menyusuri ngarai elok berkelok-kelok, melintasi sungai menawan yang masih perawan, hingga pantai pasir putih menakjubkan di kerajaan blog ini.

Rakyat di kerajaan blog ini sangat ramah sebagaimana paduka. Karenanya, kami setuju mulai detik ini di antara kita dibuka kantor kedutaan besar. Bersama ini pula kami kirim diplomat sebagai duta besar negara kami untuk menyerahkan surat-surat kepercayaan kepada paduka.

Semoga kerjasama bilateral ini akan menguntungkan kita bersama. Terima kasih.”

Maksud dari komentar yang ditulis itu, saya setuju diadakan pertukaran link atau tautan.  “Karenanya, kami setuju mulai detik ini di antara kita dibuka kantor kedutaan besar.”

Saya perhatikan ada 50 (lima puluh) lebih komentar di blog tersebut, namun kalimat yang saya untai di atas merupakan rekor komentar terpanjangnya.

Mas Abdul Choliq, mantan jenderal lulusan AKABRI tahun 1974  dan pensiunan Dephankam, di blognya http://mascholik.wordpress.com bermotto “Mencari Makna dibalik Peristiwa” mengguratkan tangan atas komentar yang saya tulis, “Inilah komentar terpanjang dan komprehensif yang saya terima. Insya Allah sarannya akan saya ikuti khususnya Halaman Khusus untuk cerita pengalaman.”

Kepada beliau saya menulis komentar atas profil dirinya yang lengkap beserta foto-foto pendukung di blog yang bersangkutan (klik sini):

“Mas Abdul Cholik yang baik.

Saya amat terkesan membaca profil yang mas buat. Lengkap dari A sampai Z. Mulai dari lahir hingga waktu saat ini. Untuk sebuah blog personal, hemat saya memang seperti itulah yang dilakukan. Yakni menjelaskan tentang diri kita, aktivitas, keorganisasian dan sebagainya kepada pembaca yang lain. Dengan demikian, pembaca blog yang baru saja berkunjung tidak meraba-raba siapa gerangan si penulis postingan yang sedang dikunjunginya.

Saya rasa blog ini akan punya “kekhasan” apabila mas Cholik menuangkan sederet dan ’seabreg’ pengalaman yang pernah direguk selama ini dalam suatu postingan. Saran saya dibuat ‘Halaman’ khusus di blog ini untuk menampung serpihan-serpihan pengalaman yang pernah dialaminya. Ini bisa menjadi sebuah memoar jika menyangkut suatu peristiwa tertentu. Atau menjadi autobiografi apabila menulis kisah hidup dari sejak lahir hingga kini. Siapa tahu bisa menjadi buku nantinya, dan bermanfaat bagi anak cucu dan pembaca lainnya.

Sudah tepat memang mas Cholik, di hari-hari ‘tua’ (saya kasih tanda koma atas karena bisa jadi semangatnya masih muda) mengisi waktu dengan kegiatan bermanfaat. Menulis salah satunya. Dengan menulis otomatis dirangsang untuk membaca, karena dua kegiatan ini saling terkait dan melengkapi.

Kegiatan olah intelektual ini pada gilirannya akan memacu pikiran untuk senantiasa berkreasi dan kreatif. Ada yang bilang kegiatan ini mencegah sel-sel otak ‘mengkerut’ (mungkin benar sekali). Dengan demikian ada korelasi antara kegiatan olah intelektual dengan panjang umur. Semoga demikian adanya.

Tetaplah semangat mas Choliq. Bila ada kesempatan, ingin rasanya saya berjumpa muka dengan mas.

Salam buat keluarga”

Imajinasi Komentar (http://shapeshed.com)

Imajinasi Komentar (http://shapeshed.com)

Ada lagi seorang teman dari Surabaya, dinda Fanda namanya, malah menjadikan komentar saya di blognya (klik sini) sebagai fokus utama postingan di blog dia lainnya (klik sini juga).

Dan masih banyak lagi komentar-komentar lain yang ditulis pada berbagai blog, yang bila sedikit lagi dipoles sudah merupakan suatu “Resensi Blog” tersendiri.

***

Pernah saya kemukakan bahwasannya suatu komentar yang kita tulis, dimanapun blog yang pernah dikunjungi (atau sebagai kunjungan balasan) pada hakekatnya merupakan “jejak” kita di blantika maya.

Karenanya saya memanfaatkan ajang komentar tersebut untuk berlatih “bermain kata-kata” sehingga terkesan panjang. Bukan karena saya anti pada komentar-komentar pendek, namun wahana blog ini betul-betul saya manfaatkan untuk “berakrobatik” pemikiran. Lantaran, beda saat saya jadi editor sebuah media yang harus mengedit tulisan-tulisann orang yang harus dibatasi ruang atau halaman,  di blog kita malahan bisa bebas nulis semaunya tanpa pembatasan ruang.

Tanpa menafikan teman-teman lain yang selama ini menulis komentar-komentar pendek (mungkin buru-buru tidak ada waktu atau mau menjelajah informasi lain di blantika maya), saran saya bagi pemula, hendaknya memanfaatkan “ruang tak terbatas” di jagat maya ini untuk berlatih membuat komentar sedikit panjang. Di sinilah perlunya imajinasi dalam penulisan sebuah komentar di blog yang dikunjungi.

Dengannya kita akan dituntut untuk menggali imajinasi di pikiran yang sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. Dalam penggalian itu, saya yakin pembaca akan menemukan intan berlian tak ternilai harganya dalam proses pembentukan jati diri sebagai penulis handal di kemudian hari.

Pilih mana: menggali imajinasi dangkal hanya mendapatkan kerikil atau menggali dalam namun mendapatkan intan-berlian?

*****

Iklan

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Petak Ide dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

7 Balasan ke Perlunya Imajinasi dalam Penulisan Komentar di Blog

  1. Abdul Cholik berkata:

    -Mas Dwiki,Insya Allah anda akan menjadi penulis sekaliber Arswendo atau Cak Nun. Semua berkelebat disekitar anda bisa menjadi bahan tulisan.Itulah dalam dunia”telik sandi) yang disebut dengan kegiatan”Pengamatan dan penggambaran”, yaitu mengamati sekeliling kita kemudian menggambarkan hasil pengamatan tadi dalam sebuah laporan atau tulisan.

    -Ketika saya melihat seorang tukang parkir sedang mengomandoi maju mundurnya mobil saya,ternyata kakinya buntung dua-duanya.Inilah yang kemudian saya tuangkan dalam sebuah artikel di blog.Saya bandingkan dia dengan mereka yang sehat tapi kerjanya hanya( maaf) “Kridho Lumahing Asto”.

    -Maju terus mas dengan artikel2 yang yahud dan bermanfaat.
    -Salam

  2. Rahmat Kedai berkata:

    Hahahaha…
    Saya akui anda benar2 kreatif pak ^^b

    *Dengan begini saya sudah meletakkan link anda ditempat saya, mohon di pantau dengan nama “Dwiki punya”, kalo anda merasa kurang setuju dengan namanya silahkan adu ke saya ^^b

    Thx

    Kedai

  3. laisya berkata:

    Haloo…salam kenal Pak … saya tau blognya bapak via blognya mbak Fanda nih ..

    Terus terang saya malu baca tulisan bapak di atas karena kadang saya komentar di blog orang hanya pendek-pendek saja, sekedar sopan santun balasan berkunjung, balasan berkomentar, dan tentu saja berharap si empunya blog yang saya komentari nantinya akan komentar juga di blog saya. Saya pernah memberikan komentar panjang pada beberapa blog, tapi biasanya pada topik-topik yang memang saya sangat tertarik atau sangat saya kuasai atau lebih seringnya ketika waktu luang.

    Oh ya Pak, mengenai masalah profil, saya justru gak mau terlalu diketahui ttg diri saya lho Pak. nggak tau kenapa ya, tapi kok saya lebih suka seperti itu. Bukan berarti menyembunyikan diri, tp kayanya saya gak terlalu siap aja kalo profil saya ada di blog, walaupun blog itu blog pribadi saya. Aneh ya pak??? 😀

    Terima kasih …

  4. Vicky Laurentina berkata:

    Mas Dwiki, apakah ukuran itu harus jadi masalah? Bikin komentar panjang itu gampang, tapi yang sulit adalah bikin komentar yang cerdas. Saya lebih senang kalau orang berkomentar di blog saya dan memberikan wawasan kepada orang lain, bukan sekedar komentar panjang tapi isinya nggak nyambung dengan postingnya.

  5. Fanda berkata:

    Surprise, geli dan kagum! Itu tiga perasaan yang spontan bergantian timbul di hati saya selama membaca artikel mas Dwiki ini. Surprise karena melihat nama saya dan link blog saya tiba-tiba terpampang di tulisan apik anda ini. Geli karena…lucu saja kalau ingat bahwa asal mulanya saya ‘tersangkut paut’ di sini adalah ketika saya mengomentari posting mas Dwiki tentang pidato Obama di Mesir. Lalu mas Dwiki gantian berkomentar dan memberi saran di blog saya, lalu komentar itu saya masukkan di posting saya, dan lalu posting itu sekarang diulas di sini. Kagum, setelah membaca saran mas Dwiki tentang memanfaatkan komentar di blog orang lain sebagai ajang berlatih bermain kata-kata. Suatu hal yang selama ini tak terpikirkan oleh saya.

    Sesuatu yang selama ini saya lakukan secara spontan saja, ternyata bisa dijadikan arena berlatih menulis. Seringkali memang membaca posting orang lain membuka inspirasi akan suatu hal. Biasanya saya akan langsung berkomentar, tapi tak pernah panjang lebar karena selalu merasa ‘sungkan’, yang lain singkat-singkat kok saya panjang sendiri, nanti dikira keminter dsb. Benar-benar pikiran yang sempit yah?

    Makanya saya bersyukur bisa membaca artikel mas Dwiki yang mencerahkan ini. Setelah saya pikir-pikir, ngapain saya harus sungkan berkomentar? Kan itu gunanya fasilitas komentar pada blog. Dan alih-alih merasa terganggu, mungkin malah si empunya blog dan teman-temannya justru mendapat manfaat dari komentar yang saya tulis? Dan bagi saya, tentu sebagai ajang mengasah kemampuan menulis saya.

    Mulai hari ini saya bertekad akan mengerahkan kemampuan menulis saya juga pada komentar (selain pada posting saya pribadi). Dan itu saya mulai dari sini…
    Terima kasih atas pembelajarannya, ya mas!

  6. greenliveforever berkata:

    bagi temen2 dan admin yang ingin pasang link situs/blog di direktori kami silahkan kunjungi: http://www.edriadaksana.com/directory/sites/
    gratis koq…
    Buat admin blog, makasih banyak dah mau nyebarin info ini.
    semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s