Merangkai Kata Merajut Cerita


Mengasah Ketajaman Pena (http://api.ning.com)

Mengasah Ketajaman Pena (http://api.ning.com)

Salah satu keluhan seseorang tatkala saya masih mahasiswa dulu, dan aktif memberi materi pendidikan dasar (diksar) jurnalistik di kalangan siswa siswi beberapa SMA di Solo awal tahun 90-an, adalah masalah susahnya “menyambung” satu pokok pikiran ke pokok pikiran berikutnya menjadi suatu tulisan yang baik. Memang, ibaratnya sebuah tulisan itu sebuah rajutan, maka pilihan kata per kata dalam paragraf yang saling menyambung dengan paragraf lainnya sebagai benang merah dan pembentuk suatu kesatuan utuh sebuah tulisan adalah serpihan ornamennya. Dalam bahasa sederhana, yakni bagaimana kita mampu: Merangkai Kata, Merajut Cerita.

Apakah rajutan tulisan tersebut akan mendapatkan apresiasi dari pengunjung atau tidak, tergantung dari seberapa kemampuan perajut itu merangkai serpihan ornamen katanya menjadi rajutan tulisan indah yang sedap di pandang mata –suatu tulisan yang memiliki mutu tertentu. Serpihan-serpihan ornamen dimaksud bersumber dari racikan pengembaraan imajinasi, penangkapan gagasan, kedalaman kontemplasi, ketajaman intuisi dan kekayaan pengalaman kehidupan serta proses tiada henti penjelajahan pustaka.

Akumulasi imajinasi, gagasan dan seterusnya di atas tetap hanya mengangkasa di langit pikiran apabila tidak disertai dengan tindaklanjut praktis. Teknisnya berupa kepiawaian menuangkan gagasan atau menulis itu sendiri. Di tulisan sebelumnya, menulis saya ibaratkan seperti koki memasak. “Sedangkan teknis menulis, bisa kita umpamakan dengan cara kita memegang alat-alat masak dan memdemontrasikan tatkala masakan itu kita olah di tungku perapian. Lama atau pendeknya mengolah masakan –panjang atau pendek tulisan– tergantung bahan dasar yang akan kita olah. Mengolah masakan dari bahan dasar ikan segar tentu sebentar. Berbeda dengan bila kita mengolah ‘rebung’ (anakan bambu) yang memakan waktu lama.Tulisan bisa panjang atau pendek, selain soal mood, juga soal ketersediaan bahan-bahan utama yang akan diolah jadi masakan itu.”

Selanjutnya saya katakan bahwa dalam menulis, kita tentu tidak mengharapkan masakan itu terlalu asin lantaran kebanyakan garam yang membuat orang geram (mengumpat pada diri sendiri). Atau terlalu pedas lantaran kebanyakan cabe yang membuat orang mukanya memerah. Melontarkan kritik keras dalam pengibaratan masakan yang terlalu pedas itu seyogyanya dihindari. Karena cepat atau lambat, menu masakan kita itu dijauhi orang.

Kelebihan penulis dan penyair Kahlil Gibran, misalnya, terletak dari kekuatan merangkai kata. Coba kita simak sebuah suratnya pada Februari 1899 yang ditujukan kepada Josephin Peabody, seorang penyair muda Amerika yang hanya beberapa saat ia kenal. “…  Aku heran bagaimana kamu tahu jika aku menyukai kesendirian dan tempat yang sunyi. Mengapa? Karena aku dapat mendengarkan nyanyiannya yang merdu. Pernahkah kamu duduk di ruang gelap dan mendengarkan nyanyian hujan yang sendu? (Maukah kamu menulis lagi untukku? Aku akan menceritakan banyak hal lagi di suratku nanti).” ungkap Gibran di akhir suratnya.

Disamping Josephin, korespondensi Gibran dengan May Zaidah (seorang penyair, kritikus sastra dan aktifis gerakan perempuan kelahiran Palestina) apabila kita baca akan meninggalkan kesan mendalam di dataran hati. Lantaran dari “surat-surat cinta” sepasang manusia yang terpisahkan oleh samudera dan benua serta belum pernah bertemu muka itu (Kahlil Gibran tinggal di New York Amerika Serikat sedangkan May Zaidah menetap di Kairo Mesir), terentang tulisan-tulisan tentang banyak hal yang membangkitkan rasa kekaguman pada keduanya. Dalam salah satu suratnya Gibran menulis, “… Orang-orang Amerika adalah orang-orang yang kuat yang tidak pernah menyerah, tidak kenal lelah dan bahkan tidak mengenal mimpi. Jika membenci seseorang mereka akan membunuhnya begitu saja. Namun jika menyukai atau mencintai seseorang, mereka akan mencurahkan perasaan mereka dengan  menggebu. Rinduku pada kampung halaman telah meluluhkan hatiku. Suatu saat nanti aku pasti akan kembali ke dunia Timur. Dan kalau bukan karena kerangkeng yang kubangun sendiri, tentu aku sudah berlayar ke sana dengan kapal pertama.”

Dua kutipan Gibran itu hanyalah contoh tentang suatu kekuatan tulisan. Garis bawahi sendiri ornament kata sebagai pembentuk rajutan tulisannya dan resapi kedalamanan maknanya. Pembaca pasti sependapat dengan saya, hanya dengan membaca secarik kalimat itu saja sudah dapat menggambarkan suasana muram hati yang tengah berkecamuk pada episode tertentu kehidupan Gibran kala itu.

Banyak penulis lain yang bukan penyair dapat “menghipnotis” pembacanya lantaran racikan tulisannya yang enak dibaca. Kekuatan tulisan itu pada dasarnya bersumber pada keluasan wawasan si penulis. Darinya kita bisa setuju atau tidak setuju. Atau kadang tersenyum, bahkan hingga tertawa berderai-derai. Pun bisa pula kita tak sadar mengernyitkan dahi, pertanda tanpa sadar pula telah diajak si penulis untuk berpikir seribu kali tentang, misalnya, suatu kaidah tertentu yang terlanjur dianggap baku. Bahkan mendapat pencerahan pikiran, seperti yang akan saya contohkan berikut.

Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, merupakan salah seorang penulis yang piawai merangkai serpihan ornamen kata dalam sejumlah tulisannya. Ia menulis kolom bertitel “Maaf dan Terima Kasih” di  harian Seputar Indonesia tanggal 27 Juni 2008, “Orang yang memaafkan secara tulus sesungguhnya akan menyehatkan dirinya sendiri, karena dengan memaafkan, berarti dia mampu menerima kenyataan pahit, kemudian berusaha melupakan, dan seterusnya membuka lembaran baru yang putih dan segar. Dengan demikian, memaafkan, melupakan, dan membangun lembaran baru di hari esok adalah sumber kesehatan seseorang, masyarakat dan bangsa.”

Selanjutnya ia tandaskan, “ Tindakan memaafkan juga meringankan beban psikologis yang akan menyehatkan. Tentu saja, memaafkan yang sehat ada kalanya mesti disertai hukuman dan kemarahan sebagai pendidikan bagi mereka yang berbuat salah. Saya sering merenung, apakah bangsa ini mampu memaafkan terhadap sesamanya ataukah lebih senang balas dendam?

Diakhir tulisannya, Komaruddin Hidayat berharap, “Namun, mari kita buat kompetisi itu indah dan meriah bagaikan festival permainan sepak bola Eropa yang kita nikmati beberapa pekan ini. Siapa pun yang menang, mesti berterima kasih kepada yang kalah, karena tanpa lawan tanding tidak akan ada sang juara. Masing-masing saling memuji dan bersikap sportif di depan publik dan wasit.

Setiap orang hemat saya mampu menjadi perajut tulisan indah. Yakni sebuah tulisan yang bermutu, berkarakter, dan bermanfaat dilihat dari berbagai sudut pandang. Namun juga suatu tulisan yang tidak bertele-tele.

Tidak ada kualifikasi khusus untuk menghasilkan suatu rajutan cerita dan atau tulisan bermutu, selain berlatih secara terus menerus. Pembaca saat ini tengah memegang pena? Tulislah kata apa saja yang kini tengah berkelebat di langit pikiran di atas secarik kertas. Amboi.. bisa jadi salah satunya suatu inspirasi tulisan. Mulailah menari-narikan jari-jemari lentik ke arah tombol-tombol huruf komputer atau laptop dengan santai. Sedikit fokus dan bentangkan menjadi rajutan tulisan, dari inspirasi  ornamen kata per kata yang telah pembaca dapatkan.  Masih mengalami kebuntuan berkreasi? Tinggalkan sejenak perangkat-perangkat teknologi yang mungkin telah menyandera pembaca sekian jam atau sekian menit itu. Cobalah keluar ruangan. Tarik nafas dan hiruplah udara segar nyaman. Masuklah kembali, dan siaplah beraksi!

*****

Kamus Postingan Ini:

  1. Ornamen (kb)= 1).  Perhiasan. 2). Hiasan
  2. Rajutan  (kb)= Hasil dari pekerjaan merajut; Sesuatu yang dirangkai seperti rajut. Rajut sendiri kata benda yang arti harafiahnya jaring; anyaman benang berupa jaring
  3. Kelebat, Berkelebat (kk)= bergerak dengan cepat dan menghilang

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Petak Ide dan tag , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

10 Balasan ke Merangkai Kata Merajut Cerita

  1. David berkata:

    Merajut gagasan satu dengan lainnya menjadi kesatuan yang baik memang tidak mudah. Kita perlu berlatih. Inilah yang terkadang membuat banyak penulis berhenti di tengah tulisannya, membuangnya dan lalu tidak melanjutkannya lagi. Mereka stuck pada ide yang buntu.

    Saya suka dengan gaya kalimat panjang (rata-rata 20 kata) yang Anda gunakan dalam tulisan ini. Ia sedikit persuasive.

  2. masmpep berkata:

    Perlukah menulis berteori? Mungkin ya. Tanda baca, logika kalimat, EYD. Setelah itu: bebaskan imajinas anda, he-he-he.

  3. kusumah wijaya berkata:

    god posting, makasih atas ilmunya mas dwiki.

    salam
    Omjay

  4. kusumah wijaya berkata:

    good posting, makasih atas ilmunya mas dwiki.

    salam
    Omjay

  5. egipt pogoda berkata:

    Hello! I’d just like to say! what a interesting post!! i’m just doing a bit of research for my website but i had issues reading this post due to the text sticking out on to the side menu:):)

  6. Saya dulu ingin sekali menulis,tapi selalu gagal di tengah jalan.

  7. Bret berkata:

    I’m glad I found your site on bing. Thanks for the sensible critique. Me and my wife ended up being just getting ready to study about this. I am very happy to see these good info getting shared freely out there.

  8. Mantap Blognya,,i like it. semoga sukses selalu gan!

  9. meubel berkata:

    nice to get new sience from your post,,,,thanks friends

  10. Butuh kata-kata yang indah, untuk merajut kata cinta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s