Hidup Nyaman Tanpa Kartu Kredit


Contoh Kartu Kredit (www.thinkfinancial.com)

Contoh Kartu Kredit (www.thinkfinancial.com)

Bukan hanya satu dua kali saja pada akhir pekan saya lihat dengan mata kepala sendiri satu peristiwa kecil tatkala antri mau membayar barang belanjaan di depan kasir suatu supermarket.

Seorang ibu muda dengan atraktif membuka dompetnya di samping kasir. Berbeda dengan kebanyakan laki-laki yang sembunyi-sembunyi memperlihatkan isi dompetnya, si ibu muda tadi seolah-olah ingin menunjukkan siapa dirinya. Dengan gerakan tangan tertentu, diperlihatkannya deretan kartu kredit di slot dompetnya kepada para pengantri di belakangnya. Ck… ck…ck.

Alih-alih membuat kagum, perilaku si ibu muda tadi membuat dongkol para pengantri yang sudah cukup lama berdiri. Penyebabnya, transaksi dengan kartu kredit yang satu gagal berlangsung, dan dikembalikan lagi kepada pemiliknya, maka ia cabut lagi kartu kredit lainnya untuk “membayar” barang belanjaannya. Otomatis cukup menyita waktu bagi pengantri.

Ilustrasi di atas, merupakan fenomena sosial yang lazim di tengah kehidupan masyarakat. Dengan memperlihatkan banyaknya kartu kredit yang dimilikinya, seseorang secara tidak sadar ingin dikatakan sebagai kelompok “the have”, modern dan kosmopolitan. Walaupun pada kenyataannya, kadangkala nilai-nilai akan keberadaan kartu kredit tersebut tidak dikuasai dengan benar.

Kebanyakan kita hidup bukan didasarkan standar kelayakan yang ditentukan diri sendiri. Suatu standar yang mempertimbangkan situasi dan kondisi orang per orang yang unik ——atas dasar mobilitas vertikal dan horizontal yang dijalaninya. Oleh karenanya seorang bisnisman, pejabat teras pemerintahan, politisi, manajer humas, atau wartawan dan sebagainya disatu sisi dan pensiunan pegawai negeri golongan rendah, buruh pabrik, petani dan seterusnya di sisi yang lain, misalnya, memiliki alasan-alasan tertentu mengapa yang satu harus punya kartu kredit dan lainnya tidak harus.

Namun di negeri kita ini, prasyarat situasi dan kondisi yang melatarbelakangi seseorang “harus punya kartu kredit atau tidak” bagi sebagian orang nampaknya telah dicampakkan bagai barang usang ketinggalan jaman. Tanpa sadar kita memang menjalani aktivitas kesehariani bukan atas dasar kesadaran mendalam akan kenyataan kehidupan, namun telah didikte dan dibius oleh suatu gaya hidup yang “diciptakan” tangan-tangan industri multinasional. Lewat bujuk rayu iklan-iklan gencar di media massa atau lirikan mata dan sunggingan senyum manis serta (maaf) ceramah salesman yang agak susah diinterupsi itu. Gaya hidup cukup mahal di tengah jutaan rakyat yang masih hidup di bawah garis kemiskinan seperti di Indonesia ini seakan-akan telah menjadi ritual rutin.

Di negeri tercinta ini, dalam hal kepemilikan kartu kredit, seorang pelajar, mahasiswa, pengemudi angkutan umum atau bahkan pengangguran sekalipun sudah lazim didompetnya terselip kartu kredit. Entah bagaimana cara mendapatkannya, kita mungkin sudah mahfum mengetahuinya. Sekalipun ada regulasi tentang prakondisi seseorang dapat membuat suatu kartu kredit, bukan rahasia umum lagi jika di masa-masa lalu tatkala booming produk kartu kredit kebijakan mengenai “syarat dan ketentuan” semacam itu dilanggar begitu saja. Demi mengejar target dan bonus atau kondite guna promosi jabatan, seorang salesman kartu kredit sangat royal merekomendasi seseorang untuk memiliki kartu kredit. Lama kelamaaan, situasi ini menciptakan masalah-masalah bagaikan fenomena gunung es. Yang nampak di permukaan adalah sisi-sisi postifnya dan tanpa cela, namun di bawah permukaan mungkin saja situasinya negatif, tidak terkendali dan runyam?

Fenomena gunung es tersebut, mungkin belakangan ini menghantui kalangan produsen dan konsumen kartu kredit. Indikatornya di pihak pertama terlihat dengan sudah tidak gencarnya lagi produsen memasarkan produk kartu kreditnya atau terkesan mengerem. Sedangkan di pihak kedua, sudah banyak konsumen kartu kredit yang “kurang memiliki ilmu” mengelola kartu kredit berurusan dengan debt collector atau bahkan pihak berwajib lantaran mengemplang hutangnya itu.

Tulisan ini tidak bermaksud menghalang-halangi seseorang untuk memiliki kartu kredit. Tidak pula untuk mencela pembaca yang kini sudah merasakan manfaat akan kehadiran kartu kredit dalam aktivitas kesehariannya. Tulisan ini lebih ditujukan untuk mengingatkan para pembaca yang kini sedang berniat memiliki kartu kredit. Untuk kalangan terakhir, harap dicamkan bahwa sudah tepatkah dengan situasi, kondisi, lingkungan, mobilitas vertikal dan horizontal yang ada layak memilik kartu kredit. Sudahkan selama ini bijaksana dalam mengelola keuangannya sendiri?

Teror Debt Collector (www.bankrupt123.com)

Teror Debt Collector (www.bankrupt123.com)

Ketimbang hanya berfungsi sebagai suatu gaya hidup dan alat pemuasan konsumtif sesaat yang lebih banyak mudharatnya, lebih baik diurungkan saja niat memiliki kartu kredit tersebut. Dengan kartu atm debit yang kini dimilikinya, saya rasa pembaca tetap lebih mulia dan terhormat di arena pergaulan hidup. Bukankah pembaca kalangan terakhir ini ingin juga hidup damai dan nyaman tanpa dikejar-kejar tagihan dan lilitan hutang setiap bulannya? Belum lagi jika keutuhan dan keharmonisan rumah tangga terganggu oleh dering telepon bertubi-tubi atau sms tiada henti bernada teror dari para debt collector lantaran tunggakan hutang yang menggunung dari kartu kredit yang dimiliki.

Percayalah, tanpa kartu kredit pun hidup ini serasa hidup dan nyaman!

*****

Postingan ini telah dipublikasikan lebih dahulu di Kompasiana pada 28-5-2009.

Iklan

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Petak Ide dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Hidup Nyaman Tanpa Kartu Kredit

  1. Lianny Hendranata berkata:

    Sipssssssssssssssssss tulisan yang BAGUS , saya punya kartu kredit benar2 diantarkan oleh bank, dan bberapa bulan tidak dipakai sama sekali, eh ditegur dengan telepon, petugas bank tanya ” apa ada yang bermasalah dengan kartu ibu, kenapa sampai saat ini pemakaian nol”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s