Komentar Beberapa Teman tentang Anas Urbaningrum di Milis Kahmi Pro (Part 1)


Di Restoran Roemahkoe Solo dari kiri M Alfan Alfain, Anas Urbaningrum, Idrus Marham, Dwiki Setiyawan

Di Restoran Roemahkoe Solo dari kiri M Alfan Alfain, Anas Urbaningrum, Idrus Marham, Dwiki Setiyawan

Tulisan saya di blog ini, Episode 2: Spirit Kekeluargaan PB HMI Era Anas Urbaningrum terbit pertama pada 4 Januari 2009. Dalam statistik blog, posting tersebut cukup banyak peminat orang untuk mengkliknya. Kelebihan dari posting tersebut, terletak pada cukup banyaknya dokumentasi foto yang dilampirkan.

Keberadaan dokumentasi foto dimaksud telah merangsang teman-teman semasa PB HMI Periode 1997-1999 dan kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) lain untuk mendownload dan mengoleksinya. Salah satu kelemahan aktivis HMI memang pada hal ihwal mendokumentasi arsip foto saat ia masih aktif berorganisasi. Maka tak heran, setelah berselang lama, keberadaan dokumentasi foto semacam di postingan saya itu sangat besar maknanya buat teman-teman yang pernah aktif di HMI masa itu. Iseng-iseng pula saya mengetikkan nama “Anas Urbaningrum” pada mesin pencarian gambar  (images) Google. Ternyata memang foto-foto tersebut telah diindeks Google.

Postingan tentang Anas Urbaningrum, juga melahirkan banyak komentar di milis Kahmi Pro Network (selain di blog saya juga mengirimkannya ke milis pada hari yang sama semata-mata sebagai file cadangan dan menambah pengunjung blog). Milis tertutup ini merupakan milis tempat ajang bertukar informasi dan perdebatan sehat para alumni HMI. Syarat keanggotaan milis tersebut, yakni alumni HMI, harus registrasi dan disetujui moderator. Anggotanya hingga saat ini telah mencapai lebih dari seribu orang, dengan postingan anggota per hari rata-rata 20-40 buah.

Komentar pertama datang dari saudara Muhammad Saad, mantan PB HMI Periode 1992-1994 yang juga mantan Ketua Umum HMI Cabang Bogor dan alumni Institut Pertanian Bogor (IPB). Kini ia menjadi seorang birokrat di Departemen Pertanian Republik Indonesia. Kata Saad, “Dwiki bakat menulis sejarahnya boleh juga nih, saya rasa buku-buku  tentang HMI sangat langka di tahun 80 dan 90-an, diseriusi saja (walaupun gayanya santai) pasti banyak yang membutuhkan. HMI pasti punya zaman keemasan dan pasti juga punya masa kuning kekarat-karatan, ya…untuk pembelajaran dan sebagai organisasi kader layak ditulis (dan biarkan saja kalau ada kontroversi, toh orang akan arif melihatnya). Saya dulu termasuk kelompok yang tak begitu tertarik dengan politik dan selalu ingin HMI berjarak dengan kekuasaan (ini menurut saya lho, tapi bisa tanya sama Joni dan dr Alwi, jangan tanya Taufiq dan Yahya he..he..), tapi asyik juga tuh dijamu Pak Harto di Istana. Ha…Ha…dasar ndeso.”

Komentar kedua dari saudara Rakhmat Hidayat, mantan alumni HMI Cabang Purwokerto yang kini dosen di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Ujar Rakhmat, “Mas Dwiki. Pertama, terima kasih catatan ringannya. Menarik dan menyegarkan pikiran dari berbagai tugas pekerjaan. Mengenai Dies Natalis ke-50 HMI yang saya masih ingat betul adalah batik yang digunakan oleh seluruh kader yang menghadiri acara tersebut. Saat itu saya masih di komisariat, rombongan senior-senior kami dari Cabang Purwokerto dengan jumlah cukup banyak menghadiri langsung ke JCC. Mereka berangkat ke Jakarta sangat senang. Sekembalinya dari JCC, mereka seperti biasa foto-foto ketika acara Dies Natalis berlangsung mengenakan batik tersebut. Menurut saya batik tersebut sangat bagus motif dan coraknya.  Atau, mungkin Mas Dwiki juga msh menyimpan dgn baik batik tersebut? Atau ada warga Kahmi Pro lain yg msh menyimpannya ? He…he… Kedua, Tahun 1999, HMI Cabang Purwokerto mengadakan Seminar Nasional dgn tema Refleksi Reformasi di Kampus Unsoed. Ketua panitianya—kalau tidak salah Mas Dede Nurdin, salah satu jamaah Kahmi Pro juga. Anas Urbaningrum menjadi salah satu pembicara acara tersebut. Saat itu posisi Cak Anas di media nasional sangat marketable dengan komentar-komentar dan tulisannya di media. Cak Anas datang ke Purwokerto didampingi Mas Tatang Badrutamam (Fungsionaris PB HMI, mantan Ketua Umum Cabang Solo).  Cak Anas tiba di Purwokerto dini hari & langsung ke Purwokerto. Dari Jakarta Cak Anas naik Kereta Api. Karena panitia kesulitan mencari mobil untuk menjemput Cak Anas dan Mas Tatang, akhirnya kami hanya menjemput mereka berdua dengan motor panitia. Cak Anas dibonceng oleh seorang panitia ditengah dinginnya malam Purwokerto. Begitu juga dengan Mas Tatang. Jarak Stasiun Purwokerto dengan Hotel Darajati—di seberang Kampus Unsoed lumayan jauh. Cak Anas pun menikmati boncengan motor tersebut meski dengan udara dingin yang menggelayuti Purwokerto saat itu. Tak ada fasilitas mewah dari kami untuk menjamu mereka berdua. Jam 9 paginya, Cak Anas langsung menjadi pembicara. Betul-betul romantis suasananya. Saya tidak tahu siapa kader yang membonceng Cak Anas ketika itu. Mungkin suatu saat Cak Anas jadi Presiden RI, kader tersebut akan merasa bangga pernah membonceng (mantan) Presiden HMI tersebut. he..he..he…”

Komentar ketiga dari Taruna Ikrar. Kandidat Doktor di University of California USA 2008 yang pernah jadi Staf Ketua PB HMI Periode 1997-1999 dan juga alumni Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makasar Sulsel ini menorehkan kementarnya sebagai berikut, “Dwiki. Surprise,…masih terekam semuanya… Kecuali sewaktu makan bareng Ikan Bakar di Muara Karang Ancol..kok tidak disebutkan.  Kan menarik juga nostalgia itu…”

M Alfan Alfian yang tiga kali  tentang dirinya saya posting di blog ini (lihat klik 1 dan klik 2 serta klik 3) juga memberikan testimoni. Alumni HMI Cabang Malang yang pernah jadi Ketua Umum Bakornas Lembaga Pers PB HMI Periode 1995-1997 dan Pemred majalah MADANI Era Anas Urbaningrum itu menggoreskan catatannya. “Waktu itu saya sama Bung Ochen sempat mengedit buku 50 HMI berisi rangkaian pendapat tokoh2 (apa ada yang masih simpan?). Sekretariat panitia ada di Rawasari Jakarta. Bagian ang mengusahakan batik 50 tahun HMI Bung Yuyon Ali Fahmi. Untungnya saya kebagian dan itulah batik pertama yg saya miliki sepanjang sejarah. Majalah D&R mewawancarai Cak Nur (Prof DR Nurcholish Madjid) apa komentarnya tentang 50 tahun HMI, jawabannya cukup mengagetkan. Cak Nur bilang bukannya ulang tahun emas, tapi “besi karatan”. Di Malang ada teman saya waktu itu yg mengatakan bahwa HMI telah mengambil beban sejarah, justru karena ada Pak Harto di ulang tahunnya. Kelak, kata teman saya waktu itu, HMI akan menuai “badai sejarah”, ia akan ditinggalkan mahasiswa begitu orde baru tumbang. Jangan nakut-nakuti, ah, kataku. Berpuluh tahun berlalu, dan HMI masih eksis aja tuh.”

Selanjutnya datang komentar dari saudara Moksen Idris Sirfefa. Mantan aktivis HMI dari HMI Cabang Ternate yang asli dari Pulau Papua ini menulis pada 8 Januari 2009, “Ki, dalam posting sampeyan disitu jabatan saya Wasekjen KU. Posisi Wasekjen KU itu bukan di era Anas tapi di era Taufiq, Ketuanya saudara Viva Yoga Mauladi. Sedangkan di Era Anas, saya Ketua KU dan Aziz Muslim Wasekjen-nya. Demikian koreksi saya. Trims.”

Saya membalas komen Moksen Idris Sirfefa yang akrab dipanggil Ochen sehari sesudahnya. “Maaf Pak Ochen. Sebabnya ‘mengingat-ingat’ memori masa lalu memerlukan daya ingat yang tinggi. Sedangkan daya ingat saya masih medium atau bahkan rendah. Terima kasih koreksinya.”

Sebagai gongnya, saudara Anas Urbaningrum rasanya gatal juga menanggapi perihal postingan menyangkut dirinya itu. Ia menulis singkat, “Pak Dwiki, sang salam dari kesayupan, memang “raja ingat”. Tetapi lantaran Dwiki terlalu serius dan intelek, atau mungkin anti olahraga, cerita-cerita olahraga bareng-bareng yang acapkali dilakukan di Graha Insan Cita (GIC Depok) tidak terekam. Kadangkala main voli, sepakbola mini atau tenis meja di GIC cukup menyehatkan. Sehat jasmani dan sehat hubungan persahabatan. Lumayanlah. Meskipun tidak melahirkan atlit. He..he..he.. Salam.”

Coba perhatikan, kutipan pidato Ketua Umum PB HMI Periode 1995-1997 saudara Taufiq Hidayat pada Dies Natalis HMI ke-50  dihadapan Presiden H.M. Soeharto, para menteri kabinet, pejabat-pejabat pemerintahan baik sipil maupun militer, alumni HMI, simpatisan dan ribuan kader HMI. Di awal paragraf postingan Episode 2, Taufiq menandaskan “…Bagi HMI, kekuasaan atau politik bukanlah wilayah yang haram. Politik justru mulia, apabila dijalankan di atas etika dan bertujuan untuk menegakkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Lantaran itu HMI akan mendukung kekuasaan pemerintah yang sungguh-sungguh dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilaan. Sebaliknya, HMI akan tampil ke depan menentang kekuasaan yang korup dan menyeleweng.

Kalimat-kalimat cetak miring itu tiada lain buah pemikiran Anas Urbaningrum yang memang pada saat itu terlibat sebagai “ghost writer” Pidato Dies Natalis Emas HMI pada 1997.

Hingga hari ini pun, belum pernah postingan yang menjadi fokus bahasan ini saya revisi, sunting atau sebagainya. Termasuk pula perbincangan di milis Kahmi Pro Network  diatas juga tidak saya tanggapi balik. Sengaja saya biarkan apa adanya.

Selain itu, juga masih ada beberapa nama lain yang memberi komentar. Diantaranya saudara Ichwan Mustofa, Ahmad Zaki, Suyuti Syamsul dan Hariyono. Lantaran komentarnya tentang  internal organisasi HMI maka dalam tulisan ini tidak dikutip.

Silakan download dokumentasi teks berupa Newsletter PB HMI, Kliping Media Cetak dan SK Formatur dan SK Reshuffle PB HMI Periode 1997-1999 berikut ini ….

*****

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Jejak Langkah dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

6 Balasan ke Komentar Beberapa Teman tentang Anas Urbaningrum di Milis Kahmi Pro (Part 1)

  1. masmpep berkata:

    sudah saatnya dirjen sejarah hmi agussalim sitompoel pangsiun. digantikan direktur sejarah hmi kontemporer dwiki setiyawan yang sudah waktunya naik pangkat jadi dirjen, he-he-he.

  2. ZULFIKOR MUBAROQ berkata:

    Assalamu’alaikum Kawan-kawan, izinkan saya bergabung dalam group ini, mengenang kembali masa-masa kita dulu di PB HMI Jaman Cak Anas yang penuh kenangan bagi saya, walaupun saya masuk pada Periode Reshufle. Salam Yakusa

  3. Ping balik: Rehat Sejenak « Dwiki Setiyawan's Blog

  4. edi berkata:

    Salam Bung!

    Betul, pendokumentasian adalah salah satu kelemahan bukan saja HMI tapi bangsa Indonesia…. salut atas usaha Mas Dwiki!

  5. riskirosianto berkata:

    Wah ternyata ada juga kliping editorial MI nya hehe.Saya juga koleksi editorial Media Indonesia yg jadul hehe.bila anda ingin melihat arsip editorial MI silahkan kunjungi blog saya di riskirosianto.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s