Kritik Pengandaian Sistem Distrik dalam Liputan Hasil Pileg 2009


Kursi Kekuasaan dari Cover Buku "Strategi Politik"

Kursi Kekuasaan dari Cover Buku "Strategi Politik"

Membaca liputan hasil Pemilu Legislatif di media massa baik cetak, elektronika maupun situs dunia maya terkadang membuat saya bukannya bertambah horizon politiknya namun malahan mengerdilkannya. Ini berkaitan dengan gencarnya pemberitaan perolehan suara seseorang calon legislator berdasarkan Tabulasi Nasional Pemilu Komisi Pemilhan Umum (TNP-KPU) dari Hotel Borobudur Jakarta. Jika seorang caleg A mendapatkan suara, misalnya 15 ribu, sementara caleg B mendapatkan suara 14 ribu dalam satu daerah pemilihan yang sama dikatakan bahwa caleg B “telah dikalahkan” si caleg A. Atau artis X yang dimajukan suatu parpol tertentu dengan perolehan suara diatas politisi Y dari parpol berbeda pada daerah pemilihan yang sama, dikatakan si artis mengungguli si politisi.

Malahan pernah saya baca, si wartawan tahu bila di dapil bersangkutan diperebutkan, misalnya, 8 buah kursi untuk DPR-RI, ia langsung saja meranking perolehan suara caleg suara terbanyak dari urutan 1 hingga 8 tanpa peduli berapa bilangan pembagi pemilih (BPP) di daerah bersangkutan serta apakah ada caleg dari parpol yang tidak lolos Parliamentary Threshold (PT).

Pemberitaan semacam itu terlalu menyederhanakan masalah. Cenderung menyesatkan, dan tidak memberikan pendidikan politik bagi masyarakat lantaran mengandaikan sistem pemilu yang digunakan adalah distrik dimana the winner takes all (pemenang mengambil semuanya). Padahal sistem yang kita anut bukan distrik melainkan proporsional.

Sedangkan dalam sistem distrik, hanya ada satu caleg dari parpol yang memperebutkan satu kursi, bersaing dengan parpol-parpol lain yang juga hanya mengajukan 1 orang calonnya. Untuk menentukan pemenangnya, cukup dilihat perolehan suara terbanyak si caleg pada distrik bersangkutan. Bila si pemenang dalam perjalanan waktu umpamanya meninggal dunia atau tidak bisa menjalankan kewajibannya sebagai legislator atau dipromosikan ke jenjang eksekutif, untuk menentukan penggantinya tergantung oleh peraturan yang dibuat. Bisa langsung diberikan kepada suara terbanyak kedua pada distrik tersebut atau mengadakan pemilihan umum sela. Atau cara lain yang telah disepakati sebelumnya.

Dalam sistem proporsional terbuka pemilu anggota DPR-RI, sekalipun mendasarkan pada suara terbanyak caleg, yang pertama kali harus diperhatikan: 1. Apakah parpol sudah melewati ambang batas 2,5 % Parliamentary Threshold (PT) yang dipersyaratkan UU Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Anggota Legisllatif untuk mendudukkan anggota di DPR-RI atau belum, 2. Suara partai politik tertentu dan keseluruhan suara caleg apakah sudah memenuhi bilangan pembagi pemilih (BPP) atau belum. 3. Jika sudah memenuhi BPP, untuk menentukan perolehan kursinya barulah penentuan jatah kursi tersebut. Karena mendasarkan pada suara terbanyak, jatah kursi itu diberikan pada caleg dengan suara terbanyak dari parpol yang telah memenuhi BPP.

Jika parpol tersebut mendapat jatah kursi sebanyak 2 buah berdasarkan BPP, maka pada pembagian Tahap I suara caleg terbanyak 1 dan 2 lah yang akan mengantongi tiket ke gedung parleman. Contohnya suara parpol dan seluruh caleg mencapai 500 ribu dengan BPP DPR 200 ribu. Berarti jatah kursinya 2 buah dengan sisa suara sebanyak 100 ribu.

Parpol yang memiliki sisa suara 100 ribu diatas akan mendapat tambahan 1 kursi lagi berdasarkan sisa suara sekurang-kurangnya 50 % BPP yang dibagi di Tahap II. Sedangkan jika kurang dari 50 %, sisa suara dari seluruh dapil dikumpulkan di provinsi untuk menentukan BPP DPR yang baru di provinsi bersangkutan. Untuk lebih jelasnya silakan lihat mulai Pasal 202 dan seterusnya pada UU Nomor 10 Tahun 2008 tersebut.

Penjabaran lebih teknis dari UU Nomor 10 Tahun 2008 itu tertuang dalam Peraturan KPU Nomor 15 Tahun 2009 tentang Pedoman Teknis Penetapan dan Pengumuman Hasil Pemilihan Umum, Tatacara Penetapan Perolehan Kursi, Penetapan Calon Terpilih dan Penggantian Calon Terpilih dalam Pemilohan umum Anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten Kota Tahun 2009.

Di forum kongkow-kongkow pos ronda lingkungan rukun tetangga (RT), saya sudah sampai taraf bosan menjelaskan soal ini. Saya katakan, sekalipun si caleg W meraup 800 ribu suara dari 1 juta suara sah atau 80 % namun ia berasal dari partai politik yang tidak lolos PT, tetap saja suara dia hangus tak berbekas. Bila di dapil bersangkutan diperebutkan 5 kursi, maka BPP-nya menjadi kecil hanya 40 ribu saja (sisa 200 ribu atau 20 % dari 1 juta pemilih sah dibagi 5 alokasi kursi). Diperebutkan oleh partai politik yang telah memenuhi ambang batas 2,5 % dari jumlah suara sah secara nasional.

Berkaca dari penjelasan singkat yang mudah-mudahan dapat dengan gamblang dipahami ini, kiranya para wartawan peliput hasil Pemilu Legislatif 2009 sekarang ini tidak serta merta mewartakan suatu perolehan suara dari caleg tertentu, tanpa membaca dan mendalami kandungan UU Nomor 10 Tahun 2008 beserta penjabarannya dalam Peraturan KPU.

Demikian sekedar kritik. Semoga ke depannya liputan-liputan hasil Pemilu Legislatif 2009 di media massa cetak, elektronika dan situs dunia maya semakin mencerdaskan masyarakat pembacanya.

*****

DWIKI SETIYAWAN, blogger komunitas Kompasiana dan pengamat politik pinggiran.

Iklan

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Pemilu 2009 dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Kritik Pengandaian Sistem Distrik dalam Liputan Hasil Pileg 2009

  1. lilik berkata:

    wah,maksih y q nambh info ats penjelasanx.q pernah dengar dari salah satu anggota partai.jika diantara 2 calon legisl mis: a.perolehanx 500 b.perolehanx 350
    hanya dua calon tersebut yg punya suara terbyak maka si a bisa membeli suara si b asal masih dalam satu partai.bagmana?mhn jwbn sejelas mungkin.untuk menambah pengetahuan saya dibidang politik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s