Surat Terbuka untuk Mas Prabowo Subianto: Kultus Individu?


Prabowo Subianto credit foto: Harian Suara Merdeka

Prabowo Subianto credit foto: Harian Suara Merdeka

Pengantar Admin Blog: Sejak saya mulai aktif nge-blog pada akhir Oktober 2008, banyak keuntungan (material maupun imaterial) yang diperoleh. Sedikitnya 3 (tiga) hal dapat saya kemukakan di sini. Pertama, membaca buku lebih rajin. Buku-buku “babon” semisal “History of the Arabs” karya Philips K Hitti atau “The History of Java” karya Thomas Stamford Raffles –versi terjemahan bahasa Indonesia– dan buku-buku politik saya baca bahkan halaman demi halaman sejak akhir bulan Maret lalu hingga saat ini. Padahal dua buku yang saya sebutkan tersebut, tebalnya masing-masing lebih dari 500 halaman. Harganya pun hampir mendekati Rp 200 ribu per eksemplarnya. Aktivitas membaca itu, disamping untuk memperkaya wawasan juga sebagai bahan-bahan postingan blog atau komen di blog lain. Rasanya belum pernah bila saya berkomentar di blog orang lain hanya mengatakan, “makasih”, “thank’s” atau kata-kata pendek lainnya. Biasanya cukup panjang, bahkan pernah ada penulis blog yang balik mengomentari bahwa komen saya panjang-panjang.

Kedua, menambah dan memperluas jaringan sosial (social network). Dengan nge-blog (yang rutin di update) otomatis akan menambah teman dan jaringan sosial. Cukup banyak pula yang ditindaklanjuti dengan kopi darat. Disamping beraktivitas di dunia maya, yang tidak boleh dilupakan adalah menyeimbangkan dengan aktivitas di dunia nyata.

Ketiga, cukup rutin melakukan reportase amatir. Sebelum nge-blog, kegiatan saya agak monoton. Bila ada acara-acara undangan diskusi, seminar dll bisa dihitung dengan jari setiap bulannya yang dihadiri. Namun setelah nge-blog, rasanya sayang kalau melewatkan undangan-undangan olah pikir dan olah rasa yang disampaikan teman atau tahu dari media massa. Lantaran aktivitas itu bisa dijadikan bahan postingan. Minimal memuat reportase amatir. Pula undangan Temu Blogger acap saya hadiri. Bahkan, pada musim kampanye sekarang ini kadang saya hadir di suatu kampanye parpol tertentu hanya untuk mengamati massa kampanye atau memotret kalau ada kejadian lucu.

Contohnya postingan berikut, saya tulis berdasarkan Temu Blogger dan Facebook for Prabowo Subianto (FBPS) dengan Prabowo Subianto di Cafe Amigos Bellagio pada Selasa 31 Maret 2009. Saya sajikan dalam bentuk tulisan surat dan dimuat di blog Kompasiana (01-04-2009). Selamat membaca selengkapnya:

Mas Prabowo Subianto yang baik

di-

tempat

Dengan hormat.

Tiada untaian kata paling indah selain puja dan puji syukur ke hadirat Illahi Rabbi, yang telah mencurahkan rahmat, hidayah dan barokah-Nya sehingga kita masih diberi kesempatan bertatap muka dan bertegur sapa di forum Kompasiana yang cukup bergengsi ini. Selasa malam (31-03-2009) saya hadir acara temu blogger Kompasiana dan komunitas Facebook for Prabowo Subianto (FBPS) di Cafe Amigos Bellagio Kawasan Mega Kuningan Jakarta Selatan. Dimana aktor utama di panggung utama temu bloger tersebut Mas Prabowo sendiri. Ada beberapa catatan yang melintas di langit pikiran, coba untuk diungkapkan di blog terhormat ini.

Pertama, aksi panggung dan pemaparan pokok-pokok pikiran. Penampilan sederhana, gaya bertutur lugas, cerdas dan tangkas serta agak teatrikal Mas Prabowo di temu blogger semalam mengesankan diri saya. Pula penyampaian dua pokok pikiran mengenai neraca perdagangan Indonesia sejak 1997 yang senantiasa surplus dan upaya sistematis “penggelembungan” rata-rata 25 % Daftar Pemilih Tetap (DPT) pada Pemilu 2009.

Untuk soal neraca perdagangan yang senantiasa surplus sejak tahun 1997 hingga 2008, namun kondisi ekonomi masih tergantung hutang-hutang baru luar negeri memang bagi saya cukup memprihatinkan. Perlu terobosan-terobosan dan inovasi fenomenal guna mengangkat harkat, martabat dan kemakmuran negeri dan masyarakat kita ini agar dapat sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang telah maju.

Sedangkan soal DPT yang rebut akhir-akhir ini, hemat saya semua pihak yang berkepentingan terhadap pelaksanaan Pemilu Legislatif 2009 perlu duduk bersama mencari solusi yang terbaik. Hal ini diperlukan agar hasil pemilu legislatif bulan April nanti dapat diterima semua pihak. Terhadap semua persoalan-persoalan yang dihadapi bangsa dan negara, benar apa yang Mas Prabowo katakan bahwa muara kesemuanya terletak pada kepemimpinan atau leadership di semua tingkatan pemerintahan.

Kedua, ungkapan lapang dada dalam hal menerima kritik. Pada salah satu bagian paparan, dikatakan bahwa Mas Prabowo termasuk tipe orang yang lapang dada dalam hal menerima kritik. Itu sudah saya cermati sejak lama. Kenyataannya memang demikian adanya. Banyak pihak yang suka atau tidak suka dengan sepak terjang Mas Prabowo selama ini. Ada yang diungkapkan dengan terbuka dan lugas (bahkan di forum publik). Ada yang mengungkapkan dengan tertutup dan diam-diam. Ada yang menyebarkan desas-desus dengan menambahi bumbu-bumbu sendiri yang jauh panggang daripada api. Bahkan ada yang membatin buat catatan khusus dirinya sendiri.

Kesemua yang baru saya ungkap di atas merupakan sifat natural manusia; bermacam-macam kemauan dan motif serta beda antara satu kepala dengan kepala lainnya. Diantara ragam ungkapan suka atau tidak suka itu, seperti ditandaskan Mas Prabowo sendiri semalam, ungkapan pujian atau kritik secara terbuka dan lugaslah yang diharapkan. Kira-kira semalam Mas Prabowo berujar, “Sebuah bangsa tidak akan maju bila pemimpinnya tidak mau dikritik. Karena dari kritiklah akan lahir formula baru atau sintesis untuk memperbaiki keadaan. Ada tesis, anti tesis dan kemudian lahir sintesis demikian seterusnya.”

Mudah-mudahan surat terbuka ini merupakan cara pengungkapan suka atau tidak suka diri saya melalui cara terbuka dan lugas seperti yang diharapkan Mas Prabowo.

Ketiga, hakikatnya blogger itu independen. Menyimak dan menikmati aksi panggung dari awal hingga menjelang akhir pemaparan pokok pikiran Mas Prabowo, saya cukup terkesima. Namun demikian ada hal yang cukup menyentak hati tatkala diakhir pemaparan, Mas Prabowo “mengajak” hadirin untuk bergabung dalam “Barisan Prabowo Subianto”. Saya rasa bila ajakan itu ditujukan untuk para blogger yang hadir di Café Amigos, ajakan semacam itu kurang tepat dan salah alamat. Sekalipun mungkin seorang blogger menjadi anggota atau simpatisan tokoh dan partai politik tertentu, dalam aktivitas nge-blog seorang blogger bersifat independen. Seorang blogger bukanlah corong atau kepanjangan tangan tokoh, partai politik, dan ideologi tertentu. Segala hal yang berkaitan dengan aktivitas nge-blog, blogger sendiri yang akan menentukan. Tanpa ia bisa diintervensi oleh pihak manapun.

Keempat, pengkultus individuan Mas Prabowo. Poin terakhir ini saya kira yang terpenting sebagai masukan Mas Prabowo. Usai acara temu blooger, penyelenggara menambah acara selingan sebagai pernak-pernik yang dimaksudkan untuk menyemarakkan acara. Tampil ke depan panggung, beberapa anak muda menyampaikan aspirasi. Tujuan mereka yang pokok menyerahkan beberapa ikat bunga dan suka cita bertemu idolanya. Namun demikian, kesan yang saya tangkap, ada ungkapan-ungkapan mereka untuk mengkultus individukan Mas Prabowo. Dan nampaknya Mas Prabowo menikmati hal demikian?

Saya rasa ke depannya, ungkapan yang bernada pengkultus individuan semacam yang saya saksikan di Café Amigos semalam itu tidak perlu terulang. Penyelenggara acara atau tim sukses PS perlu mem-filter dan mewaspadai upaya pengkultus individuan itu. Disamping tidak mendidik bagi kalangan muda, ungkapan kultus individu itu merugikan ditinjau dari strategi perjuangan jangka pendek Mas Prabowo sendiri. Lantaran saya yakin Mas Prabowo sendiri juga tidak ingin dirinya dikultus individukan, bukan?

Kita perlu belajar dari publik Amerika Serikat. Dalam sejarahnya pernah tampil Franklin Delano Roosevelt (FDR) sebagai sosok pemimpin kuat dan cakap dalam mengatasi keadaan kacau pasca malaise tahun 1929. Sekalipun dalam masa 4 periode masa kepresidenannya yang cukup berhasil, namun ia tidak pernah dikultuskan oleh rakyatnya. Di blog ini saya juga pernah menulis dua serial postingan soal kepemimpinan FDR. Dibagian awal postingan, saya kutip kata-kata FDR, “Tugas pemimpin negara ialah: membujuk, memimpin, berkorban serta selalu mengajari rakyat. Tugasnya yang terpenting ialah mendidik”.

Mudah-mudahan Mas Prabowo mampu mendidik rakyat agar tidak mengkultuskan para pemimpinnya.

Demikian surat terbuka berdasarkan catatan yang masih hangat melintas di langit pikiran dari acara temu blogger semalam. Ada kurang lebihnya saya mohon maaf sebelumnya.

Oya, sampaikan salam saya kepada orang-orang dekat yang selama ini menginspirasi dan mendampingi perjuangan Mas Prabowo, bahwa seorang teman baru blogger, Dwiki namanya, menyimpan kerinduan yang dalam di hatinya buat mereka. Terima kasih.

*****

DWIKI SETIYAWAN, seorang blogger pendatang baru. Anggota komunitas Blog Kompasiana. Hoby membaca dan corat-coret.

catatan: versi awal tulisan ini dimuat blog Kompasiana pada Rabu 1 April 2009.

Iklan

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Jejak Langkah dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

7 Balasan ke Surat Terbuka untuk Mas Prabowo Subianto: Kultus Individu?

  1. Lili berkata:

    Dear Pak Prabowo,

    Dijaman Sekarang ini di Indonesia semua mengatasnamakan kesejahteraan, kerakyatan, kemakmuran, tapi apa nyatanya, benar yang bapak bilang di TV One , liputan di rumah Bapak,
    kami orang kecil ini hanya mampu untuk bertahan hidup aja dah syukur.

    Dulu diharapkan PDI Perjuangan bisa membawa bangsa ini lebih baik, semua Rakyat mendukung tetapi yang ada kekecewaan rakyat Indonesia yang mendalam, sekarang kami rakyat Indonesia Butuh Makan, Sandang, Papan, Pekerjaan, dan bukan fanatisme seorang pemimpin, sekarang kami butuh makan, tempat tinggal, pekerjaan, lapangan usaha yang kondusif, bukan mengolah orang – orang kaya, konglomerat, saya sangat setuju , jelas sekali penderitaan kami Rakyat Indonesia yang Bapak Jabarkan di TV one, dan itu sudah representatif kami yang terpuruk ini. Kepada siapa kami mengadu, semua pemimpin hanya berkoalisi, mempertahankan kekayaannya, proyeknya, jatahnya masing masing, dan kami Rakyat yang miskin yang prosentase nya jauh lebih besar di Bangsa Ini yang terpuruk.

    Saya Setuju untuk tidak menunjuk orang, seperti Bapak katakan yang penting kita berbuat apa yang dapat kita perbuat untuk orang lain yang membutuhkan uluran tangan.

    Karena kami tidak mampu lagi mengatur kata kata untuk penderitaan kami pak, disini Jakarta masih lebih baik, tetapi saudara saudara kami di pedalaman waduh pak , ketemu nasi aja seperti ketemu emas,

    Kiranya komitmen Bapak untuk majukan Bangsa ini di Redhoi Tuhan Yang Maha Esa, dan kami merasakan getaran itu, bagaimana Bapak Terpuruk dengan mantan besan Bapak sendiri.

    Kiranya karakter bapak ini dapat ditularkan oleh semua elite politik yang kerjanya membual , mengumpulkan harta sebanyak banyaknya, hura hura, foya foya.
    kita sama kota penang yang kecil aja ngak ada apa apanya, sementara rakyat bangsa lain minimal hanya untuk makan dan tempat tinggal tidak sulit.

    Terima Kasih Pak dari Kami Bangsa dan Rakyat yang terbuang ini, dan jujur sebelum kemunculan Bapak kami dah apatis untuk mengikuti Pemilu , buat apa, kalau hanya menyengsarakan kami doang,
    Setiap Presiden, Wakil Presiden, Menteri, Gubernur dan Pejabat yang memegang Jabatan di Indonesia , anggota DPR, Pejabat TNI, Pejabat Polisi, Jaksa dan Pengadilan Pasti jadi KONGLOMERAT di Bangsa Ini, mereka hidup dalam kemewahan, glamour dan tidak sungkan sungkan memamerkan kekayaan mereka di depan Bangsa Yang Kelaparan ini, semua tempat longsong karena Hutan, tanah semua di rangsek oleh pejabat untuk dijadikan Uang untuk kekayaan pribadi dan Kelompok.

    Tapi di Kampanye mereka tidak ada lagi yang lebih manis, di Asia Tenggara kita Bangsa Paling Miskin, dari pendapatan Perkapita, di Thai land dan Philipine aja mereka jauh diatas kita, Rupiah, tidak laku sama sekali, kecuali di money changer Indonesia, Kasian Bener Bangsa dan Rakyat kita, kerjanya di Bodohin oleh Pemimpinnya sendiri

    Kiranya Tuhan Yang Maha Esa Meredhoi perjalanan Bapak, kalau memang Tulus hati Bapak untuk menjadikan Bangsa ini Lebih Baik, pasti Tuhan Melihat dan Saya yakin Bapak akan menjadi pemimpin negeri Indonesia ini, sudah lah yang lalu ,berlalu, sekarang bagaimana kita menuju yang lebih makmur lagi ,

    Terima Kasih Pak,
    Salam Saya Rakyat Miskin Indonesia, betul betul miskin Pak dan Pengangguran
    Amin

  2. Lili berkata:

    Terima Kasih Untuk Perjuangannya PAK,
    dan Kami Rakyat Indonesia tidak Bosen bosen berdoa kepada Tuhan Kami untuk mendapatkan pemimpin yang bisa memakmurkan Rakyat Indonesia, bukan pejabatnya,
    salam dari Kami

  3. Sulaiman berkata:

    Selamat siang mas dwiki…
    poto-poto acara itu ga di upload mas…
    trimakasih

  4. d4uz berkata:

    Wah, pada percaya aja apa kata prabowo… Ntar balik lagi dah kejaman Ordebaru… Ati2 atas ucapan, lebih baik percaya atas perbuatan… Jelaslah belakangan2 ini ucapannya manis dimulut.. Apa mau bertaruh apakah kepemimpinan Prabowo lebih baik dari skarang?? Atau malah Indonesia makin ancurrr…

    • agung setiadi berkata:

      for d4uz…kayaknya justru anda yang harusnya lebih teliti saat mengamati gejala yang muncul di depan mata…karena bila dilihat lebih seksama,justru di era SBY inilah tanda2 ORBA sangat terlihat…satu hal yang mendasar yang bisa kita lihat dari gejala similar antara ORBA dengan jaman SBY adalah : terganggunya akses logika pemahaman rakyat terhadap nasib bangsa mereka sendiri, meskipun secara pribadi saya bukan partisan gerindra maupun PDIP namun bisa saya bayangkan bagaimana gobloknya seorang yang telah makan pendidikan tinggi di negri ini masih terperangah oleh penjelasan situasi ekonomi yang sedang ditanggung oleh bangsa ini lewat penjabaran prabowo di berbagai kesempatan itu…justru seharusnya (bila waras) setiap orang sesegera mungkin mempersiapkan diri untuk lebih berhati-hati dan benar-benar teliti untuk menyikapi hasil pemerintahan SBY sekarang ini, anda seharusnya tahu betul bagaimana pencapaian swasembada pangan dijaman suharto dilakukan selama 30 tahun itu begitu ironis…betapa tidak, berapa umur institut pertanian bogor itu?dan kebijakan strategis macam apa yang ditetapkan pemerintah terhadapnya?bukankah dengan institut semcam itu dan lahan subur yang ga kurang2′ itu, seharusnya menjadikan bangsa ini sebagai pengekspor beras???makan saja jargon basi swasebada pangan yang bahkan diulang dengan bangga belum lama ini…begitulah, seharusnya di hare gene’, orang yang melek’ internet adalah juga pribadi yang melek logika nya sehingga tak mudah kena ilusi dengan penampilan yang sok kalem,sok stabil,sok aman tapi sedikit saja melihat rakyat dibawahnya segera tersingkap betapa segala cara mereka lakukan untuk menyambung hidup di era yang namanya esbeye ini…dari tahu formalin sampai ketupat tawas mereka lakoni…itu bukan masalah penipuan atau akhlak bejat…jauh dari itu seharusnya si melek internet itu tahu betul betapa mereka yang dibawah telah menyabung martabat mereka untuk menyangga kebodohan yang telah dibuat bagi mereka itu…bukan uang 200 ribu yang seharusnya mereka terima, tetapi pekerjaan yang seharusnya di ciptakan bagi mereka…cara-cara seperti ini kalau anda sangat tahu ORBA, disanalah muasal dimana rakyat telah dibodohkan dengan segala cara…

      • Dwiki Setiyawan berkata:

        Setiap orang memang memiliki pendapatnya sendiri terhadap suatu fenomena sosial. Tentu bersifat subyektif, termasuk diri saya ini. Namun kita juga tidak bisa memaksakan suatu pemikiran kepada orang lain bahkan pada istri dan anak-anak kita sekalipun.

        Terima kasih atas komentarnya, Bung.

  5. agung setiadi berkata:

    sharing knowledge’… termasuk kepada istri dan anak tentunya boleh saja, karena sifatnya yang logis, misalnya saja bagaimana bisa suatu negara membiarkan tukang angkot,ojek atau bis umum harus membayar harga bensin yang sama dengan sipemilik mobil pribadi…begitu juga solar nelayan, harganyapun sama dengan kebutuhan pabrik…terutama istri: seharusnya juga paham bagaimana nasib peternak sapi perah bila bea import susu menjadi 0% sehingga tidak sembarangan mengiyakan seseorang yang mampu menurunkan harga susu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s