Refleksi Diri di Hari Kelahiran


Bunda Mengandung credit foto: http://www.flickr.com

Bunda Mengandung credit foto: http://www.flickr.com

Hari ini hari kelahiranku. Tatkala lahir, diriku menangis, sedangkan orang-orang disekelilingku tersenyum dan tertawa bahagia. Diantara mereka juga mendoakanku, agar kelak diriku menjadi anak nan sholeh. Berguna bagi keluarga, masyarakat, nusa, bangsa dan agama.

Sebagian besar dari kita ingat akan hari lahirnya. Namun sedikit saja dari kita ingat bahwa pada hari menjelang dilahirkan itu, sang ibu sakit dan menderita serta meregang nyawa. Menangis, menjerit dan meronta-ronta. Tak lupa pula disertai erangan rintihan, lontaran keluh dan cucuran peluh, serta tetesan darah. Mata berkaca-kaca dan mulut berkomat-komit dari bibir tipis ibunda. Memanjatkan seonggok doa yang terpatah-patah. Memohon pada Sang Maha Hidup, agar diri kita hadir ke dunia fana ini dengan selamat dan tak kurang apa-apa.

Perkenankan di hari kelahiran ini, aku mengenang akan sosok ibundaku. Yang kini telah tiada. Aku ingin mengenangkan akan kebaikan dan kasih sayangnya nan tulus dan tiada bertepi itu. Mengandung diriku kurang lebih 9 bulan dalam rahim dengan limpahan segenap cintanya. Membelai dan mengelus-elus perut sembari mengajak diriku berbicara. Walau soal itu aku tidak mengingat, namun samar-samar sentuhan jari jemari di perut ibu itu, masih terasa hangat dan lembut di lubuk kalbu.

Karenanya, di malam peringatan kelahiran, telah kukirim secarik doa pada-Nya. Menghaturkan ucapan lirih terima kasih, akan perjuangan ibunda di kala diriku masih dalam rahim dan buaiannya. Yang telah mengajariku mengucapkan dari mulai sepatah kata hingga beratus-ratus kata. Membimbing dan mendidik di kala kecil tentang makna akan keberadaan dan kehadiran diriku di dunia.

Telah kusaksikan dalam hidup ini, ribuan kali mentari bangun dan terbit di ufuk timur tatkala fajar tiba. Juga saat ia tidur dalam peraduan singkatnya dan tenggelam di horizon barat senja.  Tatkala malam tiba pun, sudah tak terhitung dari penglihatan mata diri arti kehangatan lembut cahaya rembulan dan kedamainan lirih kerlap-kerlip bintang gemintang di ketinggian angkasa raya.

Kupejamkan mata sejenak, mengingat hari-hari yang telah lampau dan lalui. Sahabat dan saudara datang  dan pergi silih berganti. Suka dan duka telah kukecap, serta sepenggal pengalaman hidup kureguk. Keberhasilan pernah diraih, namun kegagalan juga tak kuasa kutolak. Kesemuanya terkenang-kenang, akan menjadi serpihan-serpihan ornamen indah di bingkai langit pikiranku.

Mengenang itu, sepantasnya pula daku hari ini menundukkan kepala. Bersimpuh dan sujud ke haribaan-Nya, akan nikmat dan karunia serta berkah yang telah Engkau limpahkan padaku (dan keluarga) selama ini.

Pada hari ini, dari tiap-tiap tahun yang dilalui, aku masih bertanya-tanya, “darimana, hendak kemana dan apa?” Sebagian dari deretan tanya itu sudah aku jawab sendiri dari apa yang telah kuperbuat dalam tonggak-tonggak yang kupancangkan di perjalanan hidup ini. Namun masih saja menyisakan jawab yang tak bisa kuungkapkan hanya melalui kata-kata belaka.

***

Telah kugoreskan di awal tulisan sebaris untaian kata, “Tatkala lahir, diriku menangis sedangkan orang-orang disekelilingku tersenyum dan tertawa bahagia.” Pada saatnya nanti, “Ketika ajal menjemput, ingin diriku menyunggingkan senyum dan tawa bahagia. Sementara, orang-orang disekelilingku meneteskan air mata.

Bukan air mata lantaran kesedihan semata-mata akan kepergianku. Namun air mata untuk mengingat dan mengenang, sedikit saja akan kebaikan dan darma baktiku. Yang pernah kutorehkan, di hari-hari singkat namun serasa panjang  pada hidup dan kehidupanku.

Jika kelahiran merupakan ujung keberangkatan, maka kematian adalah pangkal kepulangannya. Batas-batas diantara keduanya itu tipis dan lembut. Bagaikan titian serambut dibelah tujuh. Lantaran itu, kala hari kelahiran tiba dan mengingatkannya, sudah sepantasnya pula kita mengingat akan hari kematian.

Filosof terkemuka Socrates pernah menyatakan, “Ketika aku meneliti rahasia kehidupan ketemukan maut, dan ketika kutemukan maut kutemukan sesudahnya kehidupan abadi. Karena itu kita harus prihatin dengan kehidupan dan bergembira dengan kematian karena kita hidup untuk mati dan mati untuk hidup.”

Dengan mengingat pula kematian yang kadang datang tiba-tiba itu, maka masing-masing diri kita diminta akan jawaban dari doa yang dipanjatkan orang-orang sekeliling ketika lahir: sudahkah diri kita ini berguna bagi keluarga, masyarakat, nusa, bangsa dan agama?

*****

Jakarta Timur 18 Maret 2009

Iklan

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Jejak Langkah. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Refleksi Diri di Hari Kelahiran

  1. abdi tritura berkata:

    Pak Dwi Setiyawan,
    mohon izin saya kutip tulisan bapak di atas untuk saya share di fb saya karena sama dengan apa yang tengah saya pikirkan saat hari kelahiran saya, 28 Juni 2011.
    Terima kasih.

    Abdi Tritura

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s