Pentingnya Arsip Mengarsip Dokumen Pribadi


Postingan ini hanyalah sekedar sharing kepada pembaca, betapa  pentingnya sebuah dokumen yang pernah kita dapatkan tatkala beraktivitas sehari-hari atau berorganisasi. Dimanapun dan kapanpun. Untuk diarsip dalam almari dokumen rumah kita.

Beberapa teman Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) kala saya aktif di tingkat Komisariat  Fisip UNS Solo hingga PB HMI “memuji” (terima kasih atas pujiannya) tentang kelengkapan arsip dokumen pribadi yang saya miliki. Terutama tatkala satu per satu, dokumen itu beserta cerita dibaliknya saya publikasikan di blog personal ini. Sebenarnya dikatakan lengkap tidak juga, karena beberapa dokumen penting kadang tidak saya koleksi dan miliki.

Beberapa dokumen penting saat kuliah dulu seperti diary, foto, newsletter, majalah intern kampus dan sebagainya acap tercecer atau hilang tatkala pindahan kost.

Saat di Jakarta, demikian pula adanya. Karena pernah jadi “kontraktor” (dari kontrak rumah satu ke kontrak rumah lainnya), ada pula dokumen-dokumen yang tercecer. Sekalipun saya sendiri sudah menganggap dokumen-dokumen pribadi itu sebagai aset berharga dan telah dipisahkan dalam kardus atau almari tersendiri.

Dokumen tertulis Almarhum Prof DR Nurcholish Madjid dalam bentuk makalah tatkala ceramah di Taman Ismail Marzuki (TIM) tahun 1990-an tentang “fundamentalisme Islam”, misalnya, entah sekarang tercecer dimana. Padahal saya punya banyak cerita tentang itu, dimana ratusan eksemplar foto copy makalah Cak Nur itu laku terjual di kios koran/majalah di depan kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan kalangan dosen di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

***


Dokumen yang kita dapatkan hari ini, dapat menjadi sebuah kisah nostalgia penting, misalnya, untuk 10 tahun ke depan. Selembar foto  masa SMA atau kuliah yang pembaca miliki, misalnya, mungkin kesannya biasa-biasa saja. Namun ia akan menjadi dokumen foto bersejarah 10 tahun kemudian tatkala umpamanya  10 orang dari 20 orang yang terpampang di foto menjadi tokoh nasonal di kemudian hari. Ada banyak cerita yang bisa kita kisahkan hanya dari selembar foto itu.

Arsip-mengarsip dokumen pribadi sesungguhnya menyangkut kegemaran atau hobby. Seperti halnya ada orang yang punya hobby mengoleksi piringan hitam jadul, perangko, buku-buku langka, kaset lama dan lain-lain.

Namun hobby arsip-mengarsip dokumen bukan sembarang hobby. Ia merupakan hobby dari kesadaran mendalam (telah terpikir dan terencana) bahwa dari hobby-nya itu akan mempunyai nilai penting bagi kehidupannya di masa depan. Yakni sesuatu yang bernilai historis. Tidak peduli oleh arti kehadiran si pengarsip dokumen di masa hidupnya atau peran yang dimainkannya.

Bila kita orang biasa-biasa saja, tetap dokumen-dokumen yang kita miliki suatu saat bisa dibuat “buku memoar khusus” untuk konsumsi anak, cucu, menantu dan kerabat dekat. Setidaknya dengan buku khusus itu, kita dapat mentransfer pengalaman dan nilai kepada generasi sesudahnya.

Namun bila kita merasa punya peran yang cukup berarti bagi masyarakat dan bangsa serta dianggap tokoh oleh lingkungan sekitar, dari dokumen-dokumen itu bisa kita buat otobiografi. Bila kita tidak bisa menuliskan sendiri, memakai jasa ketrampilan menulis orang lain, jadilah sebuah biografi. Bukan untuk membangga-banggakan diri sendiri, melainkan otobiografi atau biografi itu memiliki misi sebagai pelajaran dan suri tauladan bagi pembacanya.

Mustahil seseorang membuat memoar dalam bentuk otobiografi atau biografi hanya dengan mengandalkan ingatan belaka. Tetap dibutuhkan dokumen-dokumen pribadi yang kita simpan rapi di rumah sendiri.

Memang bisa saja membuat biografi dari dokumen-dokumen ekstern yang tersimpan di luar arsip yang kita miliki. Namun itu merupakan pemborosan dana dan waktu tatkala kita berniat membuat biografi diri kita sendiri.

Lantas apa saja bentuk-bentuk dokumen yang saya maksudkan itu? Pada dasarnya semua hal menyangkut bahan-bahan tertulis atau cetakan bisa kita kategorikan sebagai dokumen. Antara lain: diary (catatan harian), foto, catatan rapat, daftar hadir, surat keputusan (SK), piagam penghargaan, piagam pelatihan, raport, ijazah, buku, surat-surat masuk dan keluar (pribadi atau organisasi), newsletter, kliping majalah, kliping koran, postingan di website atau website itu sendiri dan lain sebagainya. Atau sekedar undangan perkawinan dan undangan sunatan teman!

Di luar dokumen tertulis, benda-benda yang memiliki sejarah yang berkait erat dengan dokomen tertulis juga wajib dikoleksi. Misalnya: medali, tanda jasa, piala atau tropy kejuaraan, cinderamata dan sebagainya.

Di atas telah saya singgung beberapa jenis dokumen tertulis,  antara lain undangan perkawinan dan undangan sunatan. Pembaca barangkali tersenyum atau bertanya-tanya seberapa penting dokumen tertulis itu?

Hal ini tergantung pembaca menganggap penting atau tidaknya jenis dokumen semacam itu. Di blog ini, saya bisa mencatat tanggal pernikahan saudara Alfan Alfian dan mengucapkan selamat atas ulang tahun ke-10  pernikahannya, lantaran saya punya 1 arsip undangan pernikahannya. Lihat dan klik  “Catatan Ulang Tahun Perkawinan Ke-10 Alfan Alfian.

Undangan sunatan dari seorang anak teman barangkali juga tidak penting buat pembaca. Bagi saya penting, karena bisa jadi suatu saat anak yang disunat itu akan menjadi tokoh nasional. Dan saya bisa membuat memoar tentang “satu peristiwa penting” dalam kehidupan si anak itu, yang mungkin si anak atau keluarganya lupa persisnya acara ritual sunatannya di masa lalu.

Jadi arsip yang kita miliki, kadangkala berfungsi sebagai “tanda pengingat” bagi pribadi yang kita tulis. Entah kita kirim melalui sms, sepucuk surat/email pribadi, situs jejaring sosial, ditulis dalam blog atau media penyampaian informasi lainnya. Ini bisa menjadi kejutan bagi seseorang, sebagai bentuk perhatian yang tulus dan apa adanya….

Berpijak dari bincang-bincang ringan ini, sudahkah pembaca dari sekarang membiasakan arsip-mengarsip dokumen pribadi itu? Hal-hal lain yang terkait dengan postingan rintisan ini,  kami mohon masukan-masukan dari pembaca blog. Terima kasih.

*****

Iklan

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Petak Ide dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

6 Balasan ke Pentingnya Arsip Mengarsip Dokumen Pribadi

  1. agus subiyanto berkata:

    artikel anda bisa membangunkan saudara-saudara kita yang sedang ‘tidur’ dari kesadaran akan pentingnya arsip pribadi, padahal hari esok adalah akibat dari hari ini, hari ini akibat dari hari kemarin, maka yang ingin esok lebih baik dari hari ini, mempelajari arsip merupakan langkah yang sangat bermanfaat untuk perbaikan.

    • Dwiki Setiyawan berkata:

      Makasih Mas Agus Subiyanto atas apresiasinya. Postingan tersebut hanya untuk mengingatkan kita semua, bahwa arsip dokumen memiliki nilai penting di masa depan. Contoh nyata, di Facebook hanya segelintir orang yang punya foto-foto lama. Begitu ada satu dua orang share maka akan jadi heboh. Banyak tanggapan dan komentar. Hal itu membuktikan bahwa arsip punya nilai penting yakni dalam hal merawat ingatan.

  2. merli berkata:

    Dengan adanya arsip dan dokumentasi,, kita dapat melihat kembali masa-masa kengan atau pun hal-hal penting dimasa yang lalu.
    selain itu dokumen merupakan hal penting untuk data pribadi kita yang tak akan dimiliki oleh orang lain.

    “ungkapan kata dalam bingkisan kecil yg tak berarti”

  3. Kodzan berkata:

    Sebenarnya kita ini sudah sadar dengan apa yang dinamakan arsip…. namun rasa ego mengalahkan itu semua sehingga jadilah arsip dipandang sebelah mata…

  4. Majid Wajdi berkata:

    saya akui sangat buruk dalam pengarsipan. tolong tips singkat cara mengarisp dan menyimpan dokumen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s