Sebuah Kisah di Balik Perhelatan Dies Natalis HMI Ke-62


Malam Puncak Dies Natalis Ke-62 HMI  koleksi foto dwiki

Malam Puncak Dies Natalis Ke-62 HMI koleksi foto dwiki

Perhelatan Dies Natalis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang berlangsung pada Senin 16 Februari 2009 silam di Ballroom Hotel Sahid Jakarta berlangsung sangat meriah. Dalam kesempatan itu, Presiden Republik Indonesia DR H Susilo Bambang Yudhoyono berkenan hadir dan menyampaikan amanat kepada keluarga besar Laskar Hijau Hitam HMI dan segenap undangan yang hadir.

Dalam amanat yang disampaikannya,  Presiden Susilo Bambang Yudhoyono antara lain berpesan agar HMI mampu melaksanakan prinsip how to change the world (bagaimana mengubah dunia), bukan hanya how to see the world (bagaimana melihat dunia).

Presiden SBY juga menekankan agar HMI, how to lead the change (bagaimana memimpin perubahan), dan bukan hanya how to follow the change (bagaimana ikut dalam perubahan). Oleh karena, ujar presiden, output pembinaan dan kaderisasi pun, harus diarahkan menjadi agen perubahan (agent of change).

Naskah lengkap Pidato Sambutan Presiden Republik Indonesia pada Dies Natalis Ke-62 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Tahun 2009 dimaksud, silakan pembaca Download dalam File PDF & Doc  ini:

sambutan-presiden-ri-sby-dies-natalis-hmi-ke-62-file-pdf

sambutan-presiden-ri-sby-dies-natalis-hmi-ke-621-file-doc

sumber: http://www.presidensby.info/

****

Pada acara tersebut, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) tahun 2009 ini menyampaikan penghargaan berupa HMI Award kepada 9 Tokoh yang dianggap berjasa bagi HMI pada khususnya, dan bangsa Indonesia pada umumnya. Ke-9 tokoh tersebut,yakni: Akbar Tandjung, Agusalim Sitompul, Jimly Ashshidiqie, Azyumardi Azra, Sulastomo, Abdullah Hehamahua, Yusuf SK, Almarhum Munir, dan Almarhum Ahmad Wahid.

Sebelum penyerahan HMI Award, Ketua Umum PB HMI Arip Musthopa terlebih dahulu menyampaikan pidato dies natalis berjudul, “The HMI Way for Better Indonesia.” Naskah Lengkap Pidato Ketua Umum PB HMI tersebut dalam bentuk File PDF, silakan klik pada tautan berikut (sabar dulu ya, masih diconvert)

Beberapa waktu kemudian, PB HMI juga menyerahkan HMI Award lainnya untuk kategori negarawan politisi kepada Jusuf Kalla dalam sebuah audiensi di Istana Wakil Presiden.

****

Saya hadir malam itu di acara perhelatan Dies Natalis ke-62 HMI tersebut, merasa surprise oleh kemeriahan dan banyaknya undangan yang hadir memenuhi ballroom Hotel Sahid. Belum lagi undangan yang tidak bisa masuk ballroom lantaran kapasitas tempat yang terbatas.

Sesekali saya kebelakang untuk buang hajat kecil. Di luar ballroom, saya menjumpai beberapa teman lama. Ada Alfan Alfian, dr Maksum,  Ahmad Sani, Fatah Yasin dan Ramdansyah serta yunior-yunior HMI yang tak kenal namanya satu per satu.

Saya terlibat pembicaraan intensif dengan Ramdansyah, yang dalam Pemilu 2009 ini menjabat sebagai Ketua Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Provinsi DKI Jakarta. Saya perhatikan, beberapa kali ada yunior Ramdansyah datang menyapa dan menyalami. Ada yang sekedar “just say hello“, namun ada juga yang nekat menanyakan soal “proposal dana” kegiatan yang nyangkut di kantor Ramdan. Kehebatan Ramdansyah, ia pintar berdiplomasi pada yuniornya kalau sudah menyangkut soal “proposal dana”.

Jawaban Ramdansyah disertai tawa lepas dan menepuk punggung si penanya, “Dana dari APBN belum turun!”  Ha..ha..ha….

Di kalangan rekan-rekan PB HMI Periode 1997-1999, Ramdansyah mendapat julukan “Si Wa Ting Pung”, lantaran sebuah puisi karyanya bertitel seperti itu beberapa kali dibawakan dalam acara-acara HMI.

Saat ia membawakan puisi tersebut: dengan gaya teatrikal, penekanan diksi yang tepat, dan mimik muka yang memukau tak pelak lagi puisi yang ia bawakan dengan penghayatan mendalam itu mendapat apresiasi dan aplaus dari penontonnya.

Sembari melirik katering siap saji di sayap kiri dan depan ballroom saya katakan pada Ramdansyah, “Wah jadi lapar ini Bung?” Rupanya soal yang satu ini, respon Ramdan segendang-sepenarian dengan saya, “Ok. Nanti kita saja yang memulai ‘menyerbu’ katering Dies Natalis HMI itu. Kapan lagi kita punya kesempatan seperti itu. Hitung-hitung untuk mengenang jaman mahasiswa dulu!” Ha..ha..ha….

Sudah berkali-kali, anak-anak HMI yang berada di luar ballroom mendekat ke arah katering di sayap kiri ballroom, namun kemudian  mundur lagi teratur lantaran petugasnya belum mengijinkan.

Saat rangkaian acara dies natalis sudah sampai pada pembacaan doa, yang berarti acara akan selesai, Ramdansyah dengan lirikan khasnya sudah memberi aba-aba. Terlihat pula dari dalam ballroom, sudah banyak undangan yang keluar.

Ia langsung mengomando “menyerbu” katering di sayap kiri ballroom itu diikuti undangan yang berada di luar  –yang sedari tadi tidak punya nyali dan malu memulai. Diikuti oleh undangan lain yang baru saja keluar dari dalam ballroom.

Ingat “penyerbuan” itu, saya jadi teringat seorang teman satu lagi di HMI yang kompak dalam soal serbu-menyerbu. Namanya M Shidiq Dahlan. Ia aktivis HMI Cabang Jakarta, dan juga pernah aktif di Humanika. Pernah menjadi staf di Bakornas LAPMI PB HMI Periode 1997-1999, kini ia menjabat Ketua Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Jakarta Utara. Pikir saya, kalau anak satu ini tempo hari datang di acara Dies Natalis HMI ke-62 mungkin soal katering itu akan tambah kacau. Ha..ha..ha…

Untuk kader-kader HMI yang masih aktif, mohon soal “uji nyali” kisah di balik perhelatan Dies Natalis ke-62 HMI itu tidak perlu ditiru. Toh seandainya mau meniru, silakan anda berguru terlebih dahulu  pada Bung Ramdamsyah. Ha..ha..ha…

*****

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Jejak Langkah dan tag , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

8 Balasan ke Sebuah Kisah di Balik Perhelatan Dies Natalis HMI Ke-62

  1. ramdansyah berkata:

    ki, enak juga…yang…jadi bener mantan aktifis atau aktifis mantan….mosok….ndahar…gaya mahasiswa ajah nggak boleh? Gara-gara gue sering bawa ransel n sepatu olahraga kalau ketemu alumni gue disangka mau ngasih proposal…seringkali mereka melengos….pas…kena kasus pelanggaran pemilu…baru mereka bilang oh adinda…yang ketua panwaslu dki….

    weleh weleh…telat…makanya kalau jalan jangan ngeliat keatas ajah…kebawah juga perlu dilihat (make sepatu atau nggak, maksud gue)

    Ramdansyah
    watingpung

  2. Dwiki Setiyawan berkata:

    Soalnya “trademark” Pak Ramdan itu agak meragukan? Sudah jadi Ketua Panwaslu DKI Jakarta, gaya berpakaian dan yang terkait-kait dengan itu (sepatu, ransel dsb; mungkin juga dompet di celana yang kosong melompong) di mata alumni dan orang-orang yang kurang mengenal disangkanya mahasiswa dari entah berantah yang sedang cari ongkos pulang ke daerahnya. Ha..ha..ha….

    Masukan saya, pertahankan saja “trademark” itu. Jadilah Ramdan tetap seperti yang aku kenal dulu. Seperti apa adanya. Dengan kesederhannan, kepolosan dan kejenakaan yang dimilikinya. Bukan berarti Bung Ramdan tidak tegas lho. Saya baca di koran malahan bikin banyak orang keder!

    Selamat bertugas Bung. Semoga amal baiknya akan mendapat balasan setimpal dari-Nya. Amiin.

  3. masmpep berkata:

    ada aja cerita abang kita satu ini saat ber-hmi. salut. kapan buat ‘testimoni lengkap hmi cabang solo’ mas. mulai dari sejarah, aktivitas, sekretariat. dst. yang ringan-ringan aja, tentunya.

  4. HmI cabang purwokerto berkata:

    assalam”ikum,salam kenal dari kader2 HmI cbg purwokerto,kapan abang maen ke purwokerto?

    • Dwiki Setiyawan berkata:

      Salam kembali.

      Dulu tahun 1990-an, saya dengan beberapa teman acapkali memberi materi LK I di HMI Cabang Purwokerto. Baik saat di kepengurusan cabang maupun badko. Materi yang disampaikan, “Sejarah HMI”.

  5. Asri Al Jufri berkata:

    Wik, bagaimana kabarnya, udah lama gak bersua…
    Memang kalau diingat-ingat, kenangan di HMI sangat indah, terlebih waktu di HMI Cabang (Solo). Kalau udah di Badko atau PB, sudah kurang indahnya, karena ikatan pertemanan sudah tak semesra waktu di Cabang atau Komisariat. Karena itu, bagi “adik-adik” yang masih di Komisariat atau Cabang, nikmatilah keindahan itu. Jangan sampai nyesal ketika masa-masa itu telah lewat…

    Salam untuk semua, terutama teman-teman HMI Cabang Solo tahun 80-an…..

  6. cara bikin malu berkata:

    wowowoowow
    salam kenal bos
    thanks postingnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s