Menulis itu Ibarat Koki Memasak


Kegiatan menulis, entah sebagai hobby atau profesi, bisa kita ibaratkan seperti halnya seorang koki membuat masakan. Enak, lezat dan bercita rasa tinggi atau tidaknya masakan itu, tergantung kepiawaian juru masak dalam meramu dan meracik serta mengolah bumbu-bumbu masakannya.

Bahan dasar masakan yang akan kita sajikan, dalam sebuah tulisan, berupa tema yang akan diangkat, diungkap, dijabarkan, digambarkan, dinarasikan (apa lagi ya?) pada karya tulis itu.

Bumbu-bumbu masakannya, hakikatnya berupa akumulasi pengalaman berdasarkan kisah-kisah yang dialami sendiri, kisah orang lain yang kita lihat dan amati, kisah yang didengar dari orang lain. Dan ketajaman pikir dari hasil olah intelektual (dari berdiskusi, seminar, simposium, lokakarya dan lain-lain) serta pengendapan hasil bacaan atau pustaka yang dikonsumsi.

Seperti halnya dalam menulis, terkadang kita perlu referensi bacaan. Memasak pun demikian, terkadang kita membutuhkan sebuah buku resep masakan.

Sedangkan teknis menulis, bisa kita umpamakan dengan cara kita memegang alat-alat masak dan memdemontrasikan tatkala masakan itu kita olah di tungku perapian. Lama atau pendeknya mengolah masakan –panjang atau pendek tulisan– tergantung bahan dasar yang akan kita olah. Mengolah masakan dari bahan dasar ikan segar tentu sebentar. Berbeda dengan bila kita mengolah ‘rebung’ (anakan bambu) yang memakan waktu lama.Tulisan bisa panjang atau pendek, selain soal mood, juga soal ketersediaan bahan-bahan utama yang akan diolah jadi masakan itu.

Sebelum dihidangkan tidak lupa masakan yang diolah tersebut dicicipi lidah kita sendiri, apakah betul-betul sudah enak dan lezat atau belum? Biasanya, enak dan lezat bagi kita masakan itu bisa jadi enak dan lezat pula bagi orang lain. Pencicipan masakan itu, juga untuk mengecek kekurangan dari bumbu-bumbu spesial masakan yang akan dihidangkan. Atau untuk mendeteksi jangan-jangan masakan itu terlalu asin atau terlalu pedas.

Dalam menulis, kita tentu tidak mengharapkan masakan itu terlalu asin lantaran kebanyakan garam yang membuat orang geram (mengumpat pada diri sendiri). Atau terlalu pedas lantaran kebanyakan cabe yang membuat orang mukanya memerah. Melontarkan kritik keras dalam pengibaratan masakan yang terlalu pedas itu seyogyanya dihindari. Karena cepat atau lambat, menu masakan kita itu dijauhi orang.

Berdasarkan pengibaratan menulis sama halnya dengan saat kita membuat masakan, maka setiap tulisan dari masing-masing individu itu memiliki ciri dan kekhasan masing-masing. Inti soalnya terletak pada bumbu-bumbu (rahasia) yang dimiliki masing-masing pribadi penulis!

Semakin seseorang memiliki persediaan bumbu-bumbu –apalagi punya bumbu rahasia– masakan yang melimpah ruah di almari dapur pikirannya, sudah bisa dipastikan tulisan eh masakannya akan lezat dan memiliki cita rasa tinggi.

Itulah sebabnya ada orang yang memiliki ‘keahlian tertentu’, katakanlah seorang guru besar di universitas, kadang tulisannya susah dicerna orang lain, monoton, hambar dan terlalu ilmiah lantaran bumbu masakannya amat terbatas. Bukannya yang bersangkutan tidak bisa menulis. Sangat bisa. Namun terbatas di jurnal-jurnal ilmiah khusus membahas disiplin ilmu yang digelutinya. Bukan untuk konsumsi publik seperti halnya di blog ini.

Selanjutnya soal media menyajikan masakan yang telah kita olah itu. Kita bisa menghidangkannya di rumah sendiri untuk dicicipi dan disantap serta dirasakan kalangan keluarga atau handai taulan. Bisa juga mengundang tetangga dekat atau tetangga jauh. Ini kita ibaratkan kita hidangkan dalam sebuah blog personal.

Bisa pula menu makanan itu kita proklamirkan keberadaannya di sebuah rumah makan strategis. Di sebuah media cetak atau blog dan situs terkemuka. Agar orang lain yang kita kenal dekat atau yang lalu lalang di depan rumah makan itu mau mampir mencoba masakan kita itu.

Seperti layaknya sebuah rumah makan, faktor keterkenalan menu masakan dimulai dan diawali dari pembicaraan mulut ke mulut (‘getok tular’) orang-orang dekat yang pernah makan menu kita yang lezat dan bercita rasa tinggi itu. Semakin banyak rumah makan itu dikunjungi orang lantaran menu spesial yang dihidangkan, lambat laun orang-orang yang lalu lalang itu juga penasaran dan ingin mencobanya serta menjadi pelanggan tetapnya.

Tentu saja untuk mempertahankan pelanggan tetap rumah makan itu, di samping kita senantiasa menjaga mutu masakan dan pelayanan memuaskan pelanggan, yang harus dilakukan adalah menambah persediaan bumbu-bumbu masakan agar memenuhi almari dapur kita.

Sebagai pamungkas tulisan ringan ini, yang tidak boleh dilupakan juga agar masakan kita itu lebih menjangkau banyak orang untuk dicicipi dan disantap, sediakan pula anggaran promosi. Di dunia maya, bisa kita lakukan dalam berbagai cara dan teknik. Antara lain: menulis komentar diblog atau posting di mailing list yang kita ikuti sembari mencantumkan tautan masakan yang baru kita olah, mem-bookmark postingan di situs bookmark, mengirim pesan atau menulis di dinding atau apapun namanya di situs pertemanan semacam Facebook, Friendster, MySpace dan sebagainya dengan mencantumkan tautan masakan eh tulisan kita itu.

*****

Sumber Gambar: http://fy001.k12.sd.us

Tulisan Menulis itu Ibarat Koki Memasak ini pernah dimuat pada blog Kompasiana, Selasa 3 Maret 2009. Didedikasikan sebagai hadiah ‘santapan rohani’ anak kedua saya, Kevin Rizki Mohammad, yang hari itu berulang tahun ke-9.

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Petak Ide dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

11 Balasan ke Menulis itu Ibarat Koki Memasak

  1. Ping balik: CALL COOK TO HOME | lapak dan tulisan pak tani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s