Kenangan HMI Cabang Solo 2: Tuyul dan Koh Zul


Laskar HMI Cabang Solo Komisariat Fisip UNS 1990-an koleksi foto dwiki

Laskar HMI Cabang Solo Komisariat Fisip UNS 1990-an koleksi foto dwiki

Pada acara “Khitanan Massal & Bhakti Sosial” yang diselenggarakan Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Solo se-Jabotabek di kediaman saudara Abdul Rahman Syagaff beberapa waktu lalu, saudara Eko Nugriyanto mengabarkan bahwa dirinya baru saja bertemu dengan saudara Zulkarnain Alijudin di Pulau Bangka. Kata Eko Nug (seharusnya yang tepat Eko Neg alias Eko Negro. Ha..ha..ha… Bercanda lho Ko) —  demikian sapaan akrab teman-temannya saat di HMI, “Dwiki, Zulkarnain sekarang menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Bangka Provinsi Bangka Belitung (Babel)”

Mendengar kabarnya, teringat kemudian saya dengan beberapa sepak terjang saudara Zulkarnain Alijudin atau Koh Zul  (dipanggil ‘Koh’ karena memang sekilas seperti Orang China) tatkala di HMI Cabang Solo dulu, diakhir tahun 1980-an dan awal 1990-an Teman satu ini pernah jadi Ketua Umum HMI Komisariat Fisip UNS. Kemudian pernah menjabat Wakil Sekretaris Umum (Wasekum) HMI Cabang Solo, dan beberapa saat pernah di Badko HMI Jabagteng.

Sifat positif Koh Zul ini: orangnya kocak (humoris), penuh inspirasi dan jiwa sosialnya tinggi. Sedangkan yang agak negatif, saat kuliah dulu: boros! Wesel kiriman dari orang tuanya di Bangka, menurut saya saat itu ‘di atas rata-rata’. Namun menjelang akhir bulan, selalu saja dia mengeluh tidak punya uang. Apa sebab? Soalnya Koh Zul ini punya kegemaran dan sering nonton film di bioskop-bioskop terkenal saat itu, seperti Solo Theatre di kompleks Taman Sriwedari Jalan Slamet Riyadi!

Selain itu, Koh Zul terkenal punya banyak perbendaharaan teka-teki lucu dan cukup aneh. Saat saya bersamanya sebagai salah satu staf ketuanya di komisariat, Koh Zul pernah mengajukan teka-teki, “Kecil bulat bundar turun naik, hayo apa jawabannya?” Jawaban-jawaban yang saya lontarkan selalu ia tepis. Jawaban Koh Zul, “Buah duku naik turun lift, Wi!” Ha..ha..ha…

Ia ajukan lagi teka-teki pertanyaan hampir senada, “Kecil turun naik berkeringat?” Lagi-lagi jawaban saya dikesampingkan. Ternyata jawaban Koh Zul amat sepele, “Semut yang sedang push up!”. Ha..ha..ha…

Masih banyak lagi teka-teki menghibur dari dapur pemikiran dan pengalaman yang dimiliki Koh Zul ini. Banyak sudah teka-teki lain yang lupa, namun beberapa yang saya kutip diatas, setelah berkeluarga saya “wariskan” teka-teki Koh Zul itu kepada anak-anak di rumah. Anak kedua saya, Kevin Rizki Mohammad, pernah bercerita bahwa teka-teki warisan itu juga disebarkan pada teman-teman sekelasnya. Kata Kevin, teman-teman sekelasnya itu juga tertawa geli mendengar jawaban teka-teki dimaksud!

Disamping saya kenal sebagai master teka-teki, “ketrampilan khusus” yang dimiliki Koh Zul adalah dalam hal “mengerjai” teman. Mengerjai sampai orang yang dikerjai tidak berkutik. Namun orang yang dikerjai juga tidak akan marah, lantaran ada unsur-unsur humor didalamnya, seperti kisah berikut:

Suatu malam pada awal tahun 1990-an, Ketua Lembaga Pengelola Latihan (LPL) saat itu, AKM namanya, bertandang ke kantor sekretariat HMI Cabang Solo di Jalan Yosodipuro. Ia kemudian melaksanakan shalat Isya’ di ruang faviliun sebelah barat gedung utama yang juga dijadikan sebagai mushola (saat ini faviliun itu sudah dirobohkan). Kebetulan saat itu, saya juga baru saja melaksanakan shalat Isya’ bersama Koh Zul.

Tentang AKM ini, ia juga mahasiswa Fisip UNS. Jadi kami bertiga dari komisariat yang sama. AKM pernah menjadi Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Fisip UNS. Aktivis yang satu ini pernah menjadi penggiat Jamaah Masjid Nurul Huda Universitas Sebelas Maret (UNS) dan malah pernah ‘indekost’ di masjid kebanggaan UNS itu. Setelah menjadi Ketua LPL, ia sekonyong-konyong dipilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum dalam Konferensi Luar Biasa (KLB) HMI Cabang Solo, menyusul adanya mosi tidak percaya sebagian besar komisariat atas kepemimpinan SHS.

Munculnya mosi tidak percaya sebagian besar pimpinan komisariat pada saudara SHS sebagai Ketua Umum Cabang yang sah di konferensi cabang sebelumnya di atas, merupakan efek turunan dari adanya konflik dan intrik intern di tubuh pengurus cabang sendiri.

Dalam Konferensi Luar Biasa (KLB) yang diadakan secara mendadak di kantor sekretariat HMI Cabang Solo itu, pimpinan komisariat yang hadir sepakat untuk tidak memilih ketua umum dari kalangan dalam karena dikhawatirkan berpotensi menimbulkan konflik baru. Akhirnya dicari kader HMI dari luar kepengurusan cabang, dan AKM lah pilihan yang tepat pada saat itu menurut peserta KLB.

Karier AKM berlanjut setelah itu dengan menjadi staf Ketua di Badko HMI Jabagteng, dan terakhir sebagai staf Ketua di PB HMI Era Ketua Umum Anas Urbaningrum.

Kepada AKM yang baru saja selesai shalat, Koh Zul bercerita bahwa di mushola itu ternyata ada tuyul-nya (makhluk halus yang digambarkan sebagai anak kecil berkepala plontos dan suka mengambil barang orang lain). Entah mengapa dari mulut AKM tercetus jawaban setengah percaya dan setengah tidak percaya, serta ingin pembuktian. Mungkin karena kata-kata Koh Zul yang sangat meyakinkan, akhirnya disepakati untuk membuktikan benar tidaknya ada tuyul di mushola itu. Saya ditunjuk Koh Zul  untuk menjadi saksinya,

Sekonyong-konyong Koh Zul menyambar kopiah hitam yang menempel di tiang mushola serta segera mengenakan di kepalanya. Ia pamit sebentar pada kami berdua menuju dapur di sisi selatan yang berdempetan dengan ruang mushola. Kemudian datang kembali duduk setangah lingkaran berhadapan dengan saya dan AKM. Memohon pada AKM untuk konsentrasi dan menutup matanya sejenak. Setelah itu ia meminta AKM untuk membuka kembali matanya dan menanyakan apakah AKM sudah melihat tuyulnya? Dijawab AKM belum lihat, sambil sedikit mendesak, ia berujar, “Mana tuyulnya?”

Jawab Koh Zul, “Wah kalau begitu tidak mungkin kita bisa melihat tuyul itu dalam keadaan ruangan terang kayak begini!”, sembari ia memohon agar listrik ruangan mushola dimatikan. Saklar lampu dipencet, suasana ruangan menjadi gelap gulita. Lagi-lagi AKM menanyakan tentang tuyul itu. Sekali lagi Koh Zul meminta AKM menutup matanya kembali. Mengambil kopiah hitam dikepalanya dan mengusap-usapkan di wajah AKM, dengan berbisik cara ini dimaksudkan agar AKM segera melihat tuyul di mushola itu.

Mata AKM terbuka, lagi-lagi ia menyangsikan adanya tuyul itu. “Ah masak, wong saya saja melihat” kata Koh Zul. Lampu mushola kemudian dinyalakan. Saya dengan Koh Zul tertawa berderai-derai melihat AKM yang clingak-clinguk itu. Disodorkan sebuah cermin oleh Koh Zul kepada AKM, “Nich, coba lihat di cermin. Tuyulnya ada disitu!”

Apa yang terjadi? Rupanya yang dimaksud tuyul oleh Koh Zul itu, ya si AKM itu sendiri. Sekujur wajahnya blepotan ‘angus’ (sisa arang yang menempel pada ketel atau alat masak). Jadi memang benar, AKM sekilas seperti badut, yang menurut Koh Zul seperti tuyul!

Rupanya, saat pergi ke dapur ia mengoles-oleskan ‘angus’ di kopiah hitam yang dipakainya. Lantas diusap-usapkan kembali pada wajah AKM tatkala keadaan ruangan gelap gulita sebagai ‘prasyarat’ agar AKM melihat tuyulnya…

Untungnya AKM tidak marah oleh kejadian di atas. Ia mungkin sadar bahwa itu semua memang salahnya sendiri mempercayai soal adanya tuyul di mushola kantor sekretariat HMI Cabang Solo itu.

Dalam dokumentasi foto postingan di pojok kiri atas ini, nama-nama tokoh yang saya sebutkan kesemuanya terpampang. Zulkarnain Alijudin pada foto terpampang di deretan kedua dari arah kanan memakai t-shirt putih. AKM di barisan belakang, berkemeja hitam dan satu-satunya di foto yang memakai muts (kopiah HMI). Sedangkan penulis postingan ini, berdiri disamping kiri AKM.

***

Catatan Tepi: bagi pembaca terutama teman-teman yang mengenal Koh Zul dan ingin berhubungan dengannya silakan login atau daftar di Facebook (FB), dengan mengetikkan kata ‘Zulkarnain Alijudin’ di kotak pencarian FB. Saat postingan ini dibuat, yang bersangkutan baru saja mendaftar sebagai anggota FB. Dan kebetulan saya teman pertama, juga satu-satunya di FB. Bisa pula pembaca  kirim email ke alamat bangijoel@yahoo.co.id .

Iklan

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Jejak Langkah dan tag , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Kenangan HMI Cabang Solo 2: Tuyul dan Koh Zul

  1. ressay berkata:

    serem ah tinggal di sekre cabang.

    ada yang ketok2 pintu tapi pas dibuka ndak ada orangnya.

    hi….

  2. Dwiki Setiyawan berkata:

    Bung Yasser. Kantor Sekretariat Yosodipuro itu dulu di tahun 1960-an, katanya pernah jadi markas komunis. Saat direbut, konon, ada yang tewas.

    Mungkin itu yang anda maksud. Arwahnya gentayangan. He..he..he….

  3. koh liem berkata:

    tuyul nggoleki tuyul?! ha ha ha….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s