Tanpa Banyak Membaca, Berhentilah Anda Jadi Blogger!


Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk ‘mengejek’ pembaca yang berniat menjadi blogger. Apalagi menggurui pembaca. Cukuplah bahwa judul postingan Tanpa Membaca, Berhentilah  Anda Jadi Blogger! untuk diri saya sendiri agar lebih terpacu menulis di blog ini. Menggurui pun untuk diri pribadi, bukan untuk pembaca yang tidak perlu digurui.

Oya. Siapkan teh hangat atau kopi panas disertai ‘nyamilan’ seperlunya di samping meja anda nge-net  sebelum melanjutkan baca postingan di Dwiki Setiyawan’s Blog ini.

Kita tentu mengharapkan dunia blog di Indonesia saat ini lebih berkembang dan maju seperti halnya blog-blog yang muncul, misalnya di Amerika Serikat. Kalau bukan Amerika Serikat, tak usah jauh-jauhlah, cukup disekitar Negara Asia Tenggara, misalnya, Malaysia. Perbedaannya cukup signifikan! Tak usah saya sebutkan blog-blog itu, namun pembaca bisa menelusuri dengan mengetik “key word” seperti Top Blogs in English Language di mesin pencarian.

Iseng-iseng saya membuka Top Blogs atau Top Posts yang dilansir WordPress (WP) dalam bahasa Indonesia. Ini hanya sekedar contoh. Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada sebagian para blogger di WP, kalaulah boleh memberi masukan: perbanyaklah kembali membaca (buku). Sehingga yang muncul bukanlah postingan-postingan yang sekadar “copy paste” dari situs atau blog lain.

Dari seratus blog top atau postingan top di WP itu, mungkin hanya puluhan saja yang benar-benar lahir dari akumulasi pendalaman fenomena dan realitas serta pengkayaan aktivitas membaca. Selebihnya latah atau ikut-ikutan tren yang terjadi. Berita arus utama mempublikasi ‘Ponari dan Batu Ajaibnya’, blog-blog juga  ngikuti. Dan seterusnya. Mungkin ini lantaran hanya untuk mengejar  SEO, agar lalu lintas pengunjung blog bertambah.

Tapi untuk apa? Jikalau diri kita hanya jadi ‘foto copy’ dari orang lain. Bermanfaat jangka pendek, namun bukan untuk peningkatan kapasitas diri di jangka panjang! Pembaca mungkin ada yang berdalih, agar postingan-postingannya bisa suatu waktu di bukukan atau diterbitkan. Siapa yang mau menerbitkan “junk posts” semacam itu?

Malahan yang nangkring di Top One BOTD WP berbulan-bulan selama saya nge-blog, maaf ya,  adalah blog yang postingan utamanya tentang ‘lowongan kerja’. Sekalipun ini bisa dimaklumi, namun sepertinya saya juga kurang sreg oleh pemeringkatan seperti ini.

Yang di WP itu belum seberapa, kalau kita telusuri lebih lanjut di dunia maya, barangkali postingan-postingan dan turunannya berupa gambar atau video bernada cabul, porno dan sejenisnya jumlahnya mungkin kalau di peringkat di seluruh dunia, Indonesia minimal masuk 10 besar. Bukannya saya sok suci dan tidak suka gambar-gambar atau video syur itu, hanya fenomena situs dan blog kategori xxx ini sudah terlalu.

Hanya demi untuk mengejar pemasukan dari Google Adsense, segala tipu daya dan cara digunakan. Apakah tidak ada metode yang elegan dan mencerahkan selain cara semacam itu? Nanti di postingan selanjutnya akan kami kemukakan tip-tip mencari pemasukan yang lebih elegan dan ‘intelek’ melalui aktivitas nge-blog.

Blogger Chappy Hakim, dalam Kopdar I Kompasiana beberapa waktu lalu mengemukakan bahwa membaca (buku) merupakan prasyarat seorang blogger bisa rutin menuangkan gagasannya melalui tulisan. Itu dalil lama yang tetap berlaku kapanpun dan dimanapun seseorang blogger (atau calon blogger) berada.

Dengan membaca,  banyak ilmu dan pengalaman (orang lain) diserap. Pada gilirannya pengetahuan itu membentuk “pola pikir” untuk merespon suatu fenomena dan masalah. Semakin banyak membaca, semakin cepat pula seseorang mampu menanggapi fenomena dan masalah. Sekaligus cepat mencari jalan keluar dan solusi-solusi jitunya.

Demikian pula di Blog. Semakin para blogger memperkaya khazanah intelektualnya salah satunya dengan membaca, maka postingan-postingan yang muncul sekalipun menyorot soal yang sama namun sudut pandang dan pendalaman atas soal itu akan berbeda satu sama lain dan berbobot mutunya. Apalagi bila postingan berbeda dengan postingan blogger lain.

Posting bermutu itu tidak bisa dihasilkan oleh proses instan, sekonyong-konyong dan sekejap mata. Melainkan atas dasar rentang pengalaman dan kesukaan membaca.

Tanpa itu, mulai sekarang berhentilah anda jadi blogger!

Catatan: postingan ini pernah dimuat di blog Grup Harian KOMPAS Kompasiana pada 2 Maret 2009 dengan judul yang sama.

Iklan

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Petak Ide dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

11 Balasan ke Tanpa Banyak Membaca, Berhentilah Anda Jadi Blogger!

  1. ressay berkata:

    hehehe…ini nih blogger idealis.

  2. muntoha berkata:

    kalo ada blogger newbie baca postingan kayak gini langsung ngacir nih..

    • Dwiki Setiyawan berkata:

      Ya nggak juga bung. Orang mau membuat rumah saja perlu bahan-bahan bangunan. Dari mulai batako atau batu bata, pasir, semen, besi, kayu dan sebagainya. Termasuk juga kalau kita mau membuat blog, seyogyanya perlu dari awal dipikirkan bahan-bahan ‘bangunan”-nya itu. Model rumah kita bisa mencontoh dari yang sudah ada, maksudnya dalam ngeblog bisa copy paste. Tetapi, agar rumah yang kita bangun itu kokoh dan bertahan lama, tentu bahan-bahan itu harus disiapkan. semakin bermutu bahan-bahan itu akan semakin bermutu pula rumahnya. Demikian pula dalam hal kita ngeblog.

      Terima kasih.

  3. caLista berkata:

    huhuu bener jugaaa
    banyak membaca artikel blogger jg boleh yak

  4. dionbarus berkata:

    Setuju mas! Perlu ada revolusi dari para blogger Indonesia jika tidak ingin ketinggalan dari blogger tetangga.

    Salam kenal! Sukses selalu.

  5. samawabalong berkata:

    sebuah bahan perenungan yang bagus buat blogger baru seperti saya mas…
    makasih…

  6. ekaria27 berkata:

    Membaca menghasilkan tulisan a.k.a blogger
    Heem… Korelasi yang nyambung 🙂

    Salam kenal mas

  7. Lambang berkata:

    Mengutip artikel di atas:

    Cukuplah bahwa judul postingan ini untuk diri saya sendiri agar lebih terpacu menulis di blog ini. Menggurui pun untuk diri pribadi, bukan untuk pembaca yang tidak perlu digurui.
    ……………………………
    ……………………………
    Tanpa itu, mulai sekarang berhentilah anda jadi blogger!

    Rasanya agak beda sedikit dengan uraian tentang blogging yang ada di Wikipedia:

    The personal blog, an ongoing diary or commentary by an individual, is the traditional, most common blog. Personal bloggers usually take pride in their blog posts, even if their blog is never read by anyone but them. Blogs often become more than a way to just communicate; they become a way to reflect on life or works of art. Blogging can have a sentimental quality. Few personal blogs rise to fame and the mainstream, but some personal blogs quickly garner an extensive following.

    BTW, sah-sah saja koq punya perbedaan dalam menyikapi kejadian di sekeliling. Yang penting tidak ada pemaksaan kehendak atas pemahaman pribadi.

    Salam Kenal.

    • Dwiki Setiyawan berkata:

      Akur deh. Saya juga tidak memaksakan kehendak kok. Kalau beropini “hanya” untuk mempengaruhi pendapat umum kan tidak apa-apa. Terima kasih Bung atas kementarnya yang cukup panjang. Salam kenal kembali.

  8. Ping balik: Dwiki Setiyawan: Tanpa Banyak Membaca, Berhentilah Anda Jadi Blogger!

  9. Ping balik: Tips Menulis Konten yang Baik, Benar dan Bermutu | Dwiki Setiyawan's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s