Pengalaman Menjadi Tamu Tak Diundang di Pesta Perkawinan


Gedung Monumen Pers Solo (http://tentangsolo.wordpress.com)

Gedung Monumen Pers Solo (http://tentangsolo.wordpress.com)

Apa yang saya ceritakan berikut merupakan pengalaman ‘cukup berkesan’, walaupun sebenarnya bisa dikatakan ‘cukup memalukan’. Oya, seruput dulu teh hangat atau kopi panas yang ada di atas meja, tatkala tengah menjelajahi blantika maya. Khusus postingan ini simak perlahan-lahan sebuah pengalaman sungguh-sungguh terjadi yang pernah saya alami di awal-awal tahun 1990-an ini.

Sebagai mahasiswa perantau yang terdampar di kota Solo, untuk mensiasati agar bisa bertahan hidup saya terpaksa mengatur anggaran keuangan yang besarannya tak seberapa. Malahan saya juga terpaksa ‘indekost’ di sebuah kantor cabang organisasi ekstra universiter yang terletak di Jalan Yosodipuro Solo. Jaraknya 250 meter ke barat dari Gedung Monumen Pers atau Hotel Sahid Raya, 500 meter ke timur dari Lapangan Kota Barat, 300 meter ke utara dari Taman Sriwedari dan 2 kilometer ke selatan dari Terminal Bus Tirtonadi.

Di sepanjang Jalan Yosodipuro Solo itu, saat itu –dan hingga saat ini– berdiri beberapa gedung pertemuan yang sering digunakan sebagai tempat berlangsung resepsi pernikahan. Antara lain, Gedung Sriwijaya dan Gedung Mekar (kalau tidak salah). Kesemuanya berdiri di sebelah barat Gedung Monumen Pers.

Sebagai mahasiswa ‘miskin’ yang tiap hari makannya hanya itu-itu saja (tidak lepas dari sepotong tempe atau sejumput ikan asin), sempat terlintas di pikiran mengapa saya tidak hadir saja di resepsi perkawinan  seorang  ‘teman misterius’, yang istilahnya melangkah sejengkal saja sudah tersedia menu-menu enak dan bergizi. Sebagai tamu tak diundang.

Saya sudah pada kesimpulan di pikiran saat itu bahwa tidak mungkin kalau kita hadir di pesta perkawinan orang akan ditanya oleh panitia atau penerima tamu: “Apa hubungan kehadirannya dengan kedua mempelai atau orang tuanya?”

Modal utama hingga saya berani hadir sebagai tamu tak diundang itu adalah keberanian dan kenekatan. Sedang modal pendamping lain, yakni tampil meyakinkan dan tidak ‘ngisin-isini’ (ndeso dan memalukan). Sementara, modal asesoris yang wajib, yakni mengenakan kemeja batik!

Diantara dua gedung pertemuan dimana saya sebutkan di atas, hanya Gedung Sriwijaya yang berani saya datangi. Soalnya, gedung satunya yang didepan tempat ‘indekost’ itu, pengelolanya kenal betul dengan saya. Sementara Gedung Sriwijaya, agak jauh dan saya memang sengaja tak mau mengenal pengelolanya! Ya itu tadi, agar tidak terdeteksi dan menimbulkan kecurigaan. Dan hanya pesta yang diadakan malam hari yang berani saya hadiri.

Pengalaman pertama hadir resepsi penikahan sebagai ‘tamu tak diundang’ masih agak canggung dan kurang percaya diri, setelahnya lancar-lancar saja. Dengan berkemeja batik, seperti lazimnya kita diterima para penerima tamu, sebelum mengisi buku tamu. Bersalam-salaman sejenak dengan sedikit menebar senyum dilanjutkan mengisi buku tamu. Saya tulis di buku daftar hadir, dikolom nama: Iwan, dan dikolom alamat: Klaten.

Disamping buku tamu, ada kotak dana. Tamu-tamu di depan saya hampir semuanya mengisi kotak dana itu dengan amplop berisi uang. Saya sendiri? Lha wong datang mau numpang makan malam, masak ngisi kotak dana! Berpikir kilat, dan saya menemukan jawabannya. Kepada nona-nona cantik yang berdiri di samping kotak dana dan buku daftar hadir, saya katakan,”Mohon maaf mbak. Sumbangan sudah saya berikan saat acara akad nikah mempelai!” Lantas oleh panitia diberi sebuah cinderamata.

Setelah melewati ‘rintangan’ panitia di meja daftar hadir dan kotak dana, jalan terbentang sudah terpampang di depan pelupuk mata. Mau salaman ngucapkan selamat kepada mempelai boleh, dan mau langsung santap hidangan yang tersedia pun boleh. Biasanya untuk ‘menghormati’ tuan rumah, saya bersalam-salaman dulu baru dilanjutkan santap malam.

Selama di Solo, saya rasa tidak sampai 10 kali telah berpetualang menjadi ‘tamu tak diundang’ di pesta perkawinan semacam itu. Hingga tulisan ini dibuat, tidak ada seorangpun teman yang mengetahui soal rahasia dan petualangan ini. Soalnya saya melakukannya seorang diri dan malu juga mengungkap ‘aib’ ini. He..he..he…

Pernah suatu waktu ada teman yang menanyakan soal  kehadiran di pesta perkawinan ini, termasuk beberapa abang becak yang mangkal di Jalan Yosodipuro Nomor 81 itu dan mengenal saya. Biasanya saya hanya menjawab, dari menghadiri pesta perkawinan kerabat di Klaten.

***

Balai Kartini Sebelum Renovasi (http://www.balaikartini.com)

Balai Kartini Sebelum Renovasi (http://www.balaikartini.com)

Untuk mengenang sebagai ‘tamu tak diundang di pesta perkawinan ‘ di atas, selama lebih 10 tahun di Jakarta, saya hanya melakukan  satu kali ritual menghadiri resepsi perkawinan di Balai Kartini Jalan Gatot Subroto pada akhir tahun 1990-an sebagai ‘tamu tak diundang’. Itupun kejadiannya tidak disengaja.

Sebagai gambaran. Balai Kartini dimiliki oleh Yayasan Eka Paksi. Sebuah yayasan milik Angkatan Darat. Selain Gedung Manggala Bhakti milik Dephut, tahun-tahun itu Balai Kartini termasuk gedung tempat resepsi perkawinan yang favorit. Lantaran letaknya yang strategis.

Bentuk bangunan Balai Kartini sekarang ini berbeda dengan di akhir tahun 1990-an. Saat itu, hanya berdiri satu lantai dan tidak semegah saat ini. Memiliki beberapa ruangan pertemuan, bercat putih, posisi gedung menjorok ke dalam dengan halaman cukup luas, serta belum ada jembatan layang di depannya.

Kontrakan saya di daerah Susukan Ciracas Pasar Rebo dan tempat kerja di Gedung DPR-RI Senayan. Otomatis setiap hari saya melewati Balai Kartini tersebut. Suatu hari (tanggal dan bulannya lupa), saat berangkat kerja dengan bergelantungan di bus Mayasari Bhakti P-6 jurusan Kampung Rambutan-Grogol yang penuh sesak,  dan saya lihat akan ada resepsi perkawinan di Balai Kartini. Kebetulan di kantor siangnya ada acara yang mengharuskan pakai baju batik.

“Wah kebetulan nich, nanti pulang sekalian mampir dulu ke pesta perkawinan di Balai Kartini,” batin saya. Malamnya dengan memakai baju batik yang dipakai siang harinya, saya beranikan diri untuk hadir di pesta perkawinan itu.

Seperti  saya ceritakan di atas, di pintu masuk tetap mengisi buku tamu. Menulis nama saya Iwan, dan alamat Cijantung Jakarta Timur, sambil berbisik mengatakan pada panitia di meja daftar hadir dan kotak dana, “Sumbangan sudah diberikan di acara akad nikah mempelai.”

Ternyata yang melangsungkan perkawinan anak seorang Jenderal TNI AD! Mempelai laki-lakinya juga bekas Taruna Akmil. Itu terlihat dengan banyaknya teman-teman si mempelai laki-laki yang semua pakai seragam sama, tinggi-tinggi dan semua tampan.

Setelah mengisi buku tamu dan dapat cinderamata, tidak lupa saya juga memberi selamat kepada kedua mempelai. Ikut beramah-tamah dengan beberapa tamu undangan resmi, dan makan hidangan secukupnya yang sangat melimpah.

Beberapa tamu menanyakan soal asal saya juga tentang tempat kerja. Untungnya tidak satupun ada yang menanyakan, hubungan apa saya dengan mempelai berdua atau keluarganya. Kalaupun, misal, ada pertanyaan seperti itu saya juga sudah punya jawaban bahwa, “Saya teman SMA-nya mempelai perempuan.”

Bila dihitung saat postingan ini dipublikasikan dengan saat terakhir saya menghadiri pesta perkawinan sebagai ‘tamu tak diundang’ itu, rentang waktunya sudah hampir 10 tahun silam. Dan alhamdulillah, sekarang  ini sudah insyaf dengan petualangan semacam itu. Tapi kalau ada pembaca blog ini ada yang mau mencoba sebagai ‘tes mental’ dengan menghadiri resepsi  perkawinan sebagai tamu diundang juga tak apa-apa. Asalkan tidak keseringan saja. Dengan tak lupa menerapkan trik-trik yang saya kemukakan di atas.

*****


Iklan

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Jejak Langkah dan tag , , , , . Tandai permalink.

5 Balasan ke Pengalaman Menjadi Tamu Tak Diundang di Pesta Perkawinan

  1. ressay berkata:

    Hahahaha…ini nih yang namanya petualang. aku mah ndak berani.

  2. M Shodiq Mustika berkata:

    wah wah wah…
    benar-benar bernyali tinggi

  3. famdy berkata:

    wah.. menarik.. nih mas…
    tapi terus terang aku sendiri nyobain gak deh….

  4. dosko berkata:

    Gedung sriwijaya, Kalo dari stasiun balapan naik apa mas?

  5. Tabah Heksanto berkata:

    saya di jogja sudah sering kali, sampe kapok gara-gara ketahuan sebagai tamu tak diundang. tamu undangan diminta membawa undangan di resepsi karna amplop ternyata sudah disediakan didalam undangan. saat oleh petugas di tanya nama mempelai dan orang tuanya, saya tidak bisa jawab dan langsung kabooorrrrr….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s