Perang Opini atau Polemik di Blog dan Antar Blog


Postingan ini hanya sekedar ‘petak ide’. Sebuah gagasan tentang perlunya perang opini atau polemik bagi para blogger di blognya masing-masing atau antar blog.

Gagasan ini bukan sebuah gagasan baru, lantaran selama ini kita telah mengenal istilah polemik. Polemik adalah pertukaran atau pergesekan pendapat, perdebatan secara lisan maupun tulisan, umumnya berlangsung di media massa cetak atau di radio-tv atau forum umum lainnya. Menurut Grand Dictionnaire de Culture Générale, Polemique adalah kata benda dan kata sebutan berasal dari bahasa Yunani: polemikos. “berkaitan dengan peperangan”.

Polemik merupakan perdebatan sengit politik atau intelektual. Suatu bentuk perjuangan ide atau wawasan; soal yang jadi persoalan kepentingan umum, estetika, politik, sosial, falsafah atau pandangan dunia. Umumnya polemik timbul ditimbulkan oleh kalangan penulis, jurnalis atau intelektual yang selalu gelisah dalam menghadapi situasi stagnasi, kemunduran atau ketimpangan dalam kehidupan masyarakat, istimewa sekali di bidang politik, ekonomi dan kehidupan kebudayaan, kesenian serta ke-ilmu-an (sumber http://apresiasipuisi.multiply.com)

Dalam sejarah pertumbuhan pers di tanah air, kita bisa merujuk sebuah polemik menarik yang terjadi di masa perjuangan kebangsaan jauh sebelum Republik Indonesia ini diproklamirkan pada 17 Agustus 1945. Polemik itu antara lain, polemik Sukarno dengan Muhammad Natsir tentang  Hubungan Islam dan Negara, Polemik Sutan Takdir Alisjahbana dengan Armijn Pane tentang Kebudayaan Timur dan Barat dan sebagainya. Polemik-polemik yang tinggi mutu intelektualnya itu hakikatnya telah memberikan kontribusi besar bagi proses pembentukan bangsa dan negara kita.

Setelah masa kemerdekaan, kita juga menyaksikan suatu polemik menarik yang terjadi antara Kubu Manifes Kebudayaan dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) pada tahun 1960-an,  polemik Rosihan Anwar dengan Moehammad Roem di harian Kompas pada awal tahun 1980-an, dan polemik intelektual tentang Islam dan Sekularisme, yang terjadi antara Mohamad Rasjidi dengan Nurcholish Madjid.

Yusril Ihza Mahendra dalam websitenya mengatakan,”Kalau kita menelaah dengan seksama, polemik mereka sungguh sportif, kesatria, argumentatif dan tidak menyerang pribadi seseorang, yang tidak ada hubungannya dengan materi yang diperdebatkan. Mereka juga menggunakan kata-kata yang sopan, sehingga nampak suasana saling hormat-menghormati, walaupun perbedaan pendapat di antara mereka demikian tajam.”

Polemik-polemik di atas, lazimnya dilakukan oleh 2 (dua) aktor utama. Aktor utama pertama sebagai penulis awal di sebuah media cetak, dan aktor  utama kedua sebagai penanggap pertama atas tulisan awal itu. Kemudian muncul aktor-aktor lain  yang turut dalam polemik dan masing-masing berdiri sebagai ‘pembela’ di antara dua aktor utama dimaksud, serta ada aktor lain yang bersikap netral atas polemik tersebut

Sekarang, bagaimana dengan di blog  yang tengah menjamur bagaikan jamur di musim penghujan ini? Sepanjang yang saya tahu, rasanya belum pernah terdengar adanya sebuah polemik yang melibatkan intelektual muda Indonesia tentang sesuatu hal dan menjadi perbincangan ramai , khususnya di blog dan umumnya di dunia maya.

Di dunia maya, setahu saya forum yang memungkinkan terjadinya polemik adalah di mailing list. Yang hanya melibatkan anggota-anggota terdaftar di mailing list tersebut. Lantaran sifatnya yang tertutup itu, polemik yang kadang seru tersebut jarang terekspos ke luar. Dan tidak menjadi ‘kehebohan’ di dunia maya.

Di blog, yang mirip-mirip seperti polemik biasanya terjadi adalah seseorang yang berkomentar tentang postingan admin/penulis  blog. Namun komentar yang bernada polemik itu rasanya tidak imbang, lantaran bisa saja pendapat-pendapat yang ‘berbeda’ itu terkena suntingan si admin blog.

Yang paling mungkin bisa dilakukan untuk memulai suatu polemik tersebut adalah aktor-aktor atau blogger utama seperti saya sebutkan di atas memulainya melalui blognya masing-masing. Suatu postingan atas tema tertentu di sebuah blog, lantas ditanggapi secara serius di blog penanggap. Dengan masing-masing aktor tersebut saling mengetahui dimulainya ‘perang opini’ tersebut. Para aktor susulan (baik yang pro, kontra dan netral) yang akan nimbrung juga saling memberi tahu kepada pihak-pihak yang terlibat dalam perang opini tersebut.

Namun demikian, seyogyanya polemik yang muncul tersebut adalah hal-hal yang berkaitan dengan persoalan-persoalan kebangsaan dan keindonesian yang tengah kita hadapi saat ini. Atau gagasan-gagasan brilyan mengenai masa depan negeri ini yang kita cintai.

Nampaknya bila suatu waktu apa yang saya impikan itu terjadi di kancah blog Indonesia, akan menjadi suatu fenomena menarik dan akan tercatat dalam ‘sejarah per-blogan-an’ tanah air.

Hal-hal yang berkaitan dengan teknis gagasan ini, marilah kita diskusikan bersama.

Iklan

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Petak Ide. Tandai permalink.

8 Balasan ke Perang Opini atau Polemik di Blog dan Antar Blog

  1. Pepih Nugraha berkata:

    Ayo dong tulis di Kompasiana, register dulu Mas Dwiki!

  2. eshape berkata:

    Wah tulisan mas Dwiki ternyata mantab tuh.

    Met kenal ya mas.

    Harusnya ini ditulis di kompasiana mas.

    Salam

    • Dwiki Setiyawan berkata:

      Wah Mas Eshape ‘menyanjung’ saya. Saya yakin itu sanjungan yang lahir dari ketulusan.

      Tentang menulis di Kompasiana, akan saya coba lagi register Mas. Mudahan-mudahan, selambatnya bulan Maret sudah ada postingan saya yang muncul di Kompasiana.

      I’m glad to meet you here.

  3. yanu berkata:

    berkunjung (lagi) mas…pasti mas dwiki lupa,

    dulu, jaman saya jadi kabid PA HMI Solo, saya bareng A. Yuli (Ketum 2007-2008) dan Taufiq (Kabid PTK) “maen” ke ruang kerja mas di gedung dewan….sudah setahun yang lalu…lalu saya lihat di blog maspep ada nama mas…akhirnya, meski sulit jumpa darat, dari blog ini saya bisa baca-baca apa yang mas tulis-tulis.

    sukses.

    yanu endar prasetyo
    social reseracher in Centre for Appropriate Technology-Indonesian Institute of Sciences (LIPI)

    • Dwiki Setiyawan berkata:

      Kalau saya masih ingat kok. Tapi ya maaf, saat pulang tidak bisa memberi ‘ongkos pesawat’ untuk kembali ke Solo saat itu. Kalau sekadar ‘ongkos taxi’ sich masih bisa bila ada adik-adik HMI Solo datang nemui saya di Jakarta. Minimal ditarktir makan siang dan ‘ongkos bus’ 213 Jurusan Grogol-Kampung Melayu yang melewati Kantor PB HMI di Jalan Diponegoro Menteng Jakarta. He..he..he…

      Sukses selalu dik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s