Pesan Almarhum Cak Nur: HMI Harus Bersih dari Ular dan Telornya


Pengantar Admin Situs:

Hari Sabtu-Minggu Tanggal 14-15 Februari lalu, saya membongkar 2 kardus besar di gudang berisi arsip-arsip Kongres XXI HMI Yogyakarta 1997 dan Kongres XXII HMI Jambi 1999. Ternyata kliping-kliping media massa saat kedua kongres tersebut, juga  buletin kongres dimana saya jadi Komandan Lapangan (buletin Liputan 21 di Kongres Yogya & buletin HMI News di Kongres Jambi) masih utuh. Dan cukup lengkap. Termasuk berita media massa, proposal-proposal, undangan, daftar hadir acara, klise foto kegiatan, catatan rapat harian, SK Pengantar Reshuffle PB HMI era Anas Urbaningrum dan sebagainya.

Diantara tumpukan dokumen-dokumen ‘yang tak ternilai’ tersebut, juga terdapat makalah-makalah diskusi atau seminar. Salah satunya makalah dari Almarhum Profesor DR. Nurcholish Madjid. Mulai minggu ini akan kami tampilkan  di blog 5 buah tulisan Almarhum Cak Nur: 1 tentang HMI, 1 tentang KAHMI –Munas KAHMI IV di Surabaya Tahun 2000, 1 tentang Peluang Emas Reformasi –diskusi di DPR-RI, dan 2 buah Pidato saat pendirian Universitas Paramadina (Mulya). Kalaupun di antara tulisan di atas sudah ada yang dibukukan, paling tidak ditampilkan di blog ini  sebagai arsip. Juga sebagai penyegaran bagi pembaca yang belum sempat baca.

HMI Harus Bersih dari Ular dan Telornya

Oleh Profesor DR Nurcholish Madjid

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) telah mengalami demoralisasi, kesan itulah yang didapatkan mengenai HMI ketika ada pertemuan Forum Silaturahmi III Lintas Periode di tempat Ali Marwan Hanan, tadinya memang hanya selentang-selentingan, tetapi kemudian menemui kebenarannya. Kenyataan ini ibarat pil adalah agak pahit. Ini terjadi karena konsekuensi dari mobilitas ke atas dari HMI, tapi ibarat batu yang berporos, dari lubang-lubang poros yang kecil itulah HMI bisa meresap. Bahasanya, idiomnya, logonya dan cara berpikirnya sama, jadilah HMI yang sukses. Tapi HMI kemudian menjadi korban dari kesuksesan sendiri, karena ketika HMI sukses juga dibarengi dengan proses demoralisasi tersebut.

Contoh kecil mengenai demoralisasi di HMI, bahwa seorang mahasiswa menjadi anggota Pengurus Besar (PB) menjadi persoalan yang sangat diperebutkan. Ketika ingin menjadi anggota PB ada proses “menyuap”. Dimana posisi yang menyuap merasa untung, yang disuap merasa untung kemudian jadilah peraturan saling menguntungkan. Lalu siapa yang dirugikan? Nah disini sering tak dirasakan. Karena masing-masing tidak merasa tersebar, kemudian ini dinamakan the separate family. Ibarat satu juta dibagi-bagikan ke satu juta penduduk, yang masing-masing dapat satu rupiah tidak terasa tapi karena in merupakan kanker moral, maka kanker moral sedikit retorik bombastis bahaya.

HMI itu ibarat miniatur Indonesia, karena ada anggota di setiap provinsi di Indonesia, jadi nasional. PMKRI (Pergerakan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia) anggota cenderung suku Jawa dan Nusa Tenggara Timur (NTT). GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) anggotanya dari suku Batak, Manado, dan yang semi Jawa. PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) anggotanya cenderung dari suku Jawa. Organisasi-organisasi itu tidak menasional. HMI itu nasional sekali seperti Masyumi. Ketika pada tahun 1955, muncul empat partai besar, tiga partai Jawa dan satu partai nasional. Partai Jawa itu ialah PNI, PKI dan NU. Partai nasional adalah Masyumi. Jika HMI rusak, itu juga cerminan dari Indonesia yang sakit atau rusak secara moral.

Kalau kondisi HMI secara moralitas sudah rusak, misalnya kita yang tidak tahu menahu bisa kena getahnya, efek negatifnya. Karena HMI buruk citranya seperti ini kita semuanya kena. Seseorang bertanya kepada diplomat, mengenai persamaan dan perbedaan antara HMI dan TNI? Persamaannya HMI dan TNI yaitu disiplin meskipun sekarang menjadi pertanyaan. Perbedaannya TNI itu bekerja atas perintah. HMI itu bekerja karena tujuan menghalalkan segala cara (Macheavillian). Tapi kalau kita sanggup memperbaiki HMI, maka Indonesia itu HMI. Karena uniperson Indonesia dari Sabang sampai Merauke itu adalah hanya HMI. Berbeda sekali dengan PMKRI, apalagi GMNI. Seandainya HMI telah mengalami proses demoralisasi cukup parah, justru hal ini merugikan dan minus. Umpamanya, kita menghibur diri bahwa kelompok yang lain tak beda jauh dalam soal moralitasnya, cukup parah juga. Tapi hal ini tidak akan bisa menjadi pembenaran untuk “ikut” juga melakukan hal-hal yang diluar koridor moral.

Ada ilustrasi mengenai ular itu haram tapi telornya halal. Ini kemudian menjadi argumen pembenar bahwa orang korupsi itu kalau misalnya disedekahkan. Sedekahnya menjadi halal. Jika kita meminta bantuan kepada orang yang korup, bantuannya itu halal, karena yang haram itu adalah orang yang melakukan korupsi, orang korupsi diumpamakan ular itu haram. Argumen ini adalah sesat karena haramnya korupsi itu bukan seperti ular yang fisik. Korupsi haramnya secara moral, oleh karena telornya itu juga haram. Argumen bahwa ular yang haram bukan telornya seringkali menjadi pembenaran oleh HMI, pokoknya kita minta bantuan pada siapa saja! Tidak peduli harta yang diberikan hasil korupsi atau bukan?

Korupsi di Indonesia itu mempunyai alat pembenaran dari segi hukum. Karena itu banyak sekali korupsi tapi tidak ada koruptornya. Bagaimana memberantas korupsi? Itu hanya bisa dilakukan kalau kita kembali ke rohani yang disebut taqwa. Taqwa inilah merupakan benteng terakhir bagi kita untuk mencegah dari perbuatan tercela, misalnya korupsi. Mereka yang taqwa adalah mereka yang takut kepada Allah SWT meskipun mereka tidak melihat Allah SWT. Berbeda memang dengan umat Nabi Musa tidak takut kepada Allah kecuali kalau melihat Allah SWT. Akhirnya karena umat Nabi Musa menantang Allah SWT, diperlihatkan Allah SWT dengan disambar petir umat Nabi Musa.

Sebagai contoh, menjadi guru agama “menyogok”, ini fakta. Untuk menuju pergi ke surga tapi tiketnya itu masuk neraka. Yang terpenting, bagaimana menjadi pegawai negeri mendapatkan pendapatan bulanan terakhir? Tetapi lupa kepada misi sebagai guru agama. Itu apa?! Untuk apa?! Kemudian untuk membenarkan perbuatan tersebut, mereka berargumen yang haram ularnya, telornya halal.

*****

Artikel ini diambil dari buku “HMI Beban Sejarah bagi Kadernya?” Sebagai Kata Pengantar, diterbitkan Forum Silaturahmi Alumni (FOSAL ) PB HMI

Iklan

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Jejak Langkah. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Pesan Almarhum Cak Nur: HMI Harus Bersih dari Ular dan Telornya

  1. Ajiz Al Qatiri Djaelani Bin Zakaria berkata:

    tolong kepada kanda pb hmi jangan terlalu eksklusif coz,ingat anfa masih mahasiswa bukan eksekuif.tolong dipahami

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s