Kado Ulang Tahun Istriku


Tri Endraningsih Setiyawan

Tri Endraningsih Setiyawan

Hari ini 19 Februari 2009, hari ulang tahun istriku ke-** (rahasia ah). Menjelang detik-detik pergantian ke tanggal 19, sengaja saya ‘begadang’ di depan laptop menari-narikan jari-jemari di atas keyboard sembari mendengarkan musik instrumental yang lembut, syahdu, mendayu-dayu, melankolis dan romantis. Yang mampu menyejukkan dan mencerahkan langit pikiran serta mendamaikan dataran hati.

Istriku terlihat sudah terlelap di peraduan. Begitu jarum panjang dan pendek tepat di angka 00,  segera kuhampiri istriku. Kukecup keningnya, dan dengan lirih kuucapkan, “Selamat Ulang Tahun Dik. Semoga panjang umur, dan terima kasih telah menjadi ibu yang baik dan bijak selama ini atas ketiga anak-anakku (dan anaknya juga).”

Ia hanya membuka matanya sedikit, tersenyum. Senyuman sama seperti yang kusaksikan selama hari-hari panjang yang terentang selama bertahun-tahun hidup bersama. Dalam suka maupun duka.

Saya sempat berseloroh, “Kadonya besok saya belikan buah duku (buah kesukaan istri). Yang besar-besar tetapi jumlahnya sebanyak ** (menyebut jumlah angka ulang tahunnya).”

Namun demikian, diam-diam saya juga menyiapkan “kado ultah” yang lain daripada yang lain. Bukan berwujud barang, melainkan hanya sekedar kutipan kata-kata.

Biarpun sekedar kata,  kalau kita mengungkapkannya dilambari ketulusan, ia mampu membangkitkan gairah cinta, hidup dan kehidupan yang kadangkala nilainya melebihi dari kado materi belaka.

Kutipan pertama, saya ambil dari ungkapan Peter Argansola dalam cerita bersambung ‘Banda Naira’ yang pernah dimuat harian Kompas beberapa tahun silam, “Jalan hidup –sebagaimana sang waktu– mengalir bagaikan air. Berkelok-kelok, berliku-liku tak tentu arah dan rimbanya. Kita hanya mampu berserah diri pada nasib, bahwa hidup, perkawinan dan kematian adalah sebuah misteri yang abadi….”

Kutipan kedua, dari penyair sufi Jallaluddin Rumi, “Cinta datang dan aku menyerahkan jiwaku kepada Yang Terkasih. Yang Terkasih kini memberiku kehidupan dari kehidupan-Nya sendiri… Cinta datang dan penaka darah memenuhi nadi-nadi dan lapisan-lapisan dagingku, mengosongkannya dari diriku dan memenuhiku dengan Sang Sahabat. Sang Sahabat telah mengambil semua milik setiap atom dari keberadaanku. Nama itu adalah semua yang telah kutinggalkan sekarang: semua yang tersisa adalah Dia.”

Selamat ulang tahun, sayangku. Biarkan esok kita jelang bersama!

Iklan

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Kata Mutiara dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Kado Ulang Tahun Istriku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s