Trik dan Kiat Menghadapi Wartawan Tanpa Surat Kabar


fatah-yasin-perum-bulog-dan-istriBeberapa saat setelah diangkat sebagai Kepala Bagian Humas Perum Bulog beberapa tahun lalu,  saudara Fatah Yasin, mengundang saya ke kantornya di Jalan Gatot Subroto Jakarta. Undangan kehormatan yang sayang untuk dilewatkan. Salah satu poin yang ingin dibicarakan adalah trik dan kiat menghadapi Wartawan Tanpa Surat Kabar (WTS). Kebetulan dalam beberapa hari ke depannya, akan ada Rapat Kerja Perum Bulog dengan Komisi IV DPR-RI. Komisi IV ini membidangi masalah pertanian, kehutanan, kelautan dan bulog.

Perlu saya kemukakan di sini bahwa saudara Fatah Yasin merupakan senior saya di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Alumni Jurusan Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (AN Fisip) UNS Solo ini, pernah menjadi Ketua Umum HMI Cabang Solo.  Saat mahasiswa,  jabatan di organisasi intra kampus sebagai salah satu Ketua Senat Mahasiswa Fisip UNS.  Kalau tidak salah, staf  Ketua Sema lainnya, yakni saudara Janedjri M Gafar (sekarang Sekjen Mahkamah Konstitusi RI). Adapun jabatan terakhir saudara Fatah Yasin di HMI adalah Sekretaris Jenderal, dan nyaris menjadi Ketua Umum PB HMI pada Kongres HMI 1995 di Surabaya.

Saya menemuinya di suatu senja di ruang kerja bagian humas Perum Bulog. Di situ saya lihat, beberapa wartawan media massa yang khusus meliput di Perum Bulog sedang kongkow-kongkow. Suasana ruang kerja saudara Fatah Yasin penuh kekeluargaan. Sifat saudara Fatah Yasin yang saya kenal sejak di HMI tidak berubah walaupun ia kini seorang pejabat di Perum Bulog. Terbuka, ceplas-ceplos, suka menolong, setia kawan, dermawan, dan apa adanya. Poin ‘apa adanya’ pada diri saudara Fatah Yasin, termasuk  ‘slengekan’ dan dalam caranya dia berbusana yang menurut saya (mohon maaf) kurang rapi.

Akan tetapi dari sedikit kekurangan soal ‘slengekan’ dan dalam cara berbusana itulah terletak kelebihannya. Para wartawan yang hadir di situ, termasuk staf  Perum Bulog yang membantu saudara Fatah Yasin, saya perhatikan ‘merasa dekat’  dan tidak terkesan saudara Fatah Yasin ‘jaga image’.

Saya menanyakan pada saudara Fatah Yasin, “Mengapa saya yang dimintai pendapat soal kiat menghadapi WTS, padahal saya tidak punya kompetensi apa-apa soal itu?”

“Dwiki, pengalaman-pengalaman kamu di Lembaga Pers HMI (LAPMI) dan reporter tabloid “KITA” Majelis Nasional KAHMI sebenarnya sudah lama saya perhatikan. Dibandingkan dengan ‘inyong’ (maksudnya aku dalam bahasa Jawa Tengah Pesisir) ini tak ada apa-apanya. Makanya kamu diundang ke sini hanya untuk cerita pengalaman saja, ” katanya dengan penuh rayuan.

Saya kemudian mereview kembali penggalan-penggalan pengalaman yang pernah dialami tatkala menjadi panitia dengan lingkup tugas kehumasan. Kebetulan saya pernah menangani kehumasan di Kepanitian Nasional Hari Ulang Tahun Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam  (HUT KAHMI) dan Kongres HMI beberapa kali.

Teringat pada saya resepsi peringatan HUT KAHMI Era Presidium Almarhumah Anniswati M Kamaluddin di Hotel Regent Kuningan Jakarta (sekarang  Four Seasons Hotel). Karena saya Koordinator Lapangan Urusan Pers, begitu acara selesai serombongan wartawan menemui saya.

Ada belasan wartawan berkeliling setengah lingkaran di depan Ballroom hotel, dan saya menghadapinya seorang diri. Mula-mula salah satu juru bicara mereka,  meminta bahan-bahan berupa fotocopy pidato dan makalah. Semuanya tanpa kecuali saya beri bahan tersebut. Lantas, dengan nada lembut sang juru bicara menanyakan perihal ‘amplop’ buat rombongan tersebut. Ganti saya bertanya, darimana mereka semua mendapat undangan menghadiri acara?  Salah satu dari rombongan itu mengatakan mendapatkan undangan dari faksimile ke kantor ‘surat kabar’ mereka. Ada sebagian yang menjawab, dapat informasi dari iklan surat kabar (yang memang beberapa hari sebelumnya dipasang).

Akhirnya saya meminta kartu nama dari semua yang hadir,  dan tidak semua memberi. Saya lihat sekilas, dari kartu-kartu nama mereka kelihatan dari surat kabar mana mereka bertugas. Boleh percaya atau tidak, 100 % surat kabar yang tertera di kartu nama itu belum pernah sekalipun saya baca dan lihat di konter penjualan koran dan majalah.

Dari tas kecil yang selalu tertenteng, saya tunjukkan daftar media massa (elektronik maupun cetak) yang secara resmi diundang  ke acara dan diputuskan kehadirannya pada rapat panitia. Ujung-ujungnya mereka sedikit emosi, bahkan mengancam akan memboikot acara-acara di lain waktu dan tidak akan memberitakan.

Kalau saya ikut-ikutan emosi dan menanggapi ‘ancaman’ itu bisa kacau suasananya. Saya melirik ke arah dalam ballroom dan di sana ada  Mas Gambar Anom. Ketua Panitia HUT KAHMI. Saya mohon ijin sebentar pada para rombongan  ‘wartawan’  sambil mengatakan akan membantu sebisanya menyelesaikan soal ‘amplop’ itu.

Bercakap-cakap sebentar dengan Mas Gambar Anom, akhirnya saya temui kembali mereka dan putuskan, “Mohon maaf rekan-rekan. Kami tidak dapat membantu (maksudnya amplop tadi). Namun, bila berita-berita acara malam ini dimuat surat kabar anda silakan kontak saya (sambil memberi nomor telepon) atau mengirim klipingnya ke Sekretariat KAHMI Nasional di  Jalan Johar, nanti akan diganti biaya pemuatannya.”

Maka bubarlah rombongan wartawan tanpa surat kabar itu. Ngeloyor pergi satu per satu. Ada yang bersungut-sungut, bahkan mengumpat dan mengomel sendiri. Saya tidak peduli. Yang jelas, saya tidak mempermalukan mereka, sebagaimana saya tetap menghargai mereka sebagai ‘parner’. Sekalipun di tas kecil saya itu masih ada puluhan amplop berisi uang, yang memang disiapkan untuk para wartawan resmi. Namun hanya sedikit saja yang mau terima.

Setelah acara saya melapor pada Mas Gambar Anom tentang ‘sisa amplop’ yang masih banyak itu. “Ya sudah, Dwiki pegang saja. Kalau sudah pembubaran panitia, bisa digunakan untuk ‘honor’ teman-teman di humas.” Berhari dan berminggu kemudian, tidak ada satu pun WTS itu yang mengontak saya, apalagi mengirim kliping berita ke Sekretariat Majelis Nasional KAHMI. Momen-momen menghadapi wartawan tanpa surat kabar itu tidak hanya sekali saya alami.

Oleh karena itu, sesungguhnya menghadapi wartawan tanpa surat kabar itu tidak sesulit yang dibayangkan. Trik dan kiat menghadapinya antara lain:

  1. Menguasai situasi dan kondisi. Terutama penguasaan diri sendiri menghadapi situasi kritis. Dalam contoh di atas, yang dihadapi tidak satu orang, namun serombongan wartawan. Usahakan posisi kita menghadapi mereka dalam ruang publik, dimana banyak orang lalu lalang dan kita terlihat orang lain.
  2. Tetap bersikap sopan. Wartawan tanpa surat kabar juga manusia, yang perlu kita hargai dan jaga martabatnya. Jika kita bersikap sopan, mereka juga akan segan dan tidak akan bersikap macam-macam.
  3. Tidak hanyut dalam perangkap. Publikasi kegiatan tentang lembaga, badan atau organisasi kita memang penting untuk diketahui publik. Namun, bila menghadapi ‘ancaman’ boikot atau tidak mempublikasikan acara tetaplah berpegang pada kebijakan yang telah digariskan pada awalnya. Dalam contoh kisah di atas, karena saya sudah pegang daftar wartawan yang diundang resmi dan mereka tidak  diundang akhirnya bisa dimaklumi.
  4. Bersikap tegas. Katakan saja tidak (just say no) untuk setiap pertanyaan, permohonan yang ujung-ujungnya ‘amplop’. Kalau kita bersikap tegas untuk urusan yang satu ini, mereka juga tidak ngotot kok.
  5. Tidak menghindar. Mencuri-curi kesempatan untuk menghindar dari wartawan tanpa surat kabar tidak akan menyelesaikan persoalan. Kita tetap akan dikejar kemanapun berusaha untuk menghindar. Hadapi saja mereka dengan kiat poin 1 hingga 4 di atas. Toh akhirnya mereka juga akan mundur secara teratur.

Trik dan kiat itu saya sampaikan pada saudara Fatah Yasin. Ia manggut-manggut tanda setuju sembari menepuk-nepuk pundak saya. Tidak lupa pula saya memberi masukan agar Humas Perum Bulog sering-sering membuat ‘press release’ untuk dikirim ke media massa cetak atau elektronika. Sekalipun, misalnya, release itu tidak dimuat media massa bersangkutan. Namun bila suatu waktu ada pemberitaan ‘layak berita’ tentang bulog, release itu kemungkinan akan digunakan sebagai ‘background‘ penulisan terkait.

Kalau bahasa sederhananya, kira-kira kita tetap membutuhkan wartawan, pada saat punya kegiatan atau tidak punya kegiatan. Jangan lantas hanya membutuhkan wartawan di kala sedang punya program atau acara saja. Betul nggak?

fatah-yasin-perum-bulog

Pada Rapat Kerja Perum Bulog (pertama ia hadir selaku pejabat humas) dengan Komisi IV beberapa saat kemudian, sengaja saudara Yasin mengundang saya untuk menemani. Sambil minta tolong memberi tahu, mana wartawan resmi dan mana WTS. Tapi tetap saja, di kesempatan pertama itu ia mengeluh tentang ulah WTS dan berusaha untuk menghindar.

Beberapa bulan kemudian, tatkala bertemu kembali di DPR-RI  saya tagih (dengan bercanda) ‘honor konsultasi’ di awal-awal ia menjabat Kepala Bagian Humas Perum Bulog. Dengan sedikit kaget, saudara Fatah Yasin menggandeng tangan saya, “Udah. Honornya cukup makan dengan saya sepuas-puasnya!”

Yang terakhir itu  kebiasaan dan kegemaran saudara Fatah Yasin sejak dulu yang belum saya singgung: hobby makan enak. Saya hanya mengiyakannya saja.

Kredit Foto: Koleksi Pribadi Dwiki Setiyawan


Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Jejak Langkah dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

14 Balasan ke Trik dan Kiat Menghadapi Wartawan Tanpa Surat Kabar

  1. mulyanto utomo berkata:

    @ Bagus Pak Dwiki, begitu cara membantu menjaga image wartawan… wah elok tenan, Anda cocok jadi PR profesional.

    @Salam buat Fatah Yasin ya… eling ra kae karo aku, aku dhewe rupane yo wis lali

    @ Salam juga kalau ketemu Kholiq Muhammad dan Abdurrahman Assegaf ya Wik…

  2. Wah, sampeyan memang tetap seperti dulu, kritis dan cerdas…maturnuwun atas pencerahannya ya kangmas…

    • Dwiki Setiyawan berkata:

      Bung Effi. Terima kasih atas sanjungannya. Sebenarnya biasa-biasa saja. Wong kalau saya nulis kayak ‘orang bergumam’. Soalnya kalau bikin-bikin postingan pakai Teori 5 W 1 H dengan kerangka Piramida Terbalik malah kadang ‘mematikan’ kreativitas. Ya bisanya saya hanya cerita melingkar-lingkar saja. Tanpa melupakan dan meninggalkan tema utama yang akan dibahas. Itu saja. Kalau ada pembaca yang suka dengan gaya tersebut, Alhamdulillah.

      Kapan-kapan kita bisa kan minum ‘teh poci’ plus mencicipi sepotong roti bakar di Pujasera DPR-RI.

      Oya, kalau saya mau buat Blog Khusus tentang DPR-RI (bukan untuk menyaingi Situs Resmi DPR), Bung Effi mau jadi salah satu Dewan Pendiri dan kontributor nggak?

  3. ak fahmi berkata:

    bagus juga pengalamanya mas dwiki. Apa kabar? Sampai saat ini kadang saya kalau ketemu orang yang menjengkelkan masih kepengin rasanya “njotosi”….

    • Dwiki Setiyawan berkata:

      Matur nuwun Dik Fahmi berkenan kunjungi blogku ini. Soal pengalaman, sebenarnya setiap orang memilikinya. Tinggal mau menuangkannya atau tidak dalam tulisan. Dalam contoh Dik Fahmi, banyak sebenarnya kisah-kisah tentang santri dan kehidupannya yang bisa di-eksplorasi. Kalau Dik Fahmi mau, saya rasa itu menarik untuk diketahui publik. Terima kasih.

  4. wartawan tanpa surat kabar = blogger, bener ga?

    • Dwiki Setiyawan berkata:

      Bung Billy. Txs ya komen singkatnya. WTS=Blogger? Ya beda tho Bung. Blogger merangkap wartawan saya kira tidak banyak. Dan belum pernah saya lihat, ada seseorang yang mengaku sebagai wartawan, misalnya dari, Sontoloyo.WordPress.Com, trus meminta ‘amplop’. Tapia entah untuk beberapa waktu yang akan datang, bisa kejadian juga seseorang mengaku dari wartawan Sontoloyo.WordPress.Com lantas meminta ‘amplop’ pada sumber beritanya.

  5. masmpep berkata:

    kalau lembaga (dan swasta) mungkin tak terlalu masalah. persoalannya hanya publikasi. tapi kalau lembaga pemerintahan repot juga. soalnya WTS dan orang pemerintahannya tahu kalau sebagian keuangan lembaga pemerintahan kurang akuntable (saya sulit memperhalusnya, he-he-he). jadinya posisi tawar terhadap WTS lemah. mau keras, kalau ditulis macam-macam, media tak jelas sekalipun, membuat sebagian orang pemerintahan takut juga.

    nah, mas dwiki, kalau untuk lembaga pemerintahan (termasuk bulog (?) soalnya mas fatah yassin bisa saja bilang: ‘no’ seperti tips mas. tapi ternyata berusaha ‘menghindar juga’….). gimana tips dan triknya?

    salam,
    masmpep.wordpress.com

  6. Dwiki Setiyawan berkata:

    Mas Mpep. Pengalaman saya memang untuk organisasi nirlaba, seperti dikemukakan di postingan.

    Saat kuliah, memang pernah mendapatkan mata kuliah Public Relations. Cuma antara teori dengan praktek kadang bedanya jauh banget.

    Bersikap keras dengan tegas beda lho Mas. Makna ‘keras’ bisa berarti ada emosi yang menyertai. Sedang ‘tegas’, bermakna kita berpedoman pada protap (prosedur tetap) dengan pengendalian diri yang mantap.

    Saya masalahnya belum tahu seperti apa ‘isi birokrasi’ pemerintahan (yang berhubungan dengan kehumasan). Apabila memang merasa sudah pada ‘rel yang benar dan semestinya’, mengapa pula birokrasi pemerintahan kita takut bersikap tegas pada WTS.

    Saya kira di era reformasi ini, jamannya bagi birokrasi pemerintahan: ‘just say no’ pada WTS. Bukannya malah ‘memeliharanya’.

    Terima kasih Mas Mpep komennya. Saya pernah melongok blognya. Tinggal komen atas postingan Mas saja yang belum.

    Bisa kita tukaran Link (tautan), Mas. Untuk menyebarkan kebaikan dan sedikit informasi bagi yang membutuhkan….

  7. masmpep berkata:

    mas dwiki, saya kira penyakit birokrasi sederhana saja, dan tak perlu ditutupi lagi: korupsi. birokrasi bukan ‘memelihara’ WTS, tapi tak berdaya untuk tegas. kalau WTS ‘ditegasi’, mereka ‘ditakutkan’ buat ulah macam-macam. walaupun sebenarnya media WTS gak jelas, tapi aparatur birokrasi sudah merasa ‘(tidak berada pada) rel yang benar dan semestinya’, ya seperti itu kejadiannya.

    jadi mas dwiki, kalau ada tips dan trik untuk menghadapi WTS bagi dunia birokrasi tak jamin mas dwiki laris dihadirkan sebagai konsultan di lembaga-lembaga birokrat kita. tak hanya bulog, he-he-he.

    berbagi taut? oke mas…

  8. sumirah berkata:

    trima kasih banyak mas dwiki, pengalaman yg sdr paparkan diatas, sangat2 memberikan wacana baru bagi tugas2 saya di bagian kehumasan.
    yg tdk jarang pula menghadapi para wartawan tanpa surat kabar (WTS) atau wartawan bodrex………..yg terkadang emang sgt menjengkelkan.

    salam

  9. Fahmi berkata:

    Salam.
    Wah, bener tuh untuk menjinakkan WTS (Wartawan Tanpa Surat kabar) memang harus ada triknya.

    Btw, sy juga pernah ketemu Bang Fatah Yasin di kantornya, beliau benar2 egaliter n bersahaja.

    Oiya, sy ada nomor bang FY, tp kok udah gak aktif yah yg 0852xxx. Mas Dwiki pny gak?

    Boleh mas dioper nomornya, kebetulan saya lagi ada perlu dgn beliau. Klo ada krm ke no.ku mas 08979340122.

    Nuwun.

    King Regards, Yakusa!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s