Menyoal Papan Informasi atau Data Kecelakaan Lalu Lintas di Jalan Raya


Apabila pembaca berkendara melintasi ruas-ruas jalan tol di Pulau Jawa, di kiri atau kanan jalan acap terpampang papan informasi atau statistik kecelakaan lalu lintas. Kalimat di papan informasi tersebut nampaknya sudah standar. Berisi data kecelakaan, misalnya bulan Desember 2008, terjadi kecelakaan di ruas jalan tersebut sekian, korban meninggal sekian dan luka-luka sekian.

Sedangkan statistik kecelakaan yang dikeluarkan oleh  Direktorat Lalu Lintas Kepolisiaan Daerah se-Indonesia secara rutin dan dikutip media massa-media massa baik lokal maupun nasional juga hampir setarikan nafas isinya. Kalaupun ada tambahan informasi, paling yang berkaitan dengan jenis moda transportasi yang terlibat didalamnya. Urutan atas tentu saja moda transportasi sepeda motor, diikuti jenis lainnya.

Data-data dan informasi dimaksud memang cukup membantu. Paling tidak untuk mengingatkan agar pengendara lebih berhati-hati mengemudikan kendaraan atau mengecek segala sesuatu pada kendaraannya sebelum start dan melenggang di jalanan. Untuk menimbulkan efek jera bagi pengemudi yang ugal-ugalan di jalanan? Kita ikuti saja postingan ini sembari pembaca boleh sejenak meneguk teh atau kopi panas yang barangkali sudah tersaji di samping komputer atau laptop anda.

Ada banyak cara para petugas kepolisian memberi efek jera bagi pengendara yang dapat membahayakan pengendara lain di jalan raya. Misalnya, pengendara yang melanggar rambu-rambu lalu lintas ditilang seketika.

Cara edukatif lainnya yang telah dilakukan kepolisian antara lain:  kampanye disiplin berlalu-lintas lewat sekolah, penyebaran pamplet berisi petunjuk-petunjuk praktis aman berlalu lintas, memasang iklan layanan masyarakat di media massa hingga pemasangan baliho di tempat-tempat strategis.

Kita kupas mulai dari awal postingan ini. Informasi atau data-data kecelakaan lalu lintas  bersifat kuantitatif sebagaimana yang kita baca dan saksikan selama ini, hemat saya perlu diperkaya dengan data yang bersifat kualitatif. Jika disebutkan, misalnya, bulan Januari 2009 ini pelanggaran lalu lintas di jalan tol yang menyebabkan kematian atau luka-luka sekian orang, maka data itu bisa ditambah keterangan, misalnya, (1). karena ban pecah di jalan sekian mobil; (2) karena kelebihan penumpang dan muatan sekian mobil; (3) karena pengemudi mengantuk sekian mobil; (4) karena pengemudi mabuk sekian mobil; (5) karena pengemudi sambil ber-handphone ria sekian mobil, dan sebagainya.

Di jalan raya luar ruas  jalan tol, yang banyak melibatkan sepeda motor sebagai penyebab kecelakaan lalu lintas,  tambahan keterangan bisa dicantumkan, antara lain: (1) tidak pakai helm standar sekian motor; (2) tidak pakai spion standar sekian motor; (3) blindspot sekian motor; (4) pengendara ugal-ugalan sekian motor, dan sebagainya.

Tambahan keterangan pada data statistik kecelakaan lalu lintas tersebut, sekurang-kurangnya akan membuat seorang pengemudi mempersiapkan diri berjaga-jaga dari setiap kemungkinan yang terjadi di jalan raya. Apabila tambahan keterangan statistik menyebutkan, umpamanya, dari 10 kejadian kecelakaan lalu lintas di jalan tol dengan korban tewas atau luka-luka berat, 7 diantaranya akibat pengemudi ber-handphone ria, hal itu tentu akan membuat seorang pengemudi berpikir tujuh kali untuk melakukan hal yang sama dan serupa.

Demikian pula, misalnya, bila disebutkan bahwa 75 % kecelakaan sepeda motor di jalan raya yang berakibat tewasnya pengendara lantaran memasang kaca spion kecil atau bahkan tidak memakai kaca spion sama sekali, maka itu juga akan membuat takut pengendara sepeda motor lainnya.

Gagasan yang perlu dicoba oleh staf humas kepolisian daerah dalam membuat iklan layanan masyarakat di media massa atau baliho pinggir jalan, agar masyarakat waspada dan berhati-hati di jalan raya, adalah mengungkap ekses ekonomi bagi keluarga yang anggota keluarganya menjadi tulang-punggung ekonomi keluarga dan sudah tiada akibat kecelakaan lalu lintas.

Sekalipun hal tersebut jarang diungkap ke permukaan, sudah pasti bahwa siapapun yang menjadi korban kecelakaan –apalagi kepala keluarga– akan membuat ekonomi sebuah keluarga merosot drastis.

Yang paling soft adalah membuat rekaman testimoni dari banyak keluarga yang pernah salah satu anggota keluarganya tertimpa musibah kecelakaan lalu lintas. Tentu banyak cerita yang akan menyentuh hati siapapun yang melihatnya. Bisa ditampilkan melalui iklan layanan masyarakat di televisi atau terpampang di baliho tempat-tempat strategis.

Gagasan yang kelihatan kontroversial. Mengapa tidak?

Iklan

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Petak Ide dan tag , , , . Tandai permalink.

5 Balasan ke Menyoal Papan Informasi atau Data Kecelakaan Lalu Lintas di Jalan Raya

  1. Ping balik: Empat Kali Bahaya Menggunakan Handphone Saat Mengemudi « Dwiki Setiyawan's Blog

  2. Ping balik: Dua Orang Kompasianers Memenangkan Lomba Posting Blog DSFL Indonesia « Dwiki Setiyawan's Blog

  3. Ping balik: Rehat Sejenak « Dwiki Setiyawan's Blog

  4. Hidayat Tapran berkata:

    Para pembaca yang terhormat,
    Keruwetan dan kecelakaan lalu lintas bukan disebabkan hanya karena tidak sebandingnya jumlah pengguna jalan dengan ketersediaan sarana jalan dan bukan pula hanya karena tidak disiplinnya masyarakat dalam berlalu lintas, tetapi juga karena kurangnya pengetahuan berlalu lintas sehingga pemahaman masyarakat terhadap aturan dan tatacara berlalu lintas tidak sama.
    Harus dipahami bahwa : Berlalu lintas bukan hanya karena berkendaraan tetapi pejalan kaki pun termasuk di dalamnya yang juga diatur dan dilindungi dengan rambu. Seseorang yang bisa mengemudikan kendaraan belum tentu tahu aturan dan tatacara berlalu lintas, sebaliknya seseorang yang tahu aturan dan tatacara beralu lintas belum tentu bisa mengemudikan kendaraan.
    Semua itu sangat dimungkinkan karena kurangnya sosialisasi tentang panduan umum dalam berlalu lintas.
    Bisa kita ambil contoh diantaranya :
    Tidak sedikit orang berjualan di ruas jalan dan di trotoar, pengemudi berhenti dan parkir semaunya, dan lain sebagainya.
    Kendaraan tidak bermotor seperti : Beca, Andong, Gerobak dorong dan sejenisnya bebas masuk kemana saja.
    Penumpang bergelantungan, muatan melebihi kapasitas kendaraan semua dianggap biasa, mereka tidak sadar kalau bahaya mengancam mereka, yang juga bisa mencelakakan orang lain.
    Tidak sedikit kecelakaan terjadi karena ada seseorang berhenti atau masuk ke jalan dengan tidak menghiraukan pengguna jalan lainnya.
    Demikian pula di jalan bebas hambatan, semua bebas melaju di mana saja seperti balapan, banyak pengemudi melaju zig-zag tanpa peduli akan keselamatan jiwanya dan keselamatan jiwa orang lain.
    Menurut saya itu semua karena kurangnya pengetahuan tentang berlalu lintas sehingga ketertiban dan keselamatan dalam berlalu lintas pun terabaikan.
    Maka dalam rangka membantu mensosialisasikan pengetahuan dan menyamakan pemahaman masyarakat terhadap aturan dan tatacara berlalu lintas, saya bekerja sama dengan Percetakan Temprina Media Grafika Surabaya Grup Jawa Pos menerbitkan buku “Pengetahuan Dasar Berlalu lintas”, dengan harapan masyarakat bisa menambah pengetahuan dan lebih mengenal tentang “Disiplin Berlalu lintas” serta berperilaku sama dalam berlalu lintas yang pada akhirnya dapat mengurangi keruwetan dan mengurangi kecelakaan lalu lintas.
    Terimakasih Wassalam Hidayat Tapran

  5. rino berkata:

    Untuk mencegah kecelakaan lalu lintas mudah banget asalkan kita mau mematuhi aturan berlalu lintas.. gw jadi ingat tempo hari gw anter adik gw yg masih SD ke acara Shell Road Safety, sebuah acara untuk mensosialisasikan bagaimana berlalu lintas dengan baik..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s