Handphone Jaman Duluku


Philips Fizz

Philips Fizz

Kepemilikan alat komunikasi personal dua arah berupa handphone kali pertama saya miliki akhir tahun 1999. Tahun 2009 ini berarti kurang lebih genap sudah 10 tahun saya memakai ‘alat ajaib’ tersebut. Mengapa saya katakan alat komunikasi personal dua arah? Karena sebelumnya saya sudah punya pager atau penyeranta sebagai alat komunikasi satu arah, dan fungsi utamanya hemat saya bukan komunikasi karena isi-isi pesan dari pager atau penyeranta itu lebih banyak ‘memerintah’ ketimbang memberi informasi. Nomor identitas  operator pager dimaksud masih saya ingat betul, yakni 13088. Beberapa alat tersebut juga masih saya simpan di rumah.

Sebagian orang yang punya pager itu termasuk saya sebenarnya’tersiksa’.  Pertama, karena isi-isi pesan yang kerap masuk ke alat tersebut acap seperti lagu Yolanda yang dinyanyikan grup musik Kangen Band, yang sebagian liriknya berbunyi, “Kamu dimana, dengan siapa, Semalam berbuat apa? Kamu dimana, dengan siapa, Disini aku menunggumu dan bertanya…”.

Kedua, karena alat tersebut tidak bisa langsung untuk membalas si pengirim pesan, kalau kebetulan isinya A-1 (istilah intelejen untuk maksud sangat penting dan terpercaya) maka si pemilik pager harus segera cepat mencari-cari warung telepon (wartel) untuk membalas pesan tersebut. Pembaca blog ini yang belum tahu era pager dan cara kerjanya, singkatnya sebagai berikut: anda menelepon ke operator, menyebutkan kode si penerima/pemilik dan pesan yang ingin disampaikan. Pesan tersebut dengan teknologi saat itu dikirim oleh operator, dan beberapa saat kemudian pager yang anda bawa berbunyi atau bergetar. Menandakan pesan tersebut telah diterima.

Ketiga, membayar iuran per bulannya cukup ribet. Karena tidak bisa melalui ATM, Bank atau Jasa Kantor Pos. Di samping tidak bisa deposit uang di muka seperti halnya kita mengisi pulsa prabayar handphone. Jadi membayarnya harus ke kantor pusat atau cabang: mengisi formulir dan antrinya pun mengular. Alat pager tersebut saya miliki kurang lebih 3 (tiga) tahun antara tahun 1996 sampai dengan 1999.

Saya menggunakan pager ‘terakhir’ untuk alat memerintah terjadi manakala Kongres Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ke-21 Tahun 1997 di Yogyakarta. Sebagai anggota Tim Sukses Anas Urbaningrum di kongres tersebut, hampir setiap hari selama berlangsung kongres ada-ada saja pesan yang masuk ke pager. Mulai dari teman-teman anggota redaksi ‘Jurnal Harian Kongres‘  (di redaksi jurnal ini sebagai Pemimpin Redaksi) mencari keberadaan saya, hingga sesama Tim Sukses Anas Urbaningrum memerintah untuk rapat tim, mengundang atau koordinasi wartawan mempersiapkan konperensi pers dan sebagainya. Saya kira pula teman-teman cabang saat itu sebagai utusan kongres juga mengalami hampir seperti yang juga saya alami.

Namun perlu diingat pula, pager atau penyeranta dalam Kongres HMI ke-21 di Yogyakarta, memiliki peran untuk menentukan jadi atau tidaknya Ketua Umum PB HMI yang diusung. Saya rasa peralihan dukungan untuk menentukan Formatur/Ketua Umum Terpilih Kongres HMI itu, termasuk Mide Formatur-nya sangat dibantu oleh keberadaaan alat komunikasi satu arah pager tersebut.

Keterbatasan-keterbatasan pager atau penyeranta di atas merupakan salah satu faktor penyebab para pelanggan setia pager lantas lari dan beralih, tatkala handphone mulai diakrabi masyarakat.

Handphone pertama yang saya miliki keluaran Philips dengan kode merk Fizz. Itu pemberian sahabat saya Yanuar Ahmad (sekarang salah seorang pejabat di Perum Bulog), dengan nomor 10 digit 081 875 xxxx dari operator Pro XL (dipakai hingga sekarang) pemberian Arsyad Ibramsyah (mantan Wakil Bendahara PB HMI).

Mau tahu warna, bentuk, dimensi dan fitur handphone Philips Fizz tersebut? Berwarna Biru. Berbentuk candybar dengan lebar kurang lebih 9 cm dan panjang kurang lebih 20 cm termasuk antena yang menyembul panjang dan berat kurang lebih 250 gram. Fiturnya sangat sederhana: call dan sms.

Teman-teman di PB HMI saat itu yang rata-rata telah memiliki handphone lebih canggih, acap meledek, “Dwiki, handphone-mu itu kalau untuk nimpuk anjing langsung pingsan anjingnya!” Saya biasanya spontan menjawab kalem,”Jangankan anjing. Kepala kamu saja kalau kena timpukan handphone ini langsung bocor”.

Dibanding handphone jaman sekarang, tangkapan sinyal HP Phillips milik saya itu tidak kalah malahan boleh dibilang prima nangkap sinyalnya. Hanya saja kelemahan pada daya baterai yang cepat habis.

Handphone pertama tersebut 5 (lima) tahun lalu saya berikan kakak kandung yang kini bermukim di Secang Magelang dan masih ‘tokcer’ bila digunakan. Kabar terakhir handphone itu pernah ditawar Rp 1,5 juta oleh seseorang (mungkin kolektor) dan kakak saya tidak mau menjualnya.

Setelah kepemilikan Philips Fizz tersebut, saya berturut-turut memakai Nokia 3115, Nokia 8110 dan sekarang ini Sony Ericsson K 750i (milik istri jauh lebih canggih). Handphone K 750i yang sekarang ini juga pernah ada yang mengatakan ‘sudah ketinggalan jaman’. Namun saya tak peduli.

Bagi saya pribadi, yang penting semua fitur-fitur yang ada di dalam handphone itu dikuasai dan dioptimalkan sepenuhnya. Sudah cukup buat saya, dengan Sony Ericsson K 750i tersebut masih bisa call, sms, potret-memotret (kamera 2 mega piksel), agenda, penyimpanan file, video sedehana dan yang sangat penting berinternet. Dibanding merk Sony Ericsson generasi selanjutnya yang sudah canggih, fitur untuk internet K 750i tidak kalah malahan lebih cepat mengakses internetnya. Hanya dengan dibenamkan tambahan software Opera Mini, maka K 750i tersebut sudah bisa untuk ber-email ria, instant message (IM), chatting dan  keperluan internet handphone dasar lainnya (nggak promosi lho).

Buat apa saya punya handphone canggih dan kaya fitur namun hanya untuk ‘bergaya’ dan ‘pamer’?  Penting pula untuk dicatat, bahwa setelah membeli handphone baru, semua buku panduan tentang tata cara penggunaan fitur dan kegunaannya  saya baca dengan teliti dan cermat serta langsung dipraktekkan. Kalau perlu saya berlama-lama di counter handphone untuk mempraktekkan semua penggunaan fitur-fitur tersebut.

Mungkin sebagian besar pemilik handphone canggih hanya sekedarnya saja tahu fitur-fitur dan kegunaan handphone yang baru dibeli. Dan malas baca buku panduan! Jadi jangan heran kalau kita melihat seseorang punya handphone canggih (kaya fitur unggulan) hanya digunakan untuk call, sms dan potret-memotret saja (ditambah untuk internet dasar).

Sayang kan apabila anda membeli dan memiliki suatu produk teknologi canggih hanya demi penampilan dan gengsi belaka, tanpa mengoptimalkan fitur-fitur di dalamnya. Fitur yang sengaja dibuat dan diciptakan oleh para pengembang produk teknologi canggih itu untuk membuat mudah dan nyaman gaya hidup yang anda jalani. Termasuk dalam hal ini teknologi canggih yang dibenamkan ke dalam perangkat handphone.


Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Jejak Langkah dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s