Mengkhawatirkan Generasi Gosip


Istri saya, di rumah sangat suka dengan tayangan-tayangan infotainment di televisi. Gara-gara soal tayangan infotainment ini, saya acap ‘bertengkar’ dengan istri. Bukan apa-apa. Yang saya khawatirkan adalah ‘silent memory’ anak-anak saya yang masih kecil. Coba anda bayangkan,  di rumah anak-anak sedang asyik main atau membaca di kamar lain tanpa melihat layar televisi sama sekali. Namun di telinganya melintas kata-kata: selingkuh, cerai, orang ketiga, pengadilan agama dan kata-kata lain yang hampir senada seirama dinarasikan host (pembawa acara) acara infotainment dari ruang keluarga. Kalau hanya sekali duakali mendengar kata-kata tersebut tidak jadi soal. Yang menjadi persoalan, kata-kata itu setelah sekian bulan dan tahun akan mengendap dalam benak si anak dan menjadi karat dalam pikirannya. Belum lagi kalau sekonyong-konyong si anak menanyakan definisi dari kata-kata yang asing itu. Pertanyaan tentang kata ‘selingkuh’ misalnya, kalau kita tidak hati-hati dan bijak tentu sulit dicerna oleh anak yang masih berumur 6 tahun bukan.

Tayangan infotainment di media televisi sudah sering mendapat kritik dari para pemerhati sosial, sebagian pemirsa dan si artis yang diwartakan (artis mengkritik jikalau tayangan tersebut menyudutkan dirinya). Jujur juga kita akui bahwa tayangan semacam itu disukai pemirsa televisi. Lantaran yang disukai itu, frekuensi tayangan infotainment di televisi sudah tidak mengenal waktu lagi. Seakan-akan, sedari kita bangun tidur hingga mau tidur lagi tayangan infotainment selalu hadir menghiasi layar kaca.

Dalam 10 atau 15 tahun ke depan, kekuatan kata-kata yang diakrabi anak di masa kecilnya itu tentu akan punya pengaruh dalam sikap & kecenderungannya dalam menghadapi persoalan (terutama persoalan menyangkut domestik public).

Dengan demikian, suatu saat nanti kita akan melihat munculnya generasi gosip. Suatu generasi baru yang lahir akibat pengendapan memori atas tayangan-tayangan infotainment dewasa ini.

Ini suatu kekhawatiran saya yang mengada-ada. Tapi bisa pula jadi kenyataan?

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Petak Ide. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s