Mengenang Farida Nawang Wartawan Majalah Swa


memoir-almarhumah-farida

Almarhumah Farida credit foto: profiles.friendster.com/20699419

Bulan Ramadhan tahun 2007 lalu, kami beberapa alumni muda Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Solo menyelenggarakan acara buka puasa di Izzi Pizza Pancoran Jaksel. Yang hadir kebanyakan wartawan-wartawan muda yang tengah meniti karier di Jakarta. Di antara yang hadir terlihat Saudari Farida Nawang Nurini, wartawan majalah Swa, duduk dipojok meja dan saya bergegas menempati bangku kosong tepat di depannya.

Ngobrol-ngobrol pun mengalir. Namun ada sesuatu yang janggal pada diri Sdri Farida. Kalau berbicara, nada suaranya lemah dan cedal (kurang jelas kosa kata yang diucapkan). Dari pertanyaan saya soal ke-cedal-an itu, akhirnya ia berbagi cerita sedih dari A sampai Z soal penyakit yang dideritanya. Singkat kata, ia menderita kanker lidah/tenggorokan dan masih menjalani kemeoterapi.

Saya membesarkan hati Sdri Farida untuk tetap berjuang dan berkarya, sekalipun ada rintangan penyakit di tubuhnya seraya mendoakan agar yang bersangkutan segera sembuh. Sehat seperti sediakala.

Rupanya acara buka bersama itu menjadi pertemuan terakhir saya dengan Sdri Farida. Sabtu 8 Maret 2008 pukul 21.44 wib masuk pesan singkat dari Sdr Tatang Badrutamam, Wapemred Majalah Stabilitas, mengabarkan bahwa pukul 18.30 wib Sdri Farida Nawang Nurini telah pergi selamanya menghadap Khaliq-nya. Innalillahi wainna illaihi rojiun.

Seorang sahabat yang pekerja keras, berdedikasi dan setia pada profesi, perempuan yang amat potensial telah meninggalkan dunia fana ini dalam usia muda dan belum mengecap madunya mahligai pernikahan!

Terbayang kenangan pada sosok Sdri Farida saat-saat masih mahasiswa dulu di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. Di organisasi kampus, ia pernah menjadi pimpinan Koperasi Mahasiswa (Kopma) UNS. Jabatan yang ia peroleh lewat pengumpulan suara terbanyak Rapat Anggota Tahunan (RAT) Koperasi Mahasiswa UNS. Di organisasi ekstra kampus, ia pernah menjadi Ketua Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) HMI Cabang Solo. Ia juga pernah menjadi Pemred Buletin “HATTA” Komisariat Fisipol UNS, dan Pemred Majalah “INSAN CITA” HMI CabangSolo. Ia, pada hemat saya, sosok perempuan yang enerjik.

Sebagai seorang seniornya di HMI, saya ingat suatu peristiwa yang juga melibatkan Sdri Farida dalam menyiapkan penerbitan Majalah “INSANCITA“. Untuk cover majalah, dikerjakan dengan peralatan sablon sederhana. Sdri Farida sebagai satu-satu perempuan di tim majalah ikut menyablon cover majalah itu mulai selepas shalat Isya hingga pagi hari. Luar biasa.

Kepergian Sdri Farida meninggalkan duka mendalam bagi kami. Wahai saudariku, menghadaplah engkau kepada Yang Maha Hidup dan Maha Tak Terselami itu dengan kepala tegak dan hati tegar. Dan, beristirahatlah engkau di istana alam barzah itu dengan senyum dan kedamaian…

Selamat jalan saudariku.

Jakarta, 11 Maret 2008

DWIKI SETIYAWAN

Obituari ini pernah dimuat di milis kahmi_pro_network@yahoogroups.com pada hari yang sama, dan dengan beberapa suntingan juga dimuat di majalah SWA pada bulan Maret 2008.

Berikut kami cuplikkan empat komen balik (dari 18 komentar & tanggapan) dari peserta milis kahmi_pro_network@yahoogroups.com tentang obituari di atas:

Komen 1

Farida Nawang Nurini, yang lebih dikenal Ida di kalangan rekan-rekannya di majalah SWA, menjadi rekan kantor, profesi, dan diskusi semenjak kami bergabung di Majalah SWA tahun 2000. Kebetulan tempat duduk kami berdekatan. Memulai sebagai sama-sama reporter magang di majalah SWA. Masih teringat senyum cerianya ketika beliau dikukuhkan 3 bulan terlebih dahulu dari saya sebagai reporter penuh. Beliau selalu menyemangati saya bahwa saya bisa lolos dari proses reporter magang. “‘Kamu pasti bisa Dit” demikian ujarnya setiap sehabis rapat evaluasi. Atau cerita-ceritanya tentang solo disela-sela makan rujak bersama di sore hari dia selalu ceria. Tahun-tahun itu, memang Ida belum diserang penyakit kanker tersebut, kecuali sering mengeluh sariawan.

Memang di majalah swa, jalur karir redaksi dimulai sebagai reporter dan diharuskan magang 1 tahun utk dievaluasi apakah cocok masuk jalur redaksi atau tidak. Bagi yang memiliki kemampuan tinggi bisa cuma 9 bulan menjadi reporter magang kemudian langsung dikukuhkan. Sebagai reporter magang (apalagi saya dan farida berasal dari luar jakarta), mengenal jalan-jalan kota jakarta adalah pengalaman tersendiri, belum lagi mengejar narasumber (disatu sisi majalah swa selalu memberikan target bahwa narasumber adalah orang-orang kelas satu) yang sudah pasti dibutuhkan effort tersendiri.

Ida mengajarkan saya semangat pantang menyerah yang sampai hari ini saya sematkan dalam setiap aktifitas saya. Ida mengajarkan saya arti bahwa kerja keras dan semangat adalah hal penting utk cita-cita.

Pada akhirnya kami memilih jalan yang berbeda, saya pindah profesi di luar redaksi, sedangkan Ida tetap setia sebagai jurnalis.

Sampai pada hari sabtu malam pukul 21.00 sms masuk dari mas joko sugiarsono, redaktur kompartemen SWA (dulu alumni HMI dari Bogor) menyampaikan berita meninggalnya Farida. Deg… Kaget, sedih, bertanya-tanya…. Segera saya kontak beberapa teman SWA dan ternyata mereka semua sudah ada di lokasi tempat kos Ida di dekat kantor.

Ketika sampai di rumah kos almarhum pukul 22.30 suasana sudah ramai, semua rekan-rekan sudah berkumpul dan jenazah akan dibawa langsung ke salatiga setelah disholatkan… Bertabur rasa sedih saya mensholatkan jenazah almarhumah…. Selamat jalan sahabat… Banyak yang telah kupetik pelajaran darimu…

Dan selalu kukenang…. Selamat jalan….

From Yanaditya@…com

Komen 2

Innalillahi Wa Inna lillahi Rojiun. selamat jalan aktivis lapmi …

Soal mbak nawang memang saya tidak mengenal betul tapi soal majalah insan cita yang covernya disablon itu, justru saya mengenalnya…

(Waktu blm ber-hmi) saya ikut ngangkut majalah-majalah itu dari percetakan ke mobil. Kebetulan kakak saya Rina Ekowati, ketua Lapmi solo (kalo gak salah waktu ketum cabangnya mas Fatah Yasin) dan sore itu mengambil majalah dari percetakan. Saya heran betul kenapa ini majalah koq baunya kayak stiker?? saya hanya menduga kalo covernya pasti disablon, tapi jelas itu tidak lazim khan… setelah mbaca emailnya mas Dwiki, dugaan itu ternyata benar. cover majalah koq di sablon … kayaknya cuman lapmi solo yg bikin begini he..he..

Tapi, dari kreatifitas2 itulah Cabang Solo menjadi produser wartawan paling banyak dibanding cabang2 HMI lain.

-MAHYA RAMDHANI-
mantan Ketum Bakornas Lapmi

Komen 3

Turut berduka cita atas meninggalnya almarhumah.

Saya punya pengalaman dan pernah liputan bareng waktu saya masih bekerja sebagai reporter di Majalah Cakram Komunikasi. Sekitar bulan Juni tahun 2004 kami pernah meliput peresmian Radio FeMale Bandung, Jaringan Masima. Waktu itu saya satu mobil dan menginap beserta beberapa wartawan lain di salah satu hotel di Bandung. Tidak banyak media yang diundang, hanya sekitar 5 media yang intensif meliput grup & jaringannya Masima.

Selama dua hari di Bandung, saya banyak ngobrol ttg pengalaman almarhumah di Swa. Waktu itu juga sempat saya pancing aktivitas almarhumah waktu kuliah dan menceritakan pengalamannya di LAPMI Solo. Saya baru tahu dari milis ini bahwa almarhumah adalah HMI tulen.

Waktu itu kami beserta teman-teman wartawan lainnya hang out bareng, shopping bareng (waktu distro di Bandung tengah booming2-nya). Saya baru tahu juga dari milis ini bahwa almarhumah mengidap penyakit yang dideritanya hingga akhir hayatnya. Kartu nama almarhumah yang saya simpan menjadi kenangan terindah saya dengan almarhumah. Sebagaimana layaknya wartawan lainnya, kartu nama sesama wartawan tersimpan rapih sebagai data base.

Kesan saya selama dua hari meliput bareng di Bandung, almarhum sangat periang dan ketika almarhum tahu bahwa saya juga adalah HMI, banyak bercerita ttg pengalaman karirnya selama di media terutama SWA. Waktu itu saya baru saja merintis karir sebagai wartawan, meski akhirnya sy beralih profesi dua tahun kemudian. Setelah liputan dari Bandung tersebut saya tidik pernah kontak lagi dengan almarhum. Tapi saya sering membaca tulisan-tulisan dan hasil reportasenya di Swa. Tulisannya renyah dan tentu saja enak dibaca.

Selamat jalan almarhumah, semoga diterima amal ibadahnya. Amin

Wassalam,

RAKHMAT
Jurusan Sosiologi UNJ
Rawamangun

Komen 4

Yaa ayyuhannafsul muthma’innah, irji’ii ilaa raadhiyatam mardliyyah, fadh khulii fii ibaadi, wadhulii jannatii.

Mendengar nama Farida Nawang Nurini, ingatanku kembali ke tahun-tahun penuh emosi, romantisme, juga ingatan akan perasudaraan yang riang, hangat, dekat…

Inget Farida Nawang, aku jadi inget Dwiki, Mas’ad (Metro tv), Bunug (IBRA Production), Cak Kholiq (politikus PBR), Yanuar (Bulog), Hening Parlan, Dwi Arjanto (Tempo), Santo (pak dosen), Nurudin (dosen Unmuh) Teguh (kantor berita ANTARA), Adib (calon lurah Tumang), Emi Panca, Sholahudin (Solo Pos) juga Yuli..

Nama-nama di atas, adalah sebagian dari banyak nama yang merasakan sentuhan keriangan dan kehangatan Farida Nawang…

Aku inget waktu bersama-sama Bunug, Mas’ad, Santo, Hening, dan Nurudin membujuk Farida supaya mau menjadi Ketua Lapmi HMI Solo (kalau gak salah sekitar tahun 1993). Waktu itu tidak banyak pilihan. Lapmi tidak seseksi jabatan struktural HMI, jadi enggak terlalu diminati.

Farida Nawang, dengan rambut hitam lurusnya yang panjang (hingga di bawah bahu) menjawab, “Saya istikharah dulu ya, Mas.” Beberapa hari kemudian, dia terima pinangan itu, dan dia memenangi kompetisi Ketua Lapmi Solo, mengalahkan Dwi Arjanto dan Nuruddin.

Farida Nawang (nama belakang harus disebut karena ada nama Farida yang lain), perempuan yang gigih, riang, hangat, dan pekerja keras yang tulus itu telah pergi
bersama sakitnya yang ganas. Yang tak sanggup ia lawan, mungkin karena sejumlah keterbatasan…

Allahumaghfir laha, warhamnha, wa’afiha, wa’fuanha...

ABDUL KHOHAR

Redaktur Harian Media Indonesia

Iklan

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Jejak Langkah dan tag , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Mengenang Farida Nawang Wartawan Majalah Swa

  1. masmpep berkata:

    memoar yang bagus mas. kalau ada waktu boleh tuh buat memoar alumni-alumni hmi solo era 1990an. bagaimana perjuangan mereka, ‘kelakuan sehari-hari’, dan ide-ide besar mereka….

  2. upik berkata:

    mbak ida banyak memberi kenangan juga buat saya. dia memang selalu semangat. semangat itu dia tularkan pada orang-orang di sekitarnya.
    saya dua kali jadi anak buahnya. di majalah katera, kopma uns dan di lapmi hmi cabang solo. dua bidang garap yang tidak populer saat itu. tapi bersamanya, semua jadi penting dan tetap bisa dilakukan dengan penuh semangat. bagi saya, dia bukan hanya pimpinan tapi juga kakak yang menyenangkan.

  3. Dee berkata:

    Ida, saya mengenalnya dan lagsung menjadi sahabat sejak tahun 1991, saat diterima menjadi mahasiswa baru di UNS Solo melalui jalur PMDK, persahabatan kami sampai menjelang dia wafat, tetapi saya justru baru mengetahui dia wafat sehari setelah dia wafat. Saat kuliah kami terlibat dalam Paskibraka UNS selama bbrp tahun, dia sering menginap di rumah saya di Solo. Dan saat dia diterima di SWA, dia menginap di kontrakan saat itu di Tangerang untuk beberapa bulan…
    Rasanya hingga hari ini saya masih merasakan keberadaannya meski kami telah berpisah hampir 4 tahun yang lalu.
    Ida, semoga engkau bahagia dalam tidur panjangmu di alam sana…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s