Cak Nur: Sekeping Kenangan Pribadi


Posting tulisan ini pernah dimuat di mailing list kahmi_pro_network@yahoogroups.com pada 3 Juni 2008. Tulisan ini sebagai tindaklanjut posting Saudara M. Alfan Alfian, Satrio Arismunandar, Tarmizi, dan Dudi Iskandar di milis tersebut. Berikut kami sajikan lengkap di blog ini:

Saya punya sekeping kenangan pribadi berkaitan dengan Almarhum Prof. DR. Nurcholish Madjid yang acap disapa Cak Nur. Kisahnya bermula di suatu malam di Markas PB HMI Jl. Diponegoro 16-A Menteng Jakarta Pusat.

Bulan Juli 1997 saya merencanakan pernikahan. Galibnya orang mau menikah, ikut disibukkan mendisain undangan pernikahan. Saya mengajukan pada calon istri, disain ‘kutipan’ undangan biar saya yang mencari. Yang jelas, saya tak mau mengutip Surat Ar-Ruum: 21 dalam kutipan undangan pernikahan itu. Alasannya, sudah umum. Tadinya kutipan Kahlil Gibran tentang pernikahan menjadi salah satu alternatif. Setelah menimbang-nimbang, tercetus ide mengapa saya tak meminta pendapat Cak Nur untuk mencari kutipan lain dalam Al-Qur’an.

Akhirnya, saya menyiapkan beberapa koin seratusan untuk menelepon Cak Nur dari telepon umum persis yang berada di depan kantor PB HMI (catatan kecil: untuk urusan telepon menelepon paling lama dari box telepon umum PB HMI ini, pada masa itu juaranya Saudara Umar Husein –sekarang pengacara Grup Band Dewa & Dewi-Dewi).

Saya kontak Cak Nur. Yang menerima Yunda Omi (istri Cak Nur). Ditanya Omi keperluannya, saya jawab bahwa saya kader HMI Cabang Solo dan sekarang di kepengurusan Bakornas LAPMI hendak melangsungkan pernikahan pada pertengahan bulan Juli dan memohon advis Cak Nur barang beberapa menit saja.

Tersambung ke Cak Nur, pertama saya sampaikan identitas pribadi dan keorganisasian. Kedua, mengutarakan maksud dan tujuan malam-malam menelepon. Intinya minta bantuan Cak Nur mencarikan kutipan surat dan ayat dalam Al-Quran selain Surat Ar-Ruum: 21 sebagai kutipan undangan pernikahan saya. Di luar dugaan, dengan gaya kebapakan beliau terlebih dahulu mengucapkan selamat atas rencana pernikahan saya itu. Selanjutnya, Cak Nur memberi masukan Surat Al-Ahqaaf (Bukit-bukit Pasir) ayat 15 sebagai kutipan undangan pernikahan kami.

Pungkas kisah, di undangan pernikahan saya itu (hanya tinggal satu buah yang tersimpan di arsip keluarga) saya mengutip penggalan Surat Al-Ahqaaf: 15 sebagai pengganti Surat Ar-Ruum:21 yang sudah jamak itu. ”Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau Ridhai;berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” (Al-Ahqaaf:15).

Pada acara Dies Natalis HMI Tahun 1999 di Gedung Sapta Pesona beberapa selang kemudian, Cak Nur hadir untuk menerima anugerah HMI Award dari Ketua Umum PB HMI kala itu Anas Urbaningrum (namun sayangnya anugerah HMI Award ini tidak dilanjutkan PB HMI sesudahnya). Saya waktu itu panitia yang meng-handle peliputan (koordinator wartawan) dan mendokumentasi dies natalis (foto dan video). Istri dengan bayi mungil didekapannnya saya ajak ikut. Bertiga dengan istri dan anak, saya mencuri-curi kesempatan menemui Cak Nur di acara dies natalis itu. Tatkala salaman, saya sampaikan pada Cak Nur bahwa bayi mungil didekapan istri itu buah perkawinan kami dan Cak Nur turut andil memberi masukan kutipan Surat Al-Ahqaaf pada undangan pernikahan kami.

Cak Nur mengangguk-angguk tanda gembira. Ia tersenyum sembari melirik bayi mungil perempuan yang tertidur pulas dalam dekapan ibunya. Senyum khas yang tiada duanya saya dapatkan dari seseorang yang amat saya kagumi selama ini. Sangat khas. Yang gambarannya senantiasa melintas di langit pikiran….

Foto-foto Alm Prof DR Nurcholish Madjid pada acara Dies Natalis HMI Tahun 1999 di Gedung Sapta Pesona Jakarta, silakan klik tautan dibawah ini:

https://dwikisetiyawan.wordpress.com/2009/01/04/episode-2-spirit-kekeluargaan-pb-hmi-era-anas-urbaningrum-tamat/

Iklan

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Jejak Langkah dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Cak Nur: Sekeping Kenangan Pribadi

  1. marijam thawil berkata:

    Assalamu’alaikum Mas Dwiki,

    saya mau turut andil dalam mengabadikan karya Cak Nur, tapi kalo menulis saya tdk pintar.

    untuk itu saya hanya bisa menawarkan (menjual) karya Beliau

    “Ensiklopedi NURCHOLISH MADJID” Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban.

    4 Jilid 4186 Hlm, 2358 Entri.

    Cukup luangkan 1 menit untuk membaca 1 Entri.

    Harga cukup terjangkau Rp1.340.000,-

    Mas Dwiki, tolong melalui blog ini, bagi teman-teman yg membutuhkan bisa hubungi saya di telp 08151845444.

    tks,

    billahittaufiq….

    mariam

  2. Bani berkata:

    Al-Ahqaaf itu Surat keberapa ya????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s