Secuil Memori tentang Forum Indonesia Muda (FIM) –Part 2


Saya diundang beberapa kali ikut Forum Indonesia Muda (FIM). Semenjak masuk di kepengurusan Bakornas LAPMI PB HMI Tahun 2006/2007. Awal mulanya berkat secara rutin mengirim hasil kliping koran kegiatan kelompok Studi Mangkubumen (KSM) Solo ke Bos KOMPAS Bapak Jakob Oetama. Dalam sebuah kunjungan ke Solo, Mas ST Sularto yang waktu itu Wapemred KOMPAS bersilaturahmi ke Sekretariat KSM yang notabene kediaman Budayawan Solo Mas MT Arifin. Mas Larto menyampaikan bahwa Bapak Jakob Oetama apresiate pada kegiatan-kegiatan KSM sembari Tanya ini tanya itu. Dan sejak itu saya punya kontak person Mas Larto, hingga turut diundang diskusi FIM saat saya di Bakornas LAPMI.

Kegiatan diskusi FIM seru kalau hadir Almarhum Bang Ekky Syahrudin (mantan Anggota DPR-RI & Dubes RI di Kanada). Pernah dalam sebuah diskusi, saya duduk disamping Bang Ekky. Dia menyimak betul paparan dari narasumber yang saat itu salah satunya Rokcy Gerung. Pada saat sesi tanya jawab, Bang Ekky berbisik pada saya, “Nach kalau Rokcy Gerung itu bukan tandingan anda. Saya akan babat habis argumen-argumennya!”. Jadinya, forum itu didominasi debat kusir antara Bang Ekky dan Rokcy Gerung. Sampai-sampai moderatornya saat itu juga kewalahan mengendalikan diskusi.

Sedikit soal Kelompok Studi Mangkubumen (KSM) Solo. Diskusinya sejak saya jadi koordinator mulai tahun 1992/1993 rutin diadakan tiap tangal 15 dan 30. Anggotanya mayoritas kader HMI dan beberapa kader IMS (Ikatan Mahasiswa Solo) yang kemudian jadi pentolan SMID. Dari IMS antara lain Wahyu Susilo (sekarang aktif di soal buruh migran), Agus Jabo (aktivis PRD & tersangka peledakan bom di Tanah Tinggi), Kelik Ismunato (HMI dan IMS/SMID/PRD).

Karena backround saya komunikasi, setiap diskusi KSM saya undang wartawan-wartawan di perwakilan/biro Surakarta dan sekitarnya. Kalau diskusi tidak ada wartawan, saya sendiri yang bikin release/rangkuman diskusi dan mengirim ke perwakilan/biro media cetak yang ada. Alhamdulillah lebih sering dimuatnya hasil diskusi ketimbang tidaknya. Satu hal lagi, diskusi di forum KSM selalu narasumbernya bisa beberapa orang luar, namun ada satu narasumber yang harus dari kalangan KSM sendiri.

Sedang tema diskusi, ada yang bersambung untuk satu tema misalnya tentang Paolo Freire atau Gramsci. Ada tema yang berdasarkan judul skripsi anggota KSM, atau tema aktual misalnya saat itu “Solo sebagai Kota Wisata Seks”, “Kraton Solo sebagai Cagar Budaya” (untuk counter rencana pendirian hotel di dalam kompleks kraton) dsb.

Sampai saya meninggalkan Solo, lebih dari 100 kali putaran diskusi diadakan (karena rutin tiap tanggal 15 & 30). Dan hingga kini, masih ada kiriman-kiriman cetakan dari dalam dan luar negeri yang mampir di sekretariat KSM. Walaupun secara formal kelompok studi itu sudah ‘membubarkan diri’.

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Jejak Langkah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s