Memori tentang Moammar Emka


moammar-emka

Moammar Emka

Catatan berikut ini pernah dimuat di milis Kahmi Pro Network pada 23 Agustus 2007. Dilengkapi pula oleh tanggapan-tanggapan peserta milis dimaksud…

Menjelang akhir tahun 1997, saya diundang Saudara Ivan Rahmawan (dari HMI Cabang Ciputat) selaku Ketua Umum Bakornas LAPMI PB HMI menghadiri Rapat Intern diindekostnya Ciputat. Saudara M. Alfan Alfian –yang kala itu masih kelihatan langsing– selaku Ketua Bidang Penerbitan hadir, plus beberapa pengurus lain yang mayoritas dari HMI Cabang Ciputat.

Diantara pengurus yang menghadiri rapat dan perkenalan tersebut, ada seorang yang menurut kesan saya cukup nyentrik dan nyeni (bergaya seniman). Sosok itu tak lain dan tak bukan: Moammar Emka. Sejak itu, saya masih berkesempatan bertemu dengannya beberapa kali di Diponegoro 16-A.

Purna Bakornas LAPMI PB HMI, beberapa bulan berselang saya cukup kaget tatkala Saudara Alfan Alfian memberi kabar kalau Moammar Emka jadi wartawan di Majalah Popular khusus untuk rubrik “liputan malam”. . “Ah masak sih Fan”, begitu reaksi saya.

Ketika buku Moammar Emka bertitel Jakarta Undercover diterbitkan dan menjadi bestselling antara tahun 2002-2003, saya tak begitu kaget karena sudah sedikit punya rekaman jejak kewartawanan Moammar sebelumnya di Majalah Popular. Namun, tak urung untuk mengobati rasa keinginantahuan tentang buku itu saya juga “mengoleksinya” (baca: membaca hingga detail dan tuntas lantas dipajang di rak buku).

Sejak berkarir di Majalah Popular hingga sekarang ini saya tak pernah jumpai lagi dengan Moammar. Seandainya bertemu, ada satu pertanyaan yang ingin saya ungkapkan padanya, “Bagaimana awal mula seorang aktivis HMI bisa ikut “penelitian terlibat” dalam liputan malam yang cukup menggairahkan itu?”

Jakarta, Agustus 2007

DWIKI SETIYAWAN

Komentar dan Tanggapan dari peserta milis KAHMI Pro Network:

1.

Bung Dwiki,

Saya kira semangat Saudara Emka waktu itu ialah semangat mencari kerja. Ia kemudian melamar menjadi wartawan dan jadilah ia wartawan Berita Yudha, terus majalah Prospektif (atau nggak salah) dan Populer –sehingga tak sempat mengurus LAPMI lagi. Waktu itu saya juga sudah bekerja di Majalah Properti Indonesia (berkat jasa Bang Bursah
Zarnubi yang merekomendasikan nama saya ke Bambang Budiono dan Anthony Zeidra Abidin).

Ada kenangan tersendiri waktu jadi wartawan itu: gaji saya sebagai wartawan/reporter pada 1996 Rp 600 ribu, gaji Emka juga mungkin sebesar itu di awal-awal jadi wartawan. Saya pikir amat tidak masuk akal Rp 600 ribu itu, karena kalau dalam sebulan saya nulis artikel di koran-koran bisa terkumpul sampai 2 jutaan (waktu itu) –apalagi masuk 1997, dolar sudah mulai naik, uang kita tak ada harganya. Saya masih ingat ketika uang tinggal dua ribu rupiah dan perut saya lapar sekali, dan itu terjadi di termnal Blok M.

Saya hanya bisa memandangi penjual gorengan dan gorengannya. Kalau saya beli gorengan, ongkos saya nggak cukup untuk pulang ke Rawasari. Saya bersyukur di Rawasari itu kos gratis, karena dikontrak panitia 50 tahun HMI. Saya tinggal bersama Bung Ocen, Ahsan Rais, Baihaki…

Tapi saya harus jalani saja. Juli 1997 saya mundur dari wartawan dengan alasan mau Kongres dan ngurus HMI. Padahal, saya capek sekali jadi wartawan itu. Dan, Saudara Emka masih tetap setia pada jalurnya, wartawan Popular dan amat mengasyikinya.

Yang mengajak EMKA ke LAPMI adalah Saudara Irvan, yang juga mengajak aktivis HMI Ciputat lain waktu itu, seperti Helwa dan Bakir Ikhsan. Kepada Saudara Irvan saya “nunut hidup”. Uang saya nggak cukup di Jakarta. Nggak punya kos, dan ikut gabung dengan Irvan di kosnya di Ciputat itu selama beberapa bulan. Makan dan segala keperluan hidup sehari-hari, jasa Saudara Irvan amat berarti. Dan tentu saja saya tidak akan melupakan itu. Di Ciputat itu, saya juga sering ketemu Bung Bahruddin Dahlan (Dodi), dan menjadi berteman dengan para aktivis HMI lain saat itu, termasuk “yang paling nyleneh” Saudara Emka, yang punya kalung dari tulang-belulang dan gigi-gigi…

Sebagai wartawan Popular, ya saya kira Emka profesional saja. Saya sendiri sampai sekarang belum pernah jumpa dengan Emka, dan kemungkinan besar dia sudah lupa..

M. ALFAN ALFIAN

2.

Sekadar melengkapi, tentang sosok ‘Emka + buku Jakarta Undercover‘, khususnya metode partisipan yang digunakannya dalam penulisan.

Sesungguhnya pada buku pertama yang best seller itu, emka tidak menuliskan secara eksplisit tentang keterlibatannya. Ia lebih kerap “libatkan” orang ketiga dalam setiap aksi esek-esek.

Tak pelak lagi, Emka menerima sejuta kritikan soal “metode penulisan”nya itu. seorang selebriti pada buku edisi keduanya bahkan mengatakan bahwa Emka “sok suci”. Rupanya Emka meresponnya, dan pada buku kedua ia pun tak sungkan lagi menyebutkan “keterlibatannya” secara aktif.

Hmmm, saya menyebut sikap Emka itu sebagai “kesalahan subtansif” dalam konteks menulis. mestinya, ia mengawali semuanya dengan “sikap obyektif”, apa pun reaksi pembaca terhadap “sisi gelap” hidupnya.

Tapi sebagai alumni HMI buat saya, apa yang dilakukan Emka tak jadi masalah. mungkin begitulah dinamika hidup yang harus dilewatinya.

Tapi sebagai muslim, saya beberapa kali mengatakan pada Emka bahwa konsekuensi logis dari buku yang ditulisnya adalah; dia telah membuka “peta” bagi setiap pria yang ingin menikmati kehidupan esek-esek di Jakarta.

Emka tentu saja mendebatnya dan mengatakan; “tanpa buku yang saya tulis, sebagian besar orang Jakarta juga sudah mahfum dengan berbagai lokasi esek-esek itu”.

Saya cuman bilang; “iya, tapi ente telah memperluas wilayah pengetahuan esek-esek itu keseluruh pelosok Indonesia”.

Emka cuman tersenyum, dan bilang, “tunggu saja buku saya tentang sisi lain kehidupan pesantren di Indonesia”.

Nah loh?

SETIA BUDDY

3.

Jika meneropong para alumni HMI, maka spektrumnya sangat luas, mulai dari cendekiawan alias intelektual sampai mereka yang terjun ke dunia malam (dan mungkin lebih jauh dari itu). Para alumni itu bertebaran dan mengisi kehidupan bermasyarakat.

Pertanyaannya kemudian, apakah harus ada diskriminasi terhadap seorang alumni hanya karena ia terjun dalam wilayah ‘seram’ semacam itu? Apakah HMI atau Alumni HMI itu hanya memberikan pengakuan eksistensial hanya kepada para alumni yang ‘manis’, ‘intelektual’ dan punya segudang jejaring politik saja?

Mohon pencerahan dari Jamaah Kahmi Pro yang mulia…

Tabik,
RUDI RUSDI
Den Haag.

4.

Bung Rudi,
Pertanyaan anda itu mau tak mau menggiring pada pembacaan kembali nilai-nilai dasar HMI, asas HMI, visi dan misi HMI, serta pola pengkaderan HMI yang merupakan strategi HMI dalam menghasilkan output yang diinginkan. Karena hal-hal itu yang membuat HMI berbeda dengan organisasi lain, dan juga yang membuat seseorang merasa berbeda jika masuk HMI dengan tidak bergabung dengan HMI. Mungkin bagi para alumni yang baru lulus masih hapal nilai-nilai dasar HMI dan lain-lain itu.

Mengenai sikap terhadap alumni yang terjun ke wilayah seram, itu sebetulnya dikembalikan ke masing-masing individu. Tapi yang lebih penting adalah mereview kembali serta menilai kinerja proses pengkaderan di HMI apakah sudah berhasil menghasilkan kader yang sesuai dengan standar yang diinginkan, yaitu nilai-nilai dasar serta visi dan misi HMI.

Wassalam,
NOVAL ADIB

5.

Saudara Alfan Alfian, Sudara Setia Buddy dan Saudara Rudi Yang Terhormat.
Maksud saya menggoreskan sekelumit memori tentang Emka, tiada lain untuk menyampaikan “perspektif lain dari yang lain” mengenai sosok alumni HMI yang berwarna-warni itu.

Disamping itu, perkenalan saya dengan Emka yang hanya sambil lalu barangkali ada anggota milis lainnya yang melengkapi. Dan itu sedikit sudah dikuak oleh Saudara Alfan dan Saudarar Buddy (pada kedua kawan ini saya ucapkan terima kasih).

Terhadap pertanyaan menggelitik pertama Saudara Rudi, jawabnya jelas: tiada tempat terhadap perlakuan diskriminatif pada siapapun di HMI. Di forum-forum HMI dan KAHMI yang selama ini saya ikuti, bahkan alumni HMI seperti Beddu Amang yang pernah masuk bui pun tetap diterima dengan antusias dan suka cita! Saya rasa tak pernah terlintas dalam langit pikiran jamaah HMI untuk melakukan itu….

Sedangkan soal “pengakuan eksistensial” pada alumni, saya kira takarannya ialah seberapa berarti kehadiran alumni yang bersangkutan pada lingkungan sekitarnya. Dalam bahasa sederhana, yakni sejauhmana komitmen alumni itu pada perubahan.

Demikian dan terima kasih kembali. Salam dari kesayupan…

DWIKI SETIYAWAN

6.

Mas Dwiki yang baik (ijinkan saya memanggil anda, ‘Dwiki’),

Alhamdulillah jika memang demikian dan saya pikir sudah waktunya pula interaksi antara alumni dengan para aktivis HMI yang masih aktif di kepengurusan bisa berjalan mulus, tanpa perlu memandang atau bersikap risih hanya karena seorang sosok alumni HMI ternyata berkecimpung dalam komunitas malam, misalnya.

Pertanyaan saya itu mencuat bedasar pengalaman saya melihat di lapangan masih adanya ‘oknum’ aktivis HMI atau alumni HMI yang risih atau enggan untuk mengikat tali silaturahmi pada sosok alumni yang dianggap telah menerjunkan diri di lembah yang ‘unthinkable’ sepanjang perjalanan berorganisasi di internal HMI.

Saya sangat senang membaca sikap Mas Dwiki yang demikian itu, besar harapan saya, sikap dan pikiran serupa bisa juga ditunjukkan para aktivis dan alumni HMI yang lain.

Kembali ke soal Moammar Emka. Saya tetap apresiatif terhadap karya-karyanya itu, karya-karya yang mengurai apa yang ada di lapangan. Karya yang khas dan selalu ditunjukkan oleh kebanyakan wartawan atau jurnalis, atau mantan wartawan/jurnalis. Semula, memang saya juga terkejut melihat buku dan membaca buku ‘Jakarta Undercover‘ itu. Saya tidak kenal dan belum tahu kalau Moammar Emka adalah juga mantan aktivis HMI. Begitu juga saat saya bertemu dengan komedian Komeng, yang kabarnya juga pernah aktif di HMI.

Saya mengusulkan agar Moammar Emka juga ikut mewarnai milis ini dan juga acap diajak bicara dalam ‘Kopdar-kopdar’ jamaah KAHMI Pro. Saya kira ini akan sangat berguna. Semoga.

Oh ya, pagi hari ini, ketika mendengar tembang ‘July Morning’ dari grup Uriah Heep, saya jadi teringat pada Mas Ichan (Ichsan Loulembah) dan Mas Hamid Basyaib. Rindu saya pada beliau berdua ini tersalur lewat lagu tersebut, mudah-mudahan akan ada diskusi hangat seputar musik-musik dahsyat itu.

Salam takzim,

RUDI RUSDI
Den Haag.

*****

Tentang Dwiki

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Pos ini dipublikasikan di Jejak Langkah dan tag , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Memori tentang Moammar Emka

  1. syamsul Munir berkata:

    Dwiki….LIA Eden itu aktifis Kohati HMI Cabang Jakarta. Sebelum jadi Eden, ybs bernama Lia Aminuddin. Dan memperolopori bisnis bunga kertas. Saya pernah mengunjungi workshopnya dan kelak itu yg dijadikan sebagai markas Eden. Kalau tidak salah mba Lia aktif di HMI Jakarta…waktu masa Malari yah…krn suaminya kalau tidak salah aktifis HMI dari Universitas Indonesia….kebetulan mba Lia itu asalnya dari Sulawesi….sekampung dengan saya he…he…sory jika salah ingat…

    • Dwiki Setiyawan berkata:

      Iya Bang. Kayaknya nama Lia Aminuddin akrab saya dengar saat di sekretariat Kahmi Nasuonal Jl Johar Menteng menjelang reformasi dulu. Terima kasih atas pengkayaan dan info untuk tulisan yang saya buat di atas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s