Galeri Foto Alumni SD Islam PB Soedirman Tahun 2010

Kepala SD Islam PB Soedirman H Suhardi SAg dan Chiara Sabrina Ayurani

Kepala SD Islam PB Soedirman H Suhardi SAg dan Chiara Sabrina Ayurani

Galeri Foto Alumni SD Islam PB Soedirman Cijantung Jakarta Timur Tahun 2010 berikut, di-scan dari Year Book 09/10 milik anak pertama saya, Chiara Sabrina Ayurani –tahun ini masuk di SMP Negeri 179 Jakarta. Tujuan posting galeri foto ini tiada lain sebagai dokumentasi digital. Tersimpan rapi sebagai arsip dunia maya. Sudah barang tentu dari galeri foto ini terkandung pula nilai sejarah. Harapan saya, kelak sepuluh atau dua puluh tahun ke depan, dari seulas senyum nan terpancar pada wajah-wajah ceria ini akan tampil menjadi tokoh yang mewarnai percaturan nasional. Dengan prestasi dan peran yang akan dimainkannya di pelbagai lini kehidupan demi kemajuan negeri ini.

Sekalipun dalam Year Book 09/10 SD Islam PB Soedirman yang beralamat di Jalan Raya Bogor Km 24 Cijantung Jakarta Timur 13770 ini tercantum foto siswa secara individual berikut alamat lengkap dan nomor kontak bahkan email pribadi, galeri foto ini tidak akan menampilkan soal privacy semacam itu.  Galeri foto ini hanya menampilkan gambar per kelas. Mulai dari Kelas VI A hingga Kelas VI Akselarasi SD Islam PB Soedirman lulusan tahun 2010. Disertai nama lengkap siswa-siswi per kelasnya.

Baca lebih lanjut

Dua Jam Saja Stop TV di Rumah

Keluargaku

Keluargaku

Dua jam saja stop tv di rumah. Mulai pukul 18.00  hingga pukul 20.00 WIB setiap harinya, terkecuali keesokan harinya libur sekolah. Ini kebiasaan yang telah berlaku semenjak anak pertama saya, Chiara Sabrina Ayurani, duduk di bangku sekolah dasar (SD). Hingga tulisan ini dibuat, peraturan rumah tangga tidak tertulis itu telah berlangsung selama 6 tahun.

Tahun ajaran baru pada Juli 2010 mendatang, Chiara masuk sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP). Mendeteksi catatan akademisnya yang cukup lumayan, dengan sistem rayon yang berlaku di DKI Jakarta, ada beberapa SMP Negeri  yang salah satunya akan ia masuki: SMP Negeri 49, SMP Negeri 103 atau SMP Negeri 179. Ketiganya merupakan SMP negeri di Jakarta Timur dengan standar di atas rata-rata. Baca lebih lanjut

Sikap Orang Tua Ketika Prestasi Belajar Anak Menurun

Tulisan ini merupakan pengalaman di keluarga saya secara pribadi. Mohon maaf kepada pembaca apabila kurang berkenan di hati. Pun maksud saya menulis juga sekedar berbagi. Dengan harapan apabila bermanfaat bagi pembaca dapat dijadikan pelajaran, dan kalau kurang berfaedah bisa diperdebatkan.

Pada kenaikan kelas sekitar Juli 2009 lalu, anak pertama yang masuk peringkat pertama tahun sebelumnya melorot di peringkat ketiga ketika naik kelas VI SD. Sementara anak kedua tetap bertahan di peringkat pertama kala naik kelas IV SD.

Perlu saya informasikan kepada pembaca bahwa soal peringkat-peringkat ini, di SD Islam PB Soedirman Cijantung Jakarta Timur  tempat anak menuntut ilmu tidak diumumkan kepada wali murid. Atau tercantum di buku raport. Namun orang tua bisa mengaksesnya berdasar info dari pembicaraan dengan wali kelas. Di SD tersebut yang ada hanya publikasi hasil mid semester dan semester para siswa satu kelas.

Bagaimana sikap saya selaku orang tua menghadapi sikon dua anak yang berbeda prestasi belajarnya itu? Lantaran bersama istri sudah sepakat bahwa prestasi belajar bukan segala-galanya maka sikap saya pun biasa-biasa saja. Seolah-olah tidak ada apa-apa. Membandingkan dihadapan anak bahwa yang satu mampu bertahan dengan prestasinya sedang yang lain tidak, jelas suatu sikap kurang bijak.

Alih-alih secara spontan saya menghardik si anak atau menunjukkan raut muka kurang puas. Hal itu tidak terlintas di pikiran. Sebagai penghargaan kepada mereka, malahan sejak kenaikan kelas itu, setiap akhir pekan hingga menjelang masuk tahun ajaran baru mereka saya ajak “rekreasi” sekalipun hanya di dalam kota. Antara lain ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII), mengunjungi Pekan Raya Jakarta (PRJ) dan keliling Jakarta “menikmati” bergonta-ganti busway hingga berlabuh di Monumen Nasional (Monas) untuk menyaksikan “air mancur bergoyang” pada Sabtu malam yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Di sela-sela acara keluarga itu tak lupa saya selipkan motivasi agar mereka belajar dengan lebih teratur lagi.

Karena menganggap bahwa prestasi bukan segala-galanya, saya juga berpandangan belum tentu seorang anak dengan prestasi menjulang tinggi di sekolah juga akan sukses kelak kemudian hari di tengah masyarakat. Dimana kompetisi tidak semata-mata didasarkan oleh nilai-nilai akademisnya. Ada banyak faktor yang mempengaruhi sukses atau tidaknya anak kelak, seperti: kemantapan dan kedewasaan emosi, kemampuan bekerjasama, jaringan dan kekentalan pertemanan, keahlian di bidang tertentu dan lain-lain.

Berpijak dari argumentasi di atas, saya juga tidak pernah mendatangkan guru les atau mengkursuskan ini-itu anak-anak dalam rangka mendongkrak prestasi belajarnya. Kecuali jika mereka memintanya.

Tetapi saya perhatikan, sepulang sekolah mereka sukanya main dengan teman-temannya. Ya sudah saya biarkan saja bermain hingga mereka puas dengan masa kecilnya. Kadang main sepeda-sepedaan keliling kampung, main tebak-tebakan, main petak umpet, main monopoli atau bekelen di rumah, dan akhir-akhir ini si anak nomor dua suka main layang-layang.

Disebabkan oleh suka bermainnya itu pula, tidak pernah terlintas pula agar mereka belajar di “kelas akselerasi” (kelas percepatan). Pihak sekolah pun setiap menjelang ajaran baru telah berkali-kali memberi surat edaran agar anak-anak saya mengikuti tes “kelas khusus” sebagai persiapan ke “kelas akselerasi”. Namun saya bergeming. Biarkan saja mereka di kelas regular. Tidak dikeja-kejar oleh menumpuknya pekerjaan rumah (PR) atau jam sekolah yang agak panjang (pulang jelang petang) seandainya mereka di “kelas akselerasi”.

Belajar di rumah pun belum tersruktur dan disiplin. Hanya yang membedakan dengan anak-anak seusianya di lingkungan tempat tinggal, ketiga anak saya (bungsu belum sekolah) gemar membaca buku. Tugas saya selaku orang tua adalah bagaimana caranya menyediakan sarana agar minat membaca anak senantiasa terpenuhi. Beberapa buku bagus semacam “Kamus Visual” (tebal banget dan berat berkilo-kilogram) beberapa halaman sobek-sobek saking seringnya dibaca. Mereka juga saya sediakan beberapa versi buku “Ensiklopedia Pelajar” yang didapatkan melalui pembelian kredit.

Satu hal lagi, semenjak balita kesemua anak saya itu rutin saya ajak ke toko buku di Graha Cijantung yang dekat dengan rumah. Awalnya hanya ada satu toko buku, yakni “Kharisma” dan kini bertambah satu lagi yang lebih besar dan lengkap, yaitu toko buku “Gramedia”. Setiap tahunnya pula, apabila ada pameran buku di Istora Senayan atau JCC, mereka saya perkenalkan dengan lingkungan buku semacam itu.

Akhir-akhir ini mereka suka mengisi teka-teki silang (TTS). Kalau ada pertanyaan TTS soal padanan kata Indonesia dalam bahasa Inggris, maka ia cepat-cepat berebut membolak-balik Kamus Bahasa Indonesia-Inggris karya John M. Echols dan Hassan Shadily terbitan Gramedia. Sedangkan bila pertanyaan TTS menyangkut pengetahuan umum, mereka mencarinya di “buku pintar” yunior maupun senior karya Iwan Gayo atau ensiklopedia pelajar. Buku-buku di atas memang saya tempatkan tersendiri yang gampang diraih tangan. Hingga sampul bukunya kumal dan beberapa halaman buku sobek.

TTS itu sendiri berasal dari harian Kompas edisi Minggu dan harian Suara Pembaruan (tiap hari ada, dan jawaban TTS di edisi hari berikutnya). Tidak berlangganan melainkan dibawakan dari kantor.

Oya, ada kebiasaan di keluarga yang sudah berlangsung bertahun-tahun bahwa pada pukul 18.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB pesawat televisi dimatikan kecuali bila esoknya hari libur. Sejauh ini konvensi tersebut masih dipatuhi. Maksud saya agar pada jam-jam tersebut digunakan untuk belajar, sekalipun pada kenyataannya mereka tetap masih suka bemain di rumah.

Jadi soal prestasi belajar anak di atas, bukan hal yang harus diburu-buru. Asalkan orang tua jeli dan mampu menyiapkan prasarana dan sarana yang disukai dan diminati anak, serta mendorong aktualisasi “bakat terpendam” anak, maka prestasi belajar dengan sendirinya akan mengikuti. Kalaupun bukan prestasi akademis yang diraih, ia akan mampu menyabet prestasi-prestasi lainnya. Umpamanya di bidang olah raga tertentu, keahlian tertentu dan sebagainya.

Apa yang saya paparkan di atas, belum tentu suatu jaminan bahwa saya selaku orang tua berhasil mendidik anak. Perjalanan waktu yang akan menjawabnya. Saya menyadari bahwa setiap anak yang terlahir ke dunia ini memiliki karakteristik unik. Berbeda antara satu anak dengan anak lainnya.

Oleh karena itu, misi sebagai orang tua kepada anaknya adalah bagaimana ia kelak menjadi dirinya sendiri. Bukan fotocopy orang tua atau ia menjadi sesuatu karena kemauan dan ambisi orang tuanya.

sumber foto: klik sini

******

Prestasi Akademis Anakku

Dua anak saya dalam hal prestasi akademis di sekolahnya termasuk lumayan baik. Kalau boleh sedikit berbangga, prestasi akademisnya sangat memuaskan. Keduanya bersekolah di Sekolah Dasar Islam Teladan PB Soedirman Cijantung Jakarta Timur.

SD Islam PB Soedirman ini termasuk sekolah ‘elite’ di kawasan Jakarta Timur, dan peringkatnya tidak jauh dari SD Lab School Rawamangun Jaktim. Saya mengatakan sekolah elite, dilihat dari tolok ukur sebagai berikut: 1. Alumni SD ini, banyak yang diterima di SMP-SMP Favorit; 2. Uang SPP-nya mahal; 3. Kalau berangkat dan pulang sekolah, banyak murid diantar jemput mobil pribadi. Untuk poin kedua, demi anak ya dicari-carikan dananya. Sedangkan poin terakhir, anak saya cukup diantar jemput ojek langganan.

Tatkala dulu masih mencari-cari sekolah dasar macam apa yang akan dimasuki anak, pertimbangan utama saya (dan istri) ada beberapa hal. Pertama, kedekatan dengan tempat tinggal. Kedua, sekolah tersebut punya track record (lulusan, kurikulum dan staf pengajar) bagus. Ketiga, sekolah tersebut memberi nilai tambah pendidikan agama anak. Keempat, lingkungan sosial sekitar sekolah sangat educated orientation.

Pilihan jatuh ke SD Islam PB Soedirman Cijantung. Karena 4 (empat) pertimbangan di atas masuk semuanya. Di SD ini, ada konvensi yang mensyaratkan setelah lulus anak khatam Al-Qur’an. Oleh karenanya porsi pelajaran agama termasuk lumayan banyak ketimbang SD Negeri dekat rumah. Demikian pula dalam hal porsi pelajaran Bahasa Inggris, 70 % lebih banyak ketimbang SD Negeri. Disamping juga ada kegiatan ekstra kurikuler setiap hari Sabtu yang bebas dipilih anak. Diantaranya: ekstra kurikuler Bahasa Inggris, Bela Diri, Paduan Suara, Musik & Marching Band, Pramuka, Seni Lukis dsb.

Kembali ke topik bahasan. Anak pertama, Chiara Sabrina Ayurani, ranking di kelasnya (Kelas V-B) tahun 2008 ini nomor 1. Anak kedua, Kevin Rizki Mohammad, juga ranking 1 di kelasnya (Kelas III-A).

Saya dan istri tidak pernah sekalipun meminta dan mengharuskan anak menjadi nomor 1 (satu). Yang sering saya ingatkan: kuasai pelajaran dengan sebaik-baiknya, dan di sekolah banyak berteman (kalau istilah populer sekarang ‘membangun jaringan’). Apalah artinya menjadi yang terbaik dan nomor satu kalau jaringan sosial (social networking) lemah? Karena saat sekarang dan di masa depan, yang menentukan berhasil tidaknya seseorang dalam karier dan kehidupan bukanlah genius atau tidaknya dalam intelektual, namun seberapa kuat dan berdayaguna jaringan sosial yang dimilikinya. Di samping itu, bekal ketrampilan tertentu bagi seorang anak sudah sedari awal ditumbuhkembangkan. Memang yang ideal bagi seorang anak: prestasi akademis nomor 1, jaringan sosial kuat, dan si anak punya ketrampilan tertentu.

Walaupun sejak masuk SD para staf pengajar menganjurkan anak-anak saya masuk Kelas Khusus (sebagai persiapan nantinya masuk Kelas Akselerasi), saya berpendirian biarlah mereka tetap di Kelas Reguler. Pertimbangannya: pada usia-usia tersebut anak masih membutuhkan porsi bermain lebih banyak ketimbang berkutat-kutat pada buku pelajaran dan pekerjaan rumah yang menumpuk. Bayangkan kalau duduk di Kelas Khusus, masuk sekolah pukul 06.45 wib dan baru pulang sampai rumah pukul 16.30 wib. Kapan waktu untuk bermainnya?

Di rumah pun, hingga sekarang kedua anak saya tersebut tidak ikut les-lesan atau privat atau kursus ini-itu untuk mendongkrak prestasi akademisnya. Cukup di privat sendiri oleh kedua orang tuanya. Istri saya punya kemampuan lebih dalam hal pelajaran matematika, bahasa Inggris, fisika, kimia dan biologi (yang serba ilmu pasti). Sedangkan saya, kemampuan dan wawasannya agak lumayan di bahasa (dan sastra) Indonesia, bahasa Inggris, geografi, sejarah, serta pengetahuan umum (yang serba ilmu sosial). Disela-sela kesibukan kerja, harus tetap ada waktu untuk mengecek hasil pelajaran di sekolah anak-anak. Kalau ada yang salah-salah diberi tahu pemecahannya. Satu-satunya tambahan kegiatan anak saya selepas pulang sekolah, pada pukul 16.00 belajar di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) As-Sa’adah Kalisari Pasar Rebo Jaktim yang berjarak hanya 250 meter dari rumah.

Yang membedakan dengan teman-temannya di sekitar lingkungan tempat tinggal, hobby kedua anak saya membaca. Sejak mulai balita, saya acap mengajak anak-anak ke toko buku. Beberapa seri buku eksiklopedi khusus anak, saya beli dengan cara kredit (karena harganya mahal). Sebuah buku amat tebal, Kamus Visual Bahasa Inggris, sampai diganti sampul mukanya lantaran sobek dan kumal karena sering dibaca. Di rumah pun karena saya juga hobby membaca, lama kelamaan anak juga ikut-ikutan.

Klik gambar berikut…