Undangan Reuni Alumni Muda HMI Cabang Solo

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Tiada untaian kata terindah selain puja dan puji syukur ke hadirat Illahi Rabii yang telah mencurahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita. Amiin.

Mohon kehadiran Kakanda, Yunda dan Adinda Alumni Muda HMI Cabang Solo di manapun kini berada untuk sejenak melepas penat sembari memutar kembali senandung memori masa silam, dalam acara Reuni Alumni Muda HMI Cabang Solo dan Syukuran Rumah Baru pada: Baca lebih lanjut

Support Kontes SEO Astaga.com Lifestyle on the Net

Traveling and Leisure Lifestyle (Koleksi Pribadi)

Traveling and Leisure Lifestyle (Koleksi Pribadi)

Gaya hidup internet menggambarkan gaya hidup modern yang sarat dengan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Di mana-mana, teknologi informasi dan komunikasi dibuat untuk memudahkan aktivitas kita. Menjadikan sesuatu yang tadinya sulit dan tidak terjangkau menjadi mudah dan terakses. Kehadirannya di sini berperan mengefisienkan segala sesuatu yang kita lakukan dengan satu tujuan: mencapai produktivitas maksimum. Dalam arti, memperoleh hasil sebesar-besarnya dengan resiko sekecil-kecilnya.

Dalam kaitan itu, kehadiran situs portal Astaga.com dengan jargon baru Astaga.com Lifestyle on the Net,  ingin menancapkan citra kepada konsumen dunia maya bahwa kehadirannya didedikasikan dalam rangka meningkatkan pemahaman, penghargaan dan adopsi gaya hidup internet. Kelahiran kembali situs portal tersebut dengan mengusung merk baru Astaga.com Lifestyle on the Net, dapat diartikan pula ia hadir untuk menjawab kehausan konsumen akan informasi lengkap tentang gaya hidup di dunia maya. Sekaligus pula Astaga.com ingin mengambil posisi utama dan berbeda dengan situs portal lain di Indonesia yang tengah menjamur saat ini.

Baca lebih lanjut

Dapat Hadiah Lomba Lima Puluh Ribu Rupiah Saja

Screenshot Halaman Muka Situs Indonesia Menulis

Screenshot Situs Indonesia Menulis

ISENG-ISENG saya mengirimkan satu artikel di blog personal untuk dilombakan dalam Kontes Menulis Blog IM. Tema kontes: Motivasi Menulis untuk Blogger Indonesia. Tak disangka dan tak dinyana, artikel berjudul Kunci Utamanya Disiplin masuk daftar pemenang. Artikel itu sendiri sebenarnya suatu panduan menulis yang saya buat berseri dan hingga kini belum saya teruskan kelanjutannya. Artikel yang dilombakan tersebut berada di peringkat 9 dengan total nilai 229 dari 3 juri yang menilai kontes. Hadiahnya uang tunai Rp 50 ribu + Domain.Info selama 1 tahun.

Pembaca jangan mentertawakan hadiah yang saya peroleh! Kok hanya Rp 50 ribu saja. Saya sendiri ikut kontes menulis itu bukan mengejar hadiah. Hanya semata-mata meramaikan kontes dan memperluas jaringan. Satu hal yang perlu dicatat, kita tidak akan tahu seberapa tinggi cita rasa dan mutu suatu tulisan yang dibuat tanpa dibentur-benturkan pada suatu kontes. Jadi untuk suatu kompetisi apapun, jangan melihat dari hadiah yang ditawarkan. Andai hanya diberi piagam penghargaan saja, rasanya bagi saya sudah cukup. Karena dari piagam penghargaan, dapat dijadikan untuk memotivasi berprestasi anak-anak saya.

Baca lebih lanjut

Artikel Penutup Kerja Keras Adalah Energi Kita

Kerja Keras Adalah Energi Kita: Sepak Bola Sarung (Koleksi Pribadi)

Kerja Keras Adalah Energi Kita: Sepak Bola Sarung (Koleksi Pribadi)

Seseorang yang membuat kesalahan-kesalahan melahirkan lebih banyak kepercayaan daripada mereka yang tidak pernah yakin akan dirinya.” Untaian kalimat hikmah berserakan di atas  tepat untuk mengawali penutup  serangkaian artikel yang ditulis dalam rangka Kontes Blog HUT ke-52 Pertamina, bertema Kerja Keras Adalah Energi Kita. Jika anda saat ini tengah mengikuti kompetisi apapun, hendaknya mencamkan mutiara hikmah di awal tulisan ini. Anda pasti akan mengalami kesalahan-kesalahan sekecil apapun dalam suatu kompetisi, namun yakinkan pada diri anda sendiri, bahwa kesalahan itu ibaratnya suatu langkah kecil di hari ini untuk lompatan besar di hari lain.

Sebagai suatu lompatan besar di kelak kemudian hari, sudah barang tentu mengikuti kontes berbau SEO sebagaimana Kontes Blog HUT ke-52 Pertamina itu sangat bermanfaat bagi para blogger Indonesia. Kita dipicu dan dipacu untuk mengoptimasi kata kunci (key word) Kerja Keras Adalah Energi Kita di raksasa mesin pencari Google Com. Bagi para blogger pemula (seperti saya ini), mengikuti ajang kontes berbau SEO tersebut banyak manfaatnya. Di samping lama kelamaan tahu tip dan trik mengoptimasi kata kunci, juga banyak ilmu-ilmu praktis yang diperoleh ketimbang tidak mengikuti kontes. Darinya pula banyak belajar kesalahan-kesalahan menerapkan tip dan trik optimasi kata kunci. Yang apabila dipetik pelajaran berharganya, niscaya akan bermanfaat di kelak kemudian hari.

Baca lebih lanjut

Jadi Tukang Villa?

OOM-oom. Ada vila bagus. Ada kamar dan kamar ada. Harga per kamar bisa dinegoisasi. Butuh guling hangat dan hidup? Ada juga. Weleh-weleh. Weladala. Tralala. Trilili. Kok ada tukang villa.

Postingan gambar sebagai sajian ringan di akhir pekan. Mohon ijin narcis sejenak saja….

Dwiki Setiyawan jadi Tukang Villa

di tepi Jalan Raya Puncak Ciloto Cianjur Jawa Barat,

Sabtu sore (12/12/2009).

Dalam hal gaya sudah meyakinkan, bukan?


Gara-gara ditertawakan cewek cantik yang lewat

akhirnya nggak tahan juga tersenyum. Kayak orgil.

Mau menawari villa buat laki-laki, malah disangka bos mucikari.

Emang ada tampang mucikari?

*****


Dwiki Setiyawan, sedang ikut kegiatan Penguatan Kelembagaan RT, RW dan Dewan Kelurahan di Wisma Pendawa Ciloto Cianjur Jawa Barat (12-13/12/2009).

Saat Menerima Nobel Perdamaian, Barack Obama Benarkan Perang

Pidato Barack Obama di Oslo (official white house photo by pete souza)

Pidato Barack Obama di Oslo (official white house photo by pete souza)

PRESIDEN Amerika Serikat Barack Obama, dalam pidatonya seusai menerima Nobel Perdamaian Tahun 2009 di Raadhuset Main Hall Balai Kota Oslo Norwegia membenarkan perang. Namun Obama menegaskan bahwa “perang  yang adil” dibenarkan yakni jika kondisi-kondisi tertentu bertemu. “Perang tersebut dilancarkan sebagai pilihan terakhir atau untuk membela diri; jika kekuatan yang digunakan adalah proporsional, dan jika, bilamana mungkin, warga sipil terhindar dari kekerasan,” tandas Obama dalam pidatonya, Kamis  (10/12) waktu setempat.

Barack Obama dan Hadiah Nobel Perdamaian Tahun 2009 (AFP)

Barack Obama dan Hadiah Nobel Perdamaian Tahun 2009 (AFP)

Dikatakannya lebih lanjut, bahwa untuk sebagian besar sejarah, konsep “perang yang adil” jarang diamati. Kapasitas manusia untuk memikirkan cara-cara baru untuk membunuh satu sama lain ternyata tak habis-habisnya, begitu pula kemampuan kita untuk membebaskan dari rahmat orang-orang yang melihat berbeda atau berdoa kepada Allah yang berbeda. Perang antara pasukan memberi jalan untuk perang antara bangsa-bangsa – total perang di mana perbedaan antara kombatan dan sipil menjadi kabur. Dalam rentang waktu 30 tahun, seperti pembantaian akan dua kali menelan benua ini. Dan sementara itu keras untuk memahami penyebab lebih adil daripada kekalahan Reich Ketiga dan kekuatan Axis, Perang Dunia II adalah sebuah konflik di mana jumlah warga sipil yang meninggal melampaui jumlah tentara yang tewas.

“Saya tidak membawa hari ini solusi yang definitif terhadap masalah-masalah perang. Yang saya tahu adalah pertemuan ini merupakan tantangan dalam mewujudkan visi yang sama, kerja keras, dan ketekunan orang-orang laki-laki dan perempuan yang bertindak sangat berani pada dekade lalu. Dan itu akan mengharuskan kita untuk berpikir dengan cara baru tentang pengertian tentang perang yang adil dan keharusan perdamaian yang adil,” ujarnya.

Dibagian lain pidatonya, Barack Obama menegaskan pembenaran akan perlunya perang secara moral. “Kita harus mulai dengan mengakui kebenaran yang sulit: Kami tidak akan menghilangkan konflik kekerasan dalam kehidupan kita. Akan ada saat-saat bangsa – yang bertindak secara individu atau dalam bersama-sama – akan menemukan penggunaan kekerasan bukan hanya perlu tetapi dibenarkan secara moral.”

Namun, Obama menggarisbawahi seraya mengutip kata-kata Martin Luther King Jr bahwa kekerasan tidak pernah membawa perdamaian permanen. Ia tidak menyelesaikan masalah sosial: itu hanya menciptakan masalah yang baru dan lebih rumit.

Obama percaya bahwa  kondisi manusia dapat disempurnakan. Manusia tidak harus tinggal di sebuah dunia ideal untuk tetap meraih cita-cita yang akan membuatnya menjadi tempat yang lebih baik. Non-kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang seperti Gandhi dan King mungkin belum praktis atau mungkin tepat dalam setiap keadaan, tapi cinta yang mereka khotbahkan – iman fundamental mereka dalam kemajuan manusia – yang harus selalu menjadi Bintang Utara yang membimbing  dalam perjalanan.

“Sebab jika kita kehilangan iman – jika kita menganggapnya sebagai bodoh atau naif, jika kita bercerai dari keputusan yang kita buat mengenai isu-isu perang dan damai – maka kita akan kehilangan apa yang paling baik tentang kemanusiaan. Kita kehilangan rasa kemungkinan kita. Kita kehilangan kompas moral kita,” pungkasnya.

***

Barack Obama dan Hadiah Nobel Perdamaian Tahun 2009-2 (official white house photo by pete souza)

Barack Obama dan Hadiah Nobel Perdamaian Tahun 2009-2 (official white house photo by pete souza)

Barack Obama dan Hadiah Nobel Perdamaian Tahun 2009-3 (official white house photo by pete souza)

Barack Obama dan Hadiah Nobel Perdamaian Tahun 2009-3 (official white house photo by pete souza)

Barack Obama dan Hadiah Nobel Perdamaian Tahun 2009-4 (official white house photo by pete souza)

Barack Obama dan Hadiah Nobel Perdamaian Tahun 2009-4 (official white house photo by pete souza)

Barack Obama dan Hadiah Nobel Perdamaian Tahun 2009-5 (official white house photo by pete souza)

Barack Obama dan Hadiah Nobel Perdamaian Tahun 2009-5 (official white house photo by pete souza)

Barack Obama dan Hadiah Nobel Perdamaian Tahun 2009-6 (official white house photo by pete souza)

Barack Obama dan Hadiah Nobel Perdamaian Tahun 2009-6 (official white house photo by pete souza)

Barack Obama dan Hadiah Nobel Perdamaian Tahun 2009-7 (official white house photo by pete souza)

Barack Obama dan Hadiah Nobel Perdamaian Tahun 2009-7 (official white house photo by pete souza)

Barack Obama dan Hadiah Nobel Perdamaian Tahun 2009-8 (official white house photo by pete souza)

Barack Obama dan Hadiah Nobel Perdamaian Tahun 2009-8 (official white house photo by pete souza)

*****

Dwiki Setiyawan, pengamat pinggiran politik internasional.


Sumber Foto: kecuali foto No 2 yang berasal dari Kantor Berita AFP di situs harian Sidney Morning Herald http://www.smh.com.au, foto-foto lainnya bersumber dari situs resmi kantor kepresidenan Amerika Serikat The White House http://www.whitehouse.gov

Naskah Pidato Presiden Barack Obama di Oslo Norwegia dalam bahasa Inggris bisa anda dapatkan di situs resmi kantor kepresidenan Amerika Serikat The White House dengan mengklik tautan ini http://www.whitehouse.gov/the-press-office/remarks-president-acceptance-nobel-peace-prize

Adib Zuhairi: Bankir Lokal Berwawasan Global

Adib Zuhairi (dwiki file)

Adib Zuhairi (dwiki file)

DALAM soal prestasi, lelaki yang usianya belum mencapai 40 tahun ini perlu mendapat acungan jempol. Merintis usaha perbankan mikro bersistem syariah sejak Oktober 1998, ia selama 7 bulan tidak mendapatkan “gaji”. Berkat usahanya yang tak kenal lelah, lambat laun usahanya berkembang. Dan baru pada bulan ke-8 ia menerima gaji. Berapa? Hanya Rp 40 ribu per bulan!

Tentunya jumlah tersebut di atas jauh dari cukup, baik untuk sekedar menghidupi diri sendiri apalagi untuk satu keluarga. Akan tetapi siapa nyana, ternyata ia kini telah terbentuk menjadi bankir lokal namun berwawasan global. Sebagai bankir lokal ia mempunyai misi khusus, yakni berikhtiar untuk menggerakan sistem ekonomi yang berbasis pada pola syariah. Dengan wawasan globalnya berjangkauan ke depan itu, BMT diharapkan tidak saja menjadi counter effect sistem kapitalis, tetapi juga bisa menjadi bukti keberhasilan sistem yang dikembangkan sesuai syariah Islam. Simak kisahnya berikut.

Keberanian Adib kembali ke kampung halamannya di Boyolali Jawa Tengah untuk memulai usaha baru yang sama sekali tidak pernah ia duga sebelumnya, patutlah menjadi pelajaran buat kita. Sebelum memutuskan kembali membangun kampung halaman, ia telah malang-melintang sebagai aktivis sosial di Jakarta.

Keberhasilan Adib Zuhairi memulai rintisan usaha yang langsung bersentuhan dengan kalangan paling bawah pelaku ekonomi itu, tidak lantas menjadikan dia tinggi hati. Ia tetaplah seorang pribadi yang rendah hati. Atas capaian prestasi yang telah diukirnya itu ia menganggap dirinya biasa-biasa saja. Dan ia menyadari banyak pula kekurangannya. Begitulah adanya. Bak ilmu padi. Semakin berisi ia akan menunduk.

Dan apabila BMT Tumang yang dikelola saat ini cukup berkembang, ujar Adib, bukan karena dia luar biasa, tetapi satu hal yang pasti, Adib menjalankan amanah tersebut (sebagai manajer utama) dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan.

Area Pemancingan Tlatar Boyolali dari kiri Dwiki Setiyawan, Adib Zuhairi, Yunan Saputro, dan Diana Ariyanti (dwiki file)

Area Pemancingan Tlatar Boyolali dari kiri Dwiki Setiyawan, Adib Zuhairi, Yunan Saputro, dan Diana Ariyanti (dwiki file)

Dengan penuh kesadaran pula, Adib rela meninggalkan pekerjaan di Jakarta, kemudian merintis berdirinya BMT Tumang, yang waktu itu (Oktober tahun 1998) masih cukup asing di masyarakat, dan yang pasti lembaga tersebut belum bisa menjadi tumpuan dapat memberikan imbalan (gaji) yang layak, apalagi dalam meniti karir.

Pengalaman membuktikan, Adib baru dapat menikmati gaji dari BMT setelah bulan ke-8 yang diterima sebesar Rp 40 ribu. Tentunya jumlah tersebut jauh dari cukup, baik untuk sekedar menghidupi diri sendiri apalagi untuk satu keluarga.

Menurut lelaki kelahiran 26 Februari 1970 tersebut, perjalanan merintis berdirinya BMT Tumang yang dapat tetap eksis dan cukup berkembang sampai saat ini antara lain, Pertama, awalnya Adib tidak menyiapkan dirinya sebagai pengelola (manajer utama). Lantaran niat awal pulang kampung, hanya mencari calon pengelola yang akan dididik di Jakarta. Namun ternyata tidak mudah mencari calon pengelola di desa Tumang. Meskipun di desa tersebut juga cukup banyak sarjana dan tidak sedikit yang merupakan lulusan perguruan tinggi negeri yang cukup terkenal.

Pada kenyataannya, ‘mereka yang mampu‘ ternyata ‘tidak mau‘, sementara mereka ‘yang mau‘ ternyata ‘tidak mampu‘. Artinya selama ini banyak dari masyarakat desa yang mengenyam pendidikan tinggi, yang secara status dan kapasitas diri meningkat, tetapi setelah lulus sebagian besar dari mereka bekerja di luar kota dan tidak pernah lagi memikirkan dan memberi kontribusi untuk desanya.

Sementara sarjana terdidik yang tetap tinggal di desa terpaksa akhirnya dia tetap bertahan tinggal di desanya lantaran di luar susah mendapatkan pekerjaan. Sangat jarang dari mereka yang mencoba mengimplimentasikan ilmu yang di dapat selama mengenyam pendidikan tinggi, yang dapat memberi kontribusi untuk kemajuan desanya.

Kedua, memulai sebuah usaha tidak harus mempunya modal yang cukup. Pengalaman BMT Tumang membuktikan, tidak saja keterbatasan modal secara finansial, juga sistem dan pola kerja yang belum ada dan juga materi SDM yang terbatas. Adib sendiri meskipun sarjana tetapi sarjana sosial jurusan sosiologi, di mana disiplin ilmu yang didapat selama kuliah sangat tidak mendukung dengan pola kerja yang sedang di kembangkan di BMT Tumang. Akan tetapi karena tekad bulat dengan motivasi yang tinggi, ternyata pengalaman kerja bisa dicari. Melalui usaha untuk meningkatkan kualitas diri, ilmu dan pengetahuan tata cara pengelolaan lembaga yang baik. Menurutnya, manajemen organisasi dan kepemimpinan semua dapat dipelajari secara langsung. Dan itu justru lebih efektif ketimbang sekedar belajar teori tetapi tidak pernah diaplikasikan secara konkrit.

Ketiga, motivasi yang benar. Dengan motivasi yang benar “mencari ridho Allah dan berusaha memberi manfaat bagi masyarakat” ternyata Allah SWT senantiasa memberi kemudahan. Memang tidak mudah untuk memulai sebuah usaha baru, apalagi menjalankan usaha yang belum banyak dikenal masyarakat. Yang paling vital ternyata harus bisa mensosialisasikan kepada masyarakat. Karena BMT tidak akan dapat berjalan tanpa dukungandan keterlibatan masyarakat (anggota). Karenanya memang harus pandai-pandai untuk mengkomunikasin atau mempromosikan kepada masyarakat umum dengan cara yang tepat serta metode yang pas.

Pose Bersama Istri dari kiri Diana Ariyanti dan Adib Zuhairi (koleksi foto adib)

Pose Bersama Istri dari kiri Diana Ariyanti dan Adib Zuhairi (koleksi foto adib)

Pada akhirnya BMT Tumang ternyata bisa diterima baik oleh masyarakat (anggota) itu tidak lain memang campur tangan Allah yang memberi kemudahan, dan itu wujud imbalan bagi mereka yang rela berkorban untuk kepentingan kemaslahatan sebagai kunci motivasi yang benar.

Dari awal motif pendirian BMT Tumang bukan karena untuk mencari keuntungan secara finansial. Akan tetapi yang lebih dominan adalah sebagai wujud kepedulian sebagian masyarakat untuk membantu masyarakat yang lain. Dalam hal ini menghilangkan rentenir yang sudah melembaga di masyarakat Tumang Cepogo pada khususnya, dan masyarakat Boyolali pada umumnya.

***

Mantan Ketua Umum HMI Cabang Solo itu kini namanya melesat bagai meteor di kalangan UKM di Jawa Tengah sebagai manajer handal sebuah usaha mikro ekonomi kalangan bawah masyarakat. Ia pimpinan BMT Tumang Boyolali (Baitul Mall Wattamwil atau semacam BPR). BMT tersebut didirikan pada 1 Oktober 1998. Berkantor pusat di Jalan Melati No. 12 Tumang Cepogo Boyolali, dan memiliki 3 kantor cabang di utara Pasar Cepogo, kota Boyolali tepatnya jalan Pandanarang nomor 299 dan di depan pasar Ampel.

Modal awal pendirian BMT pada 1998 hanya Rp 7,5 juta, pada 2009 ini telah mencapai Rp 12 milyar. Lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) UNS Solo yang saya kenal sejak sejak usia belasan ini, telah memiliki nasabah ribuan jumlahnya. Mulai dari perajin tembaga, peternak susu hingga mbok-mbok penjual sayuran di beberapa pasar di Boyolali.

Pertumbuhan BMT Tumang Desember 1998-Desember 2008

Pertumbuhan BMT Tumang Desember 1998-Desember 2008

Lembaga simpan pinjam yang dirintisnya kurang lebih 11 (sebelas) tahun silam itu, beberapa kali mendapat penghargaan dari pemerintah pusat maupun daerah. Beberapa kali pula mendapat pinjaman lunak dari Departemen Koperasi dan UKM, BUMN, Lembaga Pembiayaan dan sebagainya. Atas prestasi yang telah diukirnya itu, sudah tidak terhitung pula ia diundang sebagai narasumber untuk menularkan resep-resep usaha yang digelutinya pada berbagai seminar dan forum UKM.

Kantor Pusat BMT Tumang Cepogo Boyolali (koleksi BMT Tumang)

Kantor Pusat BMT Tumang Cepogo Boyolali (koleksi BMT Tumang)

Kini BMT Tumang telah memiliki sebuah gedung megah sebagai kantor pusatnya senilai Rp 800 juta. Berdiri di atas lahan seluas 340 m² Dan diresmikan oleh Menteri Koperasi dan UKM Suryadharma Ali pada 20 Januari 2009 lalu, yang dihadiri pula oleh Bupati Boyolali Sri Moeljanto, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jateng A Sulhadi serta pejabat muspida setempat.

Dari gedung megah tersebut, Adib  yang ayah dari  Nasya dan Ghozy buah dari perkawinanya dengan Diana Ariyanti (anggota KPUD Kabupaten Boyolali) itu, kini lebih nyaman dalam bekerja dan melayani nasabahnya ketimbang saat-saat berjibaku diawal pendirian BMT. Ia piawai dalam meyakinkan masyarakat akan pentingnya kredit mikro guna mengangkat harkat ekonomi kalangan bawah itu.

***

Pelajaran apa yang dapat kita petik dari kisah singkat di atas? Jawabnya, seseorang jika mau mencoba keras keluar dari terowongan gelap (pekerjaan) yang selama ini mengungkungnya pastilah akan ada seberkas sinar (penghidupan baru) di ujung terowongan itu.

Orang yang berani banting stir memulai usaha baru semacam Adib Zuhairi, di Indonesia ini jumlahnya cukup banyak. Kita acap pula disuguhi media massa kisah-kisah sukses semacam itu. Namun sayangnya, lebih banyak orang yang tidak berani memutuskan suatu bisnis baru sebagai ladang penghidupan dirinya sendiri, sekaligus yang dapat memberi dan membuka peluang pekerjaan bagi insan-insan di sekitar lingkungan sosialnya.

Doa dan Mimpi BMT Tumang (dwiki file)

Doa dan Mimpi BMT Tumang (dwiki file)

Tanpa saya paparkan efek domino usaha-usaha baru yang digeluti Adib di atas, pembaca pasti tahu bahwa dari bisnis itu telah menghidupi banyak orang dari berbagai lini kehidupan. Ibaratnya dari hulu hingga hilir sektor produksi dan konsumsi telah berhasil dirangkumnya.

Banyak orang yang sukses memulai bisnis baru karena memiliki bakat terpancar (maksudnya dia memang sedari awal mengetahuinya). Sebaliknya banyak pula orang yang gagal dalam bisnis karena dirinya tidak mengetahui bakat terpendamnya.

Di sini saya tidak akan berbicara kesuksesan bisnis ditinjau dari aspek permodalan, lokasi, jaringan, patron dan sebagainya.

Pada diri Adib Zuhairi yang sejak jaman mengenyam pendidikan selalu menjadi pimpinan organisasi itu terbentuk karakter manajer dalam pengelolaaan lembaga. Melihat latar belakang pendidikan sebagai alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip), pastilah orang tadinya heran dengan aktivitasnya sebagai pimpinan “bank rakyat” yang mestinya kavling untuk sarjana Fakultas Ekonomi (FE).

Saya teringat ucapan mendiang Profesor DR Nurcholish Madjid dan akrab disapa Cak Nur, yang menyatakan bahwa seseorang mengenyam pendidikan hingga setinggi-tingginya akan dinilai apakah ia menjadi manusia terpelajar atau bukan? Ia mencontohkan alumni-alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) yang banyak sukses menjadi wartawan dan bankir. Bukan menjadi ahli-ahli pertanian. Jawaban Cak Nur karena mereka terpelajar.

Seseorang yang terpelajar pada dirinya bersemayam kualitas insan pencipta dan insan pengabdi. Yakni insan yang senantiasa mau beriktiar untuk melakukan inovasi baru bagi lingkungan sosialnya dan insan yang mengabdikan diri sesuai bakat, ketrampilan dan ilmu yang telah diperolehnya bagai kemaslahatan masyarakat. Sekalipun itu di luar sekat disiplin ilmu yang dienyamnya.

*****

Ciri Khas Mariska Lubis dan Intelijen Bertawaf

Mariska Lubis (dwiki file)

Mariska Lubis (dwiki file)

SIAPA kompasianers yang tak kenal Mariska Lubis? Apabila tidak kenal, sudah dapat dipastikan anda baru satu dua hari registrasi di Kompasiana. Sebab, jika anda aktif di Kompasiana dan minimal seminggu telah teregister, dapat dipastikan akan terbiasa menyimak postingannya yang dahsyat soal “Seks dan lika-likunya”. Ia, termasuk salah satu kompasianer yang memiliki “fans fanatik” di Kompasiana.

Sabtu kemarin (5/12/2009), pada acara Peluncuran Buku Intelijen Bertawaf karya Prayitno Ramelan di Essence Darmawangsa Residences, Jl Darmawangsa X Jakarta Selatan, Mariska Lubis hadir guna memberikan dukungan moral dan doa kepada Pakde Pray, Bapak  Blogger Publik Kompasiana.

Sebelum saya lanjutkan, terlebih dahulu kepada anda yang belum mengenalnya, akan saya informasikan sekilas sosok Mariska Lubis. Mojang priangan ini lahir di Bandung, 6 Agustus 1974. Alumni SMAN 8 Jakarta, dan kuliah di Universitas Trisakti  jurusan Ekonomi, masuk tahun 92 dan selesai tahun 96.  Selanjutnya meneruskan studi ke Universitas Sydney, ambil jurusan International Studies dengan topik utamanya Politik Asia Tenggara. Sempat menjadi duta untuk Harvard Model United Nations tahun 1996 di Boston Amerika dan Harvard Project for International Affair di Seoul, Korsel di tahun yang sama.

Peluncuran Buku Intelijen Bertawaf dari kiri Umar Hapsoro, Mariska Lubis, Honny, Linda Djalil, dan Syaifuddin Sayuti (dwiki file)

Peluncuran Buku Intelijen Bertawaf dari kiri Umar Hapsoro, Mariska Lubis, Honny, Linda Djalil, dan Syaifuddin Sayuti (dwiki file)

Di situs pribadinya (Klik Sini), Mariska punya kutipan favorit:

“We are born differently one to another but We are the same in term of number of choices we have given”

Peluncuran Buku Intelijen Bertawaf dari kiri  Mariska Lubis, Honny, dan Syaifuddin Sayuti (dwiki file)

Peluncuran Buku Intelijen Bertawaf dari kiri Mariska Lubis, Honny, dan Syaifuddin Sayuti (dwiki file)

Kembali ke pokok bahasan. Saat hadir acara Peluncuran Buku Intelijen Bertawaf kemarin, Mariska Lubis datang agak terlambat. Acara sudah beberapa saat dimulai. Tatkala masuk ke ruangan acara, tempat duduk yang masih kosong berada di barisan depan. Dengan santainya Mariska yang tengah hamil tua tersebut berjalan di antara peserta yang sudah memadati ruangan. Beberapa peserta saling bisik memperbincangkan kehadirannya sembari menyebut bahwa yang hadir ini adalah Mariska Lubis.

Diantaranya pula ada yang belum mengenal dan melihat wajahnya sudah bisa menebak bahwa yang datang itu Mariska Lubis. Usut punya usut, ternyata ia memang memiliki ciri khas yang membedakan dengan kompasianers lainnya. Apa coba? Bukan soal kehamilannya ternyata. Melainkan tas kertas yang ditentengnya. Simak gambar yang satu ini:

Ciri Khas Mariska Lubis di Peluncuran Buku Intelijen Bertawaf (dwiki file)

Ciri Khas Mariska Lubis di Peluncuran Buku Intelijen Bertawaf (dwiki file)

*****

Gambar terakhir dijamin bukan iklan terselubung.

Pemenang Resensi Buku Mbah Surip

Cover Buku Mbah Surip (dwiki file)

Cover Buku Mbah Surip (dwiki file)

ISENG-iseng mengikuti lomba resensi buku Mbah Surip We Love You Full … di Kompasiana, postingan saya di blog ini (Klik Sini) yang juga diikutsertakan dalam lomba dimaksud mendapat penghargaan sebagai Pemenang 2. Lumayan hadiahnya berupa paket buku dari Grasindo.

Dengan demikian dalam dua bulan terakhir ini, saya sudah mengumpulkan dua poin prestasi yang patut disyukuri, setelah sebelumnya memenangkan Konten Postingan Blog yang diadakan Dsfl Indonesia dengan hadiah menggiurkan sebagai Pemenang 2 (Klik Sini).

Berikut pengumuman dari Admin Kompasiana Iskandar Jet pada 2 Desember 2009 lalu di Kompasiana (Klik Sini):


Lomba resensi buku kedua Kompasiana “Mbah Surip We Love You Full” karya Jodhi Yudono sudah lama berakhir. Dan akhirnya, para pemenang bisa diumumkan setelah mas Jodhy langsung menilai tulisan-tulisan lomba yang masuk, akhir minggu kemarin.

Pemenang lomba adalah:

Seperti biasa, ketiga pemenang diminta untuk segera mengirim email dengan subyek Pemenang Resensi Buku Mbah Surip berisi Nama, No KTP/Passport/SIM, Alamat Email, No Kontak dan Alamat via email ke Marcomm KOMPAS.com di marketing[at]kompas[dot]com.

*****

Dwiki Setiyawan, seseorang yang tengah belajar meresensi buku.

Rumahku Berhantu

CERITA rumah berhantu berikut ini sebuah peristiwa sungguh-sungguh terjadi yang pernah saya alami tatkala mengontrak sebuah rumah di daerah Susukan Ciracas Jakarta Timur delapan tahun silam. Mengingat-ingat peristiwa lampau, kadang tanpa terasa bulu roma saya berdiri sendiri.

Pada 2001 hingga 2004, saya mengontrak sebuah rumah faviliun di belakang Balai Latihan Kerja Antar Negara Susukan Ciracas. Tepatnya di Jalan Haji Jusin, depan Graha Cijantung. Luas bangunan 70 m². Dua lantai.  Lantai bawah terdiri dari ruang tamu, ruang keluarga, dapur dan kamar mandi. Sedang lantai atas, dua kamar tidur, beranda dan tempat jemuran di luarnya. Pemilik bangunan faviliun tersebut, anak pertama dari pemilik rumah induk. Dengan demikian urusan administrasi kontrak mengontrak langsung dengan si pemilik faviliun.

Awal-awal menempati rumah itu, tidak ada persoalan berarti. Istri dan dua anak yang masih kecil, masing-masing usia 3 dan 1 tahun, menikmati saja suasana baru itu. Persoalan baru muncul beberapa minggu kemudian, saat saya malam-malam nonton televisi di lantai bawah acap mendengar suara orang naik atau turun tangga kayu dan membuka pintu yang persis berada di atas tangga… kreeeek… kreeeek… kreeeek. Saat saya cek ke atas, tidak ada apa-apa. Istri dan anak tidur pulas di kamar atas.

Suara-suara seperti orang naik turun tangga itu bukan hanya satu dua kali saya dengar. Saat saya tanyakan pada istri di suatu malam, apakah ia mendengar suara-suara aneh yang saya alami itu, ia menjawab juga mendengarnya. Namun, kami berdua sepakat untuk merahasiakan soal tersebut kepada tetangga dan jangan sampai anak yang masih kecil mendengar dan merasa takut dengannya.

Pernah suatu malam, saya dan istri mendengar “kegaduhan” seperti anak-anak sedang bermain di lantai atas. Kami cek berdua ke atas, “kegaduhan” itu hilang, dan anak kami masih tertidur pulas.

Perlu juga diketahui dari dua kamar tidur di lantai atas, hanya satu kamar yang besar yang kami pakai. Kamar satunya yang lebih kecil hanya digunakan sebagai tempat shalat.

Lantaran penasaran atas suara-suara aneh itu, saya akhirnya bertanya pada ketua rukun tetangga setempat yang sudah lama tinggal di daerah itu dan asli orang situ. Darinya saya mendapat penjelasan, bahwa rumah faviliun itu memang ada “hantunya”. Dia juga menceritakan bahwa selama ini orang yang mengontrak di rumah itu jarang yang betah. Dikemukakan pula, “hantu” rumah itu sebenarnya tidak mengganggu asalkan pengontraknya taat beribadah. Saya lega mendengar penuturannya.

Selang beberapa saat, saya juga menanyakan langsung pada pemilik rumah induk yang jarang berada ditempat, perihal peristiwa-peristiwa aneh yang saya alami saat tinggal di favilun. Jawaban si ibu pemilik rumah induk itu, justru membuat saya terperanjat. Katanya “hantu” yang tinggal di faviliun itu seorang perempuan tua berambut panjang putih. Namun buru-buru ia mengatakan bahwa “hantu” perempuan tua itu tidak mengganggu. Tak urung, saya juga merasa takut dengan penuturan yang blak-blakan tersebut.

Benar saja kata si ibu pemilik rumah induk itu. Suatu hari seorang tetangga yang kenal dekat dengan saya, menanyakan tentang siapa perempuan tua beberapa malam sebelumnya yang ia lihat sedang duduk-duduk di balai bambu depan faviliun rumah? Untuk tidak menimbulkan rasa takut, saya menjawabnya itu nenek saya dari kampung!

Ada dua peristiwa lain berkaitan dengan “penghuni” rumah faviliun itu yang sampai hari ini membuat saya tidak habis pikir. Pertama, suatu siang anak kedua saya, Kevin Rizki Mohammad, tiba-tiba berada di atas genteng rumah induk yang memang berdempetan dengan ruang jemuran faviliun yang saya tinggali. Bagaimana dia bisa naik ke atas genteng? Padahal jarak genteng terbawah dengan dasar jemuran cukup tinggi. Lagi pula di sekeliling pagar jemuran banyak pot-pot tanaman lidah buaya, yang anehnya tidak ada satupun pot lidah buaya yang rusak? Pikir saya, jangan-jangan si “penghuni” faviliun sedang mengajak anak saya bermain. Menanyakan pada anak juga tidak mungkin, sebabnya dia juga belum bisa menjelaskan.

Kedua, pasca merayakan ulang tahun ke-5 anak pertama pada 2003, seorang keponakan saya usia 4 tahun yang sangat badung, main petak umpet dengan teriak-teriak di lantai atas. Berlari-lari naik turun tangga, dan menutup pintu di kamar atas dengan suara keras. Entah bagaimana kejadiannya, sekonyong-konyong ia terjatuh dari beranda lantai atas. Menembus flapon plastik di atas beranda lantai satu. Akhirnya si keponakan itu tangan kanannya sampai digift segala. Beberapa waktu kemudian, dengan didampingi ibunya saya tanyakan mengapa ia bisa jatuh? Ia mengatakan ada orang tua yang mendorongnya. Saya dengan adik kandung (si ibu keponakan) hanya saling berpandang-pandangan dan terlongo-longo.

Selama hampir tiga tahun tinggal di favilun tersebut, saya dan istri belum pernah melihat seperti apa “wujud” dari penghuni lain rumah itu. Istri yang saat itu acapkali saya tinggal ke luar kota untungnya bukan tipe istri penakut. Hanya ia bercerita saat saya tinggal dinas ke luar kota, tidurnya bersama anak-anak di lantai satu dengan menghidupkan televisi sehari semalam.

Namun ada hikmahnya pula saya mengontrak faviliun rumah itu. Setelah satu tahun kontrak berakhir, dengan alasan rumah itu agak angker saya mengajukan tawaran memperpanjang kontrak dua tahun ke depannya di bawah harga pasaran. Si pemilik bangunan rumah yang juga anak sulung penghuni rumah induk akhirnya menyetujui. Akhirnya saya membayar tunai Rp 3,8 juta untuk masa kontrak dua tahun (1 Agustus 2002 hingga 31 Juli 2004). Dengan tipe yang nyaris sama, estimasi saya harga kontraknya mencapai Rp 5 juta. Alhamdulillah.

Berkat hantu…

*****