Anas Urbaningrum: Politisi Santun Partai Demokrat

Anas Urbaningrum (tengah) di Acara Studi Nasional Mahasiswa Indonesia April 1998 (dok pribadi)

Anas Urbaningrum (tengah) di Acara Studi Nasional Mahasiswa Indonesia April 1998 (dok pribadi)

PASCA pemilihan umum legislatif 9 April 2009 ini, wajah Ketua Bidang Politik DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum acap terpampang di layar televisi. Pernyataan dan komentar-komentarnya pun setiap hari menghiasi rubrik politik di media cetak nasional maupun daerah.

Bagi redaktur liputan media cetak atau media elektronika, lonjakan perolehan suara Partai Demokrat kurang lebih 300 % pada Pemilu Legislatif dan persiapan partai tersebut menghadapi Pilpres merupakan bahan berita yang tak ada habis-habisnya untuk diulas, dikritisi dan dikomentari dari 8 mata penjuru angin perpolitikan nasional. Pada konteks inilah, Anas Urbaningrum sebagai salah satu ikon Partai Demokrat tak pelak lagi laris manis menjadi sumber beritanya.

Perannya sebagai anggota Tim Lobbying DPP Partai Demokrat dalam kerangka membangun dan memantapkan koalisi antar partai politik guna menghadapi Pilpres 2009 cukup menonjol. Pelibatan dan keterlibatan lelaki asal Srengat Blitar Jawa Timur yang pada bulan Juli mendatang baru menginjak usia 40 tahun ini dalam komunikasi-komunikasi politik dengan partai politik lain tersebut, akan semakin memperkaya kapasitas dan ketajaman naluri politik praktisnya. Dalam beberapa tahun mendatang, niscaya ia akan menjadi politisi matang dan berbobot yang akan disegani kawan maupun lawan politiknya.

Semenjak saya mengenalnya pasca Kongres ke-20 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Tahun 1995 di Surabaya, tidak banyak yang berubah dari penampilan Anas Urbaningrum di panggung politik publik. Pembawaan dirinya tenang dan hangat. Malahan ada tetangga saya yang menilai ia kelihatan dingin. Mental panggungnya kuat. Gaya bicaranya sejuk, tidak meletup-letup dan nampak datar-datar saja. Namun demikian, isi pernyataan atau komentarnya bernas dan intelektual. Kesemua itu berjalinkelindan dan setarikan nafas, menjadi ciri khas personal dari seorang Anas Urbaningrum.

Coba pembaca perhatikan setiap kali Anas Urbaningrum tampil dalam siaran langsung (on air) atau siaran tunda (off air) di layar televisi. Vokal suaranya cukup renyah dan enak didengar telinga pelbagai lapisan strata sosial masyarakat. Pilihan kata atau kalimat dan penekanan kata atau kalimat yang keluar berirama, terjaga dan terukur. Langgam tutur kata yang terucap dari bibir tipis Anas mengalir santai dan apa adanya. Di panggung layar kaca, terlepas dari penilaian orang akan kelebihan dan kekurangannya, hemat saya ia tipe politisi santun Partai Demokrat yang cukup menghibur dan mencerahkan.

Trik-triknya dalam menjawab pertanyaan pembawa acara (host) atau serangan opini dari lawan bicara di televisi sangat taktis dan diplomatis. Tidak pernah kelihatan emosi. Kalaupun Anas “menyerang balik” serangan argumentasi lawan bicara, ia tetap menjaga etika bahasanya dan tetap kelihatan santun disertai sunggingan senyum. Si lawan bicara akan terpatahkan argumentasi yang coba dikemukakan tanpa ia merasa direndahkan, disepelekan apalagi dikalahkan. Pilihan kata atau kalimat yang Anas lontarkan ibaratnya pedang tajam terhunus, menohok lawan hingga terpedaya namun tidak sampai mempermalukannya. Cukup menciderai namun tidak mematikan!

Saat memimpin PB HMI Periode 1997-1999 pun, dalam catatan pribadi saya tidak pernah sekalipun terjadi faksi-faksi apalagi muncul konflik intern di kepengurusan yang diam-diam menghancurkan dari dalam. Perbedaan pendapat yang bahkan sangat tajam dalam mensikapi suatu persoaalan ekstern yang saat itu sangat kompleks memang terjadi, tapi tidak pernah memunculkan pengkubuan atau faksi (lihat postingan saya di blog personal Spirit Kekeluargaan PB HMI Era Anas Urbaningrum). Itu bisa terjadi lantaran ia mengelola organisasi dengan pendekatan humanis dan kekeluargaan serta menjaga kesetiakawanan. Tidak pernah saya saksikan ia marah atau memarahi stafnya.

Melihat karakter, kepribadian dan tipologi Anas Urbaningrum dimaksud menurut hemat saya sebaiknya pada Periode DPR-RI 2009-2014, ia tidak perlu didorong-dorong untuk menduduki jabatan eksekutif, misalnya, sebagai menteri. Atau menduduki jabatan pimpinan DPR-RI. Cukup ia berperan sebagai ketua untuk memimpin Fraksi Partai Demokrat DPR-RI sebagai fraksi terbesar di parlemen (sebagai catatan: perolehan suara yang mencontreng Anas Urbaningrum di Dapil VI Jawa Timur yang meliputi Kabupaten/Kota Blitar, Kabupaten/Kota Kediri dan Kabupaten Tulungagung paling tinggi diantara caleg-caleg lain yang berkompetisi di dapil tersebut)

Saya kira politisi-politisi baru Partai Demokrat yang akan duduk di DPR-RI nanti memerlukan sentuhan-sentuhan dingin Anas Urbaningrum untuk lebih meningkatkan kapasitas pribadinya. Sebagai perpanjangan tangan partai politik di parlemen, Fraksi Partai Demokrat memerlukan figur yang dapat menjaga dan menaikkan citra politiknya. Figur Anas Urbaningrum yang sudah cukup matang berpolitik ini nampaknya cocok dan pas untuk memimpin Fraksi Partai Demokrat DPR-RI.

Setelah berpengalaman di parlemen beberapa saat guna menyelami, memahami dan mendalami “hal ihwal dan sepak terjang” DPR-RI, perkara ia mau berkarier lebih jauh dan tinggi lagi di eksekutif tidak menjadi soal. Hal yang terakhir, tinggal menunggu waktu saja.

*****

DWIKI SETIYAWAN, mantan Ketua Umum Bakornas Lembaga Pers PB HMI 1997-1999.

Dokumentasi Foto Dies Natalis HMI Ke-52 PB HMI Periode 1997-1999

Berikut saya tampilkan dokumentasi foto kegiatan Dies Natalis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ke-52 yang diselenggarakan pada Jum’at 5 Februari 2009, bertempat di Auditorium Sapta Pesona Departemen Pariwisata, Seni dan Budaya Jl Medan Merdeka Barat Jakarta Pusat. Ketua Panitia Pelaksana (OC) kegiatan ini adalah Hamdani Hamid yang juga menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Kekaryaan.

Di samping itu saya sertakan pula dokumentasi tertulis berbentuk gambar, berupa copy undangan dan agenda kegiatan Dies Natalis HMI Ke-52 PB HMI Periode 1997-1999. Dari dokumentasi tertulis itu, tertera thema seluruh rangkaian kegiatan dalam rangka Dies Natalis HMI Ke-52, yakni “Dari HMI untuk Kebersamaan Bangsa Menuju Indonesia Baru.”

Dari dokumentasi tertulis tersebut, saya lantas diingatkan pula kegiatan dies natalis HMI lainnya, seperti Talk Show HMI bertemakan “Komitmen Perjuangan HMI dalam Dinamika Kebangsaan.”

Tema-tema diatas sangat relevan dengan situasi dan kondisi kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan yang tengah dialami. Karena pada saat itu bangsa Indonesia baru saja mengalami transisi kekuasaan dari orde baru ke orde reformasi, menyusul berhentinya Pak Harto sebagai presiden di bulan Mei 1998.

Kegiatan yang berlangsung pada malam hari itu padat dengan rentetan acara. Di samping acara inti berupa Pidato Ketua Umum PB HMI, pada saat itu mungkin untuk pertama kalinya disampaikan Penganugerahan HMI Award dan Penganugerahn Tanda Jasa HMI.

Anugerah HMI Award diberikan kepada Almarhum Profesor DR Nurcholish Madjid atau Cak Nur, dan Anugerah Tanda Jasa HMI kepada Almarhum DR Victor Tanja (seorang pendeta dan dosen yang menulis disertasi tentang HMI). Keduanya sangat tepat menerima anugerah tersebut, karena jasa-jasanya terutama dalam menumbuhkan kesadaran berbangsa dan bernegara di tengah kehidupan masyarakat pluralistik.

Malam resepsi dies itu juga dimeriahkan oleh hiburan musik dengan menampilkan penyanyi country Indonesia Franky Sahilatua.  Dan pembacaan puisi oleh penyair kenamaan Angkatan 1966 yang juga alumni HMI Taufiq Ismail.

Hal unik dari Resepsi Dies Natalis tersebut, Ketua Umum PB HMI saat itu Anas Urbaningrum menyampaikan “Maklumat Perjuangan HMI Menyambut Pemilu 1999″  setelah penyampaian dies ride. Pemilu 1999 itu sendiri adalah pemilu yang dipercepat, berlangsung pada 7 Juni 1999 atau 13 bulan masa kepresidenan BJ Habibie.

Naskah pidato Ketua Umum PB HMI Anas Urbaningrum nantinya akan saya sertakan dalam postingan ini dalam bentuk File PDF (dalam proses). Saya juga masih menyimpan video kegiatan dies natalis tersebut, lantaran pada saat itu dipercaya memegang kendali soal peliputan dan dokumentasi acara dimaksud sebagai koordinator humas.

Klik gambar untuk memperbesar….

Kenangan HMI Cabang Solo 2: Tuyul dan Koh Zul

Laskar HMI Cabang Solo Komisariat Fisip UNS 1990-an koleksi foto dwiki

Laskar HMI Cabang Solo Komisariat Fisip UNS 1990-an koleksi foto dwiki

Pada acara “Khitanan Massal & Bhakti Sosial” yang diselenggarakan Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Solo se-Jabotabek di kediaman saudara Abdul Rahman Syagaff beberapa waktu lalu, saudara Eko Nugriyanto mengabarkan bahwa dirinya baru saja bertemu dengan saudara Zulkarnain Alijudin di Pulau Bangka. Kata Eko Nug (seharusnya yang tepat Eko Neg alias Eko Negro. Ha..ha..ha… Bercanda lho Ko) —  demikian sapaan akrab teman-temannya saat di HMI, “Dwiki, Zulkarnain sekarang menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Bangka Provinsi Bangka Belitung (Babel)”

Mendengar kabarnya, teringat kemudian saya dengan beberapa sepak terjang saudara Zulkarnain Alijudin atau Koh Zul  (dipanggil ‘Koh’ karena memang sekilas seperti Orang China) tatkala di HMI Cabang Solo dulu, diakhir tahun 1980-an dan awal 1990-an Teman satu ini pernah jadi Ketua Umum HMI Komisariat Fisip UNS. Kemudian pernah menjabat Wakil Sekretaris Umum (Wasekum) HMI Cabang Solo, dan beberapa saat pernah di Badko HMI Jabagteng.

Sifat positif Koh Zul ini: orangnya kocak (humoris), penuh inspirasi dan jiwa sosialnya tinggi. Sedangkan yang agak negatif, saat kuliah dulu: boros! Wesel kiriman dari orang tuanya di Bangka, menurut saya saat itu ‘di atas rata-rata’. Namun menjelang akhir bulan, selalu saja dia mengeluh tidak punya uang. Apa sebab? Soalnya Koh Zul ini punya kegemaran dan sering nonton film di bioskop-bioskop terkenal saat itu, seperti Solo Theatre di kompleks Taman Sriwedari Jalan Slamet Riyadi!

Selain itu, Koh Zul terkenal punya banyak perbendaharaan teka-teki lucu dan cukup aneh. Saat saya bersamanya sebagai salah satu staf ketuanya di komisariat, Koh Zul pernah mengajukan teka-teki, “Kecil bulat bundar turun naik, hayo apa jawabannya?” Jawaban-jawaban yang saya lontarkan selalu ia tepis. Jawaban Koh Zul, “Buah duku naik turun lift, Wi!” Ha..ha..ha…

Ia ajukan lagi teka-teki pertanyaan hampir senada, “Kecil turun naik berkeringat?” Lagi-lagi jawaban saya dikesampingkan. Ternyata jawaban Koh Zul amat sepele, “Semut yang sedang push up!”. Ha..ha..ha…

Masih banyak lagi teka-teki menghibur dari dapur pemikiran dan pengalaman yang dimiliki Koh Zul ini. Banyak sudah teka-teki lain yang lupa, namun beberapa yang saya kutip diatas, setelah berkeluarga saya “wariskan” teka-teki Koh Zul itu kepada anak-anak di rumah. Anak kedua saya, Kevin Rizki Mohammad, pernah bercerita bahwa teka-teki warisan itu juga disebarkan pada teman-teman sekelasnya. Kata Kevin, teman-teman sekelasnya itu juga tertawa geli mendengar jawaban teka-teki dimaksud!

Disamping saya kenal sebagai master teka-teki, “ketrampilan khusus” yang dimiliki Koh Zul adalah dalam hal “mengerjai” teman. Mengerjai sampai orang yang dikerjai tidak berkutik. Namun orang yang dikerjai juga tidak akan marah, lantaran ada unsur-unsur humor didalamnya, seperti kisah berikut:

Suatu malam pada awal tahun 1990-an, Ketua Lembaga Pengelola Latihan (LPL) saat itu, AKM namanya, bertandang ke kantor sekretariat HMI Cabang Solo di Jalan Yosodipuro. Ia kemudian melaksanakan shalat Isya’ di ruang faviliun sebelah barat gedung utama yang juga dijadikan sebagai mushola (saat ini faviliun itu sudah dirobohkan). Kebetulan saat itu, saya juga baru saja melaksanakan shalat Isya’ bersama Koh Zul.

Tentang AKM ini, ia juga mahasiswa Fisip UNS. Jadi kami bertiga dari komisariat yang sama. AKM pernah menjadi Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Fisip UNS. Aktivis yang satu ini pernah menjadi penggiat Jamaah Masjid Nurul Huda Universitas Sebelas Maret (UNS) dan malah pernah ‘indekost’ di masjid kebanggaan UNS itu. Setelah menjadi Ketua LPL, ia sekonyong-konyong dipilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum dalam Konferensi Luar Biasa (KLB) HMI Cabang Solo, menyusul adanya mosi tidak percaya sebagian besar komisariat atas kepemimpinan SHS.

Munculnya mosi tidak percaya sebagian besar pimpinan komisariat pada saudara SHS sebagai Ketua Umum Cabang yang sah di konferensi cabang sebelumnya di atas, merupakan efek turunan dari adanya konflik dan intrik intern di tubuh pengurus cabang sendiri.

Dalam Konferensi Luar Biasa (KLB) yang diadakan secara mendadak di kantor sekretariat HMI Cabang Solo itu, pimpinan komisariat yang hadir sepakat untuk tidak memilih ketua umum dari kalangan dalam karena dikhawatirkan berpotensi menimbulkan konflik baru. Akhirnya dicari kader HMI dari luar kepengurusan cabang, dan AKM lah pilihan yang tepat pada saat itu menurut peserta KLB.

Karier AKM berlanjut setelah itu dengan menjadi staf Ketua di Badko HMI Jabagteng, dan terakhir sebagai staf Ketua di PB HMI Era Ketua Umum Anas Urbaningrum.

Kepada AKM yang baru saja selesai shalat, Koh Zul bercerita bahwa di mushola itu ternyata ada tuyul-nya (makhluk halus yang digambarkan sebagai anak kecil berkepala plontos dan suka mengambil barang orang lain). Entah mengapa dari mulut AKM tercetus jawaban setengah percaya dan setengah tidak percaya, serta ingin pembuktian. Mungkin karena kata-kata Koh Zul yang sangat meyakinkan, akhirnya disepakati untuk membuktikan benar tidaknya ada tuyul di mushola itu. Saya ditunjuk Koh Zul  untuk menjadi saksinya,

Sekonyong-konyong Koh Zul menyambar kopiah hitam yang menempel di tiang mushola serta segera mengenakan di kepalanya. Ia pamit sebentar pada kami berdua menuju dapur di sisi selatan yang berdempetan dengan ruang mushola. Kemudian datang kembali duduk setangah lingkaran berhadapan dengan saya dan AKM. Memohon pada AKM untuk konsentrasi dan menutup matanya sejenak. Setelah itu ia meminta AKM untuk membuka kembali matanya dan menanyakan apakah AKM sudah melihat tuyulnya? Dijawab AKM belum lihat, sambil sedikit mendesak, ia berujar, “Mana tuyulnya?”

Jawab Koh Zul, “Wah kalau begitu tidak mungkin kita bisa melihat tuyul itu dalam keadaan ruangan terang kayak begini!”, sembari ia memohon agar listrik ruangan mushola dimatikan. Saklar lampu dipencet, suasana ruangan menjadi gelap gulita. Lagi-lagi AKM menanyakan tentang tuyul itu. Sekali lagi Koh Zul meminta AKM menutup matanya kembali. Mengambil kopiah hitam dikepalanya dan mengusap-usapkan di wajah AKM, dengan berbisik cara ini dimaksudkan agar AKM segera melihat tuyul di mushola itu.

Mata AKM terbuka, lagi-lagi ia menyangsikan adanya tuyul itu. “Ah masak, wong saya saja melihat” kata Koh Zul. Lampu mushola kemudian dinyalakan. Saya dengan Koh Zul tertawa berderai-derai melihat AKM yang clingak-clinguk itu. Disodorkan sebuah cermin oleh Koh Zul kepada AKM, “Nich, coba lihat di cermin. Tuyulnya ada disitu!”

Apa yang terjadi? Rupanya yang dimaksud tuyul oleh Koh Zul itu, ya si AKM itu sendiri. Sekujur wajahnya blepotan ‘angus’ (sisa arang yang menempel pada ketel atau alat masak). Jadi memang benar, AKM sekilas seperti badut, yang menurut Koh Zul seperti tuyul!

Rupanya, saat pergi ke dapur ia mengoles-oleskan ‘angus’ di kopiah hitam yang dipakainya. Lantas diusap-usapkan kembali pada wajah AKM tatkala keadaan ruangan gelap gulita sebagai ‘prasyarat’ agar AKM melihat tuyulnya…

Untungnya AKM tidak marah oleh kejadian di atas. Ia mungkin sadar bahwa itu semua memang salahnya sendiri mempercayai soal adanya tuyul di mushola kantor sekretariat HMI Cabang Solo itu.

Dalam dokumentasi foto postingan di pojok kiri atas ini, nama-nama tokoh yang saya sebutkan kesemuanya terpampang. Zulkarnain Alijudin pada foto terpampang di deretan kedua dari arah kanan memakai t-shirt putih. AKM di barisan belakang, berkemeja hitam dan satu-satunya di foto yang memakai muts (kopiah HMI). Sedangkan penulis postingan ini, berdiri disamping kiri AKM.

***

Catatan Tepi: bagi pembaca terutama teman-teman yang mengenal Koh Zul dan ingin berhubungan dengannya silakan login atau daftar di Facebook (FB), dengan mengetikkan kata ‘Zulkarnain Alijudin’ di kotak pencarian FB. Saat postingan ini dibuat, yang bersangkutan baru saja mendaftar sebagai anggota FB. Dan kebetulan saya teman pertama, juga satu-satunya di FB. Bisa pula pembaca  kirim email ke alamat bangijoel@yahoo.co.id .

Dokumentasi Foto Peluncuran Jurnal Madani PB HMI Periode 1997-1999

Rangkaian dokumentasi foto dan hasil scan publikasi di bawah ini, dimaksudkan untuk memenuhi sebagian permintaan teman-teman se-angkatan tatkala sama-sama aktif di Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) Periode 1997-1999.

Beruntunglah teman-teman kami itu, kegemaran jeprat-jepret sebagai fotografer amatir saya di masa lalu menemukan momentumnya ketika orang-orang yang dulu terhubung satu sama lainnya dalam kedekatan pergaulan saling terpisahkan oleh situasi dan keadaan. Dan merindukan ‘kedekatan kembali’ sekalipun hanya melalui lembaran foto atau benda kenangan lainnya. Dokumentasi foto ini salah satu, penawar dahaga kerinduan ‘kembali ke masa silam’ itu!

Masih ada lagi album-album foto era itu yang belum sempat saya cetak kembali. Ada beberapa roll negatif film.  Lain waktu akan saya publikasi kembali di blog ini. Dokumentasi foto senada-seirama lain silakan klik tautan ini.

Secara iseng tiga hari lalu (28/2 2009),  saya mengirim pesan pada Om Anas Urbaningrum (sebutan kehormatan untuk mengajari anak saya sendiri memanggil teman-teman ayahnya) melalui sms. Isinya, ‘permohonan sponsor’ agar ikut mendanai pencetakan kembali negatif-negatif film PB HMI Periode 1997-1999 dengan argumen ‘beberapa teman’ memintanya.

Hebatnya Om Anas Urbaningrum. Dia segera merespon dengan mengiyakan ‘permohonan simpatik’ saya ini. Seandainya saya ‘nakal’, memohon sponsor pada rekan-rekan lain masa itu yang telah ‘sukses’, barangkali juga dikabulkan. Dan untung secara finasial, walau kecil-kecilan. He..he..he…

Selamat bernostalgia!

***

Lakon ini bermula di suatu malam pada medio Oktober 1998. Tempat bersejarahnya di gedung Dewan Pimpunan Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPP KNPI) Jalan HR Rasuna Said Kuningan Jakarta. Sebuah hajatan orkestra intelektual dipergelarkan. Megah dan spektakuler. Alunan simponi yang  terdengar pun, yang dimainkan oleh pemusik handal itu,  terdengar menggema di langit pikiran para pemirsanya.  Gaung irama itu, setidaknya bagi saya, samar-samar hingga saat ini masih membekas di lubuk kalbu.

Pergelaran simponi itu bertajuk “Malam Peluncuran Perdana Jurnal MADANI “. Diselengarakan oleh Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) Periode 1997-1999.

Bertindak sebagai organizing committee (OC), atau event organizer (EO) adalah Badan Koordinasi Nasional Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Bakornas LAPMI) PB HMI, dimana saya menjadi Komandan Overste-nya (Overste = Letnan Kolonel). Ha..ha..ha…

Komandan Jenderal, atau konduktor pergelaran orkestra di atas tetap dipegang Anas Urbaningrum selaku Ketua Umum PB HMI saat itu.

Momen ini merupakan perhelatan yang bersejarah bagi Bakornas LAPMI PB HMI kala itu. Jumlah peserta yang hadir sangat banyak. Memenuhi Aula Kantor DPP KNPI Kuningan, hingga banyak yang duduk di lantai dan kongkow-kongkow di luaran gedung. Wartawan media cetak dan elektronik yang meliput acara tersebut juga bejibun. Dan keesokan harinya banyak di muat di media cetak nasional.

Para pemain musik utama atau pembicara yang hadir pada pergelaran orkestra “Malam Peluncuran Perdana Jurnal MADANI”  itu juga tokoh nasional berkompeten di bidangnya. Mereka adalah, Kepala Staf Teritorial Tentara Nasional Indonesia (Kaster TNI) –kala itu– Letnan Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Dosen Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) DR Andi Mallarangeng, Intelektual Muda Islam Ulil Absar Abdalla, dan Dosen Universitas Indonesia DR Imam B Prasodjo yang baru saja memperoleh gelar Doktor dari Brown University Amerika Serikat.

Tokoh-tokoh nasional di atas, pada 1998, bagaikan bunga yang tengah mekar-mekarnya dan senantiasa diburu kumbang-kumbang pers untuk dihisap sari madunya.

Pemain utama dan konduktor pergelaran orkestra di atas, beberapa tahun kemudian telah menjadi tokoh publik yang mewarnai percaturan politik tanah air.

Susilo Bambang Yudhoyono, setelah jabatan Kaster TNI itu mendapat posisi dan jabatan sebagai Ketua Fraksi TNI MPR-RI pada Sidang MPR-RI tahun 1999. Karier militernya terhenti ketika ia diangkat menjadi Menteri Pertambangan dan Energi di masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Kemudian sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) di era kabinet Megawati Soekarno Putri. Tahun 2004, ia mencalonkan diri sebagai presiden berpasangan dengan Jusuf Kalla dan memenangkan pemilu pertama yang diadakan secara langsung dan bersejarah itu di tahun yang sama, dan dilantik sebagai presiden Indonesia ke-6 pada 20 Oktober 2004 bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla.

DR  Andi Mallarangeng kini sebagai juru bicara presiden di era SBY. Setelah sebelumnya pernah menjabat sebagai anggota KPU dari unsur pemerintah. Staf ahli Menteri Negara Otonomi Daerah (1999-2000). Kementerian itu dibubarkan walau berusia 10 bulan. Ia kemudian bekerja mengembangkan ide tata pemerintahan yang baik sebagai Chair of Policy Committee pada Partnership for Govermance Reform in Indonesia (2000-2002). Dan sempat mencalonkan diri namun gagal sebagai anggota DPR-RI pada Pemilu 2004 dari Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan (PPDK) pimpinan Prof DR Ryaas Rasyid.

DR Imam B Prasodjo pernah menjabat sebagai anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) beberapa saat kemudian mengundurkan diri dengan alasan sesuatu dan lain hal. Kini Imam B Prasodjo disamping tetap komit sebagai dosen di Universitas Indonesia (UI) juga aktif sebagai penggiat LSM di Yayasan Nurani Dunia.

Ulil Abshar Abdalla, seorang intelektual muda Nahdlatul Ulama (NU) dikemudian hari bergiat di Jaringan Islam Liberal (JIL) dan kini tengah menyelesaikan pendidikan doktornya di Univeristas Boston Amerika Serikat.

Anas Urbaningrum pasca PB HMI pernah menjadi anggota KPU dan kini salah seorang Ketua di DPP Partai Demokrat.

Perlu saya sebut pula nama M Alfan Alfian, mantan Ketua Umum Bakornas LAPMI PB HMI Periode 1995-1997. Sosok ini merupakan ‘orang di balik layar’ kelahiran Jurnal MADANI ini. Di situ ia tercantum sebagai Pemimpin Redaksi Jurnal MADANI. Penulis artikel produktif di media massa cetak nasional ini, pernah berkarier sebagai wartawan Majalah Properti, Majalah Amanah, Staf Ahli Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (FPPP) di DPR-RI, Staf Ahli Fraksi Partai GOLKAR DPR-RI, Sekretaris Eksekutif Gerakan Jalan Lurus, dan kini sebagai Dosen Fisip Universitas Nasional (Unas) dan Direktur Riset Akbar Tandjung Institute (ATI).

Silakan klik gambar untuk memperbesar….



Handphone Jaman Duluku

Philips Fizz

Philips Fizz

Kepemilikan alat komunikasi personal dua arah berupa handphone kali pertama saya miliki akhir tahun 1999. Tahun 2009 ini berarti kurang lebih genap sudah 10 tahun saya memakai ‘alat ajaib’ tersebut. Mengapa saya katakan alat komunikasi personal dua arah? Karena sebelumnya saya sudah punya pager atau penyeranta sebagai alat komunikasi satu arah, dan fungsi utamanya hemat saya bukan komunikasi karena isi-isi pesan dari pager atau penyeranta itu lebih banyak ‘memerintah’ ketimbang memberi informasi. Nomor identitas  operator pager dimaksud masih saya ingat betul, yakni 13088. Beberapa alat tersebut juga masih saya simpan di rumah.

Sebagian orang yang punya pager itu termasuk saya sebenarnya’tersiksa’.  Pertama, karena isi-isi pesan yang kerap masuk ke alat tersebut acap seperti lagu Yolanda yang dinyanyikan grup musik Kangen Band, yang sebagian liriknya berbunyi, “Kamu dimana, dengan siapa, Semalam berbuat apa? Kamu dimana, dengan siapa, Disini aku menunggumu dan bertanya…”.

Kedua, karena alat tersebut tidak bisa langsung untuk membalas si pengirim pesan, kalau kebetulan isinya A-1 (istilah intelejen untuk maksud sangat penting dan terpercaya) maka si pemilik pager harus segera cepat mencari-cari warung telepon (wartel) untuk membalas pesan tersebut. Pembaca blog ini yang belum tahu era pager dan cara kerjanya, singkatnya sebagai berikut: anda menelepon ke operator, menyebutkan kode si penerima/pemilik dan pesan yang ingin disampaikan. Pesan tersebut dengan teknologi saat itu dikirim oleh operator, dan beberapa saat kemudian pager yang anda bawa berbunyi atau bergetar. Menandakan pesan tersebut telah diterima.

Ketiga, membayar iuran per bulannya cukup ribet. Karena tidak bisa melalui ATM, Bank atau Jasa Kantor Pos. Di samping tidak bisa deposit uang di muka seperti halnya kita mengisi pulsa prabayar handphone. Jadi membayarnya harus ke kantor pusat atau cabang: mengisi formulir dan antrinya pun mengular. Alat pager tersebut saya miliki kurang lebih 3 (tiga) tahun antara tahun 1996 sampai dengan 1999.

Saya menggunakan pager ‘terakhir’ untuk alat memerintah terjadi manakala Kongres Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ke-21 Tahun 1997 di Yogyakarta. Sebagai anggota Tim Sukses Anas Urbaningrum di kongres tersebut, hampir setiap hari selama berlangsung kongres ada-ada saja pesan yang masuk ke pager. Mulai dari teman-teman anggota redaksi ‘Jurnal Harian Kongres‘  (di redaksi jurnal ini sebagai Pemimpin Redaksi) mencari keberadaan saya, hingga sesama Tim Sukses Anas Urbaningrum memerintah untuk rapat tim, mengundang atau koordinasi wartawan mempersiapkan konperensi pers dan sebagainya. Saya kira pula teman-teman cabang saat itu sebagai utusan kongres juga mengalami hampir seperti yang juga saya alami.

Namun perlu diingat pula, pager atau penyeranta dalam Kongres HMI ke-21 di Yogyakarta, memiliki peran untuk menentukan jadi atau tidaknya Ketua Umum PB HMI yang diusung. Saya rasa peralihan dukungan untuk menentukan Formatur/Ketua Umum Terpilih Kongres HMI itu, termasuk Mide Formatur-nya sangat dibantu oleh keberadaaan alat komunikasi satu arah pager tersebut.

Keterbatasan-keterbatasan pager atau penyeranta di atas merupakan salah satu faktor penyebab para pelanggan setia pager lantas lari dan beralih, tatkala handphone mulai diakrabi masyarakat.

Handphone pertama yang saya miliki keluaran Philips dengan kode merk Fizz. Itu pemberian sahabat saya Yanuar Ahmad (sekarang salah seorang pejabat di Perum Bulog), dengan nomor 10 digit 081 875 xxxx dari operator Pro XL (dipakai hingga sekarang) pemberian Arsyad Ibramsyah (mantan Wakil Bendahara PB HMI).

Mau tahu warna, bentuk, dimensi dan fitur handphone Philips Fizz tersebut? Berwarna Biru. Berbentuk candybar dengan lebar kurang lebih 9 cm dan panjang kurang lebih 20 cm termasuk antena yang menyembul panjang dan berat kurang lebih 250 gram. Fiturnya sangat sederhana: call dan sms.

Teman-teman di PB HMI saat itu yang rata-rata telah memiliki handphone lebih canggih, acap meledek, “Dwiki, handphone-mu itu kalau untuk nimpuk anjing langsung pingsan anjingnya!” Saya biasanya spontan menjawab kalem,”Jangankan anjing. Kepala kamu saja kalau kena timpukan handphone ini langsung bocor”.

Dibanding handphone jaman sekarang, tangkapan sinyal HP Phillips milik saya itu tidak kalah malahan boleh dibilang prima nangkap sinyalnya. Hanya saja kelemahan pada daya baterai yang cepat habis.

Handphone pertama tersebut 5 (lima) tahun lalu saya berikan kakak kandung yang kini bermukim di Secang Magelang dan masih ‘tokcer’ bila digunakan. Kabar terakhir handphone itu pernah ditawar Rp 1,5 juta oleh seseorang (mungkin kolektor) dan kakak saya tidak mau menjualnya.

Setelah kepemilikan Philips Fizz tersebut, saya berturut-turut memakai Nokia 3115, Nokia 8110 dan sekarang ini Sony Ericsson K 750i (milik istri jauh lebih canggih). Handphone K 750i yang sekarang ini juga pernah ada yang mengatakan ‘sudah ketinggalan jaman’. Namun saya tak peduli.

Bagi saya pribadi, yang penting semua fitur-fitur yang ada di dalam handphone itu dikuasai dan dioptimalkan sepenuhnya. Sudah cukup buat saya, dengan Sony Ericsson K 750i tersebut masih bisa call, sms, potret-memotret (kamera 2 mega piksel), agenda, penyimpanan file, video sedehana dan yang sangat penting berinternet. Dibanding merk Sony Ericsson generasi selanjutnya yang sudah canggih, fitur untuk internet K 750i tidak kalah malahan lebih cepat mengakses internetnya. Hanya dengan dibenamkan tambahan software Opera Mini, maka K 750i tersebut sudah bisa untuk ber-email ria, instant message (IM), chatting dan  keperluan internet handphone dasar lainnya (nggak promosi lho).

Buat apa saya punya handphone canggih dan kaya fitur namun hanya untuk ‘bergaya’ dan ‘pamer’?  Penting pula untuk dicatat, bahwa setelah membeli handphone baru, semua buku panduan tentang tata cara penggunaan fitur dan kegunaannya  saya baca dengan teliti dan cermat serta langsung dipraktekkan. Kalau perlu saya berlama-lama di counter handphone untuk mempraktekkan semua penggunaan fitur-fitur tersebut.

Mungkin sebagian besar pemilik handphone canggih hanya sekedarnya saja tahu fitur-fitur dan kegunaan handphone yang baru dibeli. Dan malas baca buku panduan! Jadi jangan heran kalau kita melihat seseorang punya handphone canggih (kaya fitur unggulan) hanya digunakan untuk call, sms dan potret-memotret saja (ditambah untuk internet dasar).

Sayang kan apabila anda membeli dan memiliki suatu produk teknologi canggih hanya demi penampilan dan gengsi belaka, tanpa mengoptimalkan fitur-fitur di dalamnya. Fitur yang sengaja dibuat dan diciptakan oleh para pengembang produk teknologi canggih itu untuk membuat mudah dan nyaman gaya hidup yang anda jalani. Termasuk dalam hal ini teknologi canggih yang dibenamkan ke dalam perangkat handphone.


Episode 2: Spirit Kekeluargaan PB HMI Era Anas Urbaningrum (tamat)

lanjutan Episode 1

Dalam Pidato Dies Natalis ke-50 HMI pada Kamis 20 Maret 1997, di Jakarta Convention Centre (JCC) Jakarta, Ketua Umum PB HMI Taufiq Hidayat dihadapan Presiden H.M. Soeharto, para menteri kabinet, pejabat-pejabat pemerintahan baik sipil maupun militer, alumni HMI, simpatisan dan ribuan kader HMI antara lain mengatakan, “…Bagi HMI, kekuasaan atau politik bukanlah wilayah yang haram. Politik justru mulia, apabila dijalankan di atas etika dan bertujuan untuk menegakkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Lantaran itu HMI akan mendukung kekuasaan pemerintah yang sungguh-sungguh dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilaan. Sebaliknya, HMI akan tampil ke depan menentang kekuasaan yang korup dan menyeleweng (tempik sorak hadirin bergemuruh)”.

Catatan pribadi saya atas perhelatan akbar Dies Natalis ke-50 HMI tersebut. Pertama, belum pernah sebelum dan sesudahnya HMI menyelenggarakan acara dies natalis semegah dan sespektakuler di JCC dimaksud. Kedua, momen tersebut suka atau tidak suka merupakan puncak pencapaian karier organisasi Taufiq Hidayat di HMI dalam menggelar acara akbar. Ketiga, penampilan tiga dara penyanyi AB Three (Widi, Nola dan Lusi) yang membawakan lagu hits mereka Cintailah Aku di acara tersebut, pada hemat saya cukup mengganggu ketertiban acara. Karena banyak kader HMI yang merangsek dari belakang ke bibir panggung untuk mendekati idolanya tersebut. Bahkan ada yang sempat naik panggung memberikan setangkai bunga warna putih (adakah di antara pembaca blog ini dari HMI saat itu naik ke panggung tersebut?).

Kembali ke topik posting ini. Sekalipun PB HMI era Anas Urbaningrum sebuah era yang belum menentu dalam kancah perpolitikan nasional, namun saya mencatat nuansa-nuansa humanis dalam hubungan antar kader di kepengurusan PB HMI. Dalam kepengurusan ini, tidak saya lihat adanya faksi-faksi di internal PB HMI. Riak-riak perbedaan pendapat pasti ada, namun tidak sampai menimbulkan gelombang bahkan tsunami yang menghancurkan dari dalam.

Nuansa humanis sangat terlihat dan akan senantiasa kami kenang, yakni tatkala ada salah seorang fungsionaris PB HMI melangsungkan pernikahan. Dalam era Anas, tercatat beberapa orang Pengurus PB mengakhiri masa lajangnya, antara lain: Saan Mustafa (Ketua Bidang Perguaruan Tinggi, Kemahasiswaan dan Kepemudaan), Mokhsen Idris Sirfefa (Wasekjen Bidang Komunikasi Umat), Ramdansyah (Departemen Hubungan Internasional), Jumaddin Bona/Jumbo (Ketua Bakornas LDMI), Suratman (Departemen Pembinaan Aparat Organisasi) dan Anas Urbaningrum sendiri.  Catatan: kalau ada yang belum disebut mohon ingatan saya disegarkan kembali.

Saan Mustafa melangsungkan pernikahan di Cilegon, Mokhsen Idris Sirfefa di Cirebon, Ramdansyah di Sukabumi, Jumaddin Bona di Bandung, dan Anas di Yogyakarta.Redaktur Pelaksana Jurnal MADANI PB HMI yang juga mantan Ketua Umum Bakornas LAPMI, M Alfan Alfian melaksanakan pernikahan pula pada Oktober 1998.

Prosesi pernikahan Anas dengan Tia tentu saja yang paling meriah. Akad nikah dilangsungkan di lingkungan Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. Diantara pejabat dan alumni HMI yang hadir di Krapyak tersebut, seingat saya antara lain: Mantan Mendagri Syarwan Hamid, Mantan Menneg Otda Ryaas Rasyid, Andi Mallarangeng, Fuad Bawazier, Mien Dahlan Ranuwihardjo, Sulastomo, Anniswati M. Kamaluddin, Ulla Nuchrawati, Fathie Siregar, Husein Soeropranoto, Hamzah Haz, Agussalim Sitompul, Sutrisno Bachir dan lain-lain. Resepsi pernikahannya dilangsungkan di sebuah hotel berbintang di Jl Raya Yogya-Solo pada hari yang sama.

Spirit kekeluargaan PB HMI era Anas nampak tatkala para pengurus PB HMI ramai-ramai menghadiri acara pernikahan tersebut. Dengan mencarter bus atau kendaraan pribadi. Saat menghadiri acara pernikahan Saan Mustafa, setelah puas santap makan, pamitan lalu dilanjutkan rekreasi ke Pantai Carita. Sedangkan setelah menghadiri pernikahan Ramdansyah di Sukabumi, dalam perjalanan pulang ke Jakarta juga menyempatkan makan ikan bakar ramai-ramai dan seterusnya.

Forum-forum informal dan keluarga semacam di atas, pada hemat saya cukup efektif untuk mencairkan kebekuan (ice breaking) hirarki posisi atau jabatan di PB HMI. Karena dalam forum informal semacam itu antara Ketua Umum, Sekjen, Ketua Bidang, Wasekjen, Departemen dan Bakornas batasnya tipis dan cair.

Dalam forum informal itu, karena suasananya penuh dengan senda gurau, canda, dan yang easy going serta hapy-hapy maka walau diantara person-person ada perbedaan pendapat bahkan terkadang jurang perbedaan itu menganga tajam, namun sekat-sekatnya dilampaui oleh suasana santai di atas.

Kongkow-kongkow beramai-ramai diantara Fungsionaris PB HMI tidak sebatas saat menghadiri acara pernikahan saja, saya mencatat pula misalnya ‘pesta ikan bakar’ di Muara Angke tatkala Ulang Tahun Anas di bulan Juli. Atau acara-acara khusus di Ruang Rapat lantai II Diponegoro 16-A dalam rangka ulang tahun fungsionaris PB HMI era itu. Meriah, lucu, dan terkenang-kenang selalu…

Akhirnya saya sudahi catatan ringan yang melintas di langit pikiran ini. Kurang runtut, namun semoga ada sedikit hikmahnya. (tamat)

Foto-foto PB HMI Periode 1997-1999 berikut kami ambil dari koleksi pribadi. Silakan lihat dan dapat dikoleksi. Adakah foto anda didalamnya?



Cak Nur: Sekeping Kenangan Pribadi

Posting tulisan ini pernah dimuat di mailing list kahmi_pro_network@yahoogroups.com pada 3 Juni 2008. Tulisan ini sebagai tindaklanjut posting Saudara M. Alfan Alfian, Satrio Arismunandar, Tarmizi, dan Dudi Iskandar di milis tersebut. Berikut kami sajikan lengkap di blog ini:

Saya punya sekeping kenangan pribadi berkaitan dengan Almarhum Prof. DR. Nurcholish Madjid yang acap disapa Cak Nur. Kisahnya bermula di suatu malam di Markas PB HMI Jl. Diponegoro 16-A Menteng Jakarta Pusat.

Bulan Juli 1997 saya merencanakan pernikahan. Galibnya orang mau menikah, ikut disibukkan mendisain undangan pernikahan. Saya mengajukan pada calon istri, disain ‘kutipan’ undangan biar saya yang mencari. Yang jelas, saya tak mau mengutip Surat Ar-Ruum: 21 dalam kutipan undangan pernikahan itu. Alasannya, sudah umum. Tadinya kutipan Kahlil Gibran tentang pernikahan menjadi salah satu alternatif. Setelah menimbang-nimbang, tercetus ide mengapa saya tak meminta pendapat Cak Nur untuk mencari kutipan lain dalam Al-Qur’an.

Akhirnya, saya menyiapkan beberapa koin seratusan untuk menelepon Cak Nur dari telepon umum persis yang berada di depan kantor PB HMI (catatan kecil: untuk urusan telepon menelepon paling lama dari box telepon umum PB HMI ini, pada masa itu juaranya Saudara Umar Husein –sekarang pengacara Grup Band Dewa & Dewi-Dewi).

Saya kontak Cak Nur. Yang menerima Yunda Omi (istri Cak Nur). Ditanya Omi keperluannya, saya jawab bahwa saya kader HMI Cabang Solo dan sekarang di kepengurusan Bakornas LAPMI hendak melangsungkan pernikahan pada pertengahan bulan Juli dan memohon advis Cak Nur barang beberapa menit saja.

Tersambung ke Cak Nur, pertama saya sampaikan identitas pribadi dan keorganisasian. Kedua, mengutarakan maksud dan tujuan malam-malam menelepon. Intinya minta bantuan Cak Nur mencarikan kutipan surat dan ayat dalam Al-Quran selain Surat Ar-Ruum: 21 sebagai kutipan undangan pernikahan saya. Di luar dugaan, dengan gaya kebapakan beliau terlebih dahulu mengucapkan selamat atas rencana pernikahan saya itu. Selanjutnya, Cak Nur memberi masukan Surat Al-Ahqaaf (Bukit-bukit Pasir) ayat 15 sebagai kutipan undangan pernikahan kami.

Pungkas kisah, di undangan pernikahan saya itu (hanya tinggal satu buah yang tersimpan di arsip keluarga) saya mengutip penggalan Surat Al-Ahqaaf: 15 sebagai pengganti Surat Ar-Ruum:21 yang sudah jamak itu. ”Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau Ridhai;berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” (Al-Ahqaaf:15).

Pada acara Dies Natalis HMI Tahun 1999 di Gedung Sapta Pesona beberapa selang kemudian, Cak Nur hadir untuk menerima anugerah HMI Award dari Ketua Umum PB HMI kala itu Anas Urbaningrum (namun sayangnya anugerah HMI Award ini tidak dilanjutkan PB HMI sesudahnya). Saya waktu itu panitia yang meng-handle peliputan (koordinator wartawan) dan mendokumentasi dies natalis (foto dan video). Istri dengan bayi mungil didekapannnya saya ajak ikut. Bertiga dengan istri dan anak, saya mencuri-curi kesempatan menemui Cak Nur di acara dies natalis itu. Tatkala salaman, saya sampaikan pada Cak Nur bahwa bayi mungil didekapan istri itu buah perkawinan kami dan Cak Nur turut andil memberi masukan kutipan Surat Al-Ahqaaf pada undangan pernikahan kami.

Cak Nur mengangguk-angguk tanda gembira. Ia tersenyum sembari melirik bayi mungil perempuan yang tertidur pulas dalam dekapan ibunya. Senyum khas yang tiada duanya saya dapatkan dari seseorang yang amat saya kagumi selama ini. Sangat khas. Yang gambarannya senantiasa melintas di langit pikiran….

Foto-foto Alm Prof DR Nurcholish Madjid pada acara Dies Natalis HMI Tahun 1999 di Gedung Sapta Pesona Jakarta, silakan klik tautan dibawah ini:

http://dwikisetiyawan.wordpress.com/2009/01/04/episode-2-spirit-kekeluargaan-pb-hmi-era-anas-urbaningrum-tamat/

Episode 1: Spirit Kekeluargaan PB HMI Era Anas Urbaningrum

Tulisan ini hanya sekedar selingan, sekaligus dimaksudkan hanya untuk menyegarkan kembali ingatan saya sendiri (monitor komputer saja perlu refresh apalagi orang). Karena sifatnya yang hanya intermezzo, mudah-mudahan bisa sebagai obat pelepas ketegangan. Namun mohon maaf, bila catatan ini kurang runtut.

Kita mulai saja memoir ringan humaniora ini dengan kisah saat saya di PB HMI era Anas Urbaningrum….

PB HMI Periode 1997 – 1999 di masa Anas Urbaningrum, saya istilahkan sebagai periode pancaroba reformasi. Karena dalam periode ini, terjadi momen besar peralihan kekuasaan dari Orde Baru ke Orde Reformasi. Sebuah era penjungkirbalikan secara dramatis dalam segala lini hal. Sesungguhnya yang terjadi bukan hanya sekedar reformasi namun sebuah revolusi terkendali.

Kisah-kisah seputar peralihan kekuasaan tersebut sudah banyak dibukukan oleh para aktivis pergerakan mahasiswa jaman itu. Rentetannya meliuk-liuk panjang dan topiknya. melingkar-lingkar tak keruan. Tentang harga susu melambung tinggi, antrian sembako, kejatuhan rupiah, program nasi bungkus warteg Mbak Tutut, likuidasi bank, demonstrasi dan tertembaknya mahasiswa, pembakaran dan lautan api Jakarta, penjarahan, rencana aksi demo Amien Rais di Monas, pembentukan komite reformasi, pendudukan gedung DPR oleh mahasiswa, ultimatum Harmoko, surat pengunduran diri beberapa menteri, berhentinya Pak Harto, naiknya Pak B.J. Habibie dan sebagainya. Saya sendiri melalui catatan intermezzo ini, berharap Saudara Anas Urbaningrum berkenan dan sudi serta meluangkan waktu menulis buku kenang-kenangan versi HMI di seputar momen akbar tersebut.

Oya, masih segar dalam ingatan saya, setahun sebelum kejatuhan Pak Harto, HMI rasanya baru saja melangsungkan dies natalis-nya ke-50 yang megah dan spektakuler di JCC Senayan Jakarta. Banyak alumni HMI yang hadir (dan tentunya turut menyumbang dana). Ribuan kader HMI dari berbagai cabang dikerahkan hadir ke Jakarta. Transportasi bus pulang pergi dan penginapan ditanggung PB HMI. Dan yang juga penting, semua kader HMI mendapatkan baju batik berwarna hijau tua (catatan: baju batik bersejarah milik saya masih tersimpan di rumah mertua di Bantul Yogya). Tidak kalah penting pula, hampir semua fungsionaris PB HMI saat itu mendapat ‘proyek’ pengadaan bus, baju batik, akomodasi penginapan dan tetek bengek lainnya. Saya masih ingat beberapa nama fungsinaris PB HMI ini yang mendapat ‘proyek’ Dies Natalis HMI ke-50 ini. Namun menyebut hanya beberapa saja, dan yang lain tidak disebut rasa-rasanya hal tersebut kurang elok. Soal cipratan rezeki proyek dies ini, ada Wasekjen PB HMI saat itu, selepas acara dies natalis HMI ke-50 membeli komputer lengkap dan lemari es/kulkas untuk digunakan bersama pada kontrakan di daerah Menteng Sukabumi. Ha..ha..ha.

[catatan tambahan: kalau bicara lemari es/kulkas di kantor PB HMI Diponegoro jaman itu. Boleh percaya atau tidak: kadang kalau sedang kehabisan air putih dingin, pengurus PB HMI Kelas Bis 213 (maksudnya kemana-mana naik bis nomor 213 jurusan Kampung Melayu-Grogol) yang baru saja hunting alumni dan bermandikan peluh, air yang baru saja mendidih pun dituang dalam gelas/cangkir langsung dimasukkan lemari es. Maksudnya biar cepat dingin dan segera diminum. Glegek, glegek … mak nyes. He..he..he.]

Di perhelatan akbar Tahun Emas kelahiran HMI tersebut, Pak Harto hadir memberi sambutan. Dan, Ketua Umum PB HMI saat itu Taufiq Hidayat (kini anggota Komisi XI FPG DPR-RI) membacakan pidato politik dengan statement cukup keras pada masa itu menyentil pemerintahan Orde Baru.

bersambung ke Episode 2

DWIKI SETIYAWAN