Bob Petrella: Manusia Bermemori Super

Bob Petrella Manusia Bermemori Super credit foto: http://a.abcnews.com/

Bob Petrella Manusia Bermemori Super credit foto: http://a.abcnews.com/

Postingan dibawah ini bersumber dari versi cetak harian Seputar Indonesia edisi Minggu 29 Maret 2009 halaman 11. Namun saya juga memperkaya postingan dengan berselancar di jagad maya untuk mencari tahu tentang apa dan siapa Bob Petrella ini, termasuk gambar yang kami tampilkan juga bersumberkan dari situs yang kami jelajahi dimaksud.

Seorang perempuan bernama Jill Price atau nama aliasnya Diane Sawyer, juga tercatat memiliki memori super. Media massa menjulukinya the perfect memory. Bahkan ia menulis buku “The Woman Who Can’t Forget”.

Kisah Bob Petrella sebagai Man With Super-Autobiographical Memory Has Brain Like A Hard Drive, semoga bermanfaat.

***

BOB PETRELLA  salah satu orang yang beruntung di dunia. Dia memiliki daya ingat super sehingga mampu menuturkan secara detail setiap peristiwa yang dialaminya, baik pahit maupun manis.

Petrella mampu melakukan hal itu sejak usia lima tahun. Dia membuktikan, manusia senantiasa lebih unggul dibandingkan komputer. Pria berusia 58 tahun asal Los Angeles, Amerika Serikat, itu mampu menceritakan detail segala aktivitas hari demi hari di masa lalu.

Tak ada satu pun yang terlewatkan. Kemampuan itu menjadikan Petrella dipilih sebagai objek penelitian bagi para neurologis. Para ilmuwan mendiagnosis Petrella mengidap hyperthymestia atau orang yang memiliki memori otak melimpah. Hyperthymestia juga dikenal sebagai super-autobiographical memory.

Di seluruh dunia, baru ditemukan empat orang yang memiliki super-autobiographical memory. Petrella merupakan orang keempat di dunia yang dideteksi oleh para ilmuwan sebagai manusia bermemori super. Petrella mampu menceritakan hari dan tanggal kapan dia bertemu dengan sahabatnya. Bukan cuma itu, dia mampu menceritakan percakapan apa saja yang dibahas meskipun itu terjadi 53 tahun silam.

Dia merasakan bakatnya itu sejak belajar di sekolah dasar. Kendati tanpa belajar serius, dia mampu menggarap tes ujian sekolah dengan mudah, tanpa salah sedikit pun. ”Saya memiliki memori yang sangat menakjubkan. Tapi saya tidak pernah memamerkannya atau membanggakannya,” papar Petrella seperti dikutip dari harian ternama Telegraph.

”Orang menganggap saya memiliki sesuatu yang disebut sindrom savant atau orang memiliki kemampuan khusus seperti memori yang bagus.Namun, sebagian besar orang menganggap saya berbohong,” imbuhnya. Petrella tidak mampu menjelaskan kemampuan daya memori otaknya. Dia mengaku hanya memiliki memori itu dan hanya bisa menggunakannya. Teman-teman dan koleganya selalu bertanya kenapa dia memiliki supermemori.

”Saya tidak tahu kenapa saya memiliki memori seperti itu,” jawabnya. ”Itu hanya anugerah Tuhan Yang Maha Esa,”lanjutnya. Hebatnya, bukan cuma pengalaman hidup, yang selalu diingat Petrella. Dia juga mampu menceritakan detail tentang peristiwaperistiwa penting yang pernah terjadi di sekitar kehidupannya, baik pertandingan olahraga, politik, maupun insiden-insiden penting lain.

Nomor telepon temantemannya pun mampu diingat dengan mudah oleh Petrella. ”Saya kehilangan ponsel saya pada 24 September 2006,” kata Petrella. ”Banyak orang yang panik ketika kehilangan ponsel mereka karena ratusan nomor telepon ikut hilang. Tapi saya tidak. Saya menyimpan nomor ponsel di otak saya,” ujarnya.

Petrella juga mampu mengingat semua perayaan ulang tahunnya dan tahun baru sejak usia lima tahun.Tanpa hambatan, dia mampu menyebut siapa saja pemenang Oscar sejak dia menonton penyerahan itu sejak 1971. Orang pertama yang memiliki kemampuan supermemori adalah Jill Price dari Los Angeles. Price menulis buku yang berjudul The Woman Who Can’t Forget.

Pusat pembelajaran dan memori neurobiologi dari Universitas California meluncurkan kajian untuk mengidentifikasi 2.000 orang yang memiliki memori super. Petrella merupakan orang keempat yang memiliki kemampuan supermemori. Para ilmuwan memberikan pertanyaan 60 buah untuk menguji coba kemampuan supermemori mereka.

Dari sekian banyak pertanyaan itu, ada pertanyaan yang sangat lazim, yaitu kapan dan di mana pejuang Palestina membunuh atlet Israel? ”Munich, 5 September 1972,” jawab Petrella. Dalam sebuah laporan khusus yang ditayangkan ABC News, kemampuan Petrella pun diuji. Kapan Putri Diana meninggal? ”Sabtu, tanggal 30 Agustus 1997. Ketika itu saya duduk di rumah dan menonton CNN,”jawabnya.

Bagaimana dengan 30 Maret 1981? ”Reagan (mantan Presiden AS Ronald Reagan) ditembak. Pada malam harinya, Indiana mengalahkan North Carolina pada kejuaraan NCAA (National Collegiate Athletic Association). Isaiah Thomas bermain untuk Indiana,sedangkan James Worthy dan Sam Parkins bermain untuk North Carolina,”katanya.

Bagi orang biasa, menghafalkan tanggal-tanggal peristiwa di masa lalu, seperti ulang tahun, perayaan, reuni,merupakan suatu hal sulit. Tapi,hal itu tidak berlaku bagi Petrella. Semua tanggal-tanggal itu mampu diingatnya dengan mudah tanpa perlu memakai rumus atau pun metode khusus.

Tak ayal, Tom Challis, salah satu kolega Petrella, menyebut teman itu sebagai orang dari planet lain. Namun itu dibantah oleh Petrella. Dia menganggap kehidupannya layaknya manusia lain. Dia pun mengonsumsi makanan layaknya teman-teman kantor lainnya. Aktivitas kesehariannya pun tak ada perbedaan mencolok dibandingkan lainnya.

James McGaugh, Direktur Pusat Pembelajaran dan Memori Neurobiologi dari Universitas California, menganggap supermemori yang dimiliki Petrella dan lainnya masih menyimpan misteri. ”Kita tidak mengetahui bagaimana supermemori itu bekerja. Kita meneliti kenapa itu bisa terjadi,” katanya. (andika hendra mustaqim)

*****

Fenomena Masjid yang Kokoh Berdiri di Tengah Bencana

Pasca Tsunami Aceh 2004 credit foto: www.boston.com

Pasca Tsunami Aceh 2004 credit foto: http://www.boston.com

Hari Jum’at (27/3/2009) media massa elektronik dan portal berita ramai memberitakan musibah bencana banjir bandang akibat jebolnya tanggung Situ Gintung di Cireundeau Tangerang. Hingga postingan dipublikasi di blog ini tercatat 98 orang tewas dan puluhan lainnya hilang belum diketemukan, serta ratusan rumah penduduk yang roboh atau rusak diterjang banjir bandang.

Media televisi dalam acara “breaking news” berkali-kali menampilkan tayangan gambar lokasi jebolnya tanggul disertai narasi tentang “keanehan” dan “keajaiban” masih kokoh berdirinya Masjid Al-Barkah yang hanya puluhan meter saja dari lokasi jebolnya tanggul. Pun halnya pemberitaan di portal berita dari beberapa yang sempat saya baca, juga menyoal tentang fenomena tersebut.

Soal masih berdiri kokohnya masjid atau tempat peribadatan lainnya di tengah bencana bukan kali ini saja menjadi berita yang menarik. Saat Tsunami menerjang Nangroe Aceh Darussalam (NAD) Desember tahun 2004 dan gempa bumi Yogyakarta dan Jawa Tengah pada akhir Mei 2006, soal ini juga menjadi pemberitaan menarik.

Hanya sayangnya, pemberitaan Tsunami Aceh dan gempa bumi Yogyakarta itu tidak dibarengi pula oleh berapa sesungguhnya tempat-tempat ibadah lain yang juga roboh akibat bencana besar tersebut. Bagi wartawan, mungkin soal itu tidak menarik dan tidak layak berita.

Di luar hal-hal yang dianggap orang sebagai sebuah keajaiban, sesungguhnya fenomena masih berdiri kokohnya masjid atau tempat peribadatan lain di tengah bencana semacam banjir bandang, tsunami atau gempa bumi dapat diterangkan oleh alasan-alasan logis. Yang sama sekali tidak ada sangkutpautnya dengan dengan hal-hal magis dan ajaib, kecuali jika pembaca masih mempercayai dengan tingkat keimanan tertentu atas fenomena tersebut.

Kalau bentuk bangunan masjid sudah tua dan struktur bangunan hanya terdiri dari campuran batu merah, tanah dan pasir, seperti sebuah masjid di tepi sungai Opak dekat kediaman mertua saya di Blawong Jetis Bantul maka tetap saja roboh oleh gempa bumi yang mengguncang kuat saat itu. Atau pernah juga saya baca di sebuah media cetak tentang runtuhnya bagian dalam sebuah masjid lantaran pengurukan tanah sebelum pembangunan yang asal-asalan.

Sekurang-kurangnya ada 3 (tiga) alasan logis, mengapa sebuah bangunan masjid atau tempat peribadatan agama lainnya masih kokoh berdiri di tengah sebuah bencana.

Pertama, siapa orang yang berani mengkorupsi dana proyek pembangunan masjid? Sebagai tempat ibadah, sudah barang tentu pimpinan proyek pembanguinan masjid tidak akan berani mengkorupsi dana pembangunan yang telah dikumpulkan dari sumbangan para warga dengan susah payah. Kalaupun dana proyek pembangunan masjid itu berasal dari seorang donatur, pemerintah, lembaga, instansi dan sebagainya, semua pihak yang terlibat dalam pembangunan masjid tidak ada satu pun yang berani menyalahgunakan dana yang telah ada. Kecuali jika ada yang ateis (tidak mempercayai akan adanya Tuhan).

Bagi mereka yang terlibat aktif proyek pembangunan masjid atau tempat ibadah lainnya, ada motif lain di luar hal-hal yang bersifat keduniaan. Mereka ingin mendapat ganjaran pahala dan rahmat, karunia, berkah dari Sang Pencipta. Mereka juga takut akan murka dan terputus rezeki dari-Nya. Motif ganjaran pahala untuk bekal  nanti di akherat dan takut akan murka-Nya itulah alasan mendasar orang takut menyelewengkan dana proyek tempat ibadah. Pada gilirannya, material-material pembangunan tempat ibadah itu dipilih yang terbaik dan bestek sesuai rencana awal.

Kedua, memang dari awalnya struktur bangunan masjid sudah didisain kokoh. Arsitek atau perencana proyek sudah jauh-jauh hari mendisain sebuah struktur bangunan masjid yang kokoh. Sebagai bangunan publik yang acap digunakan sebagai sarana peribadatan, para aristek sudah menghitung secara detail hal yang berkaitan dengan fondasi, bentuk dan luas bangunan serta kapasitas yang dapat menampung jamaah dan sebagainya,

Sesungguhnya pemukiman di perumahan yang dibangun developer properti juga didisain sebagai tempat tinggal yang kokoh, namun karena kontraktor atau pelaksana teknis ingin untung besar maka banyak material yang digunakan dan standar pembangunan rumah itu di luar apa yang didisain arsiteknya. Sebagai akibatnya, para penghuni beberapa tahun berselang harus sudah merenovasi rumah yang dibeli lantaran sudah reyot dan rapuh.

Ketiga, letak strategis masjid. Sebagian besar masjid atau tempat ibadah lain berdiri berlokasid i tempat strategis. Setidaknya bangunan itu memiliki ruang terbuka berupa halaman depan, belakang, dan samping yang cukup luas. Dalam banyak kasus musibah banjir bandang atau tsunami, posisi bangunan yang memiliki ruang terbuka luas ini relatif aman dari terjangan air bah. Belum lagi bila sekeliling masjid berdiri pohon-pohon besar yang rindang sebagai benteng alam penahan air bah.

*****

Versi awal postingan ini telah dimuat Kompasiana pada Jum’at 27-3-2009. Sedangkan postingan di blog ini ada sedikit editing, terutama menyangkut data jumlah korban dan penambahan image.

Panduan Politisi Meraih Sukses dalam Politik

Cover Buku Strategi Politik by Peter Schroder

Cover Buku Strategi Politik by Peter Schroder

Peter Schroder

Strategi Politik

Edisi Revisi untuk Pemilu 2009

Penerjemah: Denise J.  Matindas &  Irina Dayasih

Jakarta: Friedrich-Naumann-Stiftung, Desember 2008

425 halaman 15 x 23 cm Rp 60.000


Dalam kata pengantar, dikatakan bahwa ini buku berisi strategi yang ditulis dengan jelas dan padat, yang dapat diikuti oleh para politisi yang ingin meraih sukses dalam politik. Buku ini juga hendak mengajak para politisi untuk menjadikan perencanaan dan pemikiran strategis sebagai dasar bagi setiap kampanye dan keputusan-keputusan politiknya.

Tujuan buku ini adalah menyediakan seperangkat alat bagi para politisi untuk melihat ke depan melampaui sekedar taktik, dan sebaliknya mendorong para politisi untuk menggunakan pendekatan strategis jangka panjang dalam praktek politik mereka untuk tujuan memperbaiki kehidupan rakyat.


Facebook: Ajang Gaul yang sedang Naik Daun

Cover Buku Berkawan via Facebook

Cover Buku Berkawan via Facebook

Yuliandi Kusuma

Berkawan via Facebook

Penyunting: Julianto

Perwajahan: Rega Alchalabi

Cetakan 1 – Jakarta: PT Prima Infosarana, 2009

96 halaman 13,5 x 20 cm Rp 25.000

Kemunculan Facebook sebagai situs jejaring pertemanan harus diakui sebagai sesuatu yang fenomenal. Sejak dapat diakses untuk pengguna di luar jaringan kampus dan di luar Amerika Serikat tahun 2006, diperkirakan tahun 2009 ini tercatat 150 juta pengguna aktif. Ia merupakan ajang gaul para netter di seluruh dunia yang sedang naik daun.

Buku ini membicarakan hal ikhwal situs Facebook dari A hingga Z. Sekalipun hemat saya diperuntukkan bagi netter pendatang baru atau para calon anggota, namun anggota yang telah tergabung dan terhubung dalam jejaring pertemanan atau social networking Facebook sangat layak untuk membaca buku ini. Lantaran dengan membaca tuntas buku ini, para pengguna Facebook dapat mengoptimalkan fitur-fitur yang ada dan memanfaatkan secara maksimal aplikasi tambahan yang telah disertakan oleh pengembang situs.

Disajikan penulisnya dengan bahasa yang mudah dicerna dan enak dibaca, halaman-halaman awal buku ini dimulai dengan pengenalan sekilas fenomena situs jejaring pertemanan yang kini semakin booming di dunia maya. Jejaring pertemanan di dunia maya telah menciptakan cara-cara baru untuk berkomunikasi dan berbagi informasi antar manusia, khususnya pengguna internet.

Sebuah layanan jejaring pertemanan bertujuan membangun komunikasi online dari orang dari berbagai minat dan kalangan, atau yang tertarik dalam mengekplorasi kepentingan dan kegiatan lain.

Sebagaimana dikatakan penulis dalam buku ini, memiliki akun di jejaring pertemanan laksana tanda pengenal (ID) akan eksistensi netter di dunia maya. “Ada semacam rumus tak tercatat dan diakui, jika ingin disebut anak gaul, beken dan popular, akun di Friendster, MySpace, atau Facebook wajib dimiliki” (halaman 8).

Dikatakan pula, pada umumnya layanan jejaring pertemanan memiliki pendekatan dan sistem yang tipikal, seperti cara untuk berinteraksi –via pesan langsung dan instant messaging– hingga fasilitas untuk membuat data profil diri. Pengguna harus mengkonfirmasi bahwa mereka dan temannya bersahabat, sebelum mereka dihubungkan atau saling mengunjungi profil. Setiap pengguna pun memiliki privasi untuk memilih siapa yang dapat melihat profil mereka atau menghubungi mereka, dan sebagainya.

Salah satu kelebihan Facebook dibanding jejaring pertemanan dunia maya lainnya, adalah fasilitas peng-upload foto. Facebook tidak sekedar menyediakan fitur untuk meng-upload foto, tetapi juga menawarkan fitur tag atau menandai orang-orang yang ada di foto itu.

Orang yang ditandai akan dikirimi pemberitahuan bahwa ada yang memuat foto berisi dirinya di Facebook. Bahkan mereka yang belum mempunyai akun di situs ini pun bisa dikirimi pemberitahuan lewat email. Kelebihan fasilitas men-tag foto inilah yang paling memancing orang-orang yang belum memiliki akun di Facebook segera tergabung dalam jejaring pertemanan ini.

Salah satu dukungan untuk foto adalah kemampuan Facebok untuk menyimpan 14 juta foto setiap hari. Kemampuan ini mengalahkan Flickr atau Photobucket yang hanya mampu menyimpan 8 juta foto setiap hari.

Menelusuri halaman demi halaman buku ini, pembaca akan diajak untuk memaksimalkan fitur-fitur dan aplikasi yang tersedia di Facebook. Dengan mengetahui cara penggunaan fitur dan aplikasi yang ada, diharapkan situs jejaring pertemanan ini tidak sekedar sebagai sarana bersosialisasi dan hiburan belaka melainkan memiliki nilai tambah bagi para penggunanya.

Nilai tambah tersebut dapat berupa pengayaan intelektual bahkan keuntungan ekonomis para pengguna. Misalnya, penggunaan aplikasi untuk menayangkan salah satu siaran berita televisi di profil akun dan aplikasi untuk berbisnis. Tinggal melihat halaman “Application Directory”, puluhan aplikasi dimaksud telah tersedia dan silakan pilih yang sesuai dengan selera.

Meskipun memudahkan bagi siapa saja untuk berteman dan membentuk masyarakat virtual, layanan jejaring pertemanan semacam Facebook tak lepas pula dari ancaman pengguna iseng dan para penjahat cyber. Oleh karena itu, pesan saya kepada para pengguna Facebook bersikaplah hati-hati dan berpikir jauh ke depan sebelum bertindak di Facebok.

Salah satu agar para pengguna tidak tergelincir oleh pengguna iseng dan para penjahat cyber, maka hemat saya membaca buku ini dari A sampai Z hukumnya sunah alias sangat dianjurkan.

*****

Pengkategorian Teman-temanku di Facebook

Friends Silhouette by Al Zanki credit foto: www.flickr.com

Friends Silhouette by Al Zanki credit foto: http://www.flickr.com

Dari ratusan orang teman saya di account Facebook, bisa dikelompokkan ke dalam 3 (tiga) kategori, yaitu: teman betulan, teman kebetulan, dan teman jadi-jadian. Dari ketiga pengkategorian diatas, dalam postingan ini tidak ada maksud untuk “merendahkan” yang satu dan “melebihkan” yang lainnya. Karena, saya sendiri otomatis juga menjadi teman kebetulan dan teman jadi-jadian dimaksud.

Pertama, teman betulan. Kategori ini merujuk pada sosok teman yang betul-betul kita kenal. Tingkatan tertinggi dari tipologi teman ini, adalah teman dimana kita pernah bergaul erat. Si teman ini tahu kelebihan, kekurangan atau bahkan rahasia-rahasia kita; Tingkatan menengahnya, mengenal dan pernah bergaul. Tahu kelebihan dan kekurangan kita namun tidak banyak tahu rahasia-rahasia kita; Tingkatan terendah, sekurang-kurangnya kita pernah bertemu muka. Si dia mengenal kita dan sebaliknya, atau si dia mengenal sedikit tentang kita pun sebaliknya.

Kedua, teman kebetulan. Ini merupakan teman yang kita mengenal dia karena respek padanya, terkenal, populer, punya keahlian dan keistimewaan tertentu. Dalam kategori ini juga bisa dimasukkan karena kita nge-fans padanya, sesama angota mailing list, satu kesamaan (tempat kerja, aktivitas, minat, kegemaran) dan sebagainya. Contohnya, tiap pagi bertemu saat naik lift karena sama-sama kerja dalam satu gedung bertingkat. Namun berbeda perusahaan. Jadi kenal karena adanya Facebook. Ini salah satu teman kebetulan.

Ketiga, teman jadi-jadian. Di Facebook, teman jadi-jadian ini bisa kita peroleh lewat “orang yang mungkin anda kenal” namun kita tak mengenalnya sama sekali, seseorang tiba-tiba (tanpa kita mengenalnya) menambahkan untuk menjadi teman, dan berburu (hunting) seseorang yang tidak kita kenal dari temannya teman.

Ketiga kategori teman diatas adalah teman kita. Seperti halnya saat kita sekolah atau kuliah, tidak mungkin kesemua siswa atau mahasiswa kita kenal semuanya. Maka di situs jejaring sosial Facebook demikian pula adanya.

Situs pertemanan semacam Facebook kita anggap saja sebagai sebuah komunitas antar individu di dunia maya. Jauh sebelum situs-situs pertemanan ini popular, di dunia maya kita sudah mengenal mailing list. Sebuah grup beranggotakan individu-individu yang didasarkan oleh kesamaan akan minat, kegemaran, keahlian, profesi, asal usul (daerah, kota, sekolah, fakultas, universitas) dan sebagainya. Hakikatnya, diantara situs pertemanan dan mailing list hampir-hampir mirip yakni sebagai jembatan penyampaian informasi, perekat hati dan aktualisasi diri.

Facebook dapat pula kita umpamakan sebagai kehidupan bertetangga di dunia maya. Dalam kehidupan bertetangga di dunia nyata, kita mengenal tetangga dekat, tetangga agak jauh dan tetangga jauh. Malah kadang, komunikasi bertetangga di dunia maya itu lebih intens, terbuka, dan cair ketimbang di kehidupan bertetangga sesungguhnya.

Sebagai posting rintisan, barangkali ada pembaca yang mau menambahkan pengkategorian diatas.

*****

Refleksi Diri di Hari Kelahiran

Bunda Mengandung credit foto: http://www.flickr.com

Bunda Mengandung credit foto: http://www.flickr.com

Hari ini hari kelahiranku. Tatkala lahir, diriku menangis, sedangkan orang-orang disekelilingku tersenyum dan tertawa bahagia. Diantara mereka juga mendoakanku, agar kelak diriku menjadi anak nan sholeh. Berguna bagi keluarga, masyarakat, nusa, bangsa dan agama.

Sebagian besar dari kita ingat akan hari lahirnya. Namun sedikit saja dari kita ingat bahwa pada hari menjelang dilahirkan itu, sang ibu sakit dan menderita serta meregang nyawa. Menangis, menjerit dan meronta-ronta. Tak lupa pula disertai erangan rintihan, lontaran keluh dan cucuran peluh, serta tetesan darah. Mata berkaca-kaca dan mulut berkomat-komit dari bibir tipis ibunda. Memanjatkan seonggok doa yang terpatah-patah. Memohon pada Sang Maha Hidup, agar diri kita hadir ke dunia fana ini dengan selamat dan tak kurang apa-apa.

Perkenankan di hari kelahiran ini, aku mengenang akan sosok ibundaku. Yang kini telah tiada. Aku ingin mengenangkan akan kebaikan dan kasih sayangnya nan tulus dan tiada bertepi itu. Mengandung diriku kurang lebih 9 bulan dalam rahim dengan limpahan segenap cintanya. Membelai dan mengelus-elus perut sembari mengajak diriku berbicara. Walau soal itu aku tidak mengingat, namun samar-samar sentuhan jari jemari di perut ibu itu, masih terasa hangat dan lembut di lubuk kalbu.

Karenanya, di malam peringatan kelahiran, telah kukirim secarik doa pada-Nya. Menghaturkan ucapan lirih terima kasih, akan perjuangan ibunda di kala diriku masih dalam rahim dan buaiannya. Yang telah mengajariku mengucapkan dari mulai sepatah kata hingga beratus-ratus kata. Membimbing dan mendidik di kala kecil tentang makna akan keberadaan dan kehadiran diriku di dunia.

Telah kusaksikan dalam hidup ini, ribuan kali mentari bangun dan terbit di ufuk timur tatkala fajar tiba. Juga saat ia tidur dalam peraduan singkatnya dan tenggelam di horizon barat senja.  Tatkala malam tiba pun, sudah tak terhitung dari penglihatan mata diri arti kehangatan lembut cahaya rembulan dan kedamainan lirih kerlap-kerlip bintang gemintang di ketinggian angkasa raya.

Kupejamkan mata sejenak, mengingat hari-hari yang telah lampau dan lalui. Sahabat dan saudara datang  dan pergi silih berganti. Suka dan duka telah kukecap, serta sepenggal pengalaman hidup kureguk. Keberhasilan pernah diraih, namun kegagalan juga tak kuasa kutolak. Kesemuanya terkenang-kenang, akan menjadi serpihan-serpihan ornamen indah di bingkai langit pikiranku.

Mengenang itu, sepantasnya pula daku hari ini menundukkan kepala. Bersimpuh dan sujud ke haribaan-Nya, akan nikmat dan karunia serta berkah yang telah Engkau limpahkan padaku (dan keluarga) selama ini.

Pada hari ini, dari tiap-tiap tahun yang dilalui, aku masih bertanya-tanya, “darimana, hendak kemana dan apa?” Sebagian dari deretan tanya itu sudah aku jawab sendiri dari apa yang telah kuperbuat dalam tonggak-tonggak yang kupancangkan di perjalanan hidup ini. Namun masih saja menyisakan jawab yang tak bisa kuungkapkan hanya melalui kata-kata belaka.

***

Telah kugoreskan di awal tulisan sebaris untaian kata, “Tatkala lahir, diriku menangis sedangkan orang-orang disekelilingku tersenyum dan tertawa bahagia.” Pada saatnya nanti, “Ketika ajal menjemput, ingin diriku menyunggingkan senyum dan tawa bahagia. Sementara, orang-orang disekelilingku meneteskan air mata.

Bukan air mata lantaran kesedihan semata-mata akan kepergianku. Namun air mata untuk mengingat dan mengenang, sedikit saja akan kebaikan dan darma baktiku. Yang pernah kutorehkan, di hari-hari singkat namun serasa panjang  pada hidup dan kehidupanku.

Jika kelahiran merupakan ujung keberangkatan, maka kematian adalah pangkal kepulangannya. Batas-batas diantara keduanya itu tipis dan lembut. Bagaikan titian serambut dibelah tujuh. Lantaran itu, kala hari kelahiran tiba dan mengingatkannya, sudah sepantasnya pula kita mengingat akan hari kematian.

Filosof terkemuka Socrates pernah menyatakan, “Ketika aku meneliti rahasia kehidupan ketemukan maut, dan ketika kutemukan maut kutemukan sesudahnya kehidupan abadi. Karena itu kita harus prihatin dengan kehidupan dan bergembira dengan kematian karena kita hidup untuk mati dan mati untuk hidup.”

Dengan mengingat pula kematian yang kadang datang tiba-tiba itu, maka masing-masing diri kita diminta akan jawaban dari doa yang dipanjatkan orang-orang sekeliling ketika lahir: sudahkah diri kita ini berguna bagi keluarga, masyarakat, nusa, bangsa dan agama?

*****

Jakarta Timur 18 Maret 2009

Undangan Reuni Akbar Ikatan Keluarga Alumni (IKA) UNS

Undangan Seminar & Reuni IKA UNS

Undangan Seminar & Reuni IKA UNS

Dalam rangka menyambut Dies Natalis UNS ke-33 bulan Maret 2009, Ikatan Keluarga Alumni Univeritas Sebelas Maret (IKA UNS) Solo Jawa Tengah akan menyelenggarakan Reuni Akbar IKA UNS pada Rabu 25 Maret 2009 Pukul 16.00 WIB sampai dengan 20.00 WIB. Acara reuni tersebut mengambil tempat di Auditorium Gedung D Lantai II Departemen Pendidikan Nasional Jalan Pintu I Senayan Jakarta Pusat (samping Hotel Atlet Century).

Menurut Ketua Panitia Reuni Akbar IKA UNS 2009, Hj Siti Hajar MS PHD, diharapkan alumni Universitas Sebelas Maret di manapun kini berada dapat hadir memenuhi undangan acara dimaksud. “Sudah cukup lama kita tidak mengadakan acara reuni akbar alumni UNS,  yang diadakan secara khusus di Jakarta. Kita harapkan nanti banyak dari alumni itu bisa menghadiri,” ujar Siti Hajar yang juga Staf Pengajar di Universitas Jayabaya itu.

Disamping acara reuni akbar, ungkap Siti Hajar, IKA UNS juga menyelenggarakan kegiatan-kegiatan lain. Diantara kegiatannya, antara lain, Seminar Sehari dengan tema “Peran Pendidikan untuk Mencetak Jiwa Entrepreneurship yang Profesional” pada Rabu 25 Maret 2009 Pukul 09.00 WIB sd 15.30 WIB. Adapun tempat sama dengan acara reuni akbar.

Pembicara dalam seminar sehari diatas, yakni: DR dr Fasli Djalal (Dirjen Pendidikan Tingi/Dikti Depdiknas), DR Baedhowi MSI (Ketua IKA UNS yang juga Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan/PMPTK Depdiknas), Prof DR Ravik Karsidi (PR I UNS), Tung Desem Waringin (Pengusaha dan Praktisi Motivator), dan Hariyadi BS Sukamdani (Pengusaha dan Ketua Apindo).

Rangkaian kegiatan dalam rangka Dies Natalis ke-33 UNS tersebut, akan diakhiri dengan kegiatan sosial berupa Pengobatan Gratis dan Pembagian Sembako pada Minggu 29 Maret 2009 bertempat di Bidara Cina Kampung Melayu Jakarta Timur.

Hal-hal yang terkait dengan acara-acara diatas, silakan alumni UNS yang akan turut serta bisa kirim email ke:

panitiadies33@yahoo.com

Kontak Person:

  1. Hj. Siti Hajar MS PHD, Ketua Panitia 08164851775
  2. Eko Nugriyanto MKom, Sekretaris Panitia 081514161604
  3. Tatang Barutamam SE, Koordinator Seminar 08161698052
  4. Drs Fatah Yasin, Koordinator Bakti Sosial 085888720321

Atau bisa juga menulis komen di blog ini untuk saya sampaikan pada pihak-pihak terkait.

*****


Pentingnya Arsip Mengarsip Dokumen Pribadi

Postingan ini hanyalah sekedar sharing kepada pembaca, betapa  pentingnya sebuah dokumen yang pernah kita dapatkan tatkala beraktivitas sehari-hari atau berorganisasi. Dimanapun dan kapanpun. Untuk diarsip dalam almari dokumen rumah kita.

Beberapa teman Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) kala saya aktif di tingkat Komisariat  Fisip UNS Solo hingga PB HMI “memuji” (terima kasih atas pujiannya) tentang kelengkapan arsip dokumen pribadi yang saya miliki. Terutama tatkala satu per satu, dokumen itu beserta cerita dibaliknya saya publikasikan di blog personal ini. Sebenarnya dikatakan lengkap tidak juga, karena beberapa dokumen penting kadang tidak saya koleksi dan miliki.

Beberapa dokumen penting saat kuliah dulu seperti diary, foto, newsletter, majalah intern kampus dan sebagainya acap tercecer atau hilang tatkala pindahan kost.

Saat di Jakarta, demikian pula adanya. Karena pernah jadi “kontraktor” (dari kontrak rumah satu ke kontrak rumah lainnya), ada pula dokumen-dokumen yang tercecer. Sekalipun saya sendiri sudah menganggap dokumen-dokumen pribadi itu sebagai aset berharga dan telah dipisahkan dalam kardus atau almari tersendiri.

Dokumen tertulis Almarhum Prof DR Nurcholish Madjid dalam bentuk makalah tatkala ceramah di Taman Ismail Marzuki (TIM) tahun 1990-an tentang “fundamentalisme Islam”, misalnya, entah sekarang tercecer dimana. Padahal saya punya banyak cerita tentang itu, dimana ratusan eksemplar foto copy makalah Cak Nur itu laku terjual di kios koran/majalah di depan kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan kalangan dosen di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

***


Dokumen yang kita dapatkan hari ini, dapat menjadi sebuah kisah nostalgia penting, misalnya, untuk 10 tahun ke depan. Selembar foto  masa SMA atau kuliah yang pembaca miliki, misalnya, mungkin kesannya biasa-biasa saja. Namun ia akan menjadi dokumen foto bersejarah 10 tahun kemudian tatkala umpamanya  10 orang dari 20 orang yang terpampang di foto menjadi tokoh nasonal di kemudian hari. Ada banyak cerita yang bisa kita kisahkan hanya dari selembar foto itu.

Arsip-mengarsip dokumen pribadi sesungguhnya menyangkut kegemaran atau hobby. Seperti halnya ada orang yang punya hobby mengoleksi piringan hitam jadul, perangko, buku-buku langka, kaset lama dan lain-lain.

Namun hobby arsip-mengarsip dokumen bukan sembarang hobby. Ia merupakan hobby dari kesadaran mendalam (telah terpikir dan terencana) bahwa dari hobby-nya itu akan mempunyai nilai penting bagi kehidupannya di masa depan. Yakni sesuatu yang bernilai historis. Tidak peduli oleh arti kehadiran si pengarsip dokumen di masa hidupnya atau peran yang dimainkannya.

Bila kita orang biasa-biasa saja, tetap dokumen-dokumen yang kita miliki suatu saat bisa dibuat “buku memoar khusus” untuk konsumsi anak, cucu, menantu dan kerabat dekat. Setidaknya dengan buku khusus itu, kita dapat mentransfer pengalaman dan nilai kepada generasi sesudahnya.

Namun bila kita merasa punya peran yang cukup berarti bagi masyarakat dan bangsa serta dianggap tokoh oleh lingkungan sekitar, dari dokumen-dokumen itu bisa kita buat otobiografi. Bila kita tidak bisa menuliskan sendiri, memakai jasa ketrampilan menulis orang lain, jadilah sebuah biografi. Bukan untuk membangga-banggakan diri sendiri, melainkan otobiografi atau biografi itu memiliki misi sebagai pelajaran dan suri tauladan bagi pembacanya.

Mustahil seseorang membuat memoar dalam bentuk otobiografi atau biografi hanya dengan mengandalkan ingatan belaka. Tetap dibutuhkan dokumen-dokumen pribadi yang kita simpan rapi di rumah sendiri.

Memang bisa saja membuat biografi dari dokumen-dokumen ekstern yang tersimpan di luar arsip yang kita miliki. Namun itu merupakan pemborosan dana dan waktu tatkala kita berniat membuat biografi diri kita sendiri.

Lantas apa saja bentuk-bentuk dokumen yang saya maksudkan itu? Pada dasarnya semua hal menyangkut bahan-bahan tertulis atau cetakan bisa kita kategorikan sebagai dokumen. Antara lain: diary (catatan harian), foto, catatan rapat, daftar hadir, surat keputusan (SK), piagam penghargaan, piagam pelatihan, raport, ijazah, buku, surat-surat masuk dan keluar (pribadi atau organisasi), newsletter, kliping majalah, kliping koran, postingan di website atau website itu sendiri dan lain sebagainya. Atau sekedar undangan perkawinan dan undangan sunatan teman!

Di luar dokumen tertulis, benda-benda yang memiliki sejarah yang berkait erat dengan dokomen tertulis juga wajib dikoleksi. Misalnya: medali, tanda jasa, piala atau tropy kejuaraan, cinderamata dan sebagainya.

Di atas telah saya singgung beberapa jenis dokumen tertulis,  antara lain undangan perkawinan dan undangan sunatan. Pembaca barangkali tersenyum atau bertanya-tanya seberapa penting dokumen tertulis itu?

Hal ini tergantung pembaca menganggap penting atau tidaknya jenis dokumen semacam itu. Di blog ini, saya bisa mencatat tanggal pernikahan saudara Alfan Alfian dan mengucapkan selamat atas ulang tahun ke-10  pernikahannya, lantaran saya punya 1 arsip undangan pernikahannya. Lihat dan klik  “Catatan Ulang Tahun Perkawinan Ke-10 Alfan Alfian.

Undangan sunatan dari seorang anak teman barangkali juga tidak penting buat pembaca. Bagi saya penting, karena bisa jadi suatu saat anak yang disunat itu akan menjadi tokoh nasional. Dan saya bisa membuat memoar tentang “satu peristiwa penting” dalam kehidupan si anak itu, yang mungkin si anak atau keluarganya lupa persisnya acara ritual sunatannya di masa lalu.

Jadi arsip yang kita miliki, kadangkala berfungsi sebagai “tanda pengingat” bagi pribadi yang kita tulis. Entah kita kirim melalui sms, sepucuk surat/email pribadi, situs jejaring sosial, ditulis dalam blog atau media penyampaian informasi lainnya. Ini bisa menjadi kejutan bagi seseorang, sebagai bentuk perhatian yang tulus dan apa adanya….

Berpijak dari bincang-bincang ringan ini, sudahkah pembaca dari sekarang membiasakan arsip-mengarsip dokumen pribadi itu? Hal-hal lain yang terkait dengan postingan rintisan ini,  kami mohon masukan-masukan dari pembaca blog. Terima kasih.

*****

Dokumentasi Foto Dies Natalis HMI Ke-52 PB HMI Periode 1997-1999

Berikut saya tampilkan dokumentasi foto kegiatan Dies Natalis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ke-52 yang diselenggarakan pada Jum’at 5 Februari 2009, bertempat di Auditorium Sapta Pesona Departemen Pariwisata, Seni dan Budaya Jl Medan Merdeka Barat Jakarta Pusat. Ketua Panitia Pelaksana (OC) kegiatan ini adalah Hamdani Hamid yang juga menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Kekaryaan.

Di samping itu saya sertakan pula dokumentasi tertulis berbentuk gambar, berupa copy undangan dan agenda kegiatan Dies Natalis HMI Ke-52 PB HMI Periode 1997-1999. Dari dokumentasi tertulis itu, tertera thema seluruh rangkaian kegiatan dalam rangka Dies Natalis HMI Ke-52, yakni “Dari HMI untuk Kebersamaan Bangsa Menuju Indonesia Baru.”

Dari dokumentasi tertulis tersebut, saya lantas diingatkan pula kegiatan dies natalis HMI lainnya, seperti Talk Show HMI bertemakan “Komitmen Perjuangan HMI dalam Dinamika Kebangsaan.”

Tema-tema diatas sangat relevan dengan situasi dan kondisi kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan yang tengah dialami. Karena pada saat itu bangsa Indonesia baru saja mengalami transisi kekuasaan dari orde baru ke orde reformasi, menyusul berhentinya Pak Harto sebagai presiden di bulan Mei 1998.

Kegiatan yang berlangsung pada malam hari itu padat dengan rentetan acara. Di samping acara inti berupa Pidato Ketua Umum PB HMI, pada saat itu mungkin untuk pertama kalinya disampaikan Penganugerahan HMI Award dan Penganugerahn Tanda Jasa HMI.

Anugerah HMI Award diberikan kepada Almarhum Profesor DR Nurcholish Madjid atau Cak Nur, dan Anugerah Tanda Jasa HMI kepada Almarhum DR Victor Tanja (seorang pendeta dan dosen yang menulis disertasi tentang HMI). Keduanya sangat tepat menerima anugerah tersebut, karena jasa-jasanya terutama dalam menumbuhkan kesadaran berbangsa dan bernegara di tengah kehidupan masyarakat pluralistik.

Malam resepsi dies itu juga dimeriahkan oleh hiburan musik dengan menampilkan penyanyi country Indonesia Franky Sahilatua.  Dan pembacaan puisi oleh penyair kenamaan Angkatan 1966 yang juga alumni HMI Taufiq Ismail.

Hal unik dari Resepsi Dies Natalis tersebut, Ketua Umum PB HMI saat itu Anas Urbaningrum menyampaikan “Maklumat Perjuangan HMI Menyambut Pemilu 1999″  setelah penyampaian dies ride. Pemilu 1999 itu sendiri adalah pemilu yang dipercepat, berlangsung pada 7 Juni 1999 atau 13 bulan masa kepresidenan BJ Habibie.

Naskah pidato Ketua Umum PB HMI Anas Urbaningrum nantinya akan saya sertakan dalam postingan ini dalam bentuk File PDF (dalam proses). Saya juga masih menyimpan video kegiatan dies natalis tersebut, lantaran pada saat itu dipercaya memegang kendali soal peliputan dan dokumentasi acara dimaksud sebagai koordinator humas.

Klik gambar untuk memperbesar….

Poster Parlemen Berkualitas

Kita semua pasti mengharapkan Pemilu Legislatif pada 9 April 2009 mendatang melahirkan sebuah Parlemen Berkualitas. Hal dimaksud akan tercermin oleh kualitas wakil-wakil rakyat yang akan duduk di lembaga parlemen.

Kita tentu mengharap pula agar transisi demokrasi yang tengah kita alami saat ini, pasca Pemilu Legislatif 2009 akan memunculkan –meminjam istilah Alfred Stepan– konsolidasi demokrasi. Yang terejawantahkan oleh proses-proses yang semakin baku dan mapan, dan bukan oleh sebuah proses trial and error –seperti yang kita saksikan saat ini. Juga ditandai oleh partisipasi elemen-elemen masyarakat dalam kehidupan demokratisasi disertai kepatuhan akan aturan-aturan main berdemokrasi.

Poster berikut hanyalah sebuah ajakan agar masyarakat pada Hari-H Pemilu 2009 nanti memilih para wakilnya di lembaga parlemen, bukan hanya berdasarkan pertimbangan pragmatis belaka, namun juga harus memikirkan kualifikasi tertentu wakil rakyatnya. Yang ditandai oleh perilaku amanah, taqwa  dan senantiasa menyuarakan aspirasi para konstituennya.

Poster Parlemen Berkualitas Pemilu 2009

Poster Parlemen Berkualitas Pemilu 2009