Kisah PB HMI: Pemegang Rekor Bicara Terlama Telepon Umum


Bagi rekan-rekan Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) Jalan Diponegoro 16-A Menteng Jakarta Pusat atau aktivis HMI yang acap ke Jakarta di Periode 1992 hingga 1997, tidak perlu saya berkisah saja, pastilah sudah mengantongi dan tahu siapa nominasi utama Pemegang Rekor Bicara Terlama Telepon Umum dimaksud.

Dengan demikian, serpihan kisah ini lebih saya tujukan kepada rekan-rekan di luar yang telah saya sebutkan. Tidak ada maksud tertentu dengan penulisan serpihan kisah-kisah yang tersaji di blog ini (apalagi bermotif menjatuhkan orang per orang) selain sebagai selingan ringan pelepas ketegangan aktivitas sehari-hari. Di samping itu, amboi, jika kisah yang pernah terenda di masa silam sirna begitu saja ditelan zaman. :)

Apabila saya mengisahkan kurun waktu 1992 hingga 1997, kondisi zaman jelas beda dengan PB HMI beberapa tahun belakangan ini, di mana handphone (HP) sudah membudaya. Zaman itu HP belum familiar, dan kalaupun satu-dua ada yang memiliki bentuk fisiknya masih ‘raksasa’ dengan antena menjulur tinggi. HP model seperti itu, andai untuk menimpuk seekor anjing saja dipastikan si anjing akan langsung terkapar. Alat komunikasi yang dimiliki fungsionaris PB HMI masa itu paling banter hanya penyeranta (pager). Penyeranta itupun masih merupakan barang mewah, di mana hanya satu-dua fungsionaris yang memiliki.

Untuk komunikasi ke daerah (alumni, pacar, badko, hmi cabang) rata-rata fungsionaris PB HMI kala itu memanfaatkan fasilitas warung telekomunikasi di Jalan Cilacap Menteng. Sedangkan segelintir fungsionaris yang memiliki ‘hak istimewa’ memakai telepon tetap yang dimiliki PB HMI. Sementara itu, untuk komunikasi lokal (Jakarta dan sekitar), sebagian besar fungsionaris PB HMI memanfaatkan fasilitas telepon umum koin logam Rp 50 atau Rp 100 yang terletak di depan faviliun PB HMI (Jalan Lembang). Atau dengan memakai telepon tetap PB HMI yang sudah dikerangkeng khusus dan dilengkapi kotak koin. Jadi dengan memasukkan koin pada telepon berkerangkeng tersebut, barulah bisa tersambung.

Nah, soal telepon tetap berkerangkeng kepunyaan PB HMI ini, ternyata pengamatan saya menunjukkan kader-kader HMI itu sangat kreatif. Entah bagaimana mengakalinya, walau nomor telepon yang akan diputar sudah digembok dengan sejenis plastik tertentu atau mika di atasnya, kadang diotak-atik pakai kawat, bobol pula sistem pengamannya. Dan melengganglah si kader HMI bicara memakai telepon tersebut. Perlu diketahui, pesawat telepon yang digunakan yakni model klasik dengan cara memutar nomor-nomor tertentu dan hanya ada satu nada dering: kriiiiiiiiing.

Berdasarkan pengamatan saya selama PB HMI kurun waktu 1992-1997, Pemegang Rekor Bicara Terlama Telepon Umum di depan faviliun PB HMI Jalan Lembang tiada lain adalah saudara Umar Husin. Dia pernah memegang jabatan di PB HMI sebagai Wakil Sekretaris Jenderal, dan kemudian Ketua Bidang Perguruan Tinggi Kemahasiswaan (PTKP). Perlu pembaca ketahui, Umar Husin adalah alumnus Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang Jawa Timur. Ia pernah menjadi Ketua Umum HMI Cabang Malang sebelum merintis karier lebih tinggi lagi di PB HMI Jakarta. Profesinya kini adalah seorang pengacara. Salah satu kliennya adalah grup musik Dewa pimpinan Ahmad Dhani.

Kalau saudara Umar Husin sudah nangkring di box telepon umum, ada semacam peraturan PB HMI tak tertulis bahwa fungsionaris lainnya ‘dilarang’ mengantri di belakang beliau. Mau nekad antri? Boleh saja. Namun ada konsekuensinya. Disamping menunggu lama, si pengantri pun harus rela coin yang sudah disiapkan ‘dipinjam’ saudara Umar. Baik yang mengantri itu HMI wan maupun HMI wati.

Lha wong saya sendiri tidak ikut ngantri di belakang saudara Umar saja kena bagian, apalagi yang ikut antri. Ceritanya, suatu malam setelah menemui alumni, turun dari mercedez-benz (Bus PPD 213 Jurusan Kampung Melayu-Grogol bermesin mercedes-benz) di halte dekat kantor PB HMI melintaslah saya di samping saudara Umar yang tengah asyik menelepon. Dengan raut muka berseri ia tak segan langsung todong, “Hai Dwiki, pinjam koinnya!” Kebetulan di saku celana masih ada beberapa koin, mana berani saya menolak senior yang satu ini….

Mereka yang sudah tahu ‘tabiat’ saudara Umar ini pasti menyingkir teratur. Mereka menggerombol cakap-cakap di sebuah warung kecil tak jauh dari box telepon umum itu, sembari sesekali mengawasi selesainya saudara Umar menelepon. Soal durasi, kadang hingga satu jam lebih saja saudara Umar ini kuat bercuap-cuap di pesawat telepon umum. Entah pada siapa ia menelepon dan apa saja yang dibincangkan, jelas bukan urusan saya.

Di atas segalanya, saya tetap bangga memiliki seorang teman dan senior HMI semacam saudara Umar Husin ini. Walau di Kongres HMI Yogyakarta 1997 saya tidak tergabung dalam tim suksesnya, hingga kini ia tetaplah Umar seperti yang saya kenal dulu. Lugas, setia kawan, dan  tanpa basa-basi. Setiap kali bertemu tidak sengaja dalam forum apapun dengan dia, kadang saya belum menjulurkan tangan padanya saja ia sudah teriak keras, “Hai Dwiki. Gimana kabanya?” Malu juga sih rasanya disapa demikian. :)

*****

Sumber Gambar: http://archieobject.wordpress.com

About these ads

Tentang Dwiki Setiyawan

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Tulisan ini dipublikasikan di Jejak Langkah dan tag , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Kisah PB HMI: Pemegang Rekor Bicara Terlama Telepon Umum

  1. ramdansyah berkata:

    mas dwiki, ada yang menelpon berlama-lama di telpon kerangkeng pb hmi lantai 2 dan ada yang menunggu telpon berlama lama di pb hmi (lantai 1 atau 2 ini no pb hmi dulu 3150351 satu lagi saya lupa) untuk terima telpon dari perusahaan/alumni/donor untuk ambil duit…padahal yang disuruh datang adalah bendum…xixixixixxixi, coba sebutkan siapa dwiki yang berlama-lama nunggu bunyi telpon? ha ha ha ha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s