Dua hari lalu, tatkala menarikan jari-jemari di atas papan ketik untuk membuat postingan Titip Rindu Buat Ibuku di Kompasiana, tiba-tiba aku menangis. Tak terasa air mata yang lama tersimpan meleleh di pipiku. Seorang teman yang memperhatikan aktivitasku sampai terbengong-bengong, dan lirih menanyakan, “Mengapa mas menangis?” Jawabku singkat, “Ingat ibuku.”
Aku tiba-tiba menangis, lantaran tengah menggoreskan kenangan bersama ibu dari sesobek catatan masa kecilku. Aku memang hanya mengenal tak seberapa lama akan sosok ibuku. Mengenal singkat kebahagiaan yang pernah ia reguk, tetapi juga terentang cukup lama penderitaan yang ia alami karena penyakit yang dideritanya. Hingga akhirnya ia menghadap ke haribaan-Nya. Suatu episode hidup yang selalu terkenang-kenang dan sulit dilupakan.
Tentang sosok ibu sendiri, penyair Kahlil Gibran pernah menulis esai singkat menawan. Menurut Gibran, kata terindah yang terucap dari bibir manusia adalah ibu, dan panggilan yang terindah adalah ibuku.
Selanjutnya dikatakan, ibu adalah segalanya –dia adalah penghibur kita dalam sedih, harapan kita dalam susah, dan sandaran kita tatkala lemah. Ia tandaskan, dia adalah sumber cinta, kebaikan, simpati, dan maaf. Orang yang kehilangan ibu akan kehilangan sebuah jiwa murni yang senantiasa menjaga dan memberkati.
Di akhir esainya, Gibran melukiskan dengan indah akan sosok ibu, “Dan ibu, teladan segala keberadaan, adalah jiwa abadi, penuh dengan cinta dan keindahan… Kata ibu tersembunyi di dalam hati, dan ia keluar dari bibir di saat-saat sedih atau bahagia laksana harum yang keluar dari jantung bunga-bunga yang merekah dan merebak, tatkala terang atau cuaca mendung, di udara.”
Dengan demikian, jika tiba-tiba aku menangis tatkala menulis Titip Rindu Buat Ibu, maka itu sesuatu hal yang manusiawi. Begitulah kiranya….
*****
Sumber Gambar: http://www.free-extras.com
Terharu saya membaca isi postingan ini. Boeh minta alamat email mas dwiki, saya mau kirim naskah buku yuk kita ngeblog!
salam
Omjay
thanx buat…crita mengharukan ini…
Titip Rindu Buat Ayah juga…..
mengharukan…………………..
betapa terkadang kita lupa pada orang tua yang telah membesarkan kita dengan kasih……
Saya juga terharu saat membaca isi postingan ”Tiba-tiba Aku Menangis” ini, karena teringat ibundanya yg tlah tiada. sy teringat almarhum kedua ortu sy. Ayah wafat saat sy umur 4 tahun, dan ibu wafat saat sy umur 34 tahun. Yah… itulah HIDUP, tiada yg abadi di dunia ini. Tapi kita tidak boleh meratapi itu, walau kadang berat. utk itu saya menulis puisi saat keduanya telah tiada. Banyak cara untuk menyenangkan mereka di alam akhirat, yaitu dengan cara kita mencari ilmu yang bermanfaat untuk kemaslahatan orang banyak. Wallahu alam. salam
HIDUP & ILMU
By Mejaya
Hidup terkadang tidak indah,
Namun karena kita sebagai peziarah di dunia ini,
Maka janganlah termangu di gerbangnya
Renggutlah, bawalah sesuatu yang dapat dipikul berkelana
Itulah ilmu yang bermanfaat
Malang, 1-1-1995
Menagis boleh tapi jangan meraung-raung… ya.
pernah ke jadian hal mengutuk anaknx gara2 orang tuanx kerap d sakitin anaknx.rasa tak kuat dengerin anak lantas ia pergi am kekasihnx entah tak tau kemana.orang tuanx udah trlanjur mengutknx ap dia slamat atau tdak ia tak pulang2 dan gak ad kabrnx