Sikap Orang Tua Ketika Prestasi Belajar Anak Menurun


Tulisan ini merupakan pengalaman di keluarga saya secara pribadi. Mohon maaf kepada pembaca apabila kurang berkenan di hati. Pun maksud saya menulis juga sekedar berbagi. Dengan harapan apabila bermanfaat bagi pembaca dapat dijadikan pelajaran, dan kalau kurang berfaedah bisa diperdebatkan.

Pada kenaikan kelas sekitar Juli 2009 lalu, anak pertama yang masuk peringkat pertama tahun sebelumnya melorot di peringkat ketiga ketika naik kelas VI SD. Sementara anak kedua tetap bertahan di peringkat pertama kala naik kelas IV SD.

Perlu saya informasikan kepada pembaca bahwa soal peringkat-peringkat ini, di SD Islam PB Soedirman Cijantung Jakarta Timur  tempat anak menuntut ilmu tidak diumumkan kepada wali murid. Atau tercantum di buku raport. Namun orang tua bisa mengaksesnya berdasar info dari pembicaraan dengan wali kelas. Di SD tersebut yang ada hanya publikasi hasil mid semester dan semester para siswa satu kelas.

Bagaimana sikap saya selaku orang tua menghadapi sikon dua anak yang berbeda prestasi belajarnya itu? Lantaran bersama istri sudah sepakat bahwa prestasi belajar bukan segala-galanya maka sikap saya pun biasa-biasa saja. Seolah-olah tidak ada apa-apa. Membandingkan dihadapan anak bahwa yang satu mampu bertahan dengan prestasinya sedang yang lain tidak, jelas suatu sikap kurang bijak.

Alih-alih secara spontan saya menghardik si anak atau menunjukkan raut muka kurang puas. Hal itu tidak terlintas di pikiran. Sebagai penghargaan kepada mereka, malahan sejak kenaikan kelas itu, setiap akhir pekan hingga menjelang masuk tahun ajaran baru mereka saya ajak “rekreasi” sekalipun hanya di dalam kota. Antara lain ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII), mengunjungi Pekan Raya Jakarta (PRJ) dan keliling Jakarta “menikmati” bergonta-ganti busway hingga berlabuh di Monumen Nasional (Monas) untuk menyaksikan “air mancur bergoyang” pada Sabtu malam yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Di sela-sela acara keluarga itu tak lupa saya selipkan motivasi agar mereka belajar dengan lebih teratur lagi.

Karena menganggap bahwa prestasi bukan segala-galanya, saya juga berpandangan belum tentu seorang anak dengan prestasi menjulang tinggi di sekolah juga akan sukses kelak kemudian hari di tengah masyarakat. Dimana kompetisi tidak semata-mata didasarkan oleh nilai-nilai akademisnya. Ada banyak faktor yang mempengaruhi sukses atau tidaknya anak kelak, seperti: kemantapan dan kedewasaan emosi, kemampuan bekerjasama, jaringan dan kekentalan pertemanan, keahlian di bidang tertentu dan lain-lain.

Berpijak dari argumentasi di atas, saya juga tidak pernah mendatangkan guru les atau mengkursuskan ini-itu anak-anak dalam rangka mendongkrak prestasi belajarnya. Kecuali jika mereka memintanya.

Tetapi saya perhatikan, sepulang sekolah mereka sukanya main dengan teman-temannya. Ya sudah saya biarkan saja bermain hingga mereka puas dengan masa kecilnya. Kadang main sepeda-sepedaan keliling kampung, main tebak-tebakan, main petak umpet, main monopoli atau bekelen di rumah, dan akhir-akhir ini si anak nomor dua suka main layang-layang.

Disebabkan oleh suka bermainnya itu pula, tidak pernah terlintas pula agar mereka belajar di “kelas akselerasi” (kelas percepatan). Pihak sekolah pun setiap menjelang ajaran baru telah berkali-kali memberi surat edaran agar anak-anak saya mengikuti tes “kelas khusus” sebagai persiapan ke “kelas akselerasi”. Namun saya bergeming. Biarkan saja mereka di kelas regular. Tidak dikeja-kejar oleh menumpuknya pekerjaan rumah (PR) atau jam sekolah yang agak panjang (pulang jelang petang) seandainya mereka di “kelas akselerasi”.

Belajar di rumah pun belum tersruktur dan disiplin. Hanya yang membedakan dengan anak-anak seusianya di lingkungan tempat tinggal, ketiga anak saya (bungsu belum sekolah) gemar membaca buku. Tugas saya selaku orang tua adalah bagaimana caranya menyediakan sarana agar minat membaca anak senantiasa terpenuhi. Beberapa buku bagus semacam “Kamus Visual” (tebal banget dan berat berkilo-kilogram) beberapa halaman sobek-sobek saking seringnya dibaca. Mereka juga saya sediakan beberapa versi buku “Ensiklopedia Pelajar” yang didapatkan melalui pembelian kredit.

Satu hal lagi, semenjak balita kesemua anak saya itu rutin saya ajak ke toko buku di Graha Cijantung yang dekat dengan rumah. Awalnya hanya ada satu toko buku, yakni “Kharisma” dan kini bertambah satu lagi yang lebih besar dan lengkap, yaitu toko buku “Gramedia”. Setiap tahunnya pula, apabila ada pameran buku di Istora Senayan atau JCC, mereka saya perkenalkan dengan lingkungan buku semacam itu.

Akhir-akhir ini mereka suka mengisi teka-teki silang (TTS). Kalau ada pertanyaan TTS soal padanan kata Indonesia dalam bahasa Inggris, maka ia cepat-cepat berebut membolak-balik Kamus Bahasa Indonesia-Inggris karya John M. Echols dan Hassan Shadily terbitan Gramedia. Sedangkan bila pertanyaan TTS menyangkut pengetahuan umum, mereka mencarinya di “buku pintar” yunior maupun senior karya Iwan Gayo atau ensiklopedia pelajar. Buku-buku di atas memang saya tempatkan tersendiri yang gampang diraih tangan. Hingga sampul bukunya kumal dan beberapa halaman buku sobek.

TTS itu sendiri berasal dari harian Kompas edisi Minggu dan harian Suara Pembaruan (tiap hari ada, dan jawaban TTS di edisi hari berikutnya). Tidak berlangganan melainkan dibawakan dari kantor.

Oya, ada kebiasaan di keluarga yang sudah berlangsung bertahun-tahun bahwa pada pukul 18.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB pesawat televisi dimatikan kecuali bila esoknya hari libur. Sejauh ini konvensi tersebut masih dipatuhi. Maksud saya agar pada jam-jam tersebut digunakan untuk belajar, sekalipun pada kenyataannya mereka tetap masih suka bemain di rumah.

Jadi soal prestasi belajar anak di atas, bukan hal yang harus diburu-buru. Asalkan orang tua jeli dan mampu menyiapkan prasarana dan sarana yang disukai dan diminati anak, serta mendorong aktualisasi “bakat terpendam” anak, maka prestasi belajar dengan sendirinya akan mengikuti. Kalaupun bukan prestasi akademis yang diraih, ia akan mampu menyabet prestasi-prestasi lainnya. Umpamanya di bidang olah raga tertentu, keahlian tertentu dan sebagainya.

Apa yang saya paparkan di atas, belum tentu suatu jaminan bahwa saya selaku orang tua berhasil mendidik anak. Perjalanan waktu yang akan menjawabnya. Saya menyadari bahwa setiap anak yang terlahir ke dunia ini memiliki karakteristik unik. Berbeda antara satu anak dengan anak lainnya.

Oleh karena itu, misi sebagai orang tua kepada anaknya adalah bagaimana ia kelak menjadi dirinya sendiri. Bukan fotocopy orang tua atau ia menjadi sesuatu karena kemauan dan ambisi orang tuanya.

sumber foto: klik sini

******

About these ads

Tentang Dwiki Setiyawan

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Tulisan ini dipublikasikan di Jejak Langkah dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s