Dari Situs Sebelah: Rahasia Menghitung Cepat Perkalian Dua Digit Angka

BERSELANCAR di blantika maya asalkan kita tidak tersesat di jalan yang salah, akan mendapat banyak ilmu yang tidak kita duga sebelumnya. Salah satunya di situs seorang rekan blogger ini (klik sini). Darinya kita mendapat trik yang berguna cara penghitungan cepat perkalian dua digit angka dalam kurun waktu 3 detik. Buat pembaca yang memiliki anak usia sekolah SD, bisa dipraktekkan trik ini. Selengkapnya…

Berikut merupakan rahasia trik perkalian dua digit angka (contoh : 18 x 14 = ?). Dengan menggunakan trik ini maka Anda dapat mengetahui hasil dari perkalian tersebut kurang lebih tiga detik.

Mulai dari sekarang perkalian dua digit angka akan menjadi sangat mudah bagi Anda..tutorial berikut ini akan disertai dengan gambar–gambar sehingga Anda dapat dengan mudah untuk memahaminya…

Berikut ini triknya :

Misalkan perkalian 13 X 12 = ?

Penyelesaiannya :
1. Jumlahkan angka 2 + 13 = 15


2. Itu merupakan 2 digit jawaban akhir yakni 15

3. Langkah berikutnya adalah, kalikan angka 3 x 2 = 6


4. Jadi hasil totalnya 156, silahkan di cek menggunakan kalkulator yang ada.

5. Berikutnya lagi  contoh lain dengan dua digit angka kecil yang sama 13 X 13 = ?


Sedangkan selanjutnya,  jika angka perkalian digit kedua lebih besar dari 10, perhatikan baik – baik,

misal 16 X 12 = ?

1.Lakukan seperti biasa yakni 2 + 16 = 18


2. Kemudian kalikan angka 6 X 2 = 12 , angka 12 merupakan 2 digit angka sedangkan setelah angka 18 Cuma ada sisa 1 digit angka yang bisa di masukan..tulis angka 12, dimana angka 1 ada di atas angka 8 dan angka 2 di samping angka 8, seperti gambar berikut…


3. Sehingga hasil akhirnya adalah 192.

Sebagai contoh terakhir, misal 18 X 14 = ? Silahkan cerna gambar berikut ini :

Mudah bukan!

*****

Ramadhan 17 Agustus 1945 Kebetulan yang Patut Disyukuri

Kalender PakARFisika 1945

Kalender PakARFisika 19Kita sebagai bangsa terkadang memiliki ingatan pendek pada peristiwa-peristiwa penting masa silam yang telah turut mewarnai tonggak perjalanan bangsa ini. Bahwa Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia dari sebuah rumah di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Menteng Jakarta (kini berdiri Monumen Proklamasi di Jalan Proklamasi) pada 17 Agustus 1945 memproklamasikan kemerdekaan Indonesia semua orang sudah mahfum.

Disclosure: Tulisan berikut baru saya perbaiki kesalahan datanya Senin ini (15/8/2011). Namun tulisan yang sudah ada tidak ada penyuntingan sama sekali. Biarlah seperti adanya. Data yang benar mengenai 17 Agustus 1945 Masehi dalam tulisan yang anda baca nanti adalah bertepatan dengan 9 Ramadhan 1376 Hijriah. Mohon maklum adanya. Dan terima kasih buat teman-teman yang telah melakukan koreksi.

Sebagian pembaca juga sudah tahu (dan sebagian yang lain mungkin belum tahu), proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 tersebut bertepatan dengan bulan Ramadhan. Sebuah kebetulan yang patut disyukuri. Namun tahukah pembaca, momentum proklamasi itu ternyata jatuh pada hari Jum’at bertepatan dengan 17 Ramadhan!

Hari dan tanggal tersebut amat dimuliakan umat Islam. Terlebih lagi umat Islam di Indonesia ini sebagai penduduk muslim terbesar di dunia hingga saat ini. Lantaran hari Jum’at merupakan hari “ibadat” khusus kaum Muslim, karena pada hari itu kaum muslim berkumpul di masjid-masjid untuk melaksanakan Shalat Jum’at secara berjamaah. Untuk bersilaturahmi sekaligus mendengarkan pesan-pesan kebajikan khatib yang salah satunya pesan wajib berupa ajakan agar manusia senantiasa bertaqwa.

Sementara itu malam 17 Ramadhan bagi umat Islam dikenal sebagai Nuzulul Qur’an, yakni malam turunnya wahyu pertama Kitab Suci Al-Qur’an.

Sebagai pengingat-ingat, pemerintah Indonesia dalam rangka memperingati momentum proklamasi kemerdekaan 17 Agustus membangun masjid megah dengan nama Masjid Istiqlal, yang berarti kemerdekaan. Bahkan ada cerita bahwa tinggi menara Masjid Istiqlal sama dengan ayat dalam Al-Quran yang berkenaan dengan peristiwa Nuzulul Quran pada 17 Ramadhan.

Pembaca juga tidak akan pernah mendapatkan data penting soal persitiwa 17 Agustus 1945 yang bertepatan dengan 17 Ramadhan di buku-buku sejarah kontemporer Indonesia manapun. Salah satu contohnya yang saya miliki, buku karya M.C. Ricklefs “Sejarah Indonesia Modern 1200-2008” yang diterbitkan PT Serambi Ilmu Semesta Cetakan I: November 2008. Momentum menjelang dan pelaksanaan proklamasi 17 Agustus 1945 pada halaman 444 dan 445 hanya ditulis ala kadarnya.

Alih-alih Ricklefs penulisnya menyinggung soal kebetulan (accidental) proklamasi tersebut yang bertepatan dengan hari Jum’at dan 17 Ramadhan dimaksud. Kita lupakan saja soal Ricklefs itu. Selanjutnya, pesan penting apa yang  dapat kita petik dengan momentum proklamasi 17 Agustus 1945 yang jatuh pada 17 Ramadhan tersebut?

Sejatinya hari kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 tepat pada 17 Ramadhan memiliki nilai intrinsik yang harus dipahami sebagai sebuah peristiwa kebetulan. Namun, yang demikian itu harus juga diyakini sebagai hal yang sudah menjadi rencana Tuhan. Sebagai sebuah grand design-Nya.

Prof DR Nurcholish Madjid, dalam sebuah tulisannya mengemukakan bahwa hal-hal yang bersifat kebetulan dalam kacamata manusia, namun sebenarnya merupakan rencana Tuhan, banyak terjadi sepanjang sejarah manusia, seperti peristiwa dibuangnya Nabi Ismail a.s bersama ibunya Siti Hajar ke Mekkah, yang kemudian menemukan sumur Zam-Zam.

Sumur itu ternyata dibuat oleh Nabi Adam dan Siti Hawa. Dengan demikian, kejadian tersebut merupakan kejadian yang bersifat kebetulan, namun memiliki arti karena sebenarnya sudah menjadi rencana Tuhan –seperti nilai kesinambungan risalah Illahi (lihat Nurcholish Madjid, 30 Sajian Ruhani: Renungan di Bulan Ramadhan, Penerbit Mizan Cetakan I, Ramadhan 1419/Desember 1998)

Sebagaimana kita ketahui wahyu pertama kepada Nabi SAW yang turun pada malam 17 Ramadhan tersebut yakni Surat (96)  Al-‘Alaq ayat 1-5, “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menjadikan. Yang menjadikan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu teramat Mulia. Yang mengajarkan dengan pena (baca tulis). Mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Oleh karena itu, pesan penting secara tersirat dari momentum proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 yang bertepatan dengan 17 Ramadhan atau peristiwa Nuzulul Qur’an di atas, yaitu agar bangsa Indonesia menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi agar ia bisa mengejar ketertinggalan dengan bangsa-bangsa lain yang telah maju sebelumnya.

Kata “bacalah” dari Surat 96 Al-Qur’an itu bisa kita tafsirkan sebagai perintah kepada manusia agar “membaca” segala sesuatu hal-hal dari yang tidak diketahui sebelumnya. Ia bisa ditafsirkan pula sebagai perintah agar manusia melakukan penelaahan terhadap setiap fenomena yang terjadi dan mengambil manfaat darinya demi kemaslahatan bersama.

Merujuk kepada pernyataan Nurcholish Madjid di atas, bahwa hal-hal yang bersifat kebetulan dalam kacamata manusia, namun sebenarnya merupakan rencana Tuhan. Dengan demikian sebuah “pesan tersembunyi”  momen 17 Agustus 1945 yang bertepatan dengan 17 Ramadhan itu yakni agar bangsa Indonesia dengan populasi penduduk muslim terbesar di dunia ini tampil sebagai bangsa yang disegani  dan mercusuar bagi bangsa-bangsa lain lantaran penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologinya. Semoga saja.

*****


Hukum Mencium Pasangan Saat Berpuasa

ISLAM sangat menjaga keutuhan dan keabadian cinta dan kasih sayang antara suami dan istri. Suami dan istri yang saling menyayangi cenderung mencium pasangannya dalam setiap kesempatan. Seperti, saat pasangannya akan berangkat kerja, pulang kerja, bangun tidur, dan sebagainya. Pertanyaannya sekarang, bagaimana hukum mencium pasangan ketika berpuasa?

Aisyah pernah ditanya tentang masalah ini. Ia adalah istri yang paling dicintai Nabi Muhammad SAW. Ia menjawab, “Ketika berpuasa, Rasulullah SAW pernah mencium salah satu istrinya.” Kemudian Aisyah tersenyum. Demikianlah penuturan Muslim dalam Shahih-nya.

Kalangan ulama menerjemahkan senyuman Aisyah sebagai rasa malu karena dialah istri yang dicium Nabi SAW. Terpaksa Aisyah menjawab masalah tersebut guna menyampaikan pandangan Islam dalam masalah mencium pasangan ketika berpuasa.

Namun, Aisyah menyebutkan hadis lain perihal mencium pasangan ketika berpuasa. Aisyah berkata, “Rasulullah SAW pernah menciumku ketika berpuasa. Siapakah di antara kalian yang dapat menguasai nafsunya sebagaimana Rasulullah?”

Dari sini sebagian ulama menyimpulkan bahwa ketika berpuasa, setiap muslim sebaiknya tidak mencium pasangannya dan tidak meyakini bahwa dirinya sanggup melakukan itu tanpa diiringi syahwat.

Syafi’i ra berpendapat bahwa mencium pasangan ketika berpuasa tidak haram bagi yang mampu mengendalikan nafsunya. Tetapi, Syafi’i memberi catatan, “Lebih baik lagi jika tidak melakukannya.”

Ibnu Abbas, Abu Hanifah, dan Auza’i mengatakan bahwa bagi suami yang masih muda, mencium istrinya ketika berpuasa adalah makruh. Namun, bagi yang sudah di atas usia lima puluhan tidaklah demikian, karena dianggap mampu mengontrol gejolak nafsunya.

***

Untuk memperkaya khazanah pengetahuan mengenai pokok bahasan di atas, saya akan mengutip beberapa tanya-jawab dalam buku Panduan Berpuasa bersama Quraish Shihab. Petikannya sebagai berikut:

Teman saya seorang laki-laki warga Eropa. Waktu bertemu setelah sekian lama tak berjumpa, tiba-tiba ia mencium saya, padahal saya sedang berpuasa. Batalkah ibadah puasa saya? Ciuman tidak membatalkan puasa, tapi anda berdosa, karena dia bukan suami anda.

Batalkah puasa saya jika melihat aurat istri sendiri? Tidak batal melihat aurat istri sendiri selama tidak terangsang (keluar sperma).

Saya terbiasa mencium istri sebelum berangkat ke kantor. Bolehkah hal itu saya lakukan selama berpuasa, mengingat itu saya lakukan tanpa syahwat, tetapi sekedar menunjukkan kasih sayang? “Rasulullah SAW mencium istrinya sewaktu berpuasa,” demikian dituturkan Aisyah, istri Nabi SAW. Ini karena beliau dapat mengendalikan diri. Tetapi, bila anda pengantin baru, atau tak dapat mengendalikan diri, maka sebaiknya mencium istri dihindari pada siang hari. Namun jika terkendali, maka niatkanlah mengikuti Rasulullah, agar ciuman anda memperoleh nilai tambah.

Jika mimpi hubungan suami-istri di siang hari apakah membatalkan puasa, apa dendanya, dan bagaimana membayarnya? Allah tidak menjatuhkan sanksi menyangkut sesuatu yang berada di luar kemampuan seseorang, seperti mimpi berhubungan seks walau keluar sperma atau bukan dengan istrinya. Puasa yang bersangkutan tetap tidak batal.

Apakah boleh suami istri yang musafir bersetubuh di siang hari? Apakah larangan karena puasanya atau bulannya? Makan, minum dan bersetubuh terlarang bagi yang berpuasa. Musafir yang memenuhi syarat boleh tidak berpuasa, sekaligus tidak terlarang baginya ketiga hal tersebut. Karena larangannya itu bukan karena bulannya. Malam bulan puasa pun, termasuk bulan Ramadhan, tetap boleh makan, minum dan hubungan seks. Kendati demikian Ramadhan adalah bulan suci, serta bulan rohani, penghormatan akan kesuciannya mengundang saya berkata: Jangan lakukan! Apalagi izin tidak berpuasa bagi musafir antara lain karena masyaqqah, keletihan dan kesulitan akibat perjalanan. Apakah dia tidak letih sehingga akan bersebadan.

*****

Sumber Foto: klik sini

Referensi:

Ensiklopedi Tematis Al-Qur’an, Jilid 1, Editor Dr Ahsin Sakho Muhammad… [et.al] Jakarta: PT Kharisma Ilmu, 2005

Panduan Puasa Bersama Quraish Shihab, Penyunting Ikhwanul Kiram dan Yayat Supriyatna, Jakarta: Penerbit Republika, Cetakan 1, November 2000

Deklamasi Lupa

Deklamasi Lupa Kenangan Tak Terlupakan. Ini cerita agak konyol diri saya sendiri yang terjadi lebih dari seperempat abad silam. Di awal tahun 1980-an. Tepatnya tatkala saya duduk di kelas I SMP Negeri I Godean Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dalam rangka perpisahan dengan kakak-kakak kelas III, pihak SMP Negeri 1 Godean menyelenggarakan acara pentas seni. Tempatnya di aula sekolah. Dikatakan aula dalam arti sebenarnya tidak juga, karena itu tiga ruangan kelas yang sekat-sekatnya dibongkar hingga jadilah sebuah aula.

Di kelas 1-A, ada dua orang murid yang menyukai sastra dalam hal ini puisi. Yang pertama Titik Ruwandhani (panggilannya Danik), dan yang kedua saya sendiri. Si Danik yang anak guru di SMP Negeri 1 Godean tersebut merupakan bintang kelas. Cantik, imut dan selalu juara kelas semenjak di sekolah dasar. Soal prestasi saya sendiri juga hampir menyamai Danik, juga juara 1 kelas saat SD di pelosok desa di Kabupaten Klaten Jawa Tengah semenjak kelas III, namun saat lulus SD Negeri 1 Ngolodono Karangdowo melorot di peringkat II.

Oya nyimpang dulu sedikit. Lantaran punya mental juara :) , tatkala mendaftar dua sekolah SLTP negeri di kota pelajar Yogyakarta masing-masing SMPN 1 Godean dan SMPN 2 Godean, dua-duanya diterima. Kala itu, untuk masuk sekolah negeri termasuk favorit di Kabupaten Sleman tersebut, saringan masuknya melalui tes tertulis.

Untuk tes tertulis masuk di SMPN 1 Godean tidak ada peristiwa berarti. Lancar dan biasa-biasa saja. Namun, saat tes tertulis di SMPN 2 Godean, para pengawas ujian kaget bukan main dan terlongo-longo karena kurang lebih setengah jam mengerjakan soal tes ujian masuk langsung saya tinggal pulang. Eh, “ndilalah” kok ya diterima.

Saat baca pengumuman masuk di SMP 2 Godean, rupanya ada seorang guru yang tempo hari sebelumnya jadi pengawas tes masuk masih ingat saya. Saya pun ingat dia. Entah apa yang dibicarakan, ia berbisik kepada seorang teman guru lainnya sembari menunjuk-nunjuk diri saya. Wah jadi “gegeden rumongso” alias geer.

Saya urungkan memilih di SMPN 2 Godean, dan pilihan dijatuhkan pada SMPN 1 Godean karena sekolah tersebut saat itu mensyaratkan saya yang lulusan SD di Klaten harus pakai “rekomendasi depdikbud” kabupaten segala untuk sekolah di SMP di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sementara di SMPN 1 Godean tidak ada persyaratan semacam itu.

***

Kembali ke fokus bahasan, acara pentas seni sekolah. Acara puncak pentas seni dalam rangka perpisahan kakak-kakak kelas III pun dimulai. Panggung acara tersusun dari meja-meja belajar siswa yang ditata sedemikian rupa, cukup tinggi yang sudah dihias warna-warni telah disiapkan.

Wakil kelas 1-A yang tampil mengisi acara deklamasi dua orang. Yang pertama naik ke atas panggung Danik. Ia dengan memukau membacakan sebuah puisi. Gadis mungil ini memang jagonya membaca sajak. Tangan kiri memegang lirik puisi. Sementara dengan vocal yang terukur, tangan kanan mengacung-acung dan terayun-ayun mengikuti alunan vokalnya. Di sampaing itu ekpspresi wajahnya pas dan selaras dengan puisi yang dibacakannya.

Setelah diselingi testimoni kakak-kakak kelas II, giliran saya naik pentas berdeklamasi. Saya akan mendeklamasikan puisi karya Sastrawan Angkatan 45 Chairil Anwar berjudul “Doa”. Dengan percaya diri saya langsung menuju mikropon di depan panggung. Saya menyapu audien di bawah panggung. Barisan paling depan kepala sekolah dan guru-guru. Sementara taman-teman kelas I bercampur baur dengan kakak-kakak kelas II dan III.

Lantaran ini namanya deklamasi, dengan sendirinya tanpa teks dan mengandalkan ingatan. Langsung saya deklamasikan sajak terkenal Chairil Anwar tersebut, “Doa… –kepada pemeluk teguh– karya Chairil Anwar Tuhanku (dua tangan saya tengadah)… Dalam termangu.”

Karena mendapat tepukan meriah dan melihat sepintas audien, sekonyong-konyong bait sajak berikutnya itu saya lupa. Berdiam saya di atas panggung mencoba mengingat-ingat kembali sajak yang sebelumnya sudah dihapal itu. Tetap lupa. Keringat dingin pun tanpa terasa membasahi tubuh. Seharusnya setelah kalimat “Dalam termangu” dilanjutkan kalimat “Aku masih menyebut nama-Mu” dan seterusnya.

Akhirnya, tanpa ba…bi… bu… saya langsung ngeloyor pergi meninggalkan panggung diiringi tawa berderai-derai dan tepuk tangan bergemuruh audien di seluruh aula. Langkah saya menuruni tangga panggung gontai dan malunya itu minta ampun!

Itu pengalaman tak terlupakan sepanjang hayat. Namun ada hikmahnya juga, di satu sisi saya jadi dikenal di SMP tersebut. Mulai dari guru-guru hingga anak-anak lainnya. Dikenal luas se-sekolahan lantaran Deklamasi Lupa syairnya itu. Sedangkan di sisi lain, bukannya kapok, peristiwa memalukan tersebut menumbuhkan rasa percara diri yang lebih kuat dan tetap tampil di acara spontanitas berikut-berikutnya.

Maju terus pantang mundur….


*****

Sumber gambar 1: klik sini

Sumber gambar 2: Facebook SMP N 1 Godean.

Dwiki Setiyawan, seorang Alumni SMP Negeri 1 Godean Sleman Yogyakarta.


Gagasan Memulai Tradisi Baru Acara Sahur Bersama

Buka Bersama Kaum Dhuafa di Masjid Istiqlal Jakarta (http://www.kabarindonesia.com)

Buka Bersama Kaum Dhuafa di Masjid Istiqlal Jakarta (http://www.kabarindonesia.com)

Ini sebuah gagasan (mungkin bukan baru) bagi ummat Islam di bulan Ramadhan. Yakni memulai sebuah tradisi baru menyelenggarakan acara sahur bersama. Sebagai sandingan –bukan tandingan lho– acara buka bersama yang acapkali diadakan selama ini oleh individu atau instansi tertentu selama kegiatan ibadah puasa.

Bagi pembaca yang tinggal di kota Jakarta, hampir semua orang yang menjalani ibadah puasa pernah ”tersiksa” berjam-jam terjebak kemacetan parah menjelang berbuka puasa. Maksud hati ingin berbuka bersama keluarga di rumah, karena terjebak macet, jadinya berbuka seorang diri, atau ditemani sopir pribadi saja.

Sedangkan yang pulang kerja naik angkutan umum, berbuka puasanya ditemani orang-orang yang tidak dikenal. Dengan diiringi ”alunan musik” deru kendaraan yang ingin saling berpacu atau bunyi klakson bertalu-talu..

Segendang sepenarian pula kejadian di atas  bila pembaca akan menghadiri suatu acara buka bersama yang digelar teman atau instansi tertentu.

Namun berbeda situasi dan kondisinya andai kita menghadiri acara sahur bersama. Kendala utama semacam kemacetan parah jalanan-jalanan Ibu Kota dimaksud akan sirna. Pembaca pun yang akan menghadiri acara sahur bersama dapat memperkirakan waktu yang akan ditempuh ke tempat acara.

Di samping soal kemacetan jalanan, nampaknya acara sahur bersama terkesan lebih syahdu dan santai ketimbang acara buka bersama. Syahdu dikarenakan situasi lingkungan tempat acara lebih sunyi, dan santai karena para peserta tidak perlu ”berebutan” menu-menu makanan yang disajikan tuan rumah. Berkali-kali saya lihat dalam suatu acara buka bersama, orang ”berebutan” menu makanan yang disajikan secara prasmanan. Soal terakhir ini tidak perlu disalahkan, lantaran orang yang menjalankan ibadah puasa memang telah seharian menahan lapar dan dahaga. Jadinya agak ”berebutan”.

Demikian sekedar gagasan. Semoga berkenan.

sumber foto: klik sini

*****

Menatap Wajah Sejarah Kemerdekaan Indonesia dalam Puisi dan Lukisan (1)

Cover Ketika Kata Ketika Warna Puisi dan Lukisan
Cover Ketika Kata Ketika Warna Puisi dan Lukisan

Works of arts in this collection is a mirror through which we look at and contemplate on the history of Indonesian independence. In Words In Colours, a collection of poetry and painting reproductions by 50 Indonesian poets and 50 painters, is a subtle expression depicting various phases of the life of the Indonesian people from pre-Independence up to the present. (Karya seni dalam kumpulan ini merupakan cermin tempat kita menatap dan merenungkan wajah sejarah kemerdekaan Indonesia. Buku ini,  Ketika Kata Ketika Warna yang merupakan kumpulan puisi dan reproduksi lukisan karya 50 penyair dan 50 pelukis tanah air, adalah ungkapan halus dan dalam yang bicara serta menggambarkan berbagai fase kehidupan manusia dan masyarakat Indonesia dari masa sebelum Proklamasi Kemerdekaan sampai kini).

Pembaca budiman. Apabila postingan spesial saya kali ini diawali dengan kalimat-kalimat berbahasa Inggris, itu bukan berarti saya mahir berbahasa asing tersebut. Melainkan memang, ini merupakan posting tentang sebuah buku yang diterbitkan dalam dwi bahasa, yakni bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Kalimat-kalimat pembuka posting di atas pun, saya kutip dari endorsement sampul buku bagian dalam.

Pada prakata penerbitnya, Yayasan Ananda, buku tersebut dimaksudkan agar dapat melintasi batas negara. Oleh karenanya pula, sengaja bagian pembuka postingan ini diawali dengan bahasa Inggris agar pembaca-pembaca non-Indonesia mengetahui pula bahwa ada sebuah buku kumpulan puisi dan lukisan yang dapat dijadikan referensi untuk menatap wajah sejarah Kemerdekaan Indonesia.

Buku Ketika Kata Ketika Warna ini sendiri diterbitkan pada 1995 dalam rangka memperingati setengah abad kemerdekaan Republik Indonesia. Penanggungjawab penerbitan, yakni Ati Ismail (istri Taufiq Ismail). Sebagai editor puisi, masing-masing: Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bachri dan Hamid Jabbar. Sedangkan bertindak sebagai kurator lukisan adalah Agus Dermawan T dan Amri Yahya.

***

Buku yang saya ‘miliki’ ini termasuk buku cukup langka di pasaran (kata miliki saya beri tanda koma atas karena di bawah nanti akan ada penjelasan seperlunya). Sebuah buku edisi cukup mewah lantaran judul sampul dan sisi-sisi bagain luar kertas isi buku berwarna keemasan serta bahan dasar kertas isi buku yang lain daripada yang lain. Saya sudah cukup lama mencari-cari buku ini di toko-toko buku besar, namun hingga kini belum menemukannya. Nampaknya ia dicetak dengan sangat terbatas.

Coba perhatikan scan gambar yang ditampilkan di sebelah kanan goresan kalimat-kalimat ini. Di situ tertulis “Sdr Anas dan Tia Selamat menempuh Hidup Baru Semoga Bahagia dalam ridha Ilahi. Dari Kel Taufiq Ismail. Tertanggal 10 Oktober 1999. Dan ditandatangani oleh Taufiq Ismail dan Ati Ismail”.

Hadiah Perkawinan Anas Urbaningrum dan Athia Laila dari Kel Taufiq Ismail
Hadiah Perkawinan Anas Urbaningrum dan Athia Laila dari Kel Taufiq Ismail

Yang dimaksud Anas disini adalah Anas Urbaningrum, saat itu Ketua Umum PB HMI Periode 1997-1999 dan kini Ketua Bidang Politik DPP Partai Demokrat. Sedangkan Tia, tak lain dan tak bukan panggilan istri Anas, Athia Laila. Sementara tanggal bulan dan tahun yang tercantum itu merupakan momen hari-H pernikahan Anas-Tia. Jatuh pada hari Minggu. Tanggal dan bulan tersebut dengan demikian merupakan hari ulang tahun perkawinan keduanya.

Jadi jelas sudah, buku ini bukan “milik” saya. Namun bagaimana ceritanya kok hingga buku “hadiah perkawinan” Anas Urbaningrum tersebut terbawa pulang ke rumah hingga sekarang ini saya juga masih bingung. Meminjam buku itu dari Anas rasanya tidak pernah saya lakukan. Yang paling mungkin, dan ingat-ingat lupa, saat saya aktif di PB HMI Periode 1997-1999 buku itu tergeletak di lantai 2 kantor PB HMI Jalan Diponegoro 16-A. Ketimbang dianggap sebuah buku biasa oleh teman-teman lain di kepengurusan periode itu, padahal isinya menurut saya luar biasa maka segera saya “amankan”.

***

Beberapa puisi yang tercantum dalam buku ini pernah saya publikasikan sebagian di blog personal. Bahkan dua buah puisi dalam buku ini, masing-masing berjudul “17 Agustus” karya Nursjamsu Nasution dan “Doa Terakhir Seorang Musafir” (The Last Prayer of an Adventurer) karya Hamid Jabbar, saya bacakan pada 16 Agustus 2009 lalu di acara Malam Renungan 17 Agustus Tingkat RT di GOR Kecamatan Pasar Rebo dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat.


17 Agustus

Karya Nurjamsu Nasution

Pada malam 17 Agustus

Pada Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia

Seorang muda bermimpi

Ia sedang mengerek Merah Putih ke atas

Tapi benderanya tak mau sampai ke ujung tiang

Dan bendera setengah tiang tanda berkabung bukan?

Sedangkan ia hendak merayakan Hari Kemerdekaan

Lalu dalam mimpi itu

Ia mengerek terus bendera itu

Ia mengerek terus Merah Putih itu

Ia mengerek terus

Ia mengerek terus

Sampai ia terbangun dengan rasa frustasi


Doa Terakhir Seorang Musafir

Karya Hamid Jabbar


Amin

Padang, 1975


Saran saya buat pembaca awam yang sedang kebingungan mencari puisi-puisi untuk dibacakan di acara bertema Hari Ulang Tahun Kemerdakaan Republik Indonesia, buku Ketika Kata Ketika Warna ini dapat dijadikan sebagai bahan rujukannya.

Lantaran sudah agak panjang, saya sudahi sementara dulu tulisan ini. Berikutnya nanti (Bagian 2), akan saya sajikan sekilas tentang judul-judul puisi dan lukisan pada buku yang tengah saya tinjau ini. Disertai nama-nama penyair dan pelukis yang karyanya termaktub di buku itu. Juga beberapa pilihan puisi dan lukisan lainnya.

Berikut empat buah repro lukisan masing-masing berjudul “Semangat 45″ karya O.H. Supono, “Di Pasar” karya Anak Agung Gde Sobrat, “Lelaki Tua dan Beban” karya Basoeki Abdullah dan “Suatu Hari Tanpa Hukum” karya S. Sudjojono. Semoga berkenan.


Repro Lukisan Semangat 45 Karya O.H Supono
Repro Lukisan Semangat 45 Karya O.H Supono

Repro Lukisan Di Pasar Karya Anak Agung Gde Sobrat

Repro Lukisan Di Pasar Karya Anak Agung Gde Sobrat

Repro Lukisan Lelaki Tua dan Beban Karya Basoeki Abdullah

Repro Lukisan Lelaki Tua dan Beban Karya Basoeki Abdullah

Repro Lukisan Suatu Hari Tanpa Hukum Karya S. Sudjojono

Repro Lukisan Suatu Hari Tanpa Hukum Karya S. Sudjojono

Bersambung Bagian 2

*****

Sikap Orang Tua Ketika Prestasi Belajar Anak Menurun

Tulisan ini merupakan pengalaman di keluarga saya secara pribadi. Mohon maaf kepada pembaca apabila kurang berkenan di hati. Pun maksud saya menulis juga sekedar berbagi. Dengan harapan apabila bermanfaat bagi pembaca dapat dijadikan pelajaran, dan kalau kurang berfaedah bisa diperdebatkan.

Pada kenaikan kelas sekitar Juli 2009 lalu, anak pertama yang masuk peringkat pertama tahun sebelumnya melorot di peringkat ketiga ketika naik kelas VI SD. Sementara anak kedua tetap bertahan di peringkat pertama kala naik kelas IV SD.

Perlu saya informasikan kepada pembaca bahwa soal peringkat-peringkat ini, di SD Islam PB Soedirman Cijantung Jakarta Timur  tempat anak menuntut ilmu tidak diumumkan kepada wali murid. Atau tercantum di buku raport. Namun orang tua bisa mengaksesnya berdasar info dari pembicaraan dengan wali kelas. Di SD tersebut yang ada hanya publikasi hasil mid semester dan semester para siswa satu kelas.

Bagaimana sikap saya selaku orang tua menghadapi sikon dua anak yang berbeda prestasi belajarnya itu? Lantaran bersama istri sudah sepakat bahwa prestasi belajar bukan segala-galanya maka sikap saya pun biasa-biasa saja. Seolah-olah tidak ada apa-apa. Membandingkan dihadapan anak bahwa yang satu mampu bertahan dengan prestasinya sedang yang lain tidak, jelas suatu sikap kurang bijak.

Alih-alih secara spontan saya menghardik si anak atau menunjukkan raut muka kurang puas. Hal itu tidak terlintas di pikiran. Sebagai penghargaan kepada mereka, malahan sejak kenaikan kelas itu, setiap akhir pekan hingga menjelang masuk tahun ajaran baru mereka saya ajak “rekreasi” sekalipun hanya di dalam kota. Antara lain ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII), mengunjungi Pekan Raya Jakarta (PRJ) dan keliling Jakarta “menikmati” bergonta-ganti busway hingga berlabuh di Monumen Nasional (Monas) untuk menyaksikan “air mancur bergoyang” pada Sabtu malam yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Di sela-sela acara keluarga itu tak lupa saya selipkan motivasi agar mereka belajar dengan lebih teratur lagi.

Karena menganggap bahwa prestasi bukan segala-galanya, saya juga berpandangan belum tentu seorang anak dengan prestasi menjulang tinggi di sekolah juga akan sukses kelak kemudian hari di tengah masyarakat. Dimana kompetisi tidak semata-mata didasarkan oleh nilai-nilai akademisnya. Ada banyak faktor yang mempengaruhi sukses atau tidaknya anak kelak, seperti: kemantapan dan kedewasaan emosi, kemampuan bekerjasama, jaringan dan kekentalan pertemanan, keahlian di bidang tertentu dan lain-lain.

Berpijak dari argumentasi di atas, saya juga tidak pernah mendatangkan guru les atau mengkursuskan ini-itu anak-anak dalam rangka mendongkrak prestasi belajarnya. Kecuali jika mereka memintanya.

Tetapi saya perhatikan, sepulang sekolah mereka sukanya main dengan teman-temannya. Ya sudah saya biarkan saja bermain hingga mereka puas dengan masa kecilnya. Kadang main sepeda-sepedaan keliling kampung, main tebak-tebakan, main petak umpet, main monopoli atau bekelen di rumah, dan akhir-akhir ini si anak nomor dua suka main layang-layang.

Disebabkan oleh suka bermainnya itu pula, tidak pernah terlintas pula agar mereka belajar di “kelas akselerasi” (kelas percepatan). Pihak sekolah pun setiap menjelang ajaran baru telah berkali-kali memberi surat edaran agar anak-anak saya mengikuti tes “kelas khusus” sebagai persiapan ke “kelas akselerasi”. Namun saya bergeming. Biarkan saja mereka di kelas regular. Tidak dikeja-kejar oleh menumpuknya pekerjaan rumah (PR) atau jam sekolah yang agak panjang (pulang jelang petang) seandainya mereka di “kelas akselerasi”.

Belajar di rumah pun belum tersruktur dan disiplin. Hanya yang membedakan dengan anak-anak seusianya di lingkungan tempat tinggal, ketiga anak saya (bungsu belum sekolah) gemar membaca buku. Tugas saya selaku orang tua adalah bagaimana caranya menyediakan sarana agar minat membaca anak senantiasa terpenuhi. Beberapa buku bagus semacam “Kamus Visual” (tebal banget dan berat berkilo-kilogram) beberapa halaman sobek-sobek saking seringnya dibaca. Mereka juga saya sediakan beberapa versi buku “Ensiklopedia Pelajar” yang didapatkan melalui pembelian kredit.

Satu hal lagi, semenjak balita kesemua anak saya itu rutin saya ajak ke toko buku di Graha Cijantung yang dekat dengan rumah. Awalnya hanya ada satu toko buku, yakni “Kharisma” dan kini bertambah satu lagi yang lebih besar dan lengkap, yaitu toko buku “Gramedia”. Setiap tahunnya pula, apabila ada pameran buku di Istora Senayan atau JCC, mereka saya perkenalkan dengan lingkungan buku semacam itu.

Akhir-akhir ini mereka suka mengisi teka-teki silang (TTS). Kalau ada pertanyaan TTS soal padanan kata Indonesia dalam bahasa Inggris, maka ia cepat-cepat berebut membolak-balik Kamus Bahasa Indonesia-Inggris karya John M. Echols dan Hassan Shadily terbitan Gramedia. Sedangkan bila pertanyaan TTS menyangkut pengetahuan umum, mereka mencarinya di “buku pintar” yunior maupun senior karya Iwan Gayo atau ensiklopedia pelajar. Buku-buku di atas memang saya tempatkan tersendiri yang gampang diraih tangan. Hingga sampul bukunya kumal dan beberapa halaman buku sobek.

TTS itu sendiri berasal dari harian Kompas edisi Minggu dan harian Suara Pembaruan (tiap hari ada, dan jawaban TTS di edisi hari berikutnya). Tidak berlangganan melainkan dibawakan dari kantor.

Oya, ada kebiasaan di keluarga yang sudah berlangsung bertahun-tahun bahwa pada pukul 18.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB pesawat televisi dimatikan kecuali bila esoknya hari libur. Sejauh ini konvensi tersebut masih dipatuhi. Maksud saya agar pada jam-jam tersebut digunakan untuk belajar, sekalipun pada kenyataannya mereka tetap masih suka bemain di rumah.

Jadi soal prestasi belajar anak di atas, bukan hal yang harus diburu-buru. Asalkan orang tua jeli dan mampu menyiapkan prasarana dan sarana yang disukai dan diminati anak, serta mendorong aktualisasi “bakat terpendam” anak, maka prestasi belajar dengan sendirinya akan mengikuti. Kalaupun bukan prestasi akademis yang diraih, ia akan mampu menyabet prestasi-prestasi lainnya. Umpamanya di bidang olah raga tertentu, keahlian tertentu dan sebagainya.

Apa yang saya paparkan di atas, belum tentu suatu jaminan bahwa saya selaku orang tua berhasil mendidik anak. Perjalanan waktu yang akan menjawabnya. Saya menyadari bahwa setiap anak yang terlahir ke dunia ini memiliki karakteristik unik. Berbeda antara satu anak dengan anak lainnya.

Oleh karena itu, misi sebagai orang tua kepada anaknya adalah bagaimana ia kelak menjadi dirinya sendiri. Bukan fotocopy orang tua atau ia menjadi sesuatu karena kemauan dan ambisi orang tuanya.

sumber foto: klik sini

******

Pesan-pesan di Dinding Facebooknya Kala Seorang Teman Wafat

Ikon Malaikat (www.luckyicons.com)

Ikon Malaikat (www.luckyicons.com)

Berdiri bulu roma saya tatkala menuliskan komentar di dinding Facebook-nya kala seorang teman, Yanuar Ahmad namanya, Yan panggilan akrabnya, wafat pada 11 Agustus 2009 lalu. Lantaran itu peristiwa pertama yang saya alami selama bergabung di jaringan FB.

Dengan rasa kehilangan saya lepas kepergian sahabat baik itu dengan ungkapan kata di dinding FB-nya, ”Yan, mata berkaca-kaca tika menggoreskan testimoni ini. Pertemuan terakhir di rumah Ahma Zabadi itu, rupanya pertemuan terakhir kita. Permintaan agar foto-foto di rumah Zabadi tersebut dipublikasi sudah aku lakukan beberapa waktu lalu. Menghadaplah saudaraku dengan tenang dihadapan-Nya. Aku ingat kata-kata filosof Schopenhauer, “Mengantuk nyaman, tetapi meninggal lebih nyaman, dan yang lebih nyaman dari segala yang nyaman adalah ketiadaan hidup.” Semoga dirimu nyaman dipangkuan-Nya.”

Sebelum saya menulis ”kata perpisahan” tersebut, sudah ada puluhan komentar serupa. Diantara komentar yang banyak itu akan saya pilih empat pesan perpisahan dari sahabat-sahabatnya berikut ini….

Rekan Narno Supangat menulis, ”Kanda Yanuar…Selamat Jalan… meski tdak sempat aku berucap, ajaran2-mu dalam blog “EDUM” yang selama ini kanda tulis tetap menghias aroma jalan pikiranku…selamat jalan kanda…Alloh selalu membingkai kekasih-Nya dalam dekapan yang Damai dan Sayang…Untuk mbak Hening, Alif, Gendhis Semoga Sabar dan Ikhlas…Amien.”

Selanjutnya, rekan Anna Febry menggoreskan kata-kata terakhirnya, “Selamat jalan Mas…makasih mas sempat mempertemukan aku dengan Dyah di FB, padahal mas sedang terbaring sakit. Sedihku kehilangan seorang kakak…mbak Hening akan mengenangmu sebagai suami yang baik dan penyayang..juga anak-anakmu yang selalu mengidolakan Bapaknya sampai kapan pun. Allah sudah memelukmu, menempatkanmu di tempat terbaik…doa dan airmataku mengantarmu….:).”

Sementara itu, rekan Roy Prawira ikut menyatakan dukanya, “Teman yang baik……kami kehilanganmu…..memang kita semua akan saling kehilangan…..namun tetap saja kepergianmu yang tiba-tiba menghadirkan kepahitan & kehampaan yang dalam…..kami ikhlas melepasmu namun kami tetap kehilangan…….selamat ja…lan teman…..semoga Pemilikmu menerima kembali dirimu dgn penuh kasih sesuai dengan sifat Rahman & Rahim-Nya…amin ya robbal alamin….”

Akhirnya, rekan Syipaul Arifin bersaksi, “Tinggi, besar, gelap, brewokan. Pada pandangan pertama, bisa jadi orang akan menilai dia adalah orang yang brangasan. Tapi setelah ngobrol, yang kelihatan adalah kelembutan hati. Bicaranya juga nggak menggelegar sebagaimana bodimu, walau kadang muncu…l kata ASU yang terpaksa, sebagaimana aku lihat di statusmu. Kepada teman-teman, juga juniormu, kamu sebarkan sayang. Selamat menempuh perjalanan baru, Mas, di Desa Gunung, Simo, Boyolali.”

***

Yang saya bayangkan, andaikata mengalami hal serupa: meninggal dunia. Apakah roh saya yang sudah keluar dari jasad itu dapat membaca pesan-pesan yang ditinggalkan para sahabat-sahabat tercinta? Wallahualam Bi Shawab.

Karena belum pernah mengalami kematian, terus terang saja untuk pertanyaan itu sulit dijawab. Hanya Tuhanlah yang tahu soal tersebut. Kalau seandainya saya bisa membaca pesan-pesan yang ditinggalkan para sahabat itu, berarti pula  roh saya bisa mengoperasikan komputer (menulis email berikut password untuk membuka akun FB)?

Namun demikian, bukan semata-mata itu persoalannya. Bagi kita sebagai salah seorang sahabatnya, menulis pesan di dinding FB itu sebagai sinyal dan bentuk perhatian tulus agar pihak keluarga yang ditinggalkan membaca pesan-pesan yang dituliskan itu. Sebagai bentuk perasaan ikut berduka cita.

Sejatinya pula, apabila dicermati pesan-pesan tersebut hampir 99 % berupa doa. “Saya turut berduka cita.” Lalu ditimpali kalimat berikutnya,  “Semoga arwahnya diterima disisi Tuhan, dan diberikan tempat baginya di surga….” Dan kalimat-kalimat sejenis lainnya.

Ada yang menarik perihal doa-doa yang kita panjatkan tersebut. Saya akan meminjam kata-kata bijak Bung Dadang Kadarusman (klik sini): Doa-doa yang kita panjatkan bagi seseorang yang meninggal sebetulnya bukan sekedar doa. Melainkan juga cita-cita kita. Kita ingin kembali ketempat yang layak di sisi Tuhan kelak. Makanya, aneh juga ya kita ini. Kita berdoa begitu untuk orang yang meninggal. Tapi, kita suka lupa bahwa doa itu hanya akan dikabulkan jika orang yang kita doakan memang orang baik.

Jika dia bukan orang baik; memangnya kita ini sesakti apa sehingga Tuhan mau mendengarkan doa kita? Apalagi jika doa itu kita ucapkan hanya sekedar basa-basi belaka.

Sebaliknya, orang-orang baik yang meninggal. Meskipun kita tidak berdoa kepada Tuhan supaya Dia memberinya tempat paling mulia: dia tetap saja akan mendapatkan tempat mulia itu. Sebab, memang dasarnya dia orang baik. Dan memenuhi syarat untuk mendapatkan kemuliaan disisin Tuhan. Semoga pula demikian halnya dengan sahabat baik yang telah wafat di atas.

Lantas, bagaimana seandainya yang mati itu bukan orang yang kita doakan; melainkan diri kita sendiri? Apakah doa orang lain akan sanggup merayu Tuhan supaya memberi kita tempat yang layak? Ataukah, perilaku baik kita selama hidup yang menentukan?

Pertanyan-pertanyaan terakhir ini sebagai pekerjaan rumah. Sebagai bahan refleksi. Untuk pembaca renungkan dan dicari sendiri jawabannya….

*****

Apa Lagi yang Kita Takutkan?

Apa Lagi yang Kita Takutkan? (dwiki dok)

Apa Lagi yang Kita Takutkan? (dwiki dok)

Setiap saat, maut senantiasa mengintai diri kita. Tatkala kita beraktivitas dalam keseharian di keramaian siang bolong maupun kala terlelap tidur di peraduan malam nan sepi.

Sang Malaikat Pencabut Nyawa pun tidak akan memilah dan memilih insan yang akan dipanggil ke haribaan-Nya itu berdasarkan strata sosial, suku bangsa, warna kulit, usia, jenis kelamin dan lain sebagainya.

Sebagai makhluk hidup ciptaan-Nya, ditegaskan bahwa sesuatu yang hidup itu pasti akan mati. Namun andaikata ditanyakan pada setiap manusia: apakah siap mati? Hampir sebagian besar menjawabnya belum siap.

Ditulisan blog personal (klik sini) , pernah saya kemukakan bahwa kematian memang suatu keniscayaan. Tatkala sang maut menjemput, maka tidak ada satu jiwa pun yang mampu menghalangi dan menghindarinya sejengkal pun.

Filosof Amerika kontemporer, Will Durant, menegaskan bahwa maut adalah asal-usul semua agama “Boleh jadi kalau tidak ada maut, Tuhan tidak akan mewujud dalam benak kita,” begitu ungkapnya dalam The Story of Civilization.

Fenomena maut adalah salah satu fenomena yang paling jelas dan kuat bagi makhluk hidup. Semuanya ingin mempertahankan hidup. Semut kecil yang diremehkan manusia pun, melawan jika hidupnya terancam.

Pun apabila kita berdiskusi dengan seseorang, pembicaraan soal kematian pastilah akan dihindari. Karena naluri dasar manusia, pastilah takut mendengar (dan apalagi menghadapi) kematian dengan segala alasan-alasannya.

Bagi seseorang yang yang takut menghadapi kematian, filosof Schopenhauer menghiburnya dengan berkata, “Mengantuk nyaman, tetapi mati lebih nyaman, dan yang lebih nyaman dari segala yang nyaman adalah ketiadaan hidup.”

Dalam ajaran Islam, ada sebuah doa yang kita anggap sepele padahal maknanya sangat mendalam. Doa ini hakekatnya tanpa kita sadari merupakan adanya kesadaran akan kematian. Sebagai orang tua, doa itu senantiasa kita ajarkan kepada anak-anak menjelang tidur, “bismika allahuma ahya, wa bismika ammut” (Ya Allah, dengan nama-Mu aku menjalani hidup, dan dengan namu-Mu pula malam ini aku mati).

***

Adapun soal mengenai kesiapan atau ketidaksiapan kita kembali ke pangkuan-Nya itu, terkait pula dengan pertanyaan fundamental klasik dalam terminologi filsafati populer: akan kemanakah kita?

Untuk menjawab  pertanyaan klasik menarik diatas, saya memperolehnya setelah membaca postingan inspiratif Bung Dadang Kadarusman di situs pribadinya (klik sini).

Dikemukakannya, bahwa seseorang yang memiliki sebuah tujuan jelas dalam hidupnya dipastikan akan menjawab pertanyaan di atas dengan sederet jawaban. Sebaliknya seseorang akan diam seribu bahasa dan gamang ketika pertanyaan yang sama itu diajukan.

Sebagai misal, kala kita tengah berada di persimpangan jalan dimana ada dua jalan bercabang yang harus dilalui dan harus memilih, seseorang yang tidak memiliki tujuan akan merasa bimbang di persimpangan itu.  Sementara seseorang yang telah memiliki tujuan jelas tidak mempedulikan jalan mana yang musti ditempuh. Ia akan mantap melalui satu diantara dua cabang jalan tersebut karena ia yakin tujuan yang telah ditetapkan dalam hatinya akan didapatkan.

Perlu  diingatkan pula, bahwa Tuhan Yang Maha Hidup menciptakan suatu makhluk dengan membekalinya tujuan tertentu. Oleh karenanya, kita perlu merenungkan diri tentang tujuan hidup itu. Mengapa demikian? Sebab tujuan hidup akan menentukan sikap dan tindakan kita dalam aktivitas keseharian.

Apabila tujuan hidup kita baik, dalam manifestasinya sikap dan tindakan yang terpancar juga baik. Dan sebisa mungkin seseorang yang memiliki tujuan hidup baik menghindarkan diri dari  sikap dan tindakan buruk. Yakni sikap dan tindakan yang bukan saja akan mencelakai diri sendiri maupun merugikan orang lain dan lingkungan sosialnya.

Seseorang insan yang memiliki tujuan baik ibaratnya ia telah memegang kompas dan peta perjalanan. Kedua perlengkapan itu yang akan memandu tujuan yang hendak ditempuh. Agar sikap dan tindakan yang dihadapi tidak melenceng dari tujuan baik yang digariskan. Tegasnya agar ia tidak tersesat dalam sebuah perjalanan.

Jika  bertujuan baik, niscaya sikap dan tindakan kita tidak akan pernah mengotori dengan senoktah iri di dataran  hati. Atau sesuatu yang merugikan orang lain dan hal-hal buruk lainnya.

Apabila seseorang lebih banyak bersikap dan bertindak buruk: mementingkan diri sendiri atau kelompoknya; menghalalkan segala cara dalam menggapai tujuan-tujuannya, maka bisa dipastikan orang tersebut merumuskan tujuan hidupnya secara buruk.

Dikatakan pula, selain memberi panduan, tujuan hidup juga memberi kekuatan jiwa  Jika sudah mempunyai tujuan mulia; maka kesulitan hidup macam apapun yang merintangi, pasti akan kita hadapi. Jadinya, kita tidak mudah menyerah. Karena kita tahu, meskipun sulit; tapi itu adalah jalan yang akan membawa kita menuju ke tempat yang kita tuju.

***

Setelah kita berkontemplasi sejenak mengenai kematian, kehidupan insan dan tujuan hidup: apa lagi yang musti kita takutkan?

Kita boleh takut manakala kedirian dan kehadiran di lingkungan sosial tidak memiliki arti bagi kemajuan masyarakat sekeliling. Tidak memberi nilai tambah bagi rekan-rekan, misalnya, dalam suatu aktivitas lingkungan kerja. Kita juga seharusnya takut, tatkala masa bodoh dan cuek dengan masalah-masalah sosial: kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan masyarakat sekeliling yang terpampang di depan mata.

Dalam konteks kehidupan kita bermasyarakat, berbangsa dan bernegara saat ini masalah kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan adalah sesuatu yang nampak jelas dan musti kita ikut serta mengentaskannya. Lantaran soal-soal itulah yang menjadi akar dan penyebab munculnya beragam ekspresi kekecewaan anggota masyarakat. Dengan beragam pula cara anggota masyarakat itu mengungkapkannya, mulai cara-cara beradab seperti demontrasi damai hingga cara biadab seperti teror pengeboman.

Tidak usah muluk-muluk teknis kita dalam ikut serta mengentaskan problema di atas. Apabila pembaca mampu secara finansial dan telah berkecukupan hidupnya, membantu pendidikan melalui beasiswa berkesinambungan pada anak-anak dan remaja putus sekolah keluarga kurang mampu merupakan pilihan bijak. Atau membantu usaha kecil-kecilan keluarga kurang mampu dengan modal usaha.

Namun, bagi kita semua ada cara yang lebih elegan.Yakni membagi (share) ilmu dan ketrampilan praktis yang kita miliki kepada anak-anak dan remaja dari keluarga kurang mampu itu.

Dengan cara-cara khas individu itulah, ada kebahagian yang dapat kita rasakan dalam mengarungi kehidupan fana ini. Karena dengan berbagi, kita memiliki misi dalam kehidupan.

Saatnya kita berbagi. Demi masa depan bangsa dan negara Indonesia, tanah air tercinta kita ini. Semoga saja.

*****

Hal-hal Baru UU MPR, DPR, DPD dan DPRD (3-Tamat)

Lanjutan Bagian 2 (klik sini).

Pada Bagian Penjelasan UU MPR, DPR, DPD dan DPRD dikatakan bahwa dalam rangka penguatan dan pengefektifan kelembagaan MPR, DPR, DPD, dan DPRD, terdapat penambahan, pengubahan penamaan (nomenklatur), dan penghapusan alat kelengkapan dalam rangka mendukung fungsi serta tugas dan wewenang kelembagaan tersebut. Silakan download format File Pdf UU yang telah disahkan DPR-RI pada 3 Agustus 2009 tersebut (klik sini).

Di MPR, alat kelengkapan Badan Kehormatan dihapus karena dipandang alat kelengkapan tersebut telah ada di lembaga DPR dan DPD yang anggotanya sebagai unsur MPR.

Di DPR dibentuk alat kelengkapan baru, yaitu Badan Akuntabilitas Keuangan Negara sebagai alat kelengkapan yang bersifat tetap yang berfungsi untuk menindaklanjuti laporan hasil pemeriksaan BPK dalam hal pengawasan penggunaan keuangan negara sehingga diharapkan keberadaan alat kelengkapan ini berkontribusi positif dalam pelaksanaan transparansi dan akuntabilitas penggunaan keuangan negara.

Selanjutnya, terdapat pula alat kelengkapan di DPR yang mengalami pengubahan nomenklatur yaitu Panitia Anggaran diubah menjadi Badan Anggaran, yang bermaksud untuk menegaskan alat kelengkapan tersebut bersifat permanen.

Di DPD pengubahan terjadi pada nomenklatur panitia ad hoc yang diubah menjadi panitia kerja, serta menghapus alat kelengkapan panitia kerja sama lembaga perwakilan.

Di DPRD terdapat penggantian nomenklatur panitia menjadi badan agar lebih jelas keberadaan kelembagaan politiknya, yaitu Panitia Musyawarah menjadi Badan Musyawarah dan Panitia Anggaran menjadi Badan Anggaran. Berkaitan dengan alat kelengkapan di MPR, DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota, perlu memperhatikan keterwakilan perempuan sebagai pimpinan alat kelengkapan.

Konteks penguatan DPRD dimaksudkan agar hubungannya dengan pemerintah daerah dapat berjalan secara serasi dan tidak saling mendominasi satu sama lain. Konteks penguatan ini secara kelembagaan dilaksanakan melalui keseimbangan antara mengelola dinamika politik di satu pihak dan tetap menjaga stabilitas pemerintahan daerah di pihak lain sehingga pola keseimbangan pengelolaan pemerintahan daerah yang dilakukan dapat memberikan manfaat secara signifikan bagi peningkatan kesejahteraan rakyat di daerah tersebut sehingga secara agregatif akan berkontribusi terhadap pembangunan nasional dan fundamental integrasi bangsa secara keseluruhan.

Hal penting lainnya yang menjadi perhatian adalah keberadaan sistem pendukung yang menunjang fungsi serta tugas dan wewenang MPR, DPR, DPD, dan DPRD. Perlunya dukungan yang kuat, tidak terbatas pada dukungan sarana, prasarana, dan anggaran, tetapi juga pada dukungan keahlian. Dengan demikian, perlu penataan kelembagaan sekretariat jenderal di MPR, DPR, dan DPD, serta sekretariat di DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota. Hal itu diwujudkan dalam pengadaan sumber daya manusia, alokasi anggaran, dan sekaligus pertanggungjawaban publik unit pendukung dalam menjalankan tugasnya.

***

Terkait penegakan disiplin dan kode etik, diuraikan mengenai pemberhentian sementara anggota DPR/DPRD yang menjadi status terdakwa karena alasan perkara tertentu dengan ancaman pidananya. Bagi anggota DPR yang terkena sanksi pemberhentian sementara, maka dirinya hanya menerima gaji pokok. Ketentuan mengenai pemberhentian sementara tersebut termaktub di Pasal 219.

Sedangkan ketika dinyatakan bersalah oleh pengadilan, anggota DPR itu dapat diberhentikan sebagai anggota DPR. Namun, ketika putusan pengadilan menyatakan anggota bersangkutan tidak terbukti melakukan tindakan pidana yang dituduhkan kepada dirinya, maka yang bersangkutan harus diaktifkan kembali dan semua haknya dipulihkan sampai berakhir masa jabatannya sebagai anggota DPR.

Anggota DPR diberhentikan antarwaktu (Pasal 213), apabila: a). Tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan tetap sebagai anggota DPR selama 3 (tiga) bulan berturut-turut tanpa keterangan apa pun; b). Melanggar sumpah/janji jabatan dan kode etik DPR; c). Dinyatakan bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih; d). Tidak menghadiri rapat paripurna dan/atau rapat alat kelengkapan DPR yang menjadi tugas dan kewajibannya sebanyak 6 (enam) kali berturut-turut tanpa alasan yang sah; e). Diusulkan oleh partai politiknya sesuai dengan peraturan perundang- undangan; f). Tidak lagi memenuhi syarat sebagai calon anggota DPR sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai pemilihan umum; g). Melanggar ketentuan larangan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini; h). Diberhentikan sebagai anggota partai politik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; atau i). Menjadi anggota partai politik lain.

Menyangkut kode etik, pada Pasal 195 ayat (1) dikatakan, “Anggota DPR yang diduga melakukan pelanggaran sumpah/janji, kode etik, dan/atau tidak melaksanakan kewajiban sebagai anggota diberi kesempatan untuk membela diri dan/atau memberikan keterangan kepada Badan Kehormatan.”

Hal-hal lain menyangkut  pengambilan keputusan di MPR yang saya janjikan pada tulisan Bagian 2, karena sesuatu dan lain hal tidak perlu saya uraikan. Pembaca dapat langsung melihat masalah tersebut pada Pasal 62 dan 63 UU dimaksud.

TAMAT.

*****