Refleksi tentang Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI)


Pengantar:                                                                                                                                                                                       Artikel berikut ditulis oleh Cendekiawan Muslim Almarhum Profesor DR Nurcholish Madjid atau Cak Nur, dan disampaikan pada Musyawarah Nasional IV KAHMI di Surabaya 14 Juli 2000. Sebagai bahan perenungan.

Khusus untuk alumni dan kader HMI, semoga arsip tulisan ini akan mampu menggugah kesadaran mengenai arti Keislaman dan Keindonesiaan yang tak terpisahkan itu.

Sekalipun ditujukan untuk kalangan intern alumni HMI, namun siapapun pembaca blog ini dari kalangan muslim yang pernah mengecap bangku perguruan tinggi patut menyelami pikiran-pikiran bernas dan cerdas ini. Selamat membaca.

Cak Nur koleksi foto by dwiki

Cak Nur koleksi foto by dwiki

Bagian Satu dari Dua Tulisan:

Untuk kesekian kalinya kita bertemu, saling tatap muka, dan saling mengenal kembali. Untuk kesekian kalinya pula kita berkesempatan secara bersama-sama merenung tentang diri sendiri, mempertanyakan kembali mengapa kita punya banyak alasan untuk saling berjumpa, dan apa sebenarnya yang mengikat hati dan pikiran kita.

Sudah tentu yang segera muncul dalam benak ialah, bahwa kita adalah sekumpulan orang dengan latar belakang pengalaman bersama yang sangat mengesankan, dan yang banyak sekali memberi bentuk dan warna kepada kepribadian kita masing-masing, yaitu pengalaman bergiat dalam HMI. Kedudukan kita sebagai mahasiswa telah lewat bertahun-tahun yang lalu, panjang dan pendek sesuai dengan riwayat hidup kita masing-masing, namun bekasnya dalam diri kita sedemikian mendalam, tidak mungkin terhapuskan lagi.

Tetapi marilah kita melakukan refleksi lebih jauh: Siapakah kita ini sebenarnya? Jelas kita adalah alumni. Namun, benarkah kita ini perwujudan tujuan dan cita-cita HMI, yaitu terbentuknya “Insan akademis, pencipta dan pengabdi yang bernafaskan Islam?” Masing-masing dari kita berhak memberi jawaban kepada pertanyaan serupa itu, baik positif “ya” ataupun negatif “tidak”. Yang dapat dideteksi dengan mudah, karena bersifat lahiriyah dan formal, ialah wujud kita sebagai “insan akademis” seperti, misalnya, melalui seberapa jauh kita telah menyempurnakan studi kita, apa gelar akademis yang kita sandang, dan bagaimana bentuk peran kita dalam lembaga-lembaga akademis atau ilmiah. Tetapi karena sifatnya yang lahiriyah dan formal, maka ukuran-ukuran itu tidak jarang hampa makna, tidak substantif. Lebih substanstif ialah hakikat diri kita masing-masing sebagai insan “pencipta dan pengabdi”, suatu gambaran tentang pribadi yang kreatif, berkomitmen dan berdedikasi kepada agenda hidup yang lebih besar. Indikasi-indikasinya tidak bersifat angka nyata, tidak quantifiable, sehingga juga tidak  mungkin jawabannya diberikan dalam bentuk kepastian “ya’ atau “tidak”, namun barangkali kita masing-masing dapat merasakan, atau “merasa” sendiri.

Walaupun begitu, justru dalam hal kreatifitas, komitmen dan dedikasi itulah terletak hakikat kedirian kita yang lebih mendalam. Kemudian jauh mendalam lagi ialah refleksi tentang wujud kita sebagai insan yang “bernafaskan Islam”. Mungkin saja kita akan kembali memperdebatkan  apa itu arti ungkapan “bernafaskan Islam”,  seperti dahulu, bertahun-tahun yang lalu, kita lakukan dalam latihan-latihan kepemimpinan Himpunan. Tetapi tanpa membuang waktu,  kita dapat merujuk kepada kepribadian pendiri dan penggagas berdirinya Himpunan, yaitu almarhum Profesor Lafran Pane. Kita berhak merasa beruntung mempunyai seorang tokoh pendiri yang kepribadiannya sedemikian luhur dan bersifat teladan. Maka dengan “membaca” kepribadian Pak Lafran, sudah jelas bahwa yang dimaksud dengan ungkapan “bernafaskan Islam” ialah seperangkat kualitas kepribadian yang sesungguhnya kita merasa seperti sudah tahu, yaitu “akhlak mulia”. Apalagi, sebagaimana sering diingatkan oleh para ulama dan muballigh, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa tujuan tugas suci beliau ialah menegakkan kesempurnaan akhlak mulia itu.

Dalam hal “nafas Islam” dengan substansiasi “akhlak mulia” itu kita benar-benar berhadapan dengan tantangan untuk menjawab pertanyaan diri dengan hati yang sejujur-jujurnya. Sebab kebohongan toh tidak akan berguna sama sekali, seperti disabdakan Nabi Muhammad SAW kepada Sahabat Wabishah, “Hai Wabishah, mintalah nasehat dirimu sendiri: kebajikan ialah yang hati tenteram kepadanya dan jiwa tenteram kepadanya; dan dosa ialah sesuatu yang bergolak dalam hati dan dada gundah-gulana karenanya, sekalipun semua orang mendukungmu.” (dari Hadits oleh Ahmad dan al-Darimi). Hal serupa juga terungkap dalam kalimat Abraham Lincoln yang terkenal, “You can fool some people all of the time, and all of the people some of the time; but you cannot fool all of the people all the time.”

Dalam rangka itu, dan dengan semangat introspeksi serta self-examination, sebaiknya kita bersama dalam kesempatan ini melakukan pertanyaan renungan seperti ini:

Pertama, seberapa jauh sebenarnya, dalam tindakan sehari-hari, kita tetap dalam kesadaran iman kepada Allah, meyakini kehadiran-Nya dalam hidup dengan segala kegiatan kita, percaya pada yang gaib dan pengawasannya. Penanyaan diri ini tetap harus senantiasa dilakukan, sekalipun kita telah hafal Rukun Iman pertama itu, dan merasa telah menjalankannya. Tetapi siapa tahu bahwa kita di Akhirat nanti ternyata tercatat sebagai orang kafir, karena dalam kegiatan sehari-hari kita menganggap, sadar atau tidak sadar, bahwa persoslan iman kepada Tuhan tidak relevan, dan yang relevan ialah persoalan kepentingan diri sendiri, self interest kita masing-masing.

Kedua, seberapa jauh, dalam tindakan sehari-hari, kita tetap dalam kesadaran tentang adanya kehidupan alam baka setelah mati, dalam Alam Akhirat, dengan adanya kebahagiaan abadi Surga atau kesengsaraan kekal Neraka. Atau sebenarnya kita memandang itu semua sebagai dongeng belaka, dan tidak perlu mempengaruhi tingkah laku kita?! Tentu tidaklah demikian itu. Sebagai Rukun Iman Kelima, Allah mewajibkan kita percaya kepada Hari Akhirat karena adanya Hari Akhirat itu sendiri memang benar-benar nyata , yang bagi manusia baru akan terbukti sesudah mati. Juga karena dengan percaya kepada kehidupan Hari Akhirat itu kita sekaligus terbimbing ke arah akhlak mulia di dunia, dengan menempuh hidup penuh tanggung kawab, “hidup sekali berarti dan sesudah itu mati,” dan “hidup di dunia fana penuh makna sebelum kembali ke alam baka.”

Ketiga, untuk kelengkapan refleksi itu, kita harus menyempatkan diri bertanya kepada diri sendiri dalam kerangka keseluruhan jiwa Rukun Iman: seberapa jauh dalam kegiatan sehari-hari kita benar-benar diliputi oleh jiwa dan roh keimanan kita kepada para malaikat, kitab-kitab suci, dan para nabi dan rasul, dan dengan penuh percaya serta berpengharapan kepada Allah berkenaan dengan segala sesuatu yang menimpa kita, karena yang lampau telah terjadi sebagai ketentuan Illahi, namun yang akan datang tetap terbentang dan terbuka bagi ikhtiar dan harapan.

bersambung ke Bagian Dua Klik Sini


About these ads

Tentang Dwiki Setiyawan

Simpel dalam menatap hidup dan menapaki kehidupan!
Tulisan ini dipublikasikan di Jejak Langkah. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Refleksi tentang Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI)

  1. HAJRIANA berkata:

    mengundang kakanda………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s