Feeds:
Tulisan
Komentar

Woman = Problems?

Perempuan sama dengan masalah? Saya pribadi jelas-jelas menyangkalnya. Namun demikian, kreativitas yang mungkin saja dianggap “pelecehan” berupa gambar berikut ini tidak perlu dipertentangkan. Sekedar posting hiburan di akhir pekan.

ooOOOoo

Woman=Problems?

Woman=Problems?

Oya, gambar di atas sudah cukup lama tersimpan di harddisk laptop, dan sayangnya saya sendiri lupa sumbernya. Mohon maaf.

ooOOOoo

Dwiki Setiyawan: Kerja Keras Adalah Energi Kita.

Kerja Keras Adalah Energi Kita

Kerja Keras Adalah Energi Kita

DALAM Ilmu Fisika, kerja dirumuskan sebagai besarnya gaya yang dikenakan pada suatu obyek dikalikan dengan dengan gerak obyek tersebut pada arah gaya itu. Ketika kerja berlangsung, terjadilah perpindahan energi kepada obyek tersebut. Jadi hakikatnya kerja adalah energi yang sedang mengalir. Atau dapat juga kita katakan sebagai energi yang sedang berlangsung (Jansen Sinamo: 2009).

Yang menarik dari pengertian fisika itu, gaya harus mengakibatkan terjadinya gerak. Jika geraknya nol maka kerjanya pun sama dengan nol. Jika anda menangkat tabung gas elpiji ukuran kecil, tetapi diam saja ditempat, biarpun kerja keras setengah mati, maka kerja anda sama dengan nol. Dengan kata lain, kerja harus mendapatkan hasil. Tidak ada kerja tanpa hasil nyata.

Manusia pun dipandang sebagai suatu sistem energi dimana manusia bisa bekerja menurut pengertian fisika di atas, yakni memindahkan energi dari dalam dirinya sendiri kepada obyek tertentu sehingga timbul hasil. Jika yang dikerahkan adalah energi biofisik maka dinamakan kerja fisik, Jika energi yang dilepaskan adalah energi biopsikis maka disebut kerja mental. Sedangkan jika energi yang dipancarkan energi spiritual maka dijuluki kerja rohani. Namun apabila kita mengharapkan suatu tujuan dengan capaian hasil tertentu, maka kerja yang dilakukan manusia haruslah menggabungkan dan menyelaraskan elemen energi fisik, psikologis dan spiritual itu. Ketiga elemen ini menyiratkan bahwa dalam bekerja kita menggunakan fisik, otak (intelektual) dan hati.

Senyawa ketiga elemen  itulah sesungguhnya yang kita namakan Spirit Kerja Keras Adalah Energi Kita. Karenanya pula, tidaklah berlebihan jika BUMN sekelas Pertamina menjadikan Kerja Keras Adalah Energi Kita sebagai kata kunci (key word) dalam kontes blog yang diselenggarakan dalam rangka hari jadinya ke-52 yang jatuh pada 10 Desember 2009 lalu. Kata kunci Kerja Keras Adalah Energi Kita yang dipakai Pertamina tersebut mengandung maksud tersirat, bahwa untuk mencapai suatu cita-cita hendaknya kita mendayagunakan energi fisik, intelektual dan spiritual dalam bekerja secara simultan.

Kerja Keras Adalah Energi Kita

Berkenaan dengan itu pula, untuk mewujudkan visinya sebagai perusahaan minyak nasional kelas dunia, Pertamina akan berusaha mengerahkan sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki seotimal mungkin dengan tiga elemen di atas.Yakni SDM yang dalam menjalankan tugasnya senantisa diliputi energi fisik, intelektual dan spiritual. Dengan senyawa tersebut, terkandung pula maksud suatu keseimbangan norma dan nilai hidup. Yang pada gilirannya membentuk dengan kuat karakter dan budaya perusahaan.

Dengan karakter dan budaya perusahaan Kerja Keras Adalah Energi Kita dimaksud, Pertamina akan mengejar ketertinggalannya dengan perusahaan minyak asing lainnya yang telah mendunia. Namun demikian, cita-cita untuk menjadi perusahaan minyak nasional kelas dunia itu bukanlah sesuatu yang instan. Diperlukan impelementasi secara operasional dan terukur pencapaian hasilnya.

Hal-hal berkaitan dengan implementasi operasional dan pencapaian keberhasilan secara terukur itu, akan saya bahas lagi dalam revisi tulisan ini. Di halaman ini pula. Mohon bersabar.

ooOOOoo

Sumber Gambar Kerja Keras Adalah Energi Kita: Koleksi Pribadi.

Kerja Keras Adalah Energi Kita

Kerja Keras Adalah Energi Kita

SELAMA kurang lebih satu tahun ngeblog, baru hari ini (30/12/2009) saya tahu caranya membuat screenshot. Hasrat untuk menampilkan screenshot blog ini pula yang membuat saya tersadar, segalanya dapat kita dapatkan hanya dengan mengklik kata kunci (keyword) apapun yang kita maui di mesin pencarian Google Com. Dengan demikian, tulisan Kerja Keras Adalah Energi Kita: Belajar Screenshot ini langsung praktek dan langsung pula di-share di sini.

Selama ini teknik membuat screenshot halaman web atau blog sudah jamak dilakukan para netters di blantika maya. Manfaat screenshot ini dari mulai menampilkan gambar web atau blog di postingan, atau keperluan lainnya.

Saya men-screenshot gambar halaman blog personal Kerja Keras Adalah Kita di atas, melalui aplikasi addon Browser Firefox bertitel Picnik for Firefox. Ini sebuah pluign yang dikembangkan untuk pengambilan screenshot. Picnik memiliki keunikan tersendiri yaitu dilengkapi dengan editor gambar secara online.

Untuk menggunakannya anda perlu menginstall plugin tersebut, restart komputer anda dan buka web/blog yang akan diambil screenshotnya. Klik kanan atau klik Tools pada browser firefox kemudian ‘Send Page to Picnik’. Pilih visible page atau full page, tunggu beberapa saat, anda akan dihubungkan pada halaman dimana anda boleh mengedit screenshot secara online.

Saya menyukai aplikasi ini lantaran loading situs hingga akhir hasil sangat cepat. Namun jika anda tidak puas, silakan cari sendiri aplikasi lain  pengambilan screenshot di blantika maya. Gampang, tinggal ketik makes screenshot atau kata kunci lainnya  yang relevan di mesin pencari, anda akan mendapatkan hasil menakjubkan. Silakan mencoba.

ooOOOoo

Cover Buku Etos Kerja Dalam Bisnis

Cover Buku Etos Kerja Dalam Bisnis

DEWASA ini pembahasan mengenai etos sudah makin terdengar akrab dan populer. Berbarengan dengan itu, di rak-rak toko buku terpajang buku-buku tentang sukses di Indonesia. Hakikatnya etos tidak tumbuh di lahan kosong. Ia senantiasa berkembang seiring dengan dinamika kehidupan masyarakat di tengah arus perkembangan pelbagai hal secara global. Dengannya pula tidak ada orang yang menganggap etos tidak penting.

Delapan  Etos kerja yang dikupas tuntas buku  ini, diharapkan oleh penulisnya, Jansen Sinamo, diniatkan sebagai buku yang hidup bersama isi yang dikandungnya, memandu dan menginspirasi pembacanya. Ia diharapkan melaju hingga menjadi semacam ‘kitab suci’ para pekerja.

Etos kerja yang dibicarakan dalam buku ini dipangkalkan pada delapan konsep agung yang sifatnya abadi. Rahmat, Amanah, Panggilan, Aktualisasi, Ibadah, Seni, dan Pelayanan adalah konsep-konsep yang sudah bersama kita sejak berabad-abad silam dan masih relevan bermilenia lagi ke depan. Selama peradaban manusia masih ada delapan kata besar ini akan tetap aktual dan penting. Menurut pengarang buku ini, seluruh peradaban manusia berporos pada delapan konsep utama di atas.

Dalam setiap peradaban manusia dijumpai rumusan-rumusan khas tentang sukses dan dalam bingkai itulah manusia senantiasa berikhtiar menggapainya. Masyarakat Batak, misalnya, merumuskan sukses sebagai perolehan dan pemilikan kekayaan (hamoraon), kemuliaan (hasangapon), dan keturunan (hagabeon). Masyarakat Jawa mementingkan bebet, bibit, bobot disamping wanito, wismo, turonggo, kukilo agar selalu slamet lan santoso.

Sedangkan masyarakat Barat dewasa ini menganggap kebugaran, pendidikan, kemakmuran, kekuasaan, popularitas,  dan gaya hidup mewah dengan segenap simbol-simbolnya sebagai tanda dan ukuran keberhasilan.

Didorong dan dituntun oleh nilai-nilai tersebut, masyarakat kemudian mendayagunakan segenap energinya untuk meraih sukses dimaksud. Energi ini, menurut Jansen, disebut sebagai Roh Keberhasilan (The Spirit of Succes).

Akan tetapi perlu segera ditegaskan, roh keberhasilan di atas bukanlah sejenis mantra yang bisa menyihir kekalahan menjadi kemenangan, menyulap kemiskinan menjadi kemakmuran, atau melepas topeng kegagalan menjadi wajah kesuksesan. Roh keberhasilan masih membutuhkan aksi, keringat, darah, dan air mata agar bayi sukses bisa dilahirkan. Aksi itu tiada lain adalah kerja keras. Dengannya akan terjelma energi besar untuk setia mengarahkan pada cita-cita sukses.

Dengan bekerja keras disemangati roh keberhasilan, manusia akan mengeksplorasi dan mengekploitasi segenap potensinya dan mengubahnya menjadi aktualisasi yang berguna. Dan melalui pekerjaan pula manusia mengukuhkan eksistensinya, memperbaiki nasibnya dan memuliakan martabat kemanusiaannya.

Apakah setiap orang yang bekerja senantiasa menuai sukses? Ternyata tidak. Sekedar mau bekerja belumlah cukup. Kita harus bekerja, dan bekerja secara profesional. Kemauan bekerja belumlah berarti kesanggupan, melainkan baru sekedar tanggapan atas kemungkinan sukses. Karenanya manusia membutuhkan sebuah piranti untuk mengubah kemauan menjadi kesanggupan. Piranti itulah, menurut Jansen Sinamo, yang dinamakan etos kerja. Dengan demikian, dibutuhkan jalinan berkelindan yang erat dan sinergis yang mantap antara roh keberhasilan dengan etos kerja.

Delapan Etos yang ditawarkan penulis buku ini, masing-masing: Rahmat, Amanah, Panggilan, Aktualisasi, Ibadah, Seni, dan Pelayanan dimaksudkan sebagai navigator sukses di sepanjang perjalanan karir bagi siapapun yang mendambakan sukses itu dengan segenap hatinya.

Saya tak perlu membahas satu per satu delapan etos dimaksud. Bukan apa-apa, melainkan jika dibahas detail,  saya pastikan anda urung membaca tuntas buku inspiratif ini. Namun saya formulasikan etos kerja ala Jansen Sinamo tersebut dalam ikhtisar sebagai berikut:

  • Etos 1: Kerja adalah rahmat (Aku bekerja tulus penuh syukur).
  • Etos 2: Kerja adalah amanah (Aku bekerja penuh tanggungjawab).
  • Etos 3: Kerja adalah panggilan (Aku bekerja tuntas penuh integritas).
  • Etos 4: Kerja adalah aktualisasi (Aku bekerja keras penuh semangat).
  • Etos 5: Kerja adalah ibadah (Aku bekerja serius penh kecintaan).
  • Etos 6: Kerja adalah seni (Aku bekerja cerdas penuh kreativitas).
  • Etos 7: Kerja adalah kehormatan (Aku bekerja tekun penuh keunggulan).
  • Etos 8: Kerja adalah pelayanan (Aku bekerja sempurna penuh kerendahan hati).

Buku setebal 318 halaman ini dilengkapi pula dengan empat buah lampiran berupa renungan cukup memukau yang tak kalah inspiratifnya. Pada Lampiran keempat, penulis buku ini membahas masalah Membangun Indonesia dengan Etos Kerja. Di mana sub bagian lampiran keempat itu mengupas Tiga Strategi Baru Buat Indonesia. Sekali lagi, dengan mohon maaf saya tidak akan mengupas soal itu. Silakan saja anda cari buku ini di toko-toko buku terdekat, dan jadikan sebagai bacaan ringan penuh dengan imaginasi memukau.

Jansen Sinamo selaku pengarang buku Etos Kerja dalam Bisnis ini, adalah lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB). Beliau pernah malang melintang sebagai instruktur di Dale CarnegieTraining. Kini yang bersangkutan bergiat di Institut Mahardika. Ia banyak menulis artikel dan sejumlah buku serta menjadi pembicara publik pada jaringan Radio SmartFM.

*****

SEPANJANG Tahun 2009 ini, sudah tidak terbilang Kontes Search Engine Optimization (SEO) diselenggarakan. Dari yang berskala global, nasional hingga lokal. Lantaran saya tahu diri seorang pemula di blantika maya, (bikin blog pertama akhir Oktober 2008),  kontes SEO yang semakin marak itu hanya sebagai informasi saja. Mau mencoba? Rasanya ilmu berikut tip dan triknya, saya terus terang tidak menguasai.

Andai boleh memilih, saya sendiri lebih suka kontes penulisan blog ketimbang kontes SEO. Persoalan mendasar atas argumen tersebut, saya suka menulis dan merasa ada kemampuan untuk itu. Permasalahan SEO, sekali lagi, rasa-rasanya kosong sama sekali di langit pikiran saya.

Namun demikian, tak urung saya juga tertarik tatkala membaca adanya Kontes Blog berbau SEO yang diadakan Pertamina semenjak 12 Oktober 2009 lalu hingga ditutup pada 5 Januari 2010 mendatang. Kontes yang diselenggarakan dalam rangka HUT Pertamina ke-52 tersebut tidak semata-mata berdasarkan SEO murni. Aspek penilaian pertama berdasarkan mutu artikel. Selanjutnya Google SEO optimalisasi, dan terakhir lain-lain yang mencakup tampilan blog, aksesibiltas dan penggunaan tata bahasa. Berpatokan dari aspek penilaian tersebut, akhirnya dengan mengucap Bismillahirahmanirrahim saya akan mencobanya.

Mengenai Google SEO, kata kunci yang dioptimalisasi dalam ajang Kontes Blog Pertamina ini yakni Kerja Keras Adalah Energi Kita.

Lantaran sesuatu dan lain hal, untuk ajang Kontes Blog Pertamina dimaksud, saya nampaknya terlambat membuat tulisan. Bayangkan ajang kontes dimulai sejak 12 Oktober lalu, namun saya  baru publikasi artikel pada Jum’at pagi 25 Desember 2009. Tajuk tulisan sama dengan kata kunci optimalisasi mesin pencari GoogleCom: Kerja Keras Adalah Energi Kita.

Hingga tulisan ini dibuat (29/12), perlahan namun pasti artikel yang saya lombakan beringsut dari urutan belakang hasil pencarian kata kunci menuju papan tengah. Untuk ukuran diri saya yang hanya memegang peta buta per-SEO-an, pencapaian selama 4 hari dari urutan belakang menuju papan tengah patutlah disyukuri.

Saya tidak mencari kemenangan dari ajang Kontes Blog Pertamina ini. Target yang telah saya patok sendiri, hanya ingin masuk ke dalan 50 besar hasil pencarian Google. Tak usah muluk-muluk bagi pemula seperti diri saya ini ingin masuk 10 besar. Dengan demikian, saya santai saja mengikuti kontes ini. Perkara tidak masuk pula 50 besar, apa boleh buat?

Selain target hanya ingin masuk 50 besar, sudah barang tentu dari ajang kontes ini saya ingin lebih mendalami tip dan trik melakukan optimalisasi kata kunci (key words). Dengan menguasai teknik-teknik tersebut, ke depannya saya bisa optimalisasi artikel-artikel yang dipublikasi di Blog Personal. Suatu ilmu praktis yang mungkin akan berguna tatkala saya mengelola situs lain yang lebih serius (orientasi bisnis). Yakin usaha sampai….

Hanya itu saja target yang akan saya raih. Tak lebih dan tak kurang

*****

KEJUJURAN membuat jalannya sendiri ketika pergi, sedangkan ketidakjujuran harus mencari-cari jalan kecil dan berliku-liku. [Lilmimber]

ooOOOoo

Blantika maya bukanlah sekedar wahana berbagi dan berinteraksi sesama penghuni didalamnya. Ia hakikatnya universitas kehidupan terbuka dimana kita bisa menuntut ilmu hingga level paling tinggi (bukan hanya master namun hingga doktor). Di universitas itu, kita bisa mengambil jurusan umum atau gado-gado (aneka ilmu). Pula bisa program spesialisasi (khusus bidang tertentu). Hanya saja, ketika telah mencapai level master atau doktor, tidak ada selembar ijazah pun yang kita dapatkan.

Di universitas kehidupan terbuka tersebut, hanya ada dua modal utama agar kita tidak tergelincir didalamnya. Yakni modal honest (jujur) dan trust (percaya). Kejujuran dan kepercayaan ibaratnya sebatang benih pohon buah  yang kita tanam. Di mana benih itu  mustilah dipupuk terus menerus dan kita sirami agar tumbuh subur. Kita siangi dari tanaman-tanaman pengganggu. Pula kita jaga agar tidak terkena hama penyakit dan hewan penggerek. Sehingga kelak akan dipetik buah ranum dari pohon  yang kita tanam bermodalkan kejujuran dan kepercayaan itu.

Dengan kejujuran dan kepercayaan itu pula, lambat laun kita akan mendapat gelar master atau doktor. Pun akan terhindar mendapatkan  finalti dan drop out (DO) dari sesama civitas akademika universitas kehidupan itu. Saya berani mengatakan ini lantaran sudah ada bukti para mahasiswa (baca: netter) terkena blacklist (daftar hitam) dan hilang reputasinya dikarenakan ulah ketidakjujuran dan ketidakpercayaan yang menyertainya.

Berbeda dengan blantika nyata, universitas kehidupan terbuka blantika maya tersebut, para pengampu mata kuliahnya sesama mahasiswa. Hakikatnya tidak ada dosen. Semua kedudukannya sederajat. Berdiri sama tinggi, dan duduk sama rendah.

Yang membedakan mereka hanyalah sebagian yang lain telah menyandang gelar master atau doktor, sementara yang lainnya tengah menuju ke arah level itu. Sebutan master atau doktor pun letaknya hanya di masing-masing hati individu bersangkutan. Tidak ada pula sebutan yang satu masih yunior, sedang lainnya menyandang sebutan senior. Pengkotakan semacam itu menyesatkan, seolah-olah di universitas kehidupan terbuka blantika maya terdapat pengkategorian berdasarkan “kelas”. Namun satu hal sudah pasti, dalam interaksi setara semacam itu, kejujuran dan kepercayaan merupakan mata uang yang diberlakukan. Tidak peduli siapa diri anda.

Dengan demikian, semua penghuni blantika maya hakikatnya manusia pembelajar. Sekaligus pula manusia pencari. Ia senantiasa belajar terus menerus menempa ilmu dan mencari akan arti kehidupan menuju proses “menjadi”. Metamorfosis untuk “menjadi” ini melalui fase-fase tertentu.  Dari mulai tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti dan tidak memahami menjadi mengerti dan memahami, dari tidak peduli menjadi peduli dan sebagainya.

Sekarang tinggal anda pilih sendiri sendiri? Boleh saja anda melakukan apapun di blantika maya. Namun satu hal, jika mata uang kejujuran dan kepercayaan itu diciderai sendiri, anda tidak akan laku di blantika maya. Percayalah….

ooOOOoo

Memberikan kepercayaan kepada orang lain lebih membuatmu percaya diri ketimbang meraih kepercayaan dari mereka. [Lilminber]

Teater Klasik Kabuki (http://www.id.emb-japan.go.jp)

Teater Klasik Kabuki (http://www.id.emb-japan.go.jp)

BEBERAPA waktu lalu, majalah Aneka Jepang yang diterbitkan oleh Kedutaan Besar Jepang menyingkap soal  kerja keras dan kesadaran kelompok bangsa Jepang. Menarik untuk kita simak. Lantaran darinya kita bisa belajar  sesuatu dari bangsa lain.

Selama ini Jepang kita kenal  telah membuktikan diri sebagai sebuah bangsa yang sangat maju. Perlu diingat pula, negeri seluas Pulau Sumatra itu  minim sumber daya alam. Berbeda jauh dengan bangsa kita yang kaya akan sumber daya alam, namun dalam hal mengejar ketertinggalan dengan bangsa-bangsa lain yang telah maju, masih tertatih-tatih.

Berikut petikan dari majalah Aneka Jepang

Acapkali kita dengar bahwa orang Jepang suka kerja keras, suka berkelompok, suka meniru dan sebagainya. Dalam bekerja, begitu asyiknya dengan pekerjaan kadangkala orang Jepang lupa waktu. Jarang kita dengar adanya keberatan dari kalangan karyawan untuk kerja lembur. Kesemuanya didorong oleh rasa tanggung jawab dan semangat kelompok.

Dalam hal kerja keras di Jepang ini, kita mengenal istilah workaholik. Di media massa arti istilah ini untuk merujuk oang-orang yang gemar bekerja berlebihan hingga kadangkala melupakan seluruh aspek kehidupannyya. Workaholik juga dapat ditujukan untuk mereka yang mendapatkan kepuasan dari melakukan pekerjaannya.

Orang Jepang pada umumnya cenderung kuat rasa keterikatannya terhadap kelompok di mana ia berada, terutama perusahaan tempat kerjanya. Apabila perusahaan tempatnya bekerja menghadapi masalah atau ada tugas yang mendesak dan harus segera dituntaskan, maka para karyawan merasa terpanggil untuk ikut memikul beban kerja bersama-sama, dengan mengesampingkan kepentingan dan kesenangan pribadi.

Sudah barang tentu ada regulasi ketenagakerjaan yang memberikan batasan terhadap jam kerja, lembur dan lain-lain. Masing-masing perusahaan menentukan aturannya sendiri dalam batasan yang sudah ditetapkan itu. Dewasa ini mulai ada perubahan, bahkan timbul kesadaran, terutama di kalangan karyawan muda, untuk lebih menikmati hidup dengan lebih banyak menyisihkan waktu bagi keluarga dan rekreasi.

Kesadaran kelompok di kalangan orang Jepang konon berakar pada budaya tanam padi di masa lampau yang harus dikerjakan beramai-raamai, berdasarkan sistem kerjasama berkelompok dan kuatnya ikatan kekeluargaan. Ada keteraturan kerja dalam mengolah sawah, melakukan panen, mengatur pengairan, hingga mengatur komunitas pertanian tempat mereka bermukim. Jiwa berkelompok itu kemudian diperkokoh oleh ajaran Konfosius, yang masuk dari Cina. Salah satu ajaran tersebut berpegang pada konsep kelompok kekeluargaan.

Dengan latar belakang sejarah demikian, rasa keterikatan (kelompok) karyawan terhadap perusahaan dan rekan kerja makin menjadi kuat dengan adanya apa yang dinamakan “life time employment“, yakni kebiasaan orang Jepang setia bekerja seumur hidup pada sebuah perusahaan saja. Namun demikian, dewasa ini banyak kaum muda di Jepang sudah enggan terikat pada satu perusahaaan. Dan ada gejala mereka kini lebih senang berpindah-pindah menurut kehendak hatinya

Kesetiaan kelompok tidak terbatas di perusahaan atau kantor saja. Bisa saja dalam kelompok olah raga, klub kesenian, kelompok ketetanggaan, kelompok  kelas di sekolah, kelompok seangkatan di universitas dan sebagainya. Orang Jepang yang masuk sebuah kelompok, atau memang tergabung dalam sebuah kelompok ketetanggaan, merasa adalah kewajibannya untuuk bertindak seirama dengan kemauan kelompok dan tidak bertindak menonjolkan diri atau lain. Lantaran  hal itu akan mengundang rasa kurang senang kelompoknya.

Prestasi seorang individu dalam kelompok bukan lagi prestasi yang yang bersangkutan tetapi menjadi prestasi kelompoknya. Masyarakat Jepang kurang dapat menerima sifat individualisme, apalagi yang mencolok seperti dalam masyarakat Barat. Masyarakat Jepang selalu menjaga keharmonisan dengan kelompok, lingkungan dan alam sekitarnya.

*****

Pada umumnya orang sering menyebutkan bahwa orang Jepang suka bekerja keras, suka berkelompok, dan sebagainya. Begitu asyik dengan pekerjaannya sehingga orang Jepang suka lupa waktu. Di perusahaan-perusahaan kurang terdengar suara keberatan untuk kerja lembur. Hal tersebut didorong oleh rasa tanggung jawab dan semangat kelompok. Orang Jepang pada umumnya cenderung kuat rasa keterikatannya terhadap kelompok di mana dia berada, terutama perusahaan tempat kerjanya. Bilamana perusahaannya menghadapi masalah atau tugas yang mendesak dan harus segera dituntaskan, maka para karyawan merasa terpanggil untuk ikut memikul beban kerja bersama-sama, dengan mengesampingkan kepentingan dan kesenangan pribadinya.

Tentu saja ada peraturan ketenaga-kerjaan yang memberikan batasan terhadap jam kerja, lembur, dll. dan masing-masing perusahaan menentukan aturannya sendiri dalam batasan yang sudah ditetapkan itu. Dewasa ini mulai ada perubahan, bahkan timbul kesadaran, terutama di kalangan karyawan muda, untuk lebih menikmati hidup dengan lebih banyak menyisihkan waktu bagi keluarga dan rekreasi/ hiburan.

Kesadaran kelompok di kalangan orang Jepang konon berakar pada budaya tanam padi di sawah di masa lampau yang harus dikerjakan beramai-ramai, berdasarkan sistem kerjasama berkelompok dan kuatnya ikatan kekeluargaan. Ada keteraturan kerja dalam mengolah sawah, melakukan panen, mengatur pengairan, hingga mengatur komunitas pertanian tempat mereka bermukim. Jiwa berkelompok ini kemudian diperkokoh oleh ajaran Konfusius, yang masuk dari Cina, yang berpegang pada konsep kelompok kekeluargaan.

Dengan latar belakang sejarah demikian, rasa keterikatan (kelompok) karyawan terhadap perusahaan dan rekan kerja makin menjadi kuat dengan adanya apa yang dinamakan “life-time employment“, yakni kebiasaan orang Jepang setia bekerja seumur hidup pada sebuah perusahaan saja. Akan tetapi, akhir-akhir ini makin banyak kaum muda yang enggan terikat pada satu perusahaan; mereka lebih senang berpindah-pindah menurut kehendak hatinya.

Kesetiaan kelompok tidak terbatas di perusahaan atau kantor saja. Bisa saja dalam kelompok klub olahraga, klub kesenian, kelompok ketetanggaan, kelompok kelas di sekolah, kelompok seangkatan di universitas, dll. Orang yang masuk dalam sebuah kelompok, atau memang tergabung dalam sebuah kelompok seperti kelompok ketetanggaan, merasa adalah kewajibannya untuk bertindak seirama dengan kemauan kelompok dan tidak bertindak menonjolkan diri atau lain sendiri karena hal itu akan mengundang rasa kurang senang kelompoknya. Prestasi seorang individu dalam kelompok bukan lagi prestasi pribadi yang bersangkutan tapi menjadi prestasi kelompoknya. Masyarakat Jepang kurang dapat menerima sifat individualisme, apalagi yang mencolok seperti dalam masyarakat Barat. Masyarakat Jepang selalu menjaga keharmonisan dengan kelompok, lingkungan, dan alam.

Rahasia Sukses?

Beberapa orang mengklaim dirinya telah bekerja keras, namun banyak orang yang bekerja keras tidak mencapai kesuksesan. Berkenaan dengan bekerja keras, ada untaian kalimat indah berbentuk slogan: Kerja Keras Adalah Energi Kita.

Ada yang bilang pula kesuksesan bisa diraih lantaran ada  kesempatan. Namun kesempatan saja tidak cukup. Yang paling bisa kita lihat dengan kasat mata, banyak orang sukses karena diiringi oleh keberuntungan. Adanya faktor “hoki”, atau dewi fortuna menyertai. Pernyataan terakhir  ini tidak perlu kita sangkal. Lantas, di mana kunci mencapai sukses di luar masalah kesempatan dan keberuntungan itu?

Beberapa mengatakan rahasia sukses karena adanya antusiasme, tetapi kita memiliki contoh-contoh dari orang-orang yang mengalami sukses walaupun tidak memiliki lebih dari antusiasme belaka. Beberapa menyatakan pula kesuksesan itu karena latar pendidikan, namun banyak orang berhasil yang tidak memiliki pendidikan tinggi.

Jadi kita musti mencari penjelasan lain yang ditawarkan oleh orang-orang yang berpikir bahwa mereka telah menemukan rahasia sukses. Namun demikian, akan menyita terlalu banyak ruangan dan waktu untuk diceritakan.

Rahasia sukses? Tidak ada rahasia. Jawaban ini adalah salah satu yang tertua, paling terkenal dan mungkin akan membingungkan anda. Barangkali pula anda sudah banyak membaca tip dan trik dari orang sukses mengenai soal ini. Tapi percuma saja jika itu telah menginspirasi diri anda, namun tidak pernah diuji cobakan dalam praktek langsung.

Sukses dalam bisnis tergantung pada orang yang mencari keberhasilan. Itu tergantung terutama pada karakter, pengetahuan dan kekuasaan. Karakter, pengetahuan dan kekuasaan saling terkait, tergantung kekuatan, keinginan dan kehendak individu masing-masing.

Berdasarkan apa yang telah saya baca, untuk mencapai keberhasilan dalam bisnis, langkah pertama adalah pemilihan tujuan. Bagian Pertama terdiri dari pandangan singkat bidang bisnis dan tujuan-tujuan umum yang ditawarkan.  Bagian lainnya meliputi cara-cara praktis untuk memperkuat karakter, pengetahuan dan kekuasaan, sehingga orang dapat lebih mudah mencapai sukses.

Kita semua memiliki kemampuan untuk membuat diri apa yang dimaui. Banyak jalan untuk mencapai keberhasilan yang diinginkan. Memiliki kemampuan untuk melakukan hal-hal ini adalah satu hal; sedangkan pencapaian terukur atas kemampuan yang dimiliki adalah hal lain.

Ah, saya telah melantur… Kita akan bahas lebih tajam pada tulisan mendatang.

*****

TOLERANSI adalah wilayah yang luas bagi mereka yang ingin mempertemukan perbedaan pikiran. Toleransi adalah pengertian yang ditambah dengan kesabaran.

[Lilminber]

ooOOOoo

Merry Christmas (http://aramide.blogspot.com)

Merry Christmas (http://aramide.blogspot.com)

Lewat tulisan singkat ini, dari lubuk hati terdalam saya mengucapkan “Selamat Hari Natal 2009” sekaligus “Tahun Baru 2010” bagi saudaraku penganut Kristiani yang tengah merayakan. Semoga natal kali ini membawa kebahagiaan dan keberkahan serta kedamaian di bumi Indonesia ini. Harapan, Kasih dan Damai kiranya bersemayam di dataran hati, saudaraku….

Merry Christmas to all of you from me. May your day be filled with family, joy and peace.

Terbayang dengan jelas di langit pikiran dan dataran hati, sebagai Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Solo awal 1990-an, saya mengirimkan surat resmi organisasi berupa ucapan natal kepada rekan-rekan aktivis Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) setempat. Mereka menyambutnya dengan suka cita, dan membalas dengan surat ucapan terima kasih atas perhatian yang tulus tersebut. Bersama dengan mereka, kami acap bertemu tatkala pertemuan mengkaji sesuatu hal dalam wadah Kelompok Cipayung..

Bagi kalangan di HMI, memberi ucapan selamat pada saat itu masih termasuk kontroversial. Lantaran di internal HMI sendiri saat itu masih ada kubu yang masih “mengharamkan” pemberian ucapan Natal itu, sekalipun jumlahnya sangat kecil. Mayoritas anggota HMI bertipe moderat. Memberi ucapan selamat Natal atau selamat apapun bagi pemeluk agama lain hukumnya sunat. Dilakukan baik, namun tidak dilakukan juga tidak apa-apa. Bagi kalangan moderat di HMI, tidak haram hukumnya mengucapkan selamat di hari raya pemeluk agama lain. Yang jelas haram apabila mengikuti ibadah mereka. Dan soal yang terakhir, saya rasa saudara-saudara pemeluk agama lain juga dapat memaklumi.

Demikian saudaraku… semoga damai di bumi, damai pula di hati….

*****

Kerja Keras Adalah Energi Kita

Kerja Keras Adalah Energi Kita

ooOOOoo

TIDAK terbayangkan, apa yang musti dilakukan pabila melakukan pencarian di blantika maya tanpa adanya mesin pencari. Amboi, betapa repotnya kita. Terdapat milyaran halaman web tersedia di blantika maya, dan halaman-halaman tersebut senantiasa tumbuh setiap waktu. Untungnya ada Google. Walau sebelumnya sudah bermunculan situs mesin pencari, Google hadir pada momentum yang tepat. Kita dimudahkan oleh kesederhanaan tampilan, namun digdaya dalam melakukan eksekusi pencarian.

Google dikenal luas karena layanan pencarian webnya, yang mana merupakan sebuah faktor menentukan dari kesuksesan perusahaan ini. Pada Agustus 2007, Google merupakan mesin pencari di web yang paling sering digunakan dengan saham pasaran sebanyak 53,6%, kemudian Yahoo! (19,9%) dan Live Search (12,9%).[43] Google memiliki milyaran halaman web, sehingga pengguna dapat mencari informasi yang mereka inginkan, melalui penggunaan kata kunci dan operator. Google juga telah menggunakan teknologi Pencarian Web pada layanan pencarian lainnya, termasuk, Pencarian Gambar, Google News, situs perbandingan harga Google Product Search, arsip Usenet interaktif Google Groups, Google Maps dan lainnya.

Kisah sukses raksasa mesin pencari Google, bukanlah sekonyong-konyong datang dari langit. Dengan mentera sulap “Simsalabim” atau bak membalik telapak tangan, sukses terpampang di depan pelupuk mata dan teraih. Di balik sukses itu, ada kerja keras untuk mewujudkannya.

Situs Wikipedia mengatakan, “Googe Inc. merupakan sebuah perusahaan publik Amerika Serikat, berperan dalam pencarian Internet dan iklan online. Perusahaan ini berbasis di Mountain View, California, dan memiliki karyawan berjumlah 19.604 orang (30 Juni 2008) Filosofi Google meliputi slogan seperti “Don’t be evil“, dan “Kerja harusnya menantang dan tantangan itu harusnya menyenangkan.”

Selanjutnya dikatakan bahwa Google yang didirikan oleh Larry Page dan Sergey Brin ketika mereka masih mahasiswa di Universitas Stanford, dan perusahaan itu merupakan perusahaan saham pribadi pada 7 September 1998. Penawaran umum perdananya dimulai pada tanggal 19 Agustus 2004, mengumpulkan dana $1,67 milyar, menjadikannya bernilai $23 milyar. Melalui berbagai jenis pengembangan produk baru, pengambilalihan dan mitra, perusahaan  telah memperluas bisnis pencarian dan iklan awalnya hingga ke area lainnya, termasuk email berbasis web, pemetaan online, produktivitas perusahaan, dan bertukar video.

Ilustrasi nan inspiratif mengenai kesuksesan Google sebagai raksasa mesin pencari, pula filosofi Google di atas menunjukkan bahwa sukses berhasil digapai lantaran potensi sumber daya manusia (SDM) unggul yang tekun dan pantang menyerah untuk mewujudkannya. SDM yang dimiliki institusi Google tersebut bangkit seiring pertumbuhan perusahaan, diliputi dan dipenuhi spirit keberhasilan yang dimulai dengan terbentuknya cara pandang positif terhadap kemauan konsumen di  blantika maya.

Potensi SDM yang terbangkitkan itu menjadi modal untuk bekerja keras meraih keberhasilan. Didalam SDM semacam itu tersimpan energi besar untuk senantiasa berinovasi mengikuti irama jaman. Tak ayal lagi, kini Google telah membuktikan diri sebagai perusahaan raksasa mesin pencari kelas dunia yang sangat disegani. Tidaklah berlebihan pula  jika dikatakan bahwa Kerja Keras Adalah Energi Kita.

***

Bercermin dari  ilustrasi inspiratif Google yang dalam waktu cukup singkat bermetamorfosis menjadi perusahaan kelas dunia yang disegani, sebagai bangsa kita mendukung upaya-upaya transformasi yang kini tengah ditempuh  Pertamina untuk mewujudkan visinya menjadi perusahaan minyak nasional kelas dunia pada tahun 2023.

Dibandingkan dengan Google sebagai ilustrasi awal tulisan ini, dari segi usia Pertamina sudah kawakan. Usianya pada 10 Desember 2009 lalu mencapai 52 tahun. Kenyang dengan segudang pengalaman, pula prestasi yang pernah diukir. Namun mengapa hingga saat ini Pertamina masih tampak tertatih-tatih untuk pentas dunia (world class)?

Prof Mudrajat Kuncoro dkk dalam buku Transformasi Pertamina Dilema Antara Orientasi Binis & Pelayanan Publik (PT GalangPress) mengungkapkan bahwa untuk mewujudkan diri sebagai world class integrated oil and gas company tersebut, Pertamina masih membutuhkan kerja keras. Dikatakan, “Sejak Pertamina didirikan  pada tahun 1957 sampai dikeluarkannya Undang-undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Miyak dan Gas (migas), terdapat berbagai permasalahan pokok yang harus dihadapi. Dari sisi internal, Pertamina mempunyai masalah dalam hal proses transisi menuju perusahaan yang mampu menerapkan GCG (good corporate governance) secara konsisten, inefisiensi dalam hal eksplorasi, eksploitasi, produksi, dan distribusi, serta hambatan dalam hal investasi. Dari sisi eksternal, Pertamina menghadapi permasalahan strategi bersaing dalam industri migas Indonesia, apalagi setelah liberalisasi di sektor hilir khususnya. Dari sisi regulasi, Pertamina menghadapi masalah dalam hal pricing, distribusi, dan penataan sektor. Dari sisi pengambilan keputusan, Pertamina menghadapi masalah pemenuhan kepentingan publik yang erat kaitannya dengan Pertamina sebagai pelaksana fungsi PSO (public service obligation), serta kentalnya intervensi politik.”

Pelbagai kritik di atas, sebagian besar telah dijawab manajemen Pertamina dengan kerja keras semua lini. Di situs resminya (Klik Sini), melalui Breakthrough Projects (Proyek-proyek Terobosan) sejak Juli – 31 Desember 2006, Pertamina telah menorehkan sukses hingga saat ini antara lain:

1. Perolehan US$ 11 s/d. 11.5 juta dari Pengembangan pondok tengah:
First oil production dapat dilakukan 2 bulan lebih awal dari rencana awal berdasarkan POD yang telah disetujui oleh BP Migas.
Produksi rata-rata 1.500 BOPD sejak tanggal 9 Agustus 2006 dan 3.000 BOPD sejak 24 Oktober 2006.
2. Mengurangi depot kritis.
3. Perolehan US$ 2.5 s/d. 2.8 juta dari pengolahan LSWR ke RCC/FC:
Pengiriman dan pengolahan LSWR selama bulan Agustus sampai dengan Oktober 2006 rata-rata mencapai 209 MB per bulan (lebih dari target 200 MB perbulan).
4. Perolehan Rp. 3 s/d. 3.5 Milyar penghematan dari transportation loss control: Target penurunan transportation loss dari 0.15 % menjadi 0.1% (20 kapal)

Hasil capaian-capaian yang telah diraih Pertamina di atas memang kian hari kian menjanjikan. Itu semua tidak lepas dari SDM yang dimiliki Pertamina, dan daya adaptasinya terhadap perkembangan ekonomi global. Akan tetapi, ada hal lain seperti diungkap Prof Mudrajat Kuncoro di atas soal kentalnya intervensi politik atas Pertamina. Sebagai salah satu BUMN penyangga utama perekonomian Indonesia, hemat saya, solusi untuk mengembalikan kejayaan Pertamina seperti era 1970-an harus didasarkan oleh “intervensi politik” pula.

Yakni adanya good will (kemauan baik) antara pemerintah dan DPR untuk mengembalikan model Kontrak Karya (KK) ke Kontrak Production Sharing (KPS) sebagaimana pernah diamanatkan UU Nomor 8 Tahun 1971. Menurut pengamat perminyakan, DR Kurtubi di harian Kompas 12 September 2009, dengan pola KPS tersebut Pertamina diberi kuasa pertambangan dan sekaligus wewenang bekerja sama dengan perusahaan  minyak asing.

Dikatakan oleh DR Kurtubi, keunggulan model KPS terhadap KK adalah dalam KPS manajemen sepenuhnya berada di tangan Pertamina yang mengandung makna kedaulatan negara atas sumber daya alamnya dapat terjaga dan terhormat. Lebih daripada itu keuntungan yang diraih negara adalah jauh lebih besar ketimbang dengan model KK. Perlu diketahui bersama, bahwa negara memperoleh keuntungan yang sangat signifikan dari sektor migas pada waktu itu.

Selanjutnya dikemukakan pula bahwa dengan pola KK saat ini berdasarkan UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Migas (justru dijadikan dasar dari transformasi dan privatisasi Pertamina), hakikatnya status Pertamina disamakan dengan perusahaan minyak asing. Dengan demikian Pertamina menjadi “asing” di negerinya sendiri. Lewat “intervensi politik” UU Nomor 22 Tahun 2001 itu, Pertamina dikerdilkan secara sistemik, baik wewenang, cakupan bisnis maupun asetnya.

Jika demikian adanya, maka mau tidak mau, suka atau tidak suka, untuk mengembalikan “kejayaan” kembali Pertamina tiada lain juga melalui “intervensi politik”  didasari goodwill untuk mengamandemen UU Nomor 22 Tahun 2001. Salah satunya dengan mengadopsi kembali model Kontrak Production Sharing (KPS). Lantaran banyak perusahaan migas di negara lain sukses dengan model tersebut. Salah satunya Petronas milik Malaysia.

Insya Allah dengan model KPS, Pertamina dapat mengembalikan kembali peran semestinya. Pula  sebagai tuan rumah di negerinya sendiri. Menyimak pengalaman, SDM dan pangsa pasar dalam negeri, saya rasa Pertamina akan mampu mewujudkan visinya menjadi perusahaan minyak nasional kelas dunia.

Hal lain yang tak kalah pentingnya untuk mempercepat transformasi Pertamina sebagai perusahaan terpandang dan disegani di pentas dunia, yakni penyiapan SDM unggul di segala lini. Dalam kaitan itu, Pertamina perlu menganggarkan dana khusus yang mencukupi guna menyiapkan SDM berkualitas tersebut.

SDM yang telah dimiliki senantiasa digembleng melalui pusat pendidikan dan latihan (pusdiklat) secara berkesinambungan. Tidak terkecuali, sedari karyawan level bawah hingga level menengah. Jika diperlukan dapat dibuat pelatihan khusus kecabangan, atau pengiriman karyawan untuk belajar ke luar negeri berdasarkan kebutuhan yang mendesak (umpamanya: ahli negoisasi, ahli lobby, ahli teknologi informasi dan komunikasi dan lain-lain).

Dengan SDM unggul yang mampu memetakan kebutuhan dan tindakan apa yang mustinya dilakukan Pertamina untuk semakin maju dan berkembang, niscaya harapan Pertamina agar menjadi perusahaan skala dunia cepat terwujud. Yakni sebuah perusahaan minyak yang terpandang, kompetitif dan kaya raya, pula tidak melupakan sumbangsihnya buat masyarakat, bangsa dan negara.

Google saja dalam waktu relatif singkat bisa, apalagi Pertamina. Kunci utamanya ke arah itu tiada lain hanya kemauan dan kerja keras saja. Semoga.

*****

Sumber Gambar Kerja Keras Adalah Energi Kita: The Best of Chinese Sayings (Leman, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Juni 2007).

Tulisan Sebelumnya »