Feeds:
Tulisan
Komentar

Rakyat ialah Kita Beragam Suara di Langit Tanah Tercinta (http://www.kompas.com)

Rakyat ialah Kita Beragam Suara di Langit Tanah Tercinta (http://www.kompas.com)

SALAH satu puisi wajib yang acapkali dilombakan dan dibacakan menjelang atau saat Perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus, yakni puisi Rakyat karya Hartojo Andangdjaja. Puisi tersebut memang menggigit. Memiliki kedalaman makna dan suasana, serta yang pasti mengedepankan pesan bahwa “rakyat merupakan sumber kedaulatan dan cikal bakal bagi tegak dan berdirinya negara.” Namun tahukah pembaca, bagaimana proses lahirnya ilham pada puisi Rakyat karya Hartojo Andangdjaja tersebut?

Sebelum saya memaparkan proses kreatif lahirnya ilham puisi ini,   terlebih dahulu kita resapi bait-bait puisi karya Hartojo Andangdjaja dimaksud. Sebuah puisi yang amat relevan dengan situasi nasional yang kita hadapi hari-hari ini…

RAKYAT

hadiah di hari krida

buat siswa-siswa SMA Negeri

Simpangempat, Pasaman.



Rakyat ialah kita
jutaan tangan yang mengayun dalam kerja
dibumi tanah tercinta
jutaan tangan yang mengayun bersama
membuka hutan lalang jadi ladang-ladang berbunga
mengepulkan asap dari cerobong pabrik-pabrik dikota
menaikan layar, menebar jala
meraba kelam ditambang logam batubara
Rakyat ialah tangan yang bekerja

Rakyat ialah kita
otak yang menapak sepanjang jemaring angka-angka
yang selalu berkata dua adalah dua
yang bergerak disimpangsiur garis niaga
Rakyat ialah otak yang menulis angka-angka

Rakyat ialah kita
beragam suara dilangit tanah tercinta
suara bangsi di rumah berjenjang bertangga
suara kecapi dipegunungan jelita
suara bonang mengambang dipendapa
suara kecak dimuka pura
suara tifa dihutan kebun pala
Rakyat ialah suara beraneka

Rakyat ialah kita
puisi kaya makna diwajah semesta
didarat
hari yang berkeringat
gunung batu berwarna coklat
dilaut
angin yang menyapu kabut
awan menyimpan topan
Rakyat ialah puisi diwajah semesta

Rakyat ialah kita
darah ditubuh bangsa
debar sepanjang masa

***

Sering dikatakan, sastra adalah cermin masyarakat. Puisi karya Hartojo Andangdjaja sebagai karya sastra diatas, hemat saya bukan saja cermin akan tetapi merupakan potret masyarakatnya. Sejatinya, melalui karya itu kita bukan hanya dapat memahami kontekstualisasi tatkala karya itu lahir, namun juga mampu melihat keterkaitan antara seorang pengarang dengan situasi dan kondisi yang melingkupinya.

Sehubungan dengan itu, Pamusuk Eneste, editor buku Proses Kreatif Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang, mengatakan bahwa sebuah karya sastra sudah barang tentu tidak mungkin lepas dari pengarangnya. “Sebelum karya itu sampai kepada pembaca, sudah pasti ia melewati suatu proses yang panjang (proses yang sering kali tidak diketahui pembaca awam dan sering pula disepelekan para penelaah sastra). Mulai dari dorongan untuk menulis, pengendapan ide (ilham), penggarapannya, sampai akhirnya tercipta sebuah karya sastra yang utuh dan siap untuk dilemparkan kepada publik.” ungkapnya dalam kata pengantar buku jilid kedua yang diterbitkan KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) Juli 2009.

Hartojo Andangdjaja sendiri,  di harian Sinar Harapan edisi 13 Juli 1971, mengungkapkan bagaimana puisi Rakyat diatas lahir, sebagaimana dikutip  oleh Aoh K Hadimadja dalam buku  Seni Mengarang terbitan Pustaka Jaya Jakarta Cetakan Ketiga Tahun 1981.

Menurut Hartojo, puisi tersebut tidak ditulis sekaligus. Melainkan terputus-putus, diselang-seling hingga beberapa bulan antara satu bait dengan bait lain.

Penyair berasal dari Solo Jawa Tengah ini pernah menjadi guru di Simpangempat, Pasaman, Sumatera Barat. Di Simpangempat itulah ia turut bergotong royong membuka sebidang ladang ilalang menjadi lapangan olah raga dan tempat sekolah. Pada saat itulah timbul gagasan untuk menulis puisi, yang menggambarkan semacam kebanggaan rakyat. Akan tetapi ia tidak ingin menulis puisi yang dangkal, dan berisi propaganda dan bombasme seperti yang tampak pada puisi-puisi bertema sosial.

Beberapa bulan ide tersebut menguasai pikirannya, namun satu baris pun tidak ada yang tergores diatas kertas, hingga akhirnya ia merasa kehilangan kemampuan untuk mengerjakannya. Sampailah saatnya Hartojo berliburan ke Padang melalui jalur laut, naik motorboat, tetapi di tengah jalan juru mudi berteriak: “Badai.” Maka diarahkannya kapalnya ke sebuah pulau dan berlindung di sana. Semua penumpang selamat, tetapi yang tetap dalam ingatan Hartojo, ialah:

awan menyimpan topan.”

yang bukan saja mengandung kenyataan, akan tetapi juga mengandung kehebatannya.

Sesampai di Padang, dalam suasana santai, ia kembali teringat pekerjaannya tentang gotong royong dengan mencangkul dan memikul batu dari singai untuk lapangan olah raga itu. Terlintas pula dalam ingatannya nelayan-nelayan yang menebar jala di pantai Sasak. Maka demikianlah alhir bait yang pertama.

Di Padang Hartojo tinggal di sebuah wisma. Beruntunglah ia dari kamar sebelah mendengar bunyi kecapi Sunda. Dan di wisma itu tinggal bermacam-macam suku. Pendengaran itu membuat pikirannya bergerak dari satu daerah ke daerah lain dan terbentuklah baris-baris yang tersusun dalam bait ketiga.

Di ibukota Sumatera Barat itulah pula dilihatnya keuletan rakyat berdagang, kecerdasannya untuk tidak bisa ditipu, kelihaiannya untuk mencari jalan sendiri guna mencapai sukses dalam perdagangan. Maka terbentuklah bait yang lain pada malam itu, yang dijadikannya sebagai bait kedua.

Maka sampai d tertulis tiga bait yang pertama dengan kesadaran, bahwa menurutnya, rakyat itulah kita, yang bekerja dan bukan mereka yang hanya pandai berpidato dan melambai-lambaikan janji-janji kosong seperti yang diucapkan pemimpin-pemimpin kita.

Dilihatnya rakyat yang baik dan tenang itu dalam awan tenang pula, akan tetapi sewaktu-waktu bisa meledak bagaikan topan. Hanya saja saat itu ia belum bisa didapatkan gagasan, di manakah kalimat itu akan diletakkannya? Namun baris itu telah membawa lamunannya kembali ke laut. Dan sekonyong-konyong teringatlah ia akan angin, waktu akan terjadi topan itu. Maka terkatalah dalam benaknya:

angin yang menyapu kabut.”

Waktu itu bukan di laut, melainkan Hartojo sudah kembali ke Simpangempat. Di tengah hari pula, yang terasa menyengat panansnya. Panas itu seolah membuat dia terlihat tubuh seorang epatni, yang sedang mencangkul di ladang sebelah rumahnya. Tampak olehnya keringat petani yang berkilat-kilat, yang kemudian melengkapi bait keempat.

Puisi berjudul Rakyat itu ditutupnya dengan baris-baris yang telah menjadi keyakinannya sejak sekian lama, bahwa:

rakyat ialah kita, darah di tubuh bangsa, debar sepanjang masa.”

***

Menyimak proses lahirnya puisi Rakyat berdasarkan penuturan penulisnya di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam mencipta seorang penulis dituntut untuk mengasah kepekaannya dengan memperhatikan segala hal yang bisa ditangkap melalui pancaindera. Dengan membaca, melihat, mendengar, merasai, dan membaui fenomena sosial yang ada di sekelilingnya. Dengannya seorang penulis tidak mungkin kekeringan sumber ilham.

Apabila ada seorang penulis yang menyatakan dirinya kekeringan ide, itu sebenarnya pernyataan kurang tepat. Mengalami kebuntuan ide, mungkin, sebagaimana pernah dialami Hartojo Andangdjaja tatkala ia menulis puisi Rakyat di atas. Sebab, jika kekeringan ide maka sesungguhnya si penulis  telah menutup rapat-rapat pancaindera yang dimilikinya….

***

SEKILAS PROFIL HARTOJO ANDANGDJAJA:

Dilahirkan di Solo, Jawa Tengah, pada 4 Juli 1930. Ia dan meninggal di kota kelahirannya Solo pada 30 Agustus 1991. Karya-karya aslinya: Simphoni Puisi (1954; bersama D.S. Moeljanto), Manifestasi (1963; bersama Goenawan Mohamad, et. al.), Buku Puisi (1973), Dari Sunyi ke Bunyi (1991; kumpulan esai peraih hadiah Yayasan Buku Utama Depdikbud 1993). Karya-karya terjemahannya: Tukang Kebun (1976; Rabindranath Tagore), Kubur Terhormat bagi Pelaut (1977; Slauerhoff), Rahasia Hati (1978; Natsume Soseki), Musyawarah Burung (1983; Farid al-Din Attar), Puisi Arab Modern (1984), Kasidah Cinta ( tentang puisi sufi Jallaludin Rumi).

*****

Sumber Foto: Klik Sini.

The Killing Fields (http://lakalantaskebumen.wordpress.com)

The Killing Fields (http://lakalantaskebumen.wordpress.com

TIDAK bisa dipungkiri, jalan raya yang kita lalui sehari-hari,  tak ubahnya bagaikan  “ladang pembunuhan” (the killing fields) bagi kalangan muda usia.  Sayangnya, hanya sedikit orang menyadari kenyataan tersebut. Bagian lain yang jauh lebih besar, menganggap itu semacam fakta “isapan jempol” belaka.

Sekarang, coba simak ini (selengkapnya Klik Sini). “Sejak Januari hingga September 2009, sekitar 54,50 persen dari total korban kecelakaan (di Jawa Timur) didominasi usia produktif. Di posisi kedua ditempati para korban usia antara 10 tahun hingga 19 tahun mencapai 18,89 persen,” kata Kepala PT Jasa Raharja (Persero) Cabang Jatim Sutadji, dalam Dialog Publik “Perlindungan Dasar bagi Pengguna Moda Transportasi dan Pengguna Jalan Lainnya”, di Universitas Airlangga Surabaya (12 Oktober 2009).  Data yang dikemukakan itu hanya satu kasus di Jawa Timur, namun niscaya di lain daerah di Indonesia,  tidak jauh berbeda.

Who Report: Youth and Road Safety (http://www.who.int)

WHO Report: Youth and Road Safety (http://www.who.int)

Untuk memperkuat argumen di atas, laporan WHO yang bermarkas di Jenewa Swiss pada 2007 lalu juga menyebutkan, kecelakaan lalu lintas adalah penyebab utama kematian di kalangan anak muda antara usia 10 – 24 tahun. Laporan bertajuk “Youth and Road Safety” (Klik Sini) juga mengungkapkan bahwa hampir 400.000 anak muda di bawah usia 25 tahun yang tewas dalam kecelakaan lalu lintas setiap tahunnya. Jutaan lainnya terluka atau cacat.

Road traffic crashes are the leading cause of death among young people between 10 and 24 years, according to a new report published by WHO. The report, Youth and Road Safety, says that nearly 400. 000 young people under the age of 25 are killed in road traffic crashes every year. Millions more are injured or disabled.

Disamping laporan yang telah dirilis, data statistik Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization) atau WHO menyebutkan bahwa kecelakaan lalu lintas pada 1998 menduduki peringkat ke-9 sebagai penyebab kematian dibawah  atau setara dengan penyakit malaria. Dan diperkirakan pada 2020, kecelakaan lalu lintas akan menjadi penyebab kematian ke-3 tertinggi di dunia di bawah penyakit jantung koroner dan depresi berat.

Tragisnya, ribuan jiwa yang terenggut dari kalangan muda akibat kecelakaan lalu lintas di atas terjadi di negara-negara berkembang dan miskin dunia. Menurut Presiden Asia Injury Prevention (AIP) Foundation, Greig Craft, dalam buku saku Driving Skills for Life (DSFL) yang diterbitkan oleh PT Ford Motor Indonesia, jumlah korban meninggal akibat kecelakaan lalu lintas di dunia semakin meningkat dari tahun ke tahun dibandingkan dengan kematian karena sebab lain. Greig mengutip data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang memprediksi pada rentang tahun 2000 hingga 2015 sedikitnya 20 juta jiwa meninggal akibat kecelakaan lalu lintas, lebih dari 1 miliar orang luka-luka, cacat atau kehilangan tanggungan hidupnya karena menjadi korban kecelakaan yang sebagian besar terjadi di negara-negara berkembang.

Geographical Variation In Road Traffic Rates Under 25 Years (http://www.who.int)

Geographical Variation In Road Traffic Rates Under 25 Years (http://www.who.int)

“Di negara yang sedang berkembang pesat, khususnya di kawasan Asia dan Afrika, jumlah pemakai jalan meningkat sedemikian pesat, namun pada umumnya tanpa dibekali pelatihan mengemudi dengan baik, bahkan pemahaman dasar mengemudi serta sebab dan akibat dari kecelakaan lalu lintas pun tidak dimiliki. Dalam kurun waktu kurang dari 20 tahun, sebagian besar bangsa di Asia telah mentranformasi dirinya dan pemakai sepeda beralih ke sepeda motor kini ke mobil. Untuk itu maka pendidikan dan kesadaran publik menjadi sangat penting untuk memperbaiki tingkat keselamatan pengemudi,” tandas Greig.

Laporan “Youth and Road Safety” WHO yang telah saya kutip di atas disertai pula rekomendasi berupa saran-saran dan  langkah-langkah yang harus diambil untuk mengurangi jumlah korban jiwa atau luka dijalan raya. Saran-saran tersebut meliputi perubahan dalam tata kota, peningkatan aspek keamanan dalam kendaraan, pemberian hukuman yang berat bagi pelanggar kecepatan dan orang yang mengemudi dibawah pengaruh alkohol, serta lebih banyak pendidikan untuk pengemudi.

***

Menyadari pentingnya pendidikan untuk pengemudi sebagaimana rekomendasi WHO diatas, PT Ford Motor Indonesia melalui Program Driving Skills for Life (DSFL) mendukung langkah-langkah untuk meningkatkan kebiasaan mengemudi sehingga dapat menekan kecenderungan tingginya kecelakaan lalu lintas di jalan raya.

Menurut Presiden Direktur PT Ford Motor Indonesia, Will Angope, Program DSFL memiliki misi utama yang sederhana: mengajarkan dasar-dasar keselamatan mengemudi yang sangat mudah dan dipraktekkan, yang juga memberikan teknik mengemudi yang dapat menghemat bahan bakar dan sangat relevan dengan kondisi naiknya harga bahan bakar minyak dewasa ini.

Di situs resminya (Klik Sini), dikatakan bahwa Program DSFL telah mencatat keberhasilan yang signifikan ketika pertama kali diterapkan di Amerika Serikat dan Eropa. Program ini membantu kepada para pengemudi agar lebih aman dalam berkendara dan hemat bahan bakar. Di Indonesia, DSFL telah mengadopsi program dan disesuaikan dengan lingkungan di sini dan kondisi jalan pada umumnya.

Selanjutnya dikatakan,  tujuan hadirnya Program DSFL di Indonesia adalah ingin melengkapi pengemudi di Indonesia dengan cara pikir positif tentang betapa berharganya keselamatan di jalan, mengembangkan kemampuan mengemudi yang ekonomis (eco driving) dan keahlian yang akan memberikan kontribusi terhadap budaya disiplin mengemudi.

Di bagian lainnya, DSFL Indonesia pada acara sesi Break Out Pesta Blogger 2009 (24/10)  menyampaikan bahasan 10 Tahapan atau Tip berkendara agar menjadi pengemudi yang aman dan selamat, pengemudi yang bijak, meningkatkan jarak tempuh kendaraan anda, menghemat pengeluaran dan mengurangi polusi. Tip  tersebut mencakup tiga pilar dari DSFL, yakni: smart driving (kecerdasan mengemudi), protecting live (memproteksi hidup) dan saving fuel (penghematan bahan bakar). Mari kita simak selengkapnya:

Tip 1: Selalu gunakan sabuk pengaman (seat belt atau safety belt) setiap waktu. Sabuk pengaman dapat melindungi penggunanya dari cidera yang lebih parah dalam suatu kecelakaan. Ia dapat berfungsi menahan tubuh sehingga tidak membentur dashboard, terlontar keluar kaca depan, atau terlempar dari pintu atau kaca samping saat-saat terjadi benturan pada kecelakaab.

Tip 2: Untuk jarak pandang atur kaca spion. Kebanyakan pengemudi tidak menyesuaikan kaca spionnya dan tidak memanfaatkan seoptimal mungkin dengan terlalu melihat sisi kendaraannya sendiri. Semua jenis kendaraan dengan berbagai bentuk dan ukuran mempunyai blind spots. Semakin besar kendaraan, semakin besar blind spots areanya. Blind spots adalah area yang tidak terlihat oleh pengemudi baik secara langsung (terhalang) atau melalui kaca spion (keterbatasan bidang pandang kaca spion). Blind spots terjadi karena manusia hanya mampu melihat 90° tiap sisi dan keterbatasan sudut pandang kaca spion kendaraan tidak bisa diperbesar lagi.

Tip 3: Pengemudi yang defensif. Pengemudi yang defensif artinya yang mampu mengemudikan kendaraannya dengan tenang. Dan mampu mengantisipasi situasi kondisi lalu lintas di depannya. Kunci untuk menjadi pengemudi defensif meliputi 4 hal, yaitu: Awareness (kesadaran), Alerness (kewaspadaan), Attitude (sikap mental) dan Anticipation (reaksi).

Tip 4: Gangguan dalam berkendara. Mengemudi adalah pekerjaan yang berbahaya, untuk itu dibutuhkan konsentrasi penuh pada saat memegang kemudi. Harus diingat: membiarkan konsentrasi terganggu saat mengemudikan kendaraan dapat menyebabkan celaka. Termasuk gangguan dalam mengemudi ini antara lain: penggunaan radio dan tv mobil, merokok, makan atau minum dan penggunaan handphone serta gangguuan eksternal umpamanya pengemudi laki-laki melihat perempuan cantik dengan busana aduhai di pinggir jalan.

Tip 5: Menjaga jarak aman saat mengemudi. Bagi pengemudi defensif, ia senantiasa menyediakan ruang dengan depan, belakang dan samping kendaraannya. Jarak aman yang  ideal antar kendaraan kira-kira 3 detik.

Tip 6: Pengoperasian gigi transmisi yang ideal. Pengemudi harus melakukan perpindahan/penambahan gigi saat mencapai 2000-2500 rpm. Dan selalu menjaga kecepatan saat mengemudi dengan putaran mesin 2000 rpm atau dibawahnya. Namun demikian, saat ini dengan kemajuan teknologi, kendaraan sudah bisa dijalankan dengan putaran mesin yang rendah. Putaran mesin yang rendah tentu akan menghemat konsumsi bahan bakar dan emisinya, sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan. Juga mengemudi dengan putaran mesin rendah akan meningkatkan faktor keselamatan.

Tip 7: Pergunakan momentum kendaraan. Tatkala kendaraan akan mendekati perempatan, pertigaan, lampu lalu lintas atau ingin memperlambat, angkat lebih awal dan biarkan mobil meluncur sebelum menginjak pedal rem.

Tip 8: Matikan mesin kendaraan. Jika kendaraan berhenti dan diam lebih dari 20 detik, maka akan lebih ekonomis apabila mesin dimatikan. Biasanya hal demikian terjadi pada saat lampu lalu lintas sedang merah, berhenti pada perlintasan kereta api, jalan macet pada saat menaikkan dan menurunkan penumpang atau barang. Mematikan mesin tidak akan merusak atau mengurangi umur dari motor starter.

Tip 9: Pre Start Checks. Yakni pemerikasaan awal kendaraan sebelum melakukan engine start dengan tujuan untuk mencari adanya kerusakan atau potensi permasalahan pada kendaraan.

Tip 10: Beban berat mempengaruhi Konsumsi BBM. Keluarkan barang-barang yang tidak diperlukan dari dalam mobil. Lepaskan “roof rocks” apabila sedang tidak dipergunakan. Gunakan kecepatan rendah, apabila sedang membawa barang dengan “roof rocks”. Setiap penambahan beban muatan sebesar 20 Kg, akan meningkatkan konsumsi BBM sebesar 1  %. Oleh karena itu, jangan membawa barang dengan berat yang melampaui kapasitas.

Tutorial lengkap 10 Tahapan atau Tip DSFL Indonesia dalam bentuk flash yang menarik bisa selengkapnya dilihat dengan mengklik tautan ini (Klik Sini).

*****

Dengan mengetahui dan menerapkan 10 Tahapan atau Tip diatas,  diharapkan pengemudi di Indonesia memilikin cara pikir positif tentang betapa berharganya keselamatan di jalan, mengembangkan kemampuan mengemudi yang ekonomis (eco driving) dan keahlian yang akan memberikan kontribusi terhadap budaya disiplin mengemudi.

Apabila tahapan dan tip tersebut menjadi panduan kalangan muda Indonesia tatkala berkendara, bukan hal yang mustahil angka kecelakaan lalu lintas hari ini dan esok dapat diminimalisir.

Segalanya tentu berpulang kembali pada pribadi masing-masing. Namun yang sudah jelas, keamanan, kenyamanan dan keselamatan di jalan raya dimulai dari diri kita sendiri. Apabila semua orang memiliki kesadaran tinggi semacam itu, maka “Nyaman dan Aman di Jalan Raya Milik Kita Semua” bukanlah sekedar slogan ibarat tong kosong nyaring bunyinya.

*****

Dwiki Setiyawan, peserta DSFL Break Out Session di Pesta Blogger 2009.

Sumber Foto : Klik Sini dan Klik Sini

Masjid Baitirrahman Kompleks DPR-RI (http://web.dpr.go.id)

Masjid Baitirrahman Kompleks DPR-RI (http://web.dpr.go.id)

UMUMNYA, total jenderal waktu pelaksanaan shalat Jum’at itu kurang lebih 30 menit. Di Indonesia, paling lama pukul 12.30 WIB atau lebih beberapa menit shalat Jum’at telah usai. Pengalaman saya seumur-umur ini cukup fantastik. Mulai dari kumandang adzan hingga tahiyatul akhir berlangsung selama 75 menit. Luar biasa. Dan itu terjadi di Masjid Baiturrahman Kompleks DPR-RI Senayan Jakarta, tempat sehari-hari saya mengkais-kais rezeki.

Kejadiannya sendiri terjadi pada periode DPR-RI 1999-2004. Tanggal dan bulannya sudah lupa. Sebagai gambaran pada pembaca, area Masjid Baiturrahman seluas 2.000 m² dan  bangunan seluas 1.240 m² dengan daya tampung 3.700 orang. Khusus shalat Jum’at jamaah bisa mencapai lebih dari 4.000 orang. Karenanya mereka yang tidak tertampung ini berpencar-pencar di luar masjid. Di rerumputan taman dan halaman cukup luas dibawah pohon-pohon rindang.

Pada hari  kenangan kelabu di atas,  khatib shalat Jum’at berasal dari luar (dan tradisinya memang para khatib berselang-seling diambil dari dalam maupun luar). Setelah adzan dikumandangkan kira-kira pukul 12.00 WIB, mulailah si khatib –namanya lupa– menyampaikan khutbah Jum’at. Gayanya memang memukau. Vokal suara bariton.  Lihai mengatur ritme tinggi-rendah suara dan penekanan-penekanan kata tertentu. Benar-benar tipe seorang orator berpengalaman. Tidak lupa ia mengutip ayat-ayat Kitab Suci Qur’an sebagai dalil atas apa yang dikemukakannya. Mungkin saking surprise, karena mimbar Jum’at di Kompleks Gedung DPR-RI dihadiri para wakil rakyat terhormat, sang khatib terus saja berpanjang-lebar menguraikan isi khutbahnya. Waktu pun bergulir, dan tidak terasa sudah hampir satu jam sang khatib berkhutbah.

Saya yang duduk dibawah pohon rindang halaman masjid itu sudah merasa gelisah.  Saya lihat pula jamaah lain yang terdiri dari anggota DPR-RI dan karyawan juga segendang-sepenarian. Ada beberapa anggota DPR-RI yang berkali-kali melihat jam tangan yang dikenakannya. Problem saya, gelisah karena menahan buang air kecil. Akhirnya menjelang pukul 13.00 WIB baru selesai rangkaian dua khutbahnya. Dan mulailah shalat Jum’at dua rakaat, dimana sang khatib merangkap pula sebagai imam.

Ternyata khutbah sang khatib hampir satu jam lamanya itu barulah pemanasan saja. Tatkala ia memimpin shalat, setelah ia membacakan surat Al-Fatikhah, maka surat berikutnya yang ia bawakan ayat-ayat yang panjangnya minta ampun! Termasuk pula ruku’ dan sujudnya lama banget. Banyak jamaah di halaman luar masjid, terbatuk-batuk dan berdehem-dehem (mungkin ini reaksi spontan) menyimak panjangnya ayat-ayat yang dibawakan sang khatib.

Setelah shalat berakhir, saya lihat pada jam tangan yang dikenakan sudah pukul 13.15 WIB. Berarti, total waktunya sebanyak 15 menit untuk dua rakaat saja. It’s wonderful. Batin saya, si khatib telah “merampas” banyak waktu para jamaah shalat Jum’at itu.

Begitu bubaran, hampir sebagian besar jamaah shalat Jum’at di Masjid Baiturrahman Kompleks DPR-RI itu menggerutu. Tidak terkecuali dari anggota DPR-RI. Nada-nada geram bermunculan, bahkan ada anggota DPR-RI sempat tanya, “Siapa sich nama khatib itu?”. Ada juga yang nyeletuk, “Lain kali jangan digunakan lagi!” Ada karyawan Setjen DPR ikut  menimpali, “Busyet deh shalat Jum’atnya lama banget.”

Entah diterima atau tidaknya ibadah shalat Jum’at para jamaah dimaksud dihadapan Allah SWT, mengingat kekurangkhusukan pelaksanaan shalat Jum’atnya, itu urusan Yang Di Atas sana.

***

Pelajaran penting yang saya dapat, apabila anda suatu waktu jadi khatib shalat Jum’at, gunakan waktu seperlunya saja untuk khutbah dan memimpin jalannya shalat. Tidak usah-lama-lama. Yang penting pesan tersampaikan, dan jamaah merasa puas atas materi yang disampaikan dan “singkatnya” waktu khutbah. Dengan demikian, terjadi simbiosis mutualisma. Kedua belah pihak sama-sama untung.

Anda punya pengalaman menarik lainnya perihal shalat Jum’at?

*****

Diskusi Kahmi Pro Network dari kiri Anies Baswedan, Geis Chalifah dan Indra J. Philiang (dwiki file)

Diskusi Kahmi Pro Network dari kiri Anies Baswedan, Geis Chalifah dan Indra J Piliang (dwiki file)

“MASALAHNYA Pak Presiden, dalam persoalan kasus penahanan Bibit-Chandra kali ini masyarakat melihat bahwa conditional support pemerintah pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengendur dibandingkan dengan periode sebelumnya. Padahal torehan prestasi yang telah dilakukan KPK menjadi isyu penting yang didengung-dengungkan pada publik dalam Kampanye Pilpres lalu.”

Demikian ungkapan kalimat yang dilontarkan Anies Baswedan saat dirinya diundang dan bertukar pikiran dengan Presiden SBY bersama 3 tokoh lainnya di Istana Negara hari Minggu (1/11) malam. Menurut Anies, kata-kata “conditional” dan “unconditional support“, ia utarakan untuk membandingkan dukungan moral yang diberikan pemerintah dalam mensikapi kasus yang menimpa KPK. Ia melihat fakta bahwa pada periode 2004-2009, pemerintahan SBY jilid pertama mendukung penuh komitmen KPK untuk memberantas korupsi yang merajalela di pelbagai lini kehidupan. Namun kemudian ada kesan, pemerintahan jilid kedua ini melakukan pembiaran terhadap upaya-upaya pihak tertentu dalam mengkerdilkan peran KPK. Hal tersebut, hemat Anies, sesunguhnya bisa diantisipasi secara dini lantaran institusi kepolisian dan kejaksaan agung berada di bawah kendali presiden.

Anies menceritakan kembali pengalamannya tersebut pada diskusi yang digelar Kahmi Pro hari Selasa (3/11) malam di Galeri Cafe Taman Ismail Marzuki Jakarta. Anies Baswedan yang juga anggota mailing list (milis) Kahmi Pro Network tersebut tampil bersama 3 narasumber anggota milis lainnya, yakni: Ray Rangkuti, Indra J Piliang dan M Ikhsan Modjo. Acara diskusi yang dimoderatori oleh Geis Chalifah dimaksud, dihadiri oleh puluhan anggota, sekaligus dijadikan sebagai ajang Kopi Darat (kopdar). Di masa lalu, kopdar Kahmi Pro Network senantiasa dihadiri oleh Chandra M Hamzah, Wakil Ketua non-aktif KPK. Ia juga salah seorang anggota milis yang namanya malam itu dijadikan sebagai tema diskusi.

Menurut anggota Tim Independen Verifikasi Fakta dan Proses Hukum (TIVFPH) Bibit-Chanda tersebut, pertemuan yang berlangsung di Istana Negara selama 1,5 jam itu berlangsung cukup tegang. Serius namun tidak menghilangkan unsur santainya pula.

Dikatakan pula oleh Anis, tatkala 4 orang tokoh masing-masing Anies Baswedan (Rektor Universitas Paramadina), Hikmahanto Juwana (Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia), Komaruddin Hidayat (Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah) dan Teten Masduki (Sekjen Tranparansi Internasional Indonesia) masuk dan duduk di ruang pertemuan, Presiden SBY langsung memulai acara. SBY menyatakan kegusarannya dan sama sekali tidak menyangka bahwa tokoh-tokoh yang selama ini memiliki reputasi baik di tengah masyarakat, tidak ada interes dengan kekuasaan dan jarang meriuhkan konstelasi politik nasional tampil pasang badan menjaminkan dirinya untuk pembebasan Bibit-Chandra. Oleh karenanya, kata Anies, SBY mengundang para tokoh itu untuk melakukan tukar pikiran terhadap masalah penahanan dua pimpinan non aktif KPK. Salah satu usulan yang mendapat respon segera dari SBY yakni pembentukan Tim Independen Verifaikasi Fakta dan Proses Hukum Bibit-Chandra.

Anies juga memberi catatan, sebenarnya ada 6 orang tokoh yang diundang malam itu. Dua diantaranya, yaitu Imam B Prasodjo (Sosiolog UI) dan Rikard Bangun (Wartawan Senior Harian Kompas) berhalangan hadir lantaran tengah di luar negeri.

Pada bagian lain, Anies juga mengutarakan kasus pimpinan KPK non-aktif Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah yang mendapat dukungan luas masyarakat madani (civil society) itu dapat menjadi pintu masuk dalam mendorong reformasi institusi penegak hukum.

“Harus kita jaga agar momentum ini tetap bergema. Dan dorongan itu harus diperkuat,” katanya seraya berharap momentum agar terjadi reformasi insitusi penegak hukum tersebut tidak hilang begitu saja setelah penahanan Bobit-Chandra ditangguhkan.

*****

Foto-foto lainnya acara di atas:

Diskusi Kahmi Pro dari kiri Ray Rangkuti, Anies Baswedan, Geis Chalifah, Indra J Piliang dan M Ikhsan Modjo (dwiki file)

Diskusi Kahmi Pro dari kiri Ray Rangkuti, Anies Baswedan, Geis Chalifah, Indra J Piliang dan M Ikhsan Modjo (dwiki file)

Peserta Diskusi Kahmi Pro Network (dwiki file)

Peserta Diskusi Kahmi Pro Network (dwiki file)

Diskusi Kahmi Pro Network Anies Baswedan (dwiki file)

Diskusi Kahmi Pro Network Anies Baswedan (dwiki file)

Diskusi Kahmi Pro Network Ridwan Saidi (dwiki file)

Diskusi Kahmi Pro Network Ridwan Saidi (dwiki file)

Diskusi Kahmi Pro Network dari kiri Adam Rahmawan dan Hamid Basyaib (dwiki file)

Diskusi Kahmi Pro Network dari kiri Adam Rahmawan dan Hamid Basyaib (dwiki file)

#####

Foto Profil Tri Djoko Wahjono di Multiply (http://triwahjono.multiply.com)

Foto Profil Tri Djoko Wahjono di Multiply (http://triwahjono.multiply.com)

JARANG lho ada orang yang hapal semua nama-nama teman sekolahnya semenjak Sekolah Dasar (SD) hingga Perguruan Tinggi. Malah bisa dikatakan langka. Blogger yang satu ini,  Tri Djoko Wahjono, layak diusulkan masuk Museum Rekor MURI lantaran termasuk orang yang jarang dan makhluk langka perihal ingatannya akan semua nama teman sekolahnya sejak SD hingga Perguruan Tinggi itu.

Di halaman “Friends” Blog Personalnya (Klik Sini),  Tri Djoko Wahjono memposting Daftar Teman-teman Sekolahnya itu. Lengkap. Mulai dari Nomor, Nama, Alamat, dan Sekolah Lanjutan.

Mas Purwoko menjadi komentator pertama di halaman berisi Daftar Teman Sekolah tersebut. Ia merasa surprise dan kagum dengan postingan itu, “Sampeyan tuh memang bener-bener punya darah ilmuwan, anak-anak lain masih asyik bermain gobak- sodor, tapi Dik Yon sudah hidup melampaui zamannya, dengan kata lain seribu langkah ada di depan. Coba, teman SD saja sudah terekam dengan baik. Aku baru bisa “sisi” (membuang ingus) diusia segitu he . .he. . he.

Dengan terkaget-kaget, komentator lain yang kebetulan namanya tercantum, Prihatin Rahayu Santoso namanya, memberi kesaksian, “Aku kaget lho, namaku kok ya masih kau inget dan tercantum di blog-mu. Padahal, nama itu sendiri hampir tak lupain, karena kata mbah dukun, namaku yang bagus cuma yang terakhir aja, biar gak prihatin terus.”

***

Mas Yon atau Om Yon, panggilan akrab Tri Djoko Wahjono ini,  bekerja sebagai Peneliti Senior di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Jakarta sejak tanggal 1 Agustus 1980 dan juga bekerja sebagai Lektor Kepala (Associate Professor) di Binus University, Jakarta sejak 1 September 1982.

Tentang latar pendidikan Tri Djoko Wahjono, ia menyelesaikan studi TK, SD, SMP dan SMA di kota kelahirannya Madiun Jawa Timur. Kemudian melanjutkan studi ke Departemen Statistika dan Komputasi IPB Angkatan 1976 dan lulus Maret 1980. Selanjutnya melanjutkan pascasarjana di Indiana University at Bloomington, Indiana, USA dan lulus pada Desember 1989 dengan gelar Master of Science in Computer Science dengan bidang spesialisasi Information Systems dan Artificial Intelligence.

Mengenai masa-masa sekolahnya, Mas Yon dengan gaya kocaknya menulis, “Taman Kanak-Kanak aku jalani di TK Pertiwi Ngrowo, lulus 1962 waktu Titiek Puspa menyanyi “Minah Gadis Dusun”. Sekolah dasar aku habiskan di SD Mojorejo I, lulus 1969 waktu the Beatles nyanyi “Let Me Do” dan “Hey Jude”. SMPku adalah di SMP 2 Madiun dekat Pasar Kawak, lulus tahun 1972 dimana aku mendapatkan memori yang sangat membahagiakan di sini (guru2 dan murid2nya serba luar biasa – terutama Budi Mulyanto, Harry “Gembes” Bagyo Hananto, Purwoko dan teman Pramuka semuanya), oh ya waktu lulus SMP aku undang John Lennon menyanyikan “Oh My Love” dan “Oh Yoko” dan aku menirukan dengan membaca liriknya di Majalah Aktuil. Setelah itu aku mendaftar di SMA “the haves” yaitu SMA 1 Madiun – walau aku dari keluarga “dirt poor”, yang testnya disuruh menuliskan bahasa Inggris dari “2+3=5″, “5-3=2″, “5*13=65″, “60/5=12″, “2^4 = 16″, “log basis 2 dari 243″ dan seterusnya. Aku lulus SMA 1 Madiun tahun 1975 – sangat mengherankan mengingat aku tidak pernah belajar selama 3 tahun – waktu aku lulus SMA Susy Quattro menyanyikan lagu manis “Cat Size” pada saya (thanks Susy !) dan Nazareth menyanyikan lagu serak slow rock “Love Hurt” (thanks Naz !!).”

Selanjutnya ia menceritakan jatuh bangun ikut tes masuk perguruan tinggi. Gagal tes di jurusan Teknik Sipil dan Teknik Arsitektur ITB Bandung yang dikatakannya sebagai “Institut Tekanan Batin”. Pun gagal pada jurusan sama di UGM Yogyakarta yang dengan kocaknya disebut sebagai “Universitas Gak Masuk-akal”. Akhirnya keberuntungan menghampirinya. Ia diterima sebagai mahasiswa di Departemen Statistika Institut Pertanian Bogor (IPB) pada Januari 1976.

***

Diantara postingan-postingan Mas Yon di Blog WordPres, semuanya dibahasakan dengan gaya anak muda. Itu tidak berlebihan, lantaran “pembaca tradisionalnya” adalah anak-anak muda yang suka dengan gaya kocaknya.

Salah satu postingan yang cukup menggelitik, tatkala ia memposting mengenai “Kesamaan 3 M: Mozart, Michael Jackson dan Mbah Surip” (Klik Sini). Diurainya dengan bahasa lugas soal pilihan mana yang benar, antara “seni untuk seni” (art for art) atau “seni untuk bisnis” (art for business). Dalam soal pilihan berkaitan dengan 3 M itu, Mas Yon memilih “seni untuk seni” dengan segala argumentasinya. Menurut dia, “Ternyata ketiga pemusik yang kebetulan namanya diawali dengan huruf M yaitu : Mozart. Michael Jackson, dan Mbah Surip, meninggal dunia karena sebab yang sama yaitu : menerima order besar untuk membuat karya besar dan massif, namun pada akhirnya proses kreatif dalam diri mereka tidak bisa dipaksakan kecepatannya dan jumlahnya, yang pada akhirnya membuat si pemusik menjadi frustasi, sakit, dan akhirnya meninggal dunia.”

Selain itu, postingan-postingan Mas Yon, antara lain: “Beda Nasib Prita dan Nasib Saya“, “Cara BerLogika Mario Teguh“, “Test CPNS BPPT Semeriah Pesta Blogger 2008“  dan sebagainya memiliki perspektif lain ketimbang yang lain. Ia mampu mengurai suatu masalah dengan pendekatan sederhana. Pendek kata seperti motto Perum Pegadaian, “Menyelesaikan Masalah Tanpa Masalah….”

***

Tentang awal mula Mas Yon ngeblog, mari kita ikuti penuturannya pada posting tertanggal 7 Januari 2007 di blog personal pertamanya Blogspot (Klik Sini) bertitel “Who Am I“:

“Ini Blog pertama yang aku tulis. Mestinya aku sudah mulai menulis blog sejak beberapa bulan, atau bahkan beberapa tahun yang lalu. Namun tak sempat. Dan sudah didahului oleh teman-teman dan oleh anak saya, yang sudah membuat blog sejak dua tahun lalu.

Mestinya menulis blog itu asyik. Karena rasa bisa tercurahkan di blog lewat ketak-ketik tuts kibor komputer. Namun juga bisa membosankan. Lah…masak pikiran kita bisa terbaca oleh orang ? Bagaimana kalau seseorang mencuri pikiran kita dan tiba-tiba pikiran kita jadi kosong melompong bagaikan terkena jurus Ctrl-Alt-Del ? Wah, perlu di-reformat dong otak kita ? Kalau me-reformat hardis sih agak mudah, tapi me-reformat otak ? Mestinya yang melakukan kudu sudah sekolah bertahun-tahun dan sudah berpengalaman luas me-reformat otak banyak orang dunk !

Wait a minute ! Are you serious ? Apakah emang otak orang Indonesia perlu sering di-reformat ? Bukankah secara intrinsik otak orang Indonesia sudah sering ter-reformat sendiri tanpa disadari. Sehingga banyak orang Indonesia yang otaknya kosong, dan menurut cerita harga otak orang Indonesia paling murah dibanding otak orang Inggris (yang inventor ulung), otak orang Amerika (yang developer ulung), dan otak orang Jepang (yang producer ulung) ?

Kembali ke menulis Blog. Awal mulanya aku agak males nulis Blog. Banyak blog milik orang Indonesia yang bagus-bagus. Yang membahas politik sampai petualangan. Celakanya, aku termasuk jenis orang yang “termasuk ke segala jenis orang”. Mau masukkan aku sebagai pemikir, akulah orangnya. Mau disebut aku penari, aku suka nari pula. Mau disebut aku penyanyi, aku suka pula – minimal di kamar mandi dengan suara yang pitch-nya tidak sebagus anak-anak Indonesian Idol sih. Pokoknya aku masuk semua. Aku adalah penjahat, aku adalah pewelas asih.

Namun pengembaraan ini semakin lama semakin mendekati senja. Satu atau dua kata, satu atau dua paragraf, ataupun satu atau dua lembar, tentu akan ada gunanya kelak, bagi pembaca blog ini.

Oleh karena itu, sodara-sodara, the blooooogggggg tiimmmmmeeeeeee begins !!”

Selain di Blogspot, pembaca juga bisa melihat foto-foto Mas Tri Djoko Wahjono ini di Multiply (Klik Sini).

*****


Tulisan Sebelumnya »